Chapter 3

1721 Words
Alvyna bermimpi. Dia berjalan di antara pepohonan tua yang menjulang tinggi tidak terlihat ujungnya. Batang pohonnya besar-besar berwarna keputihan, sedangkan daun nya berwarna kuning keemasan bercahaya seperti kerlap kerlip kunang-kunang di malam hari. Namun yang paling membuat Alvyna tercengang adalah ketika dia melihat makhluk yang berwujud seperti manusia. Terdiri dari akar-akar pepohonan. Berwarna keperakan dengan sulur-sulur mengelilingi seluruh tubuh mereka. Sulur-sulurnya berbeda-beda, sebagian tampak seperti menyatu dengan pepohonan. Dan sebagiannya lagi berjalan di antara pepohonan. Menjulang setinggi 5 meter. Tubuh mereka terbuat dari akar pepohonan. Tampak begitu familiar sekaligus sangat asing. Bagi Alvyna mereka tampak abstrak di matanya. Mungkin karena untuk pertama kali dalam hidup Alvyna, dia melihat langsung dengan matanya dan bukan dengan perantaraan ibunya. Seperti yang dialaminya selama ini. Karena itu, Satu-satunya yang terlihat jelas dan dapat diterima oleh pandangan Alvyna hanyalah mata mereka yang hitam seperti bola kristal hitam pekat yang berbinar. Meski pun perawakan mereka yang tinggi dan besar, namun Sama sekali tidak terlihat menakutkan bahkan mereka cenderung menggemaskan. Sebelumnya Alvyna sudah pernah melihat mereka di dalam mimpinya. Melalui mata ibunya di dunia Fallenheim jauh di masa peradaban yang paling megah dan agung. Mereka bertarung bersisian bersama para Valkyrie. Menurut cerita Daisy, mereka adalah yang disebut Pasangan Perang Valkyrie. Makhluk yang terikat bersama jiwa para Valkyrie. Ras Dryad atau roh penghuni Pohon Ash. Alvyna terlalu takjub dengan mimpinya, sampai-sampai dia tidak melihat satu sosok yang lebih aneh dari semua sosok yang pernah di lihat nya dalam ingatan ibunya. Sosok nya seperti anak berusia 12 tahun. Rambutnya panjang keemasan. Dengan baju satu tali sepanjang lutut. Wajahnya tidak bisa dia kenali. Karena seluruh tubuh anak perempuan itu transparan dan bercahaya keperakan bercampur emas. Dia berdiri di samping Dryad yang sedikit berbeda perawakannya dari pada Dryad lainnya. Tinggi Dryad itu hampir 7 meter lebih. Besar dan tidak ramping seperti lainnya. Tidak punya kaki, seluruh tubuh nya menyatu dengan tanah. "Kembalilah! wahai Darah Campuran, ini bukan tempat untukmu" Kata sosok anak perempuan yang berdiri dengan kaki melayang di atas tanah kepada Alvyna. Alvyna terperanjat melihat sosok anak perempuan yang berdiri bersisian di samping Dryad yang memandangi Alvyna dengan mata cerdik dan penasaran. "Tempat ini terlalu indah untuk tidak didatangi" Jawab Alvyna dengan berani seraya memandangi hutan takjub. Seharusnya dia bertanya "Dimana ini? Atau setidaknya Siapa Kau?" Entah kenapa semuanya terlupakan begitu saja. Entah karena pada akhirnya dia dapat melihat dan enggan untuk bangun dari mimpi indahnya atau memang karena tempat ini mengalirkan aura menghanyutkan. "Tidakkah kau melupakan sesuatu?" Tanya anak perempuan itu. Alvyna memandanginya dengan seksama. Menerka-nerka kenapa dia tampak begitu tidak asing? Alvyna menolehkan wajahnya ke kiri dan ke kanan namun tidak juga berhasil melihat wajah anak perempuan yang sedang berdiri di hadapannya. Sosok nya seperti kumpulan cahaya yang berwujud manusia. Sehingga mustahil melihat dengan jelas. Alvyna berdeham, lalu menjawab dengan singkat. "Kurasa tidak" "Seseorang menunggumu" Katanya lagi. "Siapa?" Tanya Alvyna berpaling dari anak perempuan itu. Matanya berputar kesana kemari. Seolah dia tidak pernah bosan melihat pemandangan di hadapannya. Bukan saja karena keindahan nya yang di luar logika dia sebagai manusia tetapi juga karena kesenangan dirinya yang memiliki penglihatan. Alih-alih menjawab pertanyaan Alvyna, sosok itu berkata "Jika kau ingin melihat, maka bangunlah Wahai Anak Manusia". "Bukankah, semua ini hanya mimpi?" Tanya Alvyna seraya berpaling dan menatap mata sosok anak perempuan itu. Samar -samar Alvyna melihat dia tersenyum. "Ini bukan mimpi" "Lalu jika bukan mimpi tempat apa ini?" "Ini Taman Roh Para Valkyrie beristirahat" "Apa itu artinya aku sudah mati?" Setelah jeda beberapa waktu, dia baru menjawab "jika, kau tidak bangun" Meskipun suara dan perawakan teman bicaranya itu tampak seperti anak kecil, dari cara dia berbicara dengan Alvyna dia tampak tegas dan keras. "Apa kau Valkyrie?" Tanya Alvyna penasaran. Jika itu adalah taman Valkyrie seharusnya orang yang berada di hadapannya ini adalah salah satunya. "Iya dan tidak" jawabnya. Lagi-lagi dengan sangat singkat. "Maksudnya?" Tanya Alvyna bingung. "Sebaiknya kau bangun, waktumu sudah habis" "Tunggu, aku belum tahu namamu" teriak Alvyna panik ketika perlahan-lahan hutan keemasan, para Dryad mulai menghilang dari pandangannya. "Ada beberapa yang ingin kutanyakan, tolong tunggu sebentar!" "Ibuku! Kau kenal ibuku kan? Tolong beritahu dimana dia sekarang? Dimana aku bisa menemukan nya?" Teriak Alvyna frustasi. "Bersabarlah, dia yang akan datang padamu" jawabnya sesaat sebelum benar-benar menghilang. Diikuti dengan kata-kata yang tertinggal seperti jejak angin di musim dingin "Namaku, Kayala. Sampai bertemu kembali, Alvyna Putri Terakhir Para Dewa. Gadis Yang Tidak Bertakdir". Lagi-lagi Alvyna kembali mendengar perkataan yang paling membuat dia penasaran, tapi ingatannya seolah terlupakan segera setelah dia mendengarnya. Kayala. Batin Alvyna sesaat sebelum dia mendapatkan kesadarannya kembali. * * * Hal yang pertama kali Alvyna rasakan sebelum membuka matanya adalah cairan dingin, kenyal, licin dan lengket menetes-netes di atas wajahnya. Lalu betapa kagetnya Alvyna ketika dia membuka mata dan yang di lihat oleh mata Alvyna untuk pertama kali adalah rahang yang di penuhi gigi-gigi tajam, kuning dan bau. Sontak dia langsung berteriak.  "Arrggggghhhhh,,,Menjauh dari wajahku, monster jelek!!!" Secara otomatis tangan Alvyna menepis kepala monster dari atas tubuhnya yang terlempar sejauh 10 meter. Dan saat itulah dia bersyukur Daisy melatih Alvyna seperti prajurit dari zaman purba. Sehingga seluruh kejengkelan yang dirasakan dia selama bertahun-tahun terbayar juga. Walaupun, dia merasa sedikit aneh tubuhnya sekuat ini.  Alvyna berdiri. Sedikit kikuk dengan mata "baru". Sayangnya tidak ada waktu bagi dia untuk melihat-lihat. Karena yang saat ini ada di hadapan Alvyna jauh lebih mengerikan daripada pertarungan-pertarungan yang pernah diperlihatkan oleh ibu Alvyna di dalam mimpinya. Betapa tidak? Dirinya kini dikepung oleh segerombolan monster-monster berkaki empat. Entah bagaimana wujud mereka tidak wajar. Dia pernah melihat mereka dari ingatan yang diperlihatkan ibunya. Dahulu mereka adalah makhluk-makhluk supernatural yang menawan dan indah yang pernah menjadi sahabat-sahabat para Valkyrie. Namun kini bentuknya seperti terkena kutukan ilmu hitam. Rata-rata mereka memiliki telapak kaki seukuran dua kali tangan orang dewasa dengan cakar tajam memanjang. Bulu hitam tebal dan kotor. bahkan sebagian memiliki bulu-bulu runcing dan seolah seperti pisau-pisau besi karatan. lalu Rahang lonjong dengan gerigi tajam dan kuning. Ukurannya berbagai macam. Ada yang setinggi 7 kaki. Ada yang setinggi Alvyna atau seukuran anjing rumahan.  Seluruh monster-monster itu terfokus pada Alvyna. Melihatnya dengan mata merah. Dia bahkan tidak dapat lagi menghitung berapa jumlah mereka. Sejauh matanya memandang, seluruh hutan di mana dia berada mulai di penuhi oleh mereka. Alvyna panik. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri dengan cepat. Sampai-sampai bola matanya terasa sakit. Apa mau di kata, Alvyna ketakutan setengah mati. Di tambah Daisy sang penjaganya tidak terlihat batang hidungnya. Apalagi Dewi yang seharusnya memiliki kemampuan luar biasa bahkan tidak terdengar keberadaannya."Daisy,,,,Dewi,,," Panggil Alvyna dengan bisikan kecil. Berharap mereka bisa mendengar Alvyna. Biasanya Daisy selalu dapat mendengar panggilan Alvyna sekali pun dari tempat yang sangat jauh. Namun dia harap-harap cemas melihat monster-monster yang tampak haus darah dan daging mengeram tanpa henti. Semoga saja Daisy dapat mendengar nya. Batin Alvyna kalut. "Dimana anak itu, saat aku membutuhkannya?" Gumam Alvyna sepelan mungkin. Alvyna datang ke Fallenheim semata-mata hanya untuk melihat-lihat dan mencari sejarah ibunya. Lalu mendapatkan keajaiban dengan matanya dan kembali ke dunia asalnya lagi. Menjadi santapan monster bukanlah bagian dari rencana dia. "Baiklah, sepertinya aku harus melindungi diriku sendiri" Lanjutnya pasrah setelah beberapa kali memanggil Daisy dan Sang Dewi, mereka tidak kunjung datang. Setelah menimbang-nimbang beberapa detik, dan ternyata tidak juga ada jalan keluar yang lebih baik, yang pertama kali Alvyna lakukan adalah berlari. Dia memutar tubuhnya ke arah Utara. Area yang berada di belakangnya. Lalu berlari mengikuti jejak pepohonan yang mengarah ke area hutan yang lebih dalam dan rimbun. Dari arah belakang, mereka mengejarnya seperti kesetanan. Mereka bahkan saling menabrak satu sama lain. Seolah Alvyna adalah seonggok daging yang sedang di umpankan. "DAISY!!! " Teriak Alvyna seraya berlari."Kenapa kau selalu menghilang?" "Aku harusnya tidak percaya pada makhluk dari dunia lain" Gumam Alvyna pada dirinya sendiri untuk kesekian kalinya.  Ketika Alvyna tengah berlari seraya berzig-zag di antara akar-akar pepohonan yang mencuat ke atas, dia baru sadar. Ada sesuatu yang aneh dengan cara para makhluk itu mengejar nya. Keanehan pertama, Jumlah mereka jauh lebih banyak dari pertama kali mereka muncul. Sekan-akan makhluk-makhluk itu berlipat ganda seraya mengejar Alvyna. Keanehan kedua, Mereka sangat kuat dan lincah, sehingga mustahil sejak awal mereka tidak langsung menerkam Alvyna. Dan keanehan ketiga, setiap kali Alvyna berlari ke arah yang berlawanan, mereka menghadang Alvyna namun tidak menerkamnya sama sekali. Jauh di alam bawah sadar Alvyna, dia seolah tahu monster-monster di hadapannya terlalu cerdik untuk sekedar menjadi predator. Avlyna tersadar dengan cara monster-monster itu mengerjarnya ketika dia melihat pemandangan di hadapannya. "Apalagi ini?" Ucapnya berdiri di tengah-tengah area yang membuat Alvyna terperanjat. Pepohonan yang ada di tempat ini seolah seluruh kehidupannya tersedot kering dan menghitam. Tidak ada yang tampak hidup. Tidak ada semilir angin. Tidak ada makhluk apa pun. Bahkan serangga kecil pun tidak tampak kehidupannya. Sedangkan langit di atasnya berwarna kelabu dan tidak bergerak. Semuanya tampak mati. Di mata Alvyna, area ini seperti ruang dan waktu yang berbeda dengan area hutan yang dia jejaki sebelumnya. Dan yang paling menakutkan lagi, udara di sini tidak mengalir, lembab dan menyesakkan. Alvyna merasa seperti sedang terjebak di dalam sebuah kotak kecil. Sekarang dia mengerti kenapa monster-monster itu menggiringnya ketempat ini. Di saat Alvyna semakin melemah, tidak berdaya dan sulit bernafas mereka tampak semakin kuat dan liar. Alvyna menarik nafas dalam-dalam. Dia baru saja mendarat di Fallenheim, tapi hal yang dialaminya seperti memotong usianya jadi separuh lebih pendek. Alvyna tidak tahu species monster yang sekarang mengelilingi nya. Satu hal yang pasti, dia tidak akan mampu melawan mereka. Menyerah lebih tampak menggiurkan daripada main kejar-kejaran dengan para predator di hadapannya. “Sial! Aku tidak datang ke sini untuk berhadapan dengan kalian!!” Umpat Alvyna kepada monster-monster di depannya yang semakin memperpendek jarak dengannya. Dia dikepung dari berbagai arah, mustahil baginya untuk berlari. Alvyna berdiri terpaku. Tidak berani bergerak. Selain karena dia merasa sesak, Alvyna tidak punya senjata apa pun untuk dapat dia gunakan. Sejak Alvyna berusia 10 tahun, Daisy telah melatih Alvyna menggunakan pedang, panah dan berkuda meski pun dia buta. Tapi berkat itu semua, Alvyna sangat percaya diri. Dia lebih tangguh daripada prajurit barbarian di masa kuno. Namun saat ini seolah semua pelajaran serta latihan yang pernah diberikan oleh Daisy tampak seperti tidak pernah dia dapatkan. Dan itu semua semata-mata karena Alvyna terlalu frustasi dengan pikiran-pikiran konyol yang sejak tadi berputar-putar di otaknya. Walaupun dia berusaha mengabaikannya, akan tetapi terlalu sulit bagi Alvyna. Satu hal yang dapat dia simpulkan saat ini. Daisy telah  mengkhianatinya!    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD