Part 01

1651 Words
Disa merapikan penampilannya sebelum bertemu Gara, mencuci mukanya berkali-kali agar laki-laki itu tak curiga. Hari ini ia menguatkan hatinya untuk bertemu Gara. Di tatapnya dirinya di dalam cermin, tidak begitu memprihatinkan, untung saja toilet sekolahnya masih sepi hanya ada Disa disana. 15 menit lagi bel masuk berbunyi ia harus cepat-cepat menemui Gara. Disa berlari menuju perpustakaan dimana tempat itu menjadi tempat Gara saat sedang istirahat, ia akan menemani Tania disana. Benar saja, disana Disa melihat Gara sedang bersama Tania. Saking asyiknya keduanya tidak menyadari kedatangan Disa. Disa hanya tersenyum miris melihat kekasihnya begitu nyaman dengan perempuan lain, "Permisi." sapanya. Tania dan Gara kompak menengok kearahnya, "Disa?" sahut Tania. Disa hanya tersenyum simpul. "Ada apa Dis?" tanya Gara. "Ehm ada yang mau aku omongin Gar," ujar Disa. "Mau ngomongin apa?" Disa berusaha untuk tidak menatap mata Gara, bisa-bisa ia semakin gugup untuk bicara, "Bisa kita bicara berdua?" "Gue masih nemenin Tania Dis," Disa menelan salivanya pelan, ia tau jawaban ini yang akan keluar dari mulut kekasihnya tapi bodohnya masih saja ia tanyakan. Biarlah! Disa tidak peduli, apapun alasannya Disa akan meminta Gara untuk menurutinya. "Sebentar saja," "Tapi Dis-" Ucapan Gara terpotong karena Tania, "Udah deh Gar, orang Disa mau ngomong tuh, gue gak papa kali." "Bisa nanti-nanti kok Tan, yakan Dis?" Nanti-nanti? Saat itu juga rasanya Disa ingin menangis, setidak penting itukah dirinya dimata Gara. Sesak, sangat sesak. "Aku maunya sekarang Gar," paksa Disa. "Noh tuh dengerin," kata Tania, "Udah deh Gar, sana!" "Disa cepet nih bawa aja si Gara," lanjut Tania. Seakan disini terbalik, seharusnya Gara yang tak ingin pergi dari Disa yang notabennya kekasihnya, bukan malah menolak mentah-mentah kehadirannya. "Yaudah iya," dengan wajah sedikit kesal Gara menuruti kemauan Disa, salah! Bukan kemauan Disa tapi karena paksaan Tania. Dengan Tania, Gara langsung gerak cepat sedangkan dengan Disa? Gara melangkah mendului Disa, sepertinya laki-laki itu masih kesal dengan Disa. Disa tak ingin berlama-lama, saat keduanya sudah berada di luar perpusatakaan Disa mulai memberanikan diri mengatakan maksud dan tujuannya, namun belum sempat Disa berbicara suara benda jatuh dari dalam perpustakaan membuat Gara langsung berlari. "Tania!" teriak Gara. Disa juga ikut masuk melihat apa yang terjadi dengan Tania. Disana ia melihat Tania tergeletak tak sadarkan diri di tempat tak jauh dari saat terakhir Disa dan Gara tinggalkan. Beberapa buku ikut terjatuh, Gara begitu panik laki-laki itu langsung menggendong Tania dan membawanya ke uks. Lagi-lagi Disa hanya mampu tersenyum miris. Ia tau tak seharusnya ia cemburu pada Tania sekarang, Disa tau Gara hanya menolong sahabatnya. Tidak semudah itu ternyata menyuruh perasaanya untuk tidak cemburu pada Tania. Melihat kepanikan dan kekhawatiran Gara membuat Disa berfikir apakah akan sama yang akan Gara lakukan jika itu terjadi pada Disa? Disa kembali menuju kelasnya, ia sengaja tak ingin mengantarkan Tania ke uks karena Disa tak ingin perhatian-perhatian Gara untuk Tania nantinya akan membuat wanita itu iri. Fikiran Disa mulai melayang ke beberapa waktu yang lalu. Saat dirinya ingin menanyakan hal yang sama pada Gara namun laki-laki itu malah mengalihkan topik Disa, seolah memang Gara menghindar dari pembahasannya saat itu. Tak heran Gara selalu mengelak jika Disa mulai membahas perihal hubungannya. Entah apa alasan Gara, Disa tak mengerti. "Dis!" sentak teman sebangkunya. Disa menoleh, "Kenapa?" tanya Raina. Ia hanya menggeleng lalu menenggelamkan kepalanya di tumpukan kedua tangannya. "Yee di tanyain ngapa jadi gitu lu," Mood Disa benar-benar berantakan semua karena Gara. "Gara lagi?" tanya Raina. Wanita itu belum saja menyerah melihat sahabatnya yang baru ia temui 3 tahun yang lalu itu galau lagi. "Lagi gak mood ngomong gue Rainnn!" Disa menengadahkan kepalanya lalu menatap Raina tajam. Sedangkan yang ditatap cengengesan, "Sorry sorry lu lanjut aja deh ngegalaunya." Disa mencebikkan bibirnya kesal karena ulah Raina, ya Disa tau maksud Raina seperti itu ingin menghiburnya. Tapi Disa ya Disa, ia akan terus diam jika sedang kacau hatinya. *** Bel pulang sudah berbunyi sejak satu jam yang lalu namun Disa masih setia berada di depan kelas, ia menunggu laki-laki yang berjanji akan menemuinya pulang sekolah. Namun lagi-lagi sepertinya laki-laki itu mengingkari janjinya padahal hampir satu jam Disa menunggunya. Tak kehabisan akal Disa mencoba menghubunginya, ia merogoh ponselnya yang ia simpan di saku seragamnya. Nihil, Gara tak mengangkatnya. Disa menghembuskan nafas sepertinya ia tau dimana kekasihnya sekarang. Ia mengirimkan beberapa pesan yang mungkin tak Gara baca langsung. Disa mengatakan akan terus menunggu Gara di sekolah sampai laki-laki itu datang, biarpun Gara akan datang 5 jam lagi atau bahkan 7 jam lagi. Yang Disa harapkan Gara datang dan ia bisa segera menyelesaikan semuanya. Kadang Disa ragu dengan Gara, apakah benar Gara mencintainya? Bahkan jika diliat, sama sekali tidak ada perhatian dari laki-laki itu, seakan yang ada dipikiran Gara hanyalah Tania, Tania, dan Tania. Bila Disa bertanya "Kenapa Tania terus sih?" maka jawaban simpel keluar dari mulut Gara "Tania sahabat gue, dia butuh gue Dis." Setelah itu Disa akan tersenyum miris. Kata-kata itu seolah menjadi jargon Gara untuk mematahkan hati Disa. "Tapi aku pacar kamu Gar," Disa hanya mampu membatin. Dilihatnya room chatnya dengan Gara, lagi-lagi ia hanya mampu tersenyum miris. Bahkan ia tidak sadar kalau Gara tidak pernah membalas pesannya, tidak pernah menanyakan sedang apa, sudah makan belum atau sekedar sapaan selamat pagi pun tidak ada. Selama 3 tahun mereka pacaran tapi tidak pernah melakukan hal-hal selayaknya pasangan, semacam sendiri padahal menjalin hubungan. Kenapa Disa baru sadar? Entah meski Gara memperlakukannya sebagai kekasih tak kasat mata, Disa memiliki perasaan lebih untuk Gara. Disa memang gila. Sepertinya Disa harus segera mengakhiri hubungan ambigu itu dan melupakan perasaannya. Hari semakin petang tapi laki-laki yang ia tunggu tak kunjung datang. Rasanya hampir Disa menyerah, namun kalau tidak segera ia selesaikan Disa akan terus-terus memikirkan hal-hal yang mungkin otaknya saja akan jengah. Baiklah satu jam lagi, satu jam lagi Gara tidak datang Disa akan pulang dan menganggap hubungannya telah berakhir. Tidak peduli dengan persetujuan Gara. "Satu jam lagi Disa, satu jam lagi!" ujarnya menyemangati dirinya sendiri. Ia menengadahkan kepalanya keatas rasanya berat hubungan yang sedang ia jalin bersama Gara. 3 tahun lamanya ia memendam semua ini, gejolak rasa yang ingin meminta Gara untuk menganggapnya ada. Bibirnya ia gigit pelan mengingat setengah jam lagi laki-laki itu belum datang, maka ia akan pulang, setelah itu tidak ada lagi hubungan yang membuat batinnya tertekan. "Kamu kuat Dis! Kamu bisa ngelupain Gara! Buat apa kamu naruh perasaan buat orang yang bahkan nggak pernah nganggap kamu ada! Jangan bodoh Disa kasian mama papa kamu, mereka nyekolahin kamu tujuannya buat kamu pinter bukan malah bodoh kayak gini, apalagi bodoh soal cinta!" omelnya. "Dis!" seketika Disa menoleh ia kira Gara yang datang, ternyata Gala dan Sina. "Nunggu Gara?" tanya Gala. Disa tersenyum sambil mengangguk, "Iya nih nunggu kembaran lo." "Emang dia kemana Dis?" tanya Sina yang tak lain adalah pacar Gala. "Biasa lagi nganter Tania," sahutnya. Seketika raut wajah Gala berubah tidak suka, "Dasar bebal padahal udah gue bilangin jangan terlalu deket sama Tania, sialan tuh orang!" "Ish yang! Gara masih kembaran kamu lho," peringat Sina. "Ogah gue punya sodara yang gobloknya nggak ngotak," Disa merasa tak enak karena mengadukan Gara ke Gala, "Udah Gal, gakpapa lagi. Lagian tadi Tania pingsan di perpus jadi Gara nganterin dia pulang." "Halah itu akal-akalan si rubah, dia itu licik Dis. Gue udah tau kelakuan si rubah betina itu, Gara aja yang g****k masih aja kemakan omongannya. Padahal udah sering gue ingetin!" Disa tercengang saat Gala menyebut Tania rubah betina. Bukannya Tania itu anak yang baik, kenapa malah Gala menuduhnya yang tidak-tidak. "Lo mau balik bareng gue Dis?" tawar Gala. "Iya Dis, mending bareng kita," lanjut Sina. "Eh nggak usah gue nunggu Gara aja, soalnya tadi dia janji bakal datang kok," "Mau sampek kapan nunggu tuh bocah songong?" tanya Gala sedangkan Disa ia bingung harus menjawab apa. "Udah lo hubungin?" Disa mengangguk, "Tapi nggak ada respon. Mungkin dia lagi dijalan." sahut Disa mencoba meyakinkan Gala, ia takut Gala memarahi Gara nanti. "Pasti tuh anak masih ditahan pulang sama Tania! Lo yakin gak mau balik bareng gue?" Disa menggeleng, "Terima kasih ya Gal, San tawarannya." "Kalo gitu gue balik dulu mau nyamperin si abang g****k itu sekalian," "Gue duluan ya Dis," pamit Sina dan Gala. "Iya kalian hati-hati," Netranya menatap dua sejoli yang melangkah menjauh dari Disa. Ada perasaan iri di hati Disa saat melihat Sina dan Gala, tampaknya Gala begitu mencintai Sina dan sebaliknya. Beruntungnya Sina mendapatkan Gala. Gala yang selalu membawa Sina kerumahnya dan mengenalkannya ke keluarganya, sedangkan Disa? Buru-buru ia menepis pikiran-pikiran negatif yang ada dikepalanya, mungkin ada baiknya Gara tak memperkenalkannya kepada bunda dan ayahnya, biar Disa lebih gampang melupakannya nanti. Disa harus lebih sadar diri. Ia memejamkan matanya sebentar berharap saat ia membuka mata semua rasa yang ada dalam benaknya sedikit pudar, tapi Disa tau itu tak mungkin. Tak mungkin bila Gara tiba-tiba ada disana dan mengatakan bahwa akan memprioritaskannya, mustahil. Saat matanya terbuka sosok tinggi berdiri di depannya, hampir saja ia terjengkang dari duduknya. "Gara?" cicitnya. "Mau ngomong soal apa?" ujarnya to the point, rasa-rasanya untuk mengobrol dengan Disa laki-laki itu ogah. Disa mengigit bibir bawahnya, tiba-tiba dirinya menjadi gugup ditatap Gara. Namun segera ia tepis, kesempatan ini tidak bisa ia sia-siakan begitu saja. Selagi sekarang Gara datang menemuinya tanpa Tania. Hembusan nafas pelan terdengar, Disa mencengkeram sisi rok seragamnya. Dengan takut-takut ia memberanikan diri menatap wajah Gara. Saat kedua bola mata itu beradu, Disa menjadi kuat untuk mengatakan maksud hatinya. Ia menjadi yakin. Karena Disa tau, saat melihat dari sorot mata Gara, laki-laki itu memang tak memiliki rasa untuknya. "Sebenarnya kamu anggap aku apa Gar?" ujarnya memulai pembicaraan. "Maksud lo apa sih Dis?" laki-laki menatap aneh kekasihnya. "Aku capek ya Gar. Aku capek harus ngertiin kamu terus!" terlihat mata wanita itu mulai memerah. "Ayo gue antar lo pulang, keliatannya lo butuh istirahat sekarang," ujar Gara berlalu meninggalkan Disa. Selalu, selalu saja seperti ini. Selalu Disa yang harus mengerti, selalu Disa yang harus memahami. Bukankah dalam menjalin hubungan seharusnya sama-sama berjuang ya? Bukan malah yang satu berjuang mempertahankan, yang satu lagi seolah melepaskan. "Tunggu Gar!" cegahnya. Gara yang awalnya berjalan di depannya seketika menghentikan langkah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD