Part 02

1287 Words
"Aku mau kita akhirin hubungan ini Gar, aku tau kamu nggak pernah cinta sama aku tapi aku juga gak tau kenapa kamu malah jadiin aku pacar kamu selama 3 tahun terakhir. Mungkin selama ini kamu tertekan dengan status kita, daripada aku sama kamu bersama tapi nggak bisa satu tujuan, buat apa? Mending kita sudahi saja ya Gar. Terima kasih untuk 3 tahunnya, maaf kalau mungkin aku ada salah sama kamu, sekali lagi terima kasih," setelah mengucapkan kata itu Disa berjalan mendahului Gara. Sebenarnya sakit sekali hati Disa, tapi di sisi lain ia puas akhirnya bisa melepaskan Gara. Ia mampu mengatakannya dengan mantap, perasaanya menjadi lega. Disa melepaskan Gara bukan berarti wanita itu tidak mencintai Gara, melainkan Disa membiarkan Gara bahagia bersama pilihannya. Karena Disa sangat tau bukan dia yang Gara mau. Mulai sekarang ia bisa bernafas lega tanpa harus dihantui bayang-bayang Gara. "Biar gue anter!" tiba-tiba Gara mencekal tangannya kuat. Disa termangu sejenak, karena ini pertama kalinya Gara bersikap seperti itu. Sedetik kemudian Disa sadar, ia tidak boleh terjatuh hanya karena sikap Gara barusan. Dengan lembut Disa melepaskan cekalan Gara dari pergelangannya, "Eh nggak usah Gar, aku udah pesen ojek di depan. Terima kasih." bohongnya, setelah itu ia berlari meninggalkan Gara. Sampai di depan gerbang buru-buru ia membuka handphonenya, Disa harus cepat-cepat memesan ojek agar tak ketauhan Gara. Sialnya belum sempat memesan handphonenya mati, handphone Disa lowbat. Dilihatnya Gara sedang berjalan menuju parkiran itu tandanya ia harus segera bersembunyi agar laki-laki itu tak melihatnya. Disa pergi ke warung yang ada di sebelah sekolahnya sambil menunggu Gara pulang. Tak lama Gara keluar dari gerbang setelah motornya menjauh dari sekolah, Disa keluar. "Syukurlah!" Hari ini terpaksa ia pulang menggunakan angkutan umum, dimana itu akan membuatnya semakin jauh untuk sampai ke rumahnya. Disa harus menaiki dua angkot agar sampai kerumahnya. Apalagi hari semakin sore, biasanya jarang sekali ada angkot di jam-jam sore begini. Disa hanya membatin semoga saja ada, semoga kali ini ada angkot yang berpihak kepadanya. Kenyataannya hampir 2 jam ia menunggu tidak ada angkot yang melintas, di tambah gerimis. Ingin rasanya Disa menangis sekarang. Ia yakin sang mama sangat cemas menunggunya di rumah. Disa ingin jalan saja, tapi tidak memungkinkan mengingat jarak rumahnya lumayan jauh. Semesta tidak berpihak pada Disa sekarang, padahal jauh di lubuk hatinya gadis itu menahan tangis. Ia kecewa, sedih, marah, membuat pikirannya semakin penuh. Padahal Disa ingin cepat pulang agar bisa merebahkan dirinya di atas kasur favoritnya, namun realitanya ia duduk sendiri di halte menunggu sebuah angkot melintas di depannya. Menyedihkan memang, tetapi Disa tak bisa berbuat apa-apa. Saat kepalanya menunduk, Disa mendengar suara motor yang menepi. Pasti si pengendara sedang meneduh karena gerimis semakin deras. "Katanya udah pesen ojek?" "Kok masih disini?" tambahnya. Jantung Disa berhenti sejenak. Suara itu mirip suara Gara. Cepat-cepat Disa mendongak. Dan benar. Itu Gara. Rasanya Disa ingin menghilang sekarang juga, ia malu ketauhan berbohong dan juga ia tidak ingin bertemu lagi dengan mantan pacarnya tersebut. Gara menaikkan sebelah alisnya. Astaga tuhan mana bisa Disa move on kalau seperti ini, "Mau gue anter?" Seketika lamunan Disa buyar, bisa-bisanya Gara mau menerbangkannya lagi. Disa tidak akan jatuh kepada Gara, manusia yang sama sekali nggak punya hati menurut Disa. "Enggak usah," ketus Disa tanpa mau melihat kearah Gara. Disa berharap laki-laki itu segera pergi, untuk apa juga dia disini bahkan selama mereka menjalin hubungan mana pernah Gara mengantarkan ia pulang apalagi menemaninya menunggu kendaraan untuk Disa pulang. Bukannya pergi, laki-laki itu malah mengambil tempat di sebelah Disa. Reflek Disa menjauh dari Gara. 5 menit mereka hanya diam. Disa dengan segala pikirannya dan Gara yang bingung harus berbasa-basi apa. "Tadi lo bilang apa sama Gala?" Disa memutar bola matanya malas, pasti Gara akan memarahinya hanya karena Tania lagi. Daripada berdebat dengan Gara, Disa memilih diam. "Lo bilang ke Gala kan kalau gue nganterin Tania?" Tania lagi kan? Disa sudah hafal eperybadii. Disa tak menjawab, benar-benar sungguh muak. "Punya mulut tuh di jawab," ujar Gara sambil menarik dagu Disa. Sontak Disa menepis tangan Gara, "Apaan sih Gar!" serunya yang mulai terbawa emosi. "Gue dari tadi nanya lho?" sahutnya tak terpancing amarah Disa. Disa tersenyum miris, drama apa lagi yang akan laki-laki itu perankan. "Lo kan yang bilang ke Gala?" Oh tuhan, tidakkah laki-laki itu liat bahwa Disa enggan untuk berbicara kenapa masih terus membahas Tania? Disa sudah tidak ada hubungan dengannya. "Kalau lo nggak jawab, gue bakal seret lo buat balik sekarang," ancam Gara. Disa menghembuskan nafas kasar, licik sekali mantannya ini, dengan mata merah menahan amarah Disa menatapnya, "Iya aku yang bilang kalau kamu ada nganterin Tania. Lagian sekarang itu udah bukan urusan aku lagi! Stop ya Gar, kita udah selesai!" Disa bangkit dari duduknya namun tangan milik Gara sudah bertengger di pergelangannya. "Mau kemana?" tanyanya santai. Apa memang semua laki-laki sama-sama begini? Disa mengehentakkan cekalan tangan Gara, tapi seolah percuma cekalan Gara lebih kuat daripada tenagannya. "Lepas Gar!" serunya. Namun Gara tak menggubrisnya. "Mau apa si kamu Gar!" emosi Disa benar-benar sampai puncak. "Pulang sama gue," "Kamu b***k apa gimana sih? Aku bilang enggak ya enggak!" teriak Disa. Ini pertama kalinya Disa murka, padahal sebelumnya wanita itu tak pernah sama sekali berkata kasar kepada orang lain. Hari ini semua emosinya menumpuk menjadi satu, emosi yang selama ini ia pendam sendiri akhirnya keluar. Meski sebenarnya itu hal wajar bagi sebagian orang, bahkan orang lain bisa jauh lebih marah dari Disa. "Pulang sama gue Disa!" desis Gara tajam. Disa menyeringai, "Lepasin Gara!" "Mulai ngebantah ya sekarang!" "Inget! Kamu sama aku udah nggak ada hubungan ya Gar!" "Kata siapa?" tantangnya. Selain tak berperasaan Gara juga hilang akal. Disa menahan tangannya agar tidak menampar laki-laki di depannya yang baru beberapa jam lalu menjabat sebagai mantannya. "Aku capek Gar, serius! Aku udah gak ada urusan lagi sama kamu," ujar Disa melemah. "Lo aja yang anggap kita putus, sedangkan gue enggak Disa!" tekannya. Disa mulai tau cara main Gara, "Aku aja yang anggap kamu pacar, sedangkan kamu?" Damn! Seketika Gara diam, apa yang dikatakan Disa memang benar adanya. "Dengerin gue dulu Dis," "Apalagi Gar! Apapun alasan kamu itu nggak bakal ngerubah keadaan Gara! Inget Gar gak semua ekspetasi kamu harus terkabul!" setelah mengatakan itu Disa pergi meski sebenarnya ia bingung harus pergi kemana. *** Senyuman Dira seketika berubah saat melihat Gara yang sudah di depan kelasnya. Buru-buru ia melipir berbalik arah, namun Gara melihatnya. Dira tidak peduli ia terus berjalan dengan langkah lebar, "Dira tunggu!" teriaknya. Disa masih terus berjalan, "Tunggu!" pergelangannya sudah dicekal kuat oleh Gara. "Lo kenapa sih?" Kenapa? Disa tak habis pikir dengan sebuah kalimat yang Gara katakan. "Dengerin gue dulu," "Apalagi sih! Kita udah nggak ada hubungan Gara! Bisa nggak sih kamu gak usah ganggu gue lagi!" "Dis-" "Sepertinya Tania lebih butuh kamu!" ujar Disa saat melihat Tania yang baru datang. "Lo itu masih pacar gue Disa!" geram Gara. Laki-laki mulai terpancing emosinya. "Hah?" sahut Disa. "Apa aku nggak salah denger? Pacar? Pacar yang nggak kamu anggap sih lebih tepatnya!" ia melirik Tania yang ternyata masih berdiri di sana. "Kalo kamu lupa, kita udah putus. Oh ya, tuh ditungguin sama SAHABAT kamu!" tambah Disa kemudian menyentak tangan Gara. Disa masuk ke dalam kelasnya dengan tubuh lemas. Ia hanya berusaha acuh di depan Gara agar laki-laki itu tidak meremehkannya. Mana mungkin Disa menunjukkan kerapuhannya di depan Gara. Baru saja Disa mendudukkan bokongnya di bangku, Raina datang dengan kehebohannya. "Disaa!" teriaknya heboh. "Lo kenapa?" Disa menghela nafas pelan. "Cerita-cerita, lo ada apa sama Gara? Kalian putus?" cercanya. "Sstt!!" "Gue pusing denger teriakan lo Na. Kalo mau denger cerita gue, nanti aja ya! Pala gue puyeng!" "Tapi Disa! Lo tau kan sahabat lo ini kepo maksimal!" "Udah diem! Gue bilang nanti, ya nanti. Nanti malem lo nginep rumah gue, ok?" "Nginep rumah lo?" Disa menganguk, lantas Raina hendak protes namun, "Gak butuh penolakan!" Raina mengangguk patuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD