Chapter 2

1727 Words
“DAISY!” Panggil Alvyna tidak sabaran. Dia tidak sabar ditinggal sendiri. Tidak ada suara apa pun yang bisa memberitahukan dia sesuatu. Kecuali dari baunya, Alvyna tahu dia sedang berada di area hutan. Terlalu sunyi untuk sebuah hutan. Batinnya risau. Hutan macam apa yang tidak ada bunyi binatang? Bahkan suara serangga hutan, yang biasa didengarnya di Manor House Weiningger tidak terdengar sama sekali. “DAISY!” Panggilnya lagi. “KEMBALILAH”. Tidak ada tanda-tanda Daisy. “Aku bersumpah Daisy, Kalau kau meninggalkan aku sendiri di sini lebih lama lagi, aku benar-benar akan menjadikanmu roh penasaran” Ancam Alvyna. Makhluk yang di ancam pun tidak tahu batang hidungnya di mana. “Kau benar-benar mau mempermainkan aku, ya?” Desak Alvyna semakin panik. “Kau tidak peduli lagi dengan persahabatan kita?” “DAISY AKU BERSUMPAH! KALAU KAU TIDAK MUNCUL SEKARANG JUGA, AKU AKAN,,” Belum sempat Alvyna menyelesaikan kata-kata ancamannya, tiba-tiba saja suhu di udara turun beberapa derajat. Alvyna menggigil dingin, lalu sebuah suara baru berkata. “Dia tidak terlihat menjanjikan, Nimfa” Suara itu adalah suara perempuan. Setidaknya seperti itu yang terdengar di telinga Alvyna. Merdu sekali, bahkan dengan nada mengejek begitu pun masih terdengar begitu merdu. Sangking merdunya, bisa saja suara itu dapat menidurkan beruang yang sedang mengamuk. Suaranya halus, lalu lembut, setiap kosa katanya tereja begitu jelas. Mustahil bisa keluar dari mulut manusia. Pikir Alvyna. Bukan berarti dia tahu betul, makhluk apa saja yang ada di Fallenheim. Berdasarkan dari ingatan ibunya, penghuni Fallenheim terlalu agung untuk disebut manusia. Dia tidak pernah melihat manusia itu seperti apa, dia bahkan tidak tahu wajahnya sendiri. Lalu siapa dia, untuk membandingkan makhluk-makhluk di Fallenheim dengan dunianya? “Dia cukup menjanjikan jika tidak sedang marah-marah” Sahut Daisy. Cekikan. “Daisy. Bisa-bisanya kau cekikan setelah meninggalkan aku sampai-sampai pantatku keram” Omel Alvyna sambil berdiri. Berkacak pinggang dan menatap lurus kedepan. Sedangkan Daisy melayang di samping kiri Alvyna. “Hmm,,,. Apa dia mampu?” Komentar suara yang sama lagi. Siapa pun mahkluk yang sedang bersama Daisy, benar-benar membuat Alvyna kesal. Orang bodoh juga tahu, dia sedang mengejek Alvyna. Iya Alvyna tahu, mungkin di mata mereka dia tampak berantakan. Bagaimana tidak? Sejauh yang bisa dia simpulkan, sebelum Alvyna terjun ke Telaga, dia hanya pakai gaun panjang yang seadanya saja, yang bisa dia ambil dari lemari pakaiannya. Dia tidak sempat memanggil pelayan untuk memilihkan baju untuknya. Karena dia bangun lebih pagi dari biasanya, lalu dengan nelangsa dia mencari jalan ke arah hutan sendirian. Dengan hati yang sedang sakit, dia tidak terlalu fokus berjalan ke arah mana, sampai beberapa kali tersandung dan terjerembab di atas tanah, lalu tenggelam di dasar Telaga, dan Daisy melemparnya ke atas tanah lagi! Jadi, dia yakin sekali penampilannya pasti sangat buruk. Tetap saja, dia tidak suka di ejek seperti itu. Seolah-olah dia belum cukup menderita saja. “Dewi Agung, saya pastikan, dia jauh lebih tangguh dari Valkyrie yang pernah Para Dewa ciptakan” “Lalu bagaimana dengan segel Valkyrienya? Sudah terbuka semua?” “Hanya satu yang baru terbuka” “Segel yang keberapa?” “Segel yang kedua, wahai Dewi Agung” Jawab Daisy dengan nada sangat lirih. Seolah jawabannya tidak seharusnya keluar dari mulut dia. Alvyna dibuat sangat bingung dengan percakapan mereka, dia tidak mengerti sama sekali. Padahal dia yakin apa pun itu, adalah tentang dirinya. Mereka bercakap-cakap seolah-olah dia adalah sebatang pohon yang kebetulan saja ada di hadapan mereka. “Aku tidak keberatan kalian mau berbincang-bincang sampai berapa lama pun, tapi lakukan sesuatu dulu dengan udara dingin ini” Timpal Alvyna memeluk tubuhnya erat-erat. Dia menggigil kedinginan. Rasanya seperti bertelanjang di musim dingin. “Aku bisa saja mati beku sebelum kalian selesai bicara” “Oh, Aku lupa. Kau hanya anak manusia berdarah campuran” Kata Sang Dewi. “Apakah Anda Dewi Norn yang diceritakan Daisy?” celetuk Alvyna tidak tahan. Dia sudah menerka-nerka, Dewi yang sedang bersama Daisy adalah Dewi Agung Norn. Sahabat lama Daisy. Dewi yang dia layani. Begitulah cerita Daisy kepadanya. “Maafkan Aku, Wahai Anak Manusia” Jawab sang Dewi diikuti dengan udara yang kembali normal. “Aku tidak pernah bertemu makhluk sepertimu sebelumnya. Sangat menakjubkan” Komentarnya. “Jadi, Apakah anda Dewi Agung Norn?” Tanya Alvyna kembali karena pertanyaannya tidak dijawab oleh sang Dewi. “Oh, Aku bisa lihat kenapa kau mengidolakannya. Dia tidak kenal takut”. Alvyna tahu kepada siapa kata-kata itu ditujukan. Daisy tidak berkata apa pun, kecuali berputar-putar di sekeliling Alvyna. Lagi! “Daisy! Berapa kali aku bilang berhenti berputar-putar di sekelilingku! Kau membuatku pusing dengan tornado kecilmu” Erang Alvyna. Daisy kembali berhenti di ikuti tawa kecil. "Bagaimana dengan langkah berikutnya?" Tanya Daisy. "Sembunyikan dulu. Jika sudah tiba waktunya akan ada seseorang yang akan menjemputnya" "Apa dia akan berada dalam bahaya?" "Itu sudah tugasmu untuk melindunginya" Jawab Dewi Norn. "Sejak kapan segel kedua terbuka?" Mereka berdua berbincang-bincang seperti dua orang pedagang yang sedang bertukar barang. Alvyna diam saja mendengar percakapan mereka. Dia sudah menyerah menegur dua orang di hadapannya ini. "Pada saat, Yang Mulia berusia 18 tahun" Jawab Daisy sedikit terdengar gelisah.  Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun hidup bersama Daisy, Alvyna dapat membaca perubahan-perubahan emosi dalam suara Daisy. "Seharusnya segel itu tidak muncul dulu" Ucap sang Dewi. Kali ini giliran suara sang Dewi yang berubah lirih. "Segel apa yang kalian bicarakan sejak tadi?" Timpal Alvyna. Mereka berdua diam saja. Menolak menjelaskan apa pun. Alvyna mengerang frustasi seraya menjambak rambutnya kuat-kuat. Apa yang dia lalui saat ini sudah membuat dia cukup frustasi. Di tambah lagi dua orang yang sama-sama keras kepalanya dan misterius. Semakin membuat Alvyna ingin berteriak kencang melampiaskan kemarahannya. "Jika ini tentang aku, maka berhentilah berbicara dengan teka-teki" Sambung Alvyna. "Bukan saatnya menjawab itu semua, wahai Anak manusia." Kata Dewi Norn. "Aku datang kesini hari ini untuk memberkahi mu. Di waktu lain kita bertemu kami akan menjelaskan segalanya padamu". Alvyna tidak berkata apa pun. Dewi benar, bukan waktunya bagi mereka berdebat sesuatu yang tidak jelas. Lagi pula dia datang ke Fallenheim untuk mendapatkan penglihatannya kembali. "Baiklah" Desahnya pelan. "Pejamkan matamu, wahai anak manusia" Ucap Dewi Norn. Sejak pertama kali Alvyna mendengar kata-kata "Anak Manusia" dia sudah sangat terganggu. Tapi demi menghormati sang dewi, Alvyna tidak berkomentar apa pun. Namun kini mulutnya cukup gatal untuk berucap sesuatu. "Pejamkan matamu" kata sang dewi sekali lagi. "Bisakah anda tidak memanggil saya dengan anak manusia?" Ucap Alvyna. Meringis kecil. "Nama saya Alvyna" sambungnya lalu tersenyum semanis mungkin pada sang dewi. Kalau-kalau sang dewi merasa tersinggung. "Hmm... Mungkin dia memang memiliki masa depan yang baik" Komentar Dewi Norn tidak menggubris Alvyna. Lalu dia mendengar cekikan Daisy. "Baiklah, apa lagi yang harus saya lakukan selain memejamkan mata?" Tanya Alvyna seraya duduk bersimpuh di atas tanah. Dia benar-benar menyerah melakukan percakapan dengan sang dewi. "Kosongkan pikiranmu" Balas sang dewi dengan nada ringan. Dia seolah dapat membayangkan jika sang dewi pasti tersenyum kecil. "Lalu bayangkan sesuatu yang membuatmu bahagia" Sambungnya kembali dengan nada lembut dan menghanyutkan. Alvyna berkosentrasi dengan suara-suara lembut Dewi Norn, meski pun dari kejauhan dia yakin mendengar suara gemuruh. Seperti suara ratusan hentakan kaki yang mendekati mereka. "Lupakan suara-suara lainnya. Dan kembali fokus, Alvyna" Kata sang dewi yang mengetahui konsentrasi Alvyna terpecah. Lalu dia sadar sang dewi menyebut nama nya. Alvyna tersenyum kecil sedikit bangga namanya disebut oleh makhluk supernatural agung yang berdasarkan cerita-cerita Daisy, Dewi Norn merupakan salah satu Dewi Agung yang memiliki pangkat tinggi di antara para dewa dewi lainnya. Pengatur segala takdir makhluk hidup di Fallenheim. Dewi kuno yang memiliki pengetahuan paling tua. Alvyna sekali lagi berusaha untuk fokus dengan suara alunan Sang Dewi. Melupakan suara apa pun yang sedang menuju ke tempat mereka. Mengikuti kata-kata sang dewi, Alvyna memikirkan kenangan-kenangan manis bersama Arron. Berusaha mengingat-ingat suara Arron yang selalu terpatri di dalam dirinya. Lalu mengingat ayahnya yang menyayangi nya melebihi apa pun di muka bumi ini. Meski pun kenangan-kenangan itu menusuk hatinya, tidak dapat terbayangkan olehnya betapa terpukul ayah Alvyna saat mengetahui dia menghilang begitu saja. Alvyna berusaha mengenyahkan perasaan-perasaan yang tidak mengenakkan. Dia yakin, setelah ini dia akan kembali ke rumahnya House Weininger. Bertemu kembali dengan ayahnya, Arron lalu keluarganya yang lain. Lalu tiba-tiba saja, seluruh tubuh Alvyna seolah terbakar membara. Dimulai dari titik tengah bagian kepalanya menuju tenggorokan lalu dadanya hingga menjalar ke seluruh tubuhnya. Alvyna berteriak kesakitan. "HENTIKAN!!" Teriak Alvyna seraya kesakitan. "KUMOHON HENTIKAN". "Dewi, saya mohon hentikan! Yang Mulia kesakitan" Ucap Daisy dengan suara merana. "Ini adalah sesuatu yang harus dia lewati, api Valkyrie yang ada di dalam dirinya memberontak" Jelas Dewi Norn dengan santai. Alvyna masih berteriak kesakitan. Matanya perih dan panas. Lalu seluruh tubuhnya membara seolah-olah dia tengah terbakar. Alvyna mengerang seraya terisak. Dia bahkan tidak sadar berguling-guling di atas tanah dikuti teriakan-teriakan kesakitan. Namun samar-samar dia masih dapat menangkap kata-kata sang dewi kepada Daisy. "Halangi mereka sampai aku selesai dengan Alvyna" Kata sang dewi dengan nada marah. Alvyna tidak tahu amarah itu ditujukan kepada siapa. Setelah itu, Alvyna tidak dapat memikirkan apa pun kecuali rasa sakit di sekujur tubuhnya. Beberapa kali kesadaran Alvyna menghilang, lalu dia terbangun oleh teriakan Dewi Norn. "Alvyna!! Bertahanlah! Lawan rasa sakitnya" "Hentikan,,,saya mohon, hen,,,tikan" Rintih Alvyna. Rasanya dia mulai mati rasa. Dari kesadaran Alvyna yang timbul dan menghilang, dia mendengar suara panik Daisy yang biasa di dengarnya ketika dia sedang demam berkata "Dewi, kenapa Valkyrie Alvyna kesakitan, bukankah ini berkah Sang Dewi?" Sejak kecil bisa di katakan Alvyna anak yang lemah dan banyak sekali kekurangannya. Seminggu sekali dia pasti demam atau jika dia bermain terlalu lama. Hingga menghilang secara perlahan-lahan ketika dia mulai beranjak remaja. Namun ketika demam tinggi datang, Daisy adalah sosok yang paling panik. Terkadang Daisy bersikap seperti seorang ibu untuknya. Karena itu, Alvyna tidak pernah merasa kesepian dan merasa nasibnya malang ketika dia tumbuh tanpa seorang ibu serta buta. "Sepertinya karena segel pertama nya tidak terbuka, tubuh manusianya tidak bisa menahan kekuatan Dewa" Jelas Dewi Norn dengan nada sedikit panik. "Alvyna, apa pun yang terjadi, bertahanlah." Desak Dewi Norn. Suaranya menembus sampai ke dalam diri Alvyna. Sedikit meringankan rasa panas di dalam tubuhnya. "Ingatlah orang-orang yang kau sayangi" Sambung Dewi. Dengan bantuan Dewi Norn yang terus menerus berbisik di telinga Alvyna, lalu suara melengking Daisy yang tidak henti-hentinya menyemangati Alvyna, dia mencoba bertahan. Detik berlalu namun entah kenapa waktu seolah berhenti. Menambah rasa sakit di sekujur tubuhnya. Menit pun bergulir sampai akhirnya Alvyna kehilangan kesadarannya. Sesaat sebelum Alvyna kehilangan kesadarannya, samar-samar dia mendengar bisikan terakhir dari Dewi Norn "Aku menunggumu wahai Putri terakhir Para Dewa, Gadis Tidak Bertakdir".   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD