Nyatanya untuk menerima keadaannya yang sekarang ini tak mudah bagi Disa, meski berkali-kali ia meyakinkan dirinya untuk tetap menerima namun rasa benci kepada diri Disa yang sekarang selalu ada. Disa merasa bahwa ia selalu merepotkan orang-orang disekitarnya. Ia melempar keras kuas yang ada di tangannya, beberapa kali Disa mencoba untuk menggoreskan kuasnya ke canvas tetapi sia-sia. Disa menangis sesenggukan, ini menyiksanya. Realitanya Disa tidak bisa melukis dengan mata yang tak melihat. "Arghh!" teriaknya kencang. "Kenapa gue nggak mati aja sekalian!" hatinya kalut sampai lepas kendali seperti ini. Lima bulan sudah Disa terkurung di dalam kegelapan. Disaat semua teman-temannya merayakan kelulusan Disa mengurung dirinya di dalam kamar. Ia benci dunia luar, hatinya mendadak keras kar

