Part 07

1421 Words
Sepiring roti dengan segelas s**u sudah tertata rapi di atas meja makan tinggal menunggu sang tuannya turun untuk menyantapnya. Tak lama gadis dengan ponytail sebahu itu turun mendekat ke arah meja makan, "Bunda selamat pagi!" sapanya. "Selamat pagi? Bagaimana semalam nyenyak?" Sambil mengambil roti ia mengangguk, "Nyenyak dong. Masa enggak." Bundanya menarik bibirnya untuk tersenyum, "Cepet makannya, udah mau setengah tujuh tuh." Disa dengan segera meneguk segelas s**u miliknya, "Ini udah selesai bun." buru-buru ia mengambil tangan bundanya lalu menciummnya. "Bunda, Disa pergi dulu!" pamitnya. "Iyaa hati-hati," Disa segera menuju garasi. Vespa matic kuning kesayangannya sudah siap menunggu pemiliknya. Baru saja ia akan menaiki motor tersebut, dari arah gerbang ia melihat Gara lengkap dengan motornya. "Gara," Gara menoleh menatap sang kekasih yang kini menatapnya aneh. Gadis itu merasa janggal dengan kekasihnya yang tersenyum dengan wajah berseri menatapnya. "Selamat pagi," sapanya saat Disa berjalan mendekatinya. "Pagi," sahut Disa kikuk. Gara menaikkan sebelah alisnya, "Ada yang aneh emangnya?" Oh Disa hampir tak mengatupkan mulut sangking terpesonanya. Sedetik Disa terhipnotis dengan wajah tampan kekasihnya itu, sungguh tidak ada yang lebih indah selain wajah Gara sekarang. Dengan laki-laki itu menaikkan alisnya sebelah mampu membuat Disa terbang seketika. Jangankan Disa, gadis itu yakin pasti perempuan-perempuan di luar sana juga mengakui itu. Tuhan, tolong Disaaa! "Eng-eng-enggak kok," Laki-laki itu mengangguk sambil mengacak pelan rambut Disa, "Cantik banget sih kakaknya. Gemes deh." Oh.. Tolong Disa ingin pingsan sekarang, ia tak bisa menyembunyikan kesalahtingkahannya di depan Gara. Apa, apa yang harus Disa lakukan sekarang? Benar-benar gadis itu mati kutu, otaknya seketika membeku hanya karena gombalan Gara. "Apaan sih!" respon Disa. Jangan lupakan jantung Disa yang semakin berdetak tak karuan. "Mau berangkat nggak?" tawar laki-laki di depannya itu. Disa masih bergeming di tempat. Ingatannya tentang Gara yang tiba-tiba datang lalu marah kemarin sore masih menjadi pertanyaan Disa, pagi ini Gara tampak biasa aja bahkan terkesan tidak ada apa-apa di antaranya. Padahal niat Disa hari ini akan menjelaskan semuanya kalaupun Gara tidak percaya, ya Disa tidak bisa berbuat lebih. Syukurlah kalau memang laki-laki itu tidak lagi kesal padanya. "Ayo cepat naik, keburu bel masuk Disa," kata Gara sambil menarik tangan Disa pelan. Gara meyodorkan helm untuk dirinya, "Terima kasih." sahutnya sambil menerima helm yang di berikan Gara. "Udah siap?" "Udah," Setelah itu Gara menghidupkan motornya dan perlahan menjauh dari rumah Disa. Sebenarnya wanita itu tak tega meninggalkan motor vespa kesayangannya, sudah satu minggu lebih mungkin Disa tak membawa si kuning ke sekolah. Iya Disa biasanya pergi sekolah menggunakan motor tapi kalau gadis itu sedang malas menggunakan motor ia akan pergi menggunakan angkutan umum. Disa dan Gara masih sama-sama diam di atas motor. Selama tiga tahun menjadi kekasih Gara, ini pertama kalinya ia merasakan di bonceng Gara menggunakan sepeda motor, jangan tanya sebelum-sebelumnya mereka bagaimana. Laju motor yang awalnya lumayann kencang mendadak sangat pelan. "Kenapa?" tanya Disa sambil sedikit menarik kepalanya ke samping agar terlihat Gara. "Kenapa pelan maksud kamu?" "Iyaaa," Disa setengah berteriak agar Gara bisa mendengarnya, padahal tanpa mengeluarkan ototnya Gara bisa mendengarnya. Nyatanya memang Disa saja yang terlalu berlebih-lebihan. "Gak papa mau nikmatin waktu berdua sama kamu," Pipi Disa merona seketika, untung saja Gara tak melihatnya. Moodnya benar-benar bagus hari ini, lebih tepatnya sangat bagus. Tolong jangan sampai ada yang merusaknya! "Tapi udah mau bel Gara, cepet aja bawanya," protes Disa padahal sebenarnya gadis itu juga ingin berlama-lama bersama Gara. "Udah biarin aja," Ya sudah kalau itu kemauan Gara, Disa tidak keberatan. Paling-paling jika mereka telat Pak Budi akan memarahinya setelah itu mengizinkan Gara dan Disa masuk. Disa menoleh ke kanan dan ke kiri, menikmati jalanan yang biasa ia lewati tetapi hari ini jalanan itu terasa berbeda. Entah karena gadis itu melewati bersama Gara atau memang hawa hari ini memang sangat menyejukkan. Yang pasti benar-benar berbeda. "Awas jatuh," ujar Gara sambil menarik tangan Disa agar wanita itu melingkarkan ke pinggangnya. Ya semacam mencuri kesempatan dalam kesempitan. Disa menurut saja tanpa berniat menjawabnya karena bisa ia rasakan jantungnya kini berpacu dengan tidak wajar. "Disa tenang, tenang ya jangan gugup," batin Disa mencoba menenangkan dirinya sendiri. Tidak hanya disitu, Gara berulah lagi. Laki-laki itu terus memegang tangan Disa tanpa berniat melepaskan. Disa dapat merasakan gesekan tangan Gara di punggung tangannya, oh bolehkah ia meminta untuk memperlambat waktu? Disa ingin berlama-lama bersama Gara tanpa adanya gangguan dari Tania. Meski laki-laki itu mengiyakan permintaan Disa, ia tidak begitu percaya. Ada sedikit keraguan disana, di tambah Tania dan Gara berada di satu kelas yang sama. Tidak mungkin juga Gara tiba-tiba acuh pada gadis yang katanya hanya sahabat itu. Rasanya lucu juga Disa pura-pura diam selama ini. Mengingat Tania membuat mood Disa sedikit berubah, kenapa juga Disa memikirkan Tania? Ah gadis itu menyesal sekarang. "Disa," panggil Gara. Disa yang sedikit melamun terperanjak kaget mendengar panggilan Gara, "Iya Gar?" sahutnya dengan nada yang tidak sebahagia tadi. "Nanti pulang sama aku," ujarnya. Disa meneguk ludahnya, mungkin Gara pikir Disa akan pulang lagi bareng Fahri, "Iya." "Jangan pulang dulu sebelum aku nyamperin kamu ya," "Iya Gara," Memang sangat posesif laki-laki itu. Disa jadi mengerti sekarang, ia baru mengetahui ke posesifan Gara. Kalau di ingat-ingat, dulu mana pernah laki-laki itu khawatir soal Disa, ingat ia sudah memiliki kekasih saja syukur. Lagi lagi Disa kembali mengingat apa yang seharusnya tak perlu gadis itu ingat sebab sama aja merusak kebahagiannya sendiri. "Ah Tania! Mengganggu saja!" batin Disa kesal. Disa menghembuskan nafas lega saat melihat gerbang sekolah masih terbuka. "Mas Gara Mbak Disa ayo cepetan sebentar lagi udah mau bel," teriak Pak Wawan selaku satpam di sekolahnya. "Baik pak," sahut keduanya. Buru-buru Disa turun dan segera beranjak meninggalkan Gara, "Disa!" panggil Gara. Disa menggerutu sebal, "Apalagi sih Gar?" "Helm copot dulu, buru-buru banget sih," Astaga Disa! Gadis itu merutuki kebodohannya, "Maaf lupa." ujar Disa menyengir. Gara mendekat dan membantu Disa melepas helm. Disa benar-benar menahan nafas saat mereka berhadap-hadapan dengan sangat dekat. Bahkan gadis itu mampu mencium aroma wangi tubuh Gara. "Terima kasih," setelah itu Disa berbalik dan langsung pergi meninggalkan Gara sambil menyembunyikan rona di pipinya. Rania yang melihat sahabatnya baru masuk ke dalam kelas mengernyitkan dahi heran. Dengan wajah memerah dan tangan yang memegang d**a kirinya, Disa berjalan setengah tergesa. Setelah sampai di bangku Disa mendudukkan dirinya dengan sedikit keras. "Disaa!" teriak Raina. "Sstt! Diem!" sentak Disa dengan tangan yang masih memegang d**a kirinya. "Jantung gue! Jantung gue Rain!" Melihat Disa seperti itu Raina panik, ia kira sahabatnya kenapa-napa, "Kenapa jantung lo?" paniknya. "Jantung gue Rain!" "Astaga lo kenapa? Gue musti ngapain ini," Rania bingung, haruskah ia membawa Disa ke uks pagi ini juga? "Jantung gue detaknya nggak karuan Rain," adu Disa. Rania mengusap wajahnya kasar, "Lo habis ngapain sih Dis!" "Gara, ini semua gara-gara ulahnya," Raina hampir saja mengamuk mendengar pengakuan Disa. Namun ia urungkan saat mendengar lanjutan kata dari Disa, "Gue makin jatuh cinta sama dia." Mata Rania melotot tajam ke arah Disa, wanita itu membuat Raina dongkol sedongkol-dongkolnya tapi rupanya Disa tak peduli dengan itu, ia tetap mengungkapkan isi hatinya yang sedang berbunga. "Lo tau Rain tadi ah perlakuannya bikin jantung gue mau copot, perlakuan manisnya makin buat gue terpesona," puji Disa dengan nada yang menggebu-gebu. Padahal Rania sudah menutup telinganya, sahabatnya itu enggan mendengar lagi cerita Disa. Ia tak kan peduli dengan kisah cinta Disa, sungguh merepotkan. Raina kira Disa kenapa-napa tadi. "Rain lo dengerin gue kan?" Raina melirik Disa dengan kejudesannya, "Sayangnya enggak!" "Gue lagi seneng lho Rain, masa lo nggak mau denger cerita gue," ujarnya sambil mengayun-ayunkan lengan Raina. "Disa jijik! Stop it!" amuknya. Seketika Disa menghentikan ayunan pada lengan Rania, "Ih marah-marah terus." dengus Disa. Raina menggelengkan kepalanya, jelas-jelas yang membuat Raina marah ya karena ulahnya. Sekali-kali Rania ingin menenggelamkan sahabatnya itu ke dalam sungai. *** "Lo yakin nungguin Gara?" tanya Raina yang diangguki Disa. Raina menghela nafas, "Kenapa sih? Lo itu kalau bucin g****k. Capek gue!" "Apa sih Rain, syirik aja," Ya namanya saja Disa si tukang bebal, Rania saja sering kesal dengan tingkah Disa. Heran saja dengan perempuan itu, padahal tadi jelas-jelas Raina melihat Gara pulang bersama Tania. "Ya udah kalau lo masih nunggu Gara, gue balik dulu! Bye!" "Ya udah sana!" setelah itu Rania pergi meninggalkan Disa yang masih duduk anteng di depan kelas. Di lihatnya chat Gara 5 menit yang lalu, laki-laki itu mengatakan bahwa ia memiliki urusan sebentar dan ia meminta Disa menunggunya. Disa tau apa yang Rania katakan itu benar, mana mungkin sahabatnya itu bohong kepadanya. Namun entah Disa sangat lemah dengan Gara, apapun kesalahan yang Gara sudah perbuat Disa masih bisa terus memaafkan. Ia tetap menunggu Gara padahal jelas-jelas Disa tau Gara tidak akan bisa meninggalkan Tania. "Aneh Gar. Aku masih mau aja nungguin kamu!" lirihnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD