Part 06

1283 Words
Gara melihat Tania meringkuk di atas tempat tidur dengan wajah yang sembab. "Tan?" panggil Gara lirih. Seketika Tania mendongak lalu memeluk erat Gara, "Aku takut Gar." Suara tangisan Tania kembali terdengar, "Ada aku disini. Jadi kamu tenang ya," bujuk Gara sambil membalas pelukan Tania. Dalam dekapan Gara, Tania merasa aman. Gara adalah satu-satunya rumah yang bisa membuat Tania merasa tenang. Hanya laki-laki itu yang bisa Tania andalkan dalam hidupnya. "Sekarang tidur lagi ya?" ujar Gara seraya mengusap surai panjang gadis tersebut. "Aku tunggu disini," Gara membantu Tania untuk kembali beristirahat, ia sudah berjanji menunggu gadis itu hingga tertidur. Tak butuh waktu lama untuk Tania masuk ke alam mimpinya. Suara dengkuran nafas teratur terdengar, Gara menatap wajah Tania yang terlihat tenang. Laki-laki itu menghembuskan nafas lega, setidaknya ia datang tepat waktu ke rumah Tania kalau seandainya ia terlambat entah ia tidak tau bagaimana nasib Tania. Tania memiliki trauma akut, orang tuanya meninggal karena kecelakaan pesawat 2 tahun yang lalu, saudara kembarnya, Talia juga ikut meregang nyawa karena kecelakaan tersebut. Tania benar-benar seorang diri sekarang. Kini hanya Gara yang menjadi sandaran Tania, laki-laki itu bahkan rela melakukan apa saja untuk Tania. Bahkan ia lebih mementingkan Tania daripada Disa, kekasihnya. Ada alasan lain yang belum bisa Gara ungkapkan mengenai mengapa ia lebih mementingkan Tania. Di rogohnya ponsel yang berada di saku celananya, sudah pukul 5 lebih. Kemudian ia membuka aplikasi w******p lalu mencari nama Disa disana, Gara ingin menanyakan apakah wanita itu masih berada di tempat pameran atau sudah pulang. Namun saat pesan itu terkirim hanya terdapat ceklis satu, yang artinya Disa sedang offline. Rupanya gadis itu tidak menghidupkan data internetnya. Ia mencoba menghubungi Disa tapi tidak bisa, Gara semakin gelisah. Ia tak mau terjadi apa-apa pada kekasihnya tersebut. Di lihatnya Tania masih tertidur, ia bisa memanfaatkan waktu untuk menyusul Disa. Buru-buru ia menyambar jaket lalu keluar menaiki mobilnya. *** Saat sampai di gedung pameran ia tak melihat adanya Disa. Gara kembali masuk ke dalam dan mencari Disa, namun sepertinya wanita itu sudah pulang. Tanpa pikir panjang Gara kembali mengendarai mobilnya lalu pergi menuju rumah Disa. Laki-laki itu ingin memastikan Disa pulang dengan selamat. Baru saja ia akan sampai di depan rumah Pelangi, handphone Gara bergetar nama Tania terpampang di layar. "Kamu dimana Gar?" tanya Tania cemas. Gara mengusap wajahnya kasar, "Ehm aku beli makan Tan. Soalnya aku tadi lapar, dan di kulkas aku lihat tidak ada apa-apa." Ia mencoba mencari alasan yang terdengar cukup masuk akal. "Aku kira kamu pergi," "Enggak kok, kamu sudah makan?" "Sudah," "Kalo begitu aku pesan dulu ya, sebentar lagi aku balik ke sana," Tut.. Rasanya Gara ingin membelah diri menjadi dua sekarang. Di satu sisi ia ingin menemui Disa tapi di sisi lain ada Tania yang menunggunya. Sejujurnya hari ini ia ingin menghabiskan satu harinya bersama Disa, lebih tepatnya pergi berdua seperti apa yang diinginkan kekasihnya selama ini. Karena ia tau selama 3 tahun ia menjalin kasih dengan Disa, mereka tidak pernah pergi berdua bersama selalu saja ada Tania. Gara tau, wajar saja Disa marah. Padahal tinggal sedikit lagi Gara sampai di depan rumah Disa, namun apa boleh buat Tania sedang menunggunya. Tiba-tiba mata Gara melihat Disa di bonceng oleh seorang pria. Tapi entah pria tersebut siapa, tidak begitu jelas mata Gara menangkapnya karena si pengendara menggunakan helm full face, tapi ia yakin bahwa yang di bonceng itu adalah Disa. Benar saja motor tersebut berhenti di depan rumah Disa. Wajah ayu Disa tersorot jelas apalagi sinar matahari sore yang membuat wajah ayu itu seakan bersinar. Disa terus menampakkan senyum manisnya disana membuat Gara memanas. Ia memukul kemudi marah. Laki-laki yang mengantarkan Disa adalah Fahri, jelas Gara sangat marah. Lihat saja Gara akan membuat perhitungan kepada laki-laki tersebut. Gara tau, musuh bebuyutannya itu menyimpan rasa kepada kekasihnya, ia bisa melihat dari sorot mata Fahri kala menatap Disa. Darahnya semakin mendidih melihat keakraban dua orang di depan sana. "Sialan!" maki Gara sambil mengepalkan tangannya. Niatnya untuk segera pulang ia urungkan. Gara harus menunggu Fahri pulang terlebih dahulu. Rupanya laki-laki itu masih betah bersama Disa. Disa pun terlihat santai-santai saja berbincang-bincang dengan Fahri. Tak tau kah ia bahwa di dalam mobil ada seseorang yang sedang menahan diri untuk tidak turun dan menghajar laki-laki yang berusaha mengambil hati kekasihnya. Tak lama terlihat motor Fahri pergi meninggalkan rumah Disa. Gara mengendarai mobilnya dan berhenti tepat di depan rumah Disa. Disa yang saat itu hendak menutup pintu gerbangnya sedikit kaget mengetahui siapa yang datang. "Gara," Dengan gerak cepat Gara turun dari mobilnya dengan wajah merah padam. "Lo pulang sama siapa?" tanyanya dingin. Disa tercekat kala mendengar suara dingin Gara, "Pulang bareng Fahri." "Kenapa pulang sama dia? Gue hubungin lo, lo gak aktif. Gue jemput di pameran lo gak ada. Ternyata lo pulang sama Fahri, enak ya Dis," Apa maksud Gara, "Maksud kamu apa Gar?" "Lo sengaja kan pulang sama Fahri?" "Ha? Kamu salah Gar. Aku sama Fahri gak sengaja ketemu di pameran waktu kamu pamit pulang tadi. Handphone aku juga lowbat, aku lupa bilang ke kamu Gar. Waktu aku mau pulang Fahri nawarin aku buat bareng. Sekalian kita ke toko buku, aku ada tugas kelompok bareng dia Gar." jelas Disa panjang lebar. Gara semakin cemburu dengan Fahri, "Terserah!" ujar Gara lalu ia masuk ke dalam mobil. "Kamu kenapa marah si Gar?" tanya Disa. "Gara!" "Dengerin aku dulu Gara!" Yang di panggil malah pergi begitu saja. Disa mengusap wajahnya kasar. Hari ini ia sangat lelah di tambah Gara yang seperti itu. Baiklah ia akan menjelaskannya nanti, Gara masih tersulut emosi percuma Disa jelaskan mati-matian. *** Laki-laki itu mencoba menetralkan hati dan mimik wajahnya, jangan sampai Tania khawatir dengan keadaannya. Di bukanya pintu bercat coklat itu. "Garaa," rengek Tania. Gara mencoba untuk tersenyum seperti biasa, "Maaf ya aku tinggal, soalnya tadi laper banget." dusta Gara. Tania mengangguk sambil tersenyum. "Gara?" panggilnya lagi. "Iyaa," "Aku mau jalan-jalan deh," ujarnya. "Jalan-jalan? Tania mau jalan-jalan?" tanya Gara dengan nada yang ia buat-buat. Tania tertawa, "Ih Gara, aku serius. Aku mau jalan-jalan sama kamu." "Iya-iya, sekarang?" Anggukan kepala Tania menjadi simbol bahwa gadis itu memang ingin pergi bersama Gara. "Ya udah kamu siap-siap dulu. Aku tunggu di depan ya," "Siap bos!" balas Tania dengan gerakan hormat membuat Gara terkikik geli. Handphone Gara terus bergetar, laki-laki itu tau siapa yang terus menerornya siapa lagi kalau bukan Disa. Kekasihnya itu terus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi, tapi Gara masih enggan menggubrisnya. Ia masih kesal dengan Disa dan Fahri. "Gara, aku sudah siap!" kata Tania. Gadis itu masih menggunakan piyama merah muda dengan slim bag senada. Gara menggangguk lalu memasukkan handphonenya kembali ke dalam saku celananya. "Lets go!" riang Tania. Mobil hitam milik Gara melaju membelah jalanan sore hari. Untung saja jalan raya sore ini tidak seramai biasanya, mereka bisa lebih menikmati udara sore hari di tengah-tengah kota. "Gar," Gara menoleh sekilas menatap Tania, "Kenapa?" "Disa apa kabar?" tanyanya. "Baik kok. Tumben?" "Tumben apa?" Pandangan Gara masih fokus ke depan, "Tumben nanya." "Yeee aku kan pengen nanya aja," "Terserah tuan putri saja," balas Gara dengan bercanda. "Kamu baikan sama dia?" "Iyaa Tan." "Disa marah karena aku?" tanya Tania merasa bersalah. "Enggak kok," jawab Gara cepat. Karena laki-laki itu tak mau Tania sedih. "Kita aja yang jarang komunikasi jadi ada sedikit salah paham. Tapi sekarang udah baik-baik saja." Tania menganggukkan kepalanya, "Enak ya jadi Disa. Dia ada pacar sehebat kamu Gar." Pembahasan ini, pembahasan yang ingin Gara hindari. Ia takut jika nantinya ada kata-kata yang menyinggung perasaan gadis di sampingnya itu. "Janji ya Gar, kamu nggak akan ninggalin aku," Gara mengangguk, "Iya Tan aku janji." Seulas senyum terbit di bibir Tania. Gadis itu sedikit lega mendengar jawaban dari Gara. Ia percaya Gara tidak pernah mengingkari janjinya. "Gara, kalau seandainya kamu suruh memilih, kamu pilih siapa? aku atau Disa?" tanya Tania dengan mata menatap Gara lekat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD