Penolakan

1009 Words
"Ziva!" teriak seorang lelaki memanggil gadis dengan tinggi 160cm yang berada tidak jauh di depannya. Gadis itu berhenti tapi enggan menoleh kebelakang. Ia tau suara siapa yang sedang memanggilnya. Dengan lari kecil, lelaki itu menghampiri Ziva Calandra, Mahasiswi Arsitektur semester 5. Gadis berparas cantik dengan hidung mancung, bibir merah merona, mata bulat bulan,alis yang sempurna, kulit putih dan postur tubuh yang sangat ideal. "Gimana jawaban semalam? kamu cuma baca pesanku." tanya lelaki itu. "Aku enggak punya perasaan apapun samamu." ujar Ziva dengan raut wajah datar. "Selama ini aku cuma nganggap kamu teman untuk belajar. Tapi kalo kamu punya perasaan khusus gini, kita jangan ketemu lagi ya." lanjut Ziva masih dengan wajah datar dan pergi ke halte meninggalkannya. Lelaki itu adalah Abian Maverick, satu kelas dengan Ziva sekaligus teman belajarnya selama ini. Sudah dari semester pertama Abian menaruh hati ke Ziva, tapi baru tadi malam ia berani ngungkapi perasaannya. "Kenapa va? Kenapa kita jangan ketemu lagi? Memangnya aku salah kalo suka sama kamu? Apa ngga boleh aku nyatain perasaanku?" ungkap kesal Abian dengan jawaban Ziva. Ziva tak memperdulikan ucapan Abian dan langsung menaiki bis yang sudah berhenti di halte tersebut. Abian hanya berdiri dan memandangi perginya bis yang dinaiki oleh Ziva. Sementara itu Ziva yang berada dalam bis sedang memegang ponsel dan membaca lagi pesan yang dikirim Abian tadi malam. "Mck," suara decakan dari mulut Ziva. Setelah itu menaruh kasar handphonenya kedalam tas. Ziva menekan tombol berhenti pada bis yang di tumpanginya. Dan bis berhenti di halte yang tak jauh dari apartemen miliknya. Lebih tepatnya apartemen yang dibeli Papanya untuk ia tinggali. Setelah perceraian kedua orang tuanya Ziva tinggal seorang diri. Ziva nggak mau tinggal sama Papanya atau pun Mamanya. Papa dan Mamanya rajin transfer uang untuk keperluan Ziva, biarpun begitu Ziva lebih senang menghabiskan uang hasil kerjanya jadi seorang penulis. Sampai di dalam Apartemen, Ziva membantingkan badannya ke tempat tidur, menutup penuh mukamya dengan bantal dan menjerit dengan sangat kuat. Ada apa dengan otak manusia tol*l itu? Bisa-bisanya dia suka samaku. "Aaaaaaaaaaakh." jerit Ziva lagi dibalik bantal. Walaupun pembawaan yang santai, kata-kata yang ada didalam otak Ziva sangat bertimpal balik. Ziva membuat posisi duduk bersila menghadap cermin dengan rambut yang sudah berantakan akibat meluapkan emosinya tadi. "Pantaslah. Belakangan dia terlalu banyak omong. Emang aku secantik itu ya?" ucapnya narsis didepan kaca memandangi wajahnya. Ingat, sifat Ziva yang dirumah dan diluar rumah itu jauh berbeda. "Haaaahh." Buangan nafas yang keluar dari mulut Ziva. "Terserahmu lah. Lebih baik aku melanjutkan pekerjaanku yang tertunda tadi malam." Ucap Ziva sambil merapikan rambut panjangnya dan berjalan kearah meja kerjanya. "Ahk... mck... ada-ada aja pun," lirih Ziva akibat pahanya yang tersenggol ujung meja. Tring Tring~ Panggilan masuk dari handphone Ziva. Ternyata yang menelpon Ziva itu Mamanya. Ziva mengangkat telepon dan diam menunggu Mamanya bicara. "Halo Ziva..." ucap Mamanya. "Iya, ada apa? Saya lagi banyak kerjaan." ketus Ziva. "Kamu lagi sibuk ya nak?" "Hm." yang artinya Ziva lagi sibuk. "Mama, Papa sama --" "Papa siapa? Papa saya cuma Papa Herdianto!" tegas Ziva. tut Setelah itu Ziva mematikan teleponnya dan membanting kecil handphonenya ke atas meja. Orang lain orang tuanya cuma 2, bisa-bisanya orang tua ku ada 4. Najis kali. Ziva lanjut menyelesaikan kerjaannya yang tinggal sedikit lagi dan menyimpan hasil ketikannya itu ke dalam bentuk file untuk nanti malam dikirimkan. Besok paginya, Abian menghampiri Ziva yang sudah berada dimejanya dengan membawa setangkai mawar merah. Abian meletakkan setangkai mawar merah itu ke meja Ziva tanpa bicara apa pun dan langsung duduk dikursi yang ada dibelakang Ziva. Sontak perlakuan Abian ke Ziva jadi pusat perhatian teman satu kelas. "Apa ini?" menghadap ke belakang sambil memegang setangkai mawar merah. "Mawar merah," jawab Abian. "Aku tahu ini mawar merah, tapi maksudmu apa ngasih ini ke aku?" "Pacaran." ucapnya singkat dengan duduk santai menyandar di sandaran kursi. Lagi-lagi mereka jadi pusat perhatian teman satu kelas ditambah dengan sorakan menggoda. Spontan Ziva melemparkan setangkai mawar merah itu ke arah Abian. "Sakit jiwa ini orang." ujar Ziva dan membalikkan badan ke posisi awal. Benar-benar manusia tol*l. Buat malu aja. Ahk. Jam menunjukkan selesainya mata kuliah dan anak-anak kampus keluar kelas. "Aku antar pulang ya cantik." dibuka Abian pintu penumpang mobilnya yang sedang terparkir di parkiran kampus. Ziva berhenti dan melirik Abian dengan lirikan ingin membunuh setelah itu pergi menuju halte bis. "Okelah." ujar Abian sambil tertawa tipis dan menutup kembali pintu penumpang. Setelah itu Abian kembali ke posisi didepan setir mobilnya dan pergi meninggalkan parkiran. Belum masuk ke halaman rumah, Abian sudah melihat adik perempuannya yang berumur 8 bulan tengah di gendong oleh babysitternya dihalaman rumah dengan cuaca yang sangat panas. Lagi-lagi.. Abian pernah bilang ke babysitter adiknya, kalo misal orang tua mereka lagi berantam, sebaiknya adiknya dibawa keluar biar ngga dengar pertengkaran orang tuanya. Adiknya bernama Felysia Gianina. Adik satu benih tapi beda kandungan. Felysia adalah anak hasil perselingkuhan Papanya dengan wani*a mal*m. Biarpun begitu, Abian sangat sayang dan mencintai Felysia. Bagi Felysia, Abian adalah Papa sekaligus Mama untuknya. Papanya tidak perduli dengan Felysia, apalagi Mamanya sangat membenci Felysia. Hanya karna mereka punya uang, tinggal sewa babysitter dan urusan beres. 10 tahun belakangan ini, orang tua Abian sering berantam. Bukan hanya adu mulut, tapi sering kali adu tinju. Awalnya Abian melerai pertengkaran mereka, lama-lama Abian juga capek dan ngga perduli lagi. "Mbak, Felysia biar Abian bawa jalan-jalan ya." ujar Abian sambil membuka pintu mobil agar Felysia bisa masuk. Felysia di dudukkan di sebelah kursi pengemudi Abian. Felysia menunjukkan senyum gembiranya, sepertinya karna diajak jalan-jalan sama Abian. "Makasih ya mbak. Mbak istirahat dulu ya." ujar Abian lalu mengendalikan mobilnya. "Makasih juga ya bian.." ucap babysitternya. Sementara itu Ziva yang berada di rumah Meliana sedang menyantap mie kuah rasa kari spesial buatan Meliana. "Bagi telur kuningnya dong, sedikiiiit aja." rayu Ziva ketika ada maunya. Meliana pun membagi dua telur kuningnya dan memberi setengahnya ke Ziva. "Terima kasih cantik." ucap senang Ziva ketika kemauannya terturuti. "Tapi va, kamu ngga ada yang mau di ceritai ke aku?" tanya Meliana. "Tentang?" "Itu... Abian Maverick.," ujar Meliana. Ziva yang tengah menikmati mie kuahnya dibuat tersedak karna Meliana yang beda jurusan bahkan beda kelas dengannya sampai tahu tentang Abian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD