Disa merasa ternganggu saat Raina terus menyenggol lengannya, ia menengadahkan kepalanya lalu menengok makhluk yang ada di sebelahnya itu, "Apaan sih!"
"Tuh!" tunjuk Raina.
Netra Disa mengikuti apa yang Raina tunjuk, saat ia mengerti maksud Raina seketika Disa menelungkupkan kepalanya lagi.
"Gara nungguin lo terus tuh,"
Benar saja waktu bel istirahat berbunyi tiba-tiba saja spesies manusia yang sangat ingin Dira hindari sudah stand bye di depan pintu kelasnya, membuat Disa akhirnya mengurungkan niat untuk ke kantin.
"Lo aja sana pergi, gue males!"
"Yaelah Dis, masa iya gue sendiri?"
Terdengar hembusan nafas pelan, "Gue males ada dia disana Rainn!"
"Iya-iya, lu mau nitip apa?"
"Usir dia!"
"Gila ya lo! Mana berani gue t***l!" pekik Raina.
"Tolong gue dong Rain," pinta Disa memelas sedangkan Raina ia tak berani pada Gara.
"Gue nggak berani Dis! Temuin dia bentar, terus lo aja yang ngusir,"
Dengan cepat Disa menggeleng, "Yaudah kalo gitu gue mau ke kantin aja, laper." kata Raina.
Disa mengedarkan pandangannya ke seisi kelas, untungnya ada Fahri. Setau Disa, Gara sangat benci pada Fahri. Entah ia sendiri kurang jelas akar permasalahannya, tapi sepertinya ini bisa menjadi alasan agar Gara juga ikut membencinya.
"Fahri," panggilnya.
Wajah Gara seketika berubah saat melihat Disa yang berjalan menghampiri Fahri.
Fahri tersenyum kearahnya, "Ada apa Dis?"
"Ehmm lo nggak ke kantin?"
"Enggak,"
"Oh gitu ya," Disa tak tau berbasa-basi apa lagi, diliriknya Gara sembunyi-sembunyi dan laki-laki itu menatapnya lekat, ia tau Gara sedang menahan emosinya.
"Maaf ya Gar, aku sengaja kayak gini,"
"Dis?"
Disa tersentak, "Ah iya?"
"Berdiri aja, sini-sini," Fahri menarik Disa duduk disampingnya.
Sepertinya Fahri tau bahwa sedari tadi pergerakan mereka di awasi.
"Boleh?"
Fahri mengangguk sembari tersenyum.
Disa dan Fahri asyik mengobrol panjang lebar tanpa memperdulikan Gara yang semakin intens menatapnya.
"Ikut gue sekarang!"
"Gara!" pekik Disa kaget, tiba-tiba Gara datang dan menariknya begitu saja.
"Lo bisa nggak kasar sama perempuan?" bela Fahri.
"Gue nggak lagi ngomong sama lo!" hardik Gara.
"Ckck, lo masih aja egois Gar!"
Gara melepas tangan Disa lalu mencengkeram kra baju Fahri.
"Gar! Lepas gak!" teriak Disa.
"Sekali lagi lo ngomong! Gue habisin lo anjing!" murkanya.
Fahri terlihat santai saja, bahkan terkesan sudah biasa melihat Gara seperti itu, "Apa yang gue bilang kenyataan kan?" halus tapi menantang.
Wajah Gara semakin memerah. Baru saja Gara akan melayangkan tinjunya ke wajah Fahri, Disa menampar Gara.
Plak..
Gara menatap Disa tajam, "Apa? Kamu pikir aku takut sama kamu?" tantangnya.
"Enggak Gar!"
"Lo pilih dia apa gue?" tanya Gara.
Seketika tubuh Disa menengang, ini pertama kalinya ia mendengar Gara dengan suara serius dengan wajah sangar. Jujur Disa menciut melihat rahang Gara yang mengeras.
"Pilih Fahri," ujar Disa.
Tanpa mengatakan apapun Gara langsung pergi. Disa tau Gara sangat marah, tapi itu yang Disa mau. Toh mereka sudah tidak ada apa-apa, lagian untuk apa Gara marah?
"Lo nggak papa Dis?"
"Oh umm, gue nggak papa kok santai aja kali,"
"Coba lo samperin Gara Dis, kayaknya dia bener-bener marah,"
Sontak Disa menggeleng, "Nggak, ngapain juga toh gue udah nggak ada hubungan lagi sama dia."
"Lo putus?"
Disa mengangguk, "Kalo gitu gue nyusul Raina dulu deh." pamit Disa.
***
Ia berjalan menuju kantin dengan rasa was-was takut tiba-tiba ia bertemu dengan Gara atau dengan teman-teman mantannya itu. Namun baru saja sampai di kantin ia mengurungkan niatnya dan memilih putar balik menuju taman yang terletak di belakang kelas 12. Sepertinya lebih nyaman disana, di tambah suasana sepi yang mendukung untuk Disa sekedar berdiam diri.
Dan pemandangan yang tak ingin ia lihat tersaji disana. Gara memeluk Tania, oh double sial ini untuk Disa.
Buru-buru Disa pergi dari sana, ternyata lebih baik ia pergi ke kantin atau diam saja di kelas. Disa lebih rela banyak di tanya Fahri daripada melihat sesuatu yang kembali menyakitkan.
Disa tersenyum, menertawakan kebodohannya. Apa yang ia harapkan? Gara menyesal putus dengannya? Halah mana mungkin.
Gara tetaplah Gara, yang tidak menganggap Disa ada.
"Gara udah bahagia, dia ada Tania. Lo tuh nggak ada apa-apanya di mata dia Dis!" ujar Disa menampar dirinya sendiri.
"Lepasin, ikhlasin, lupain!"
***
"Sendiri aja?"
Disa menoleh, "Iya nih." ujarnya sambil nyengir.
"Pulang bareng gue yuk," ajak Fahri.
Belum sempat Disa menjawab dari arah samping tangan Disa ditarik oleh Gara, "Dia pulang sama gue! Mending lo pergi sekarang!"
Disa hendak protes tapi mulutnya seakan bungkam. Sedang Fahri yang sepertinya ogah menanggapi laki-laki itu, segera pamit, "Gue duluan ya Dis. Hati-hati kalau ada apa-apa lo hubungin gue."
Disa mengangguk.
"Maksud lo apaan anjing!" Gara merasa tersindir dengan kata-kata Fahri.
Setelah Fahri mulai menjauh, Disa menatap Gara.
"Lepasin! Aku mau pulang!" sentaknya.
Gara tidak menjawab ia malah membawa Disa kedalam mobilnya.
Disa berusaha melepaskan cengkraman tangan Gara namun nihil, kenyataannya tangan Gara lebih kuat dari tenaganya.
"Lepasin aku Gara!" teriak Disa yang membuat Gara mendelik kaget.
"Diam Disa!"
"Lepas Gara!" Disa masih berusaha untuk lepas dari paksaan Gara, yang sama sekali tak digubris oleh laki-laki tersebut.
Dengan sedikit paksaan akhirnya Disa duduk di dalam mobil Gara. Ini pertama kalinya wanita itu berada di mobil Gara, selama ini? Jangan ditanya.
Gara menawarkan untuk pulang bareng saja hampir tidak pernah.
Disa Disa kasian sekali kamu.
Saat mobil melaju tidak ada pergerakan apapun dari Disa, ia hanya membuang muka ke arah jendela. Ia tak tau mantan kekasihnya akan mengajaknya kemana, Disa hanya bisa pasrah.
Yang ada difikiran Disa sekarang, kalau seandainya Gara berbuat macam-macam kepadanya Disa akan loncat. Bodo amat bila nanti tubuhnya memar-memar, atau kemungkinan yang terjadi ia akan mati. Ia lebih tidak rela jika laki-laki itu memegang tubuhnya barang seinci pun.
"Lo udah makan?" Disa mendengar Gara membuka suara.
Disa diam saja dengan tetap teguh membuang wajahnya di jendela meski sebenarnya kepalanya sudah pegal.
"Dis?"
"Disa?"
"Sejak kapan lo b***k?"
Gara menghela nafas kasar, "Mau lo apa sih?"
"Turunin aku sekarang!" ujar Disa dingin.
"Temenin gue makan," sahut Gara tak mau kalah.
Emosi Disa semakin menjadi, rasanya ia ingin berteriak di depan wajah mantan kekasihnya tersebut. Kemana saja dia selama ini? Kenapa baru setelah putus ia berlagak baik?
"Gar! Aku udah bilang kan sama kamu! Kita udah putus! Jadi gak usah sok berlagak seolah kita masih ada hubungan! Lebih baik kamu jadi Gara yang aku kenal dulu! Selama 3 tahun kita pacaran baru kali ini aku duduk di mobil berdua bareng kamu, tanpa adanya Tania tentunya. Selama 3 tahun kita pacaran baru kali ini kamu minta temenin makan," ujar Disa sambil tersenyum samar.
"Bahkan dulu untuk ngomong berdua sama kamu aja rasanya susah banget, kamu selalu nolak aku dengan alasan kamu masih sama Tania. Kalau untuk Tania kamu selalu ada, tapi kalo untuk aku? Kamu selalu berdalih bahwa Tania sahabat kamu, kamu pikir cuma Tania yang butuh kamu? Aku juga butuh kamu Gar, aku pacar kamu, waktu itu," mata Disa mulai berkaca-kaca mengingat itu semua membuatnya sesak.
Gara diam, laki-laki itu menepikan mobilnya ia masih ingin mendengarkan semua keluh kesah Disa selama ini, "Aku butuh kamu untuk ngedengerin semua masalahku, tapi kamu malah nolak. Aku capek Gara! Aku selalu jadi nomor dua dalam kisah cinta aku sendiri! Tiga tahun bukan waktu yang singkat buat aku Gar. Aku harus survive untuk keadaanku sendiri, aku selalu berusaha positif thingking demi hubungan kita. Aku pikir kamu sadar kalau aku juga butuh kamu, tapi nyatanya."
"Ah maaf aku cengeng," kata Disa sambil menghapus air matanya. Ia janji ini air mata terakhirnya setelah itu ia tak akan lagi menangisi kisah cintanya yang payah itu, "Aku minta maaf kalau nyalahin kamu terus, tapi aku benar-benar capek Gar. Tolong kali ini kamu yang ngertiin aku ya. Terima kasih tumpangannya."
"Gue antar sampai rumah lo," ujar Gara.
Disa tersenyum, "Nggak usah terima kasih." setelah itu ia keluar dan mencari ojek terdekat.
Kata-kata Disa sangat menampar Gara. Ia tak tau selama ini Disa sangat tertekan dengannya, Gara tau jelas tidak mudah untuk Disa membatin 3 tahun lamanya. Jadi apa yang selama ini kembarannya katakan adalah benar adanya. Gala pernah berkata untuk tidak terlalu menyepelekan perasaan orang, terutama perasaan Disa. Gara tak sadar akan perbuatannya, ia pikir semua akan baik-baik saja. Ia memiliki sahabat perempuan dan pacar yang begitu pengertian, Gara lupa bahwa Disa juga butuh dia.
Memang selama ini ia lebih fokus ke Tania, kalau sudah seperti ini, Garalah yang menyesal.