"Nah nah minum dulu." ujar Meliana sambil memberikan segelas air putih untuk Ziva.
"Kamu harus tahu va, hampir satu kampus sudah tahu tentang kalian." lanjut Meliana.
Dan lagi,, Ziva tersedak mendengar ucapan Meliana.
"Pelan-pelan vaaa.."
"Gini ya mel, itu kejadian tadi pagi. Tapi kenapa gosipnya cepat nyebar gini. Pantas aja satu bis tadi pagi perhatiin aku." rengek Ziva.
"Kamu sadar va, kalian berdua itu sama-sama populer di kampus. 60% cowok kampus yang nembak kamu pada kamu tolak. Dan Abian, cewek mana yang ngga tertarik kalo udah liat dia. 99,9% persen cewek dikampus itu pada naksir dia. Jadi kamu jangan nanyak kenapa gosip kalian cepat nyebar." jelas Meliana secara rinci.
Ziva yang sangat malu menjedut-jedutkan jidatnya di meja makan. Menyesal pun tidak ada gunanya, gosip sudah menyebar.
Setelah selesai makan dan meluapkan emosinya, Ziva balik ke Apartemennya.
Dibawah sana ada sesuatu yang membuat Ziva risih. Ziva meriksa tanggal hari ini, ternyata sudah waktunya tamu istimewanya datang.
"Mana ya.." sambil mencari sesuatu di laci penyimpanan.
"Ah ini dia," ujarnya saat menemukan pembalut yang di carinya.
Nanti pulang kampus, mampir swalayan bentar deh.
Sesampainya Ziva di halaman kampus, ia ketemu dengan Abian yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Udah sarapan?" tanya Abian.
Ziva hanya membalas dengan lirikan malas dan pergi menuju kelas.
"Aku lagi bicara sama manusia kan? Bukan makhluk halus?" ujar Abian yang berjalan disebelah Ziva.
"Udah ya bian. Aku mau ngejalani hidup yang tenang di kampus sampai wisuda." ucap Ziva lalu jalan cepat agar tidak bersebelahan dengan Abian. Ziva malas kalau gosip mereka makin parah.
Sementara Abian yang sedang jalan di lorong kelas mengeluarkan setangkai bunga mawar merah lagi yang ada didalam tas ranselnya.
"Ngga nyerah bro?" ucap Daffa Mahesa teman tongkrongannya juga satu kelas dengan Abian dan Ziva.
"Kamu tahukan prinsipku apa." ujar Abian sambil menampilkan senyum manis dengan kedua lesung pipi yang dalam.
"Ya ya ya. Pantang nyerah sebelum sah." sambil ngerangkulkan tangan di pundak Abian dan tertawa kecil.
Sesampainya di depan ruang kelas, Daffa melepaskan rangkulannya. Sedangkan Abian merapikan rambutnya agar terlihat sempurna dan mana tahu Ziva terpesona.
Baru saja melangkah satu langkahan, Abian sudah jadi pusat perhatian teman-temannya.
Menggunakan kaos putih hingga terpancar aura seksinya, sweater yang di sangkutkan di sela tas, dengan celana berwarna cream kecoklatan dan sepatu hitam yang sering dia pakai. Sempurna.
Perlahan Abian berjalan menuju meja Ziva dan meletakkan lagi setangkai mawar merah yang ia pegang dari tadi.
Ziva langsung menyingkirkan setangkai mawar merah itu ke lantai dengan bukunya.
Setelah itu Abian mengambil setangkai mawar merah yang jatuh kelantai dan mengembalikannya lagi ke meja Ziva.
Enggan komentar, Ziva langsung menyingkirkan lagi mawar itu.
Lagi Abian memungut bunga yang ada dilantai. Menarik tangan kiri Ziva dan memberikan langsung bunga itu ditangan Ziva.
"Kalo aku buang, tandanya aku ngga mau." ujar kesal Ziva sambil meletakkan setangkai bunga mawar itu ke meja Abian.
Selama jam belajar berlangsung, dengan menyandar pada sandaran kursi seakan mendengarkan penjelasan dosen, tapi nyatanya Abian di fokuskan dengan keberadaan Ziva yang ada dihadapannya.
Dasar keras kepala. Awas aja kalo kamu jatuh cinta sama aku. Ngga bakal aku lepas kamu.
Jam sudah menunjukkan selesainya waktu kuliah. Sebagian anak kelas ada yang ke kantin, ada juga yang di perpus dan dilapangan, ada juga yang langsung pulang kerumah.
Sementara di tongkrongan, Abian asik menghisap rokok yang ada di sela jari telunjuk dengan jari manis. Lalu menghembuskan asap rokok. Sesekali asap rokok dibentuknya jadi bulat.
"Gimana bro? Ada perkembangan?" tanya Kevin, salah satu teman tongkrongan Abian.
"Keras kepala bro." ucap Abian sambil menggeleng kecil dan menarik ujung bibirnya sebelah.
Abian terus menerus membayangkan wajah Ziva yang menolaknya tapi selalu dengan raut wajah datar.
Abian tahu kalau Ziva kesal dengan perlakuannya, yang Abian herankan itu kenapa Ziva kesal tapi malah ngga ada ekspresi apapun diwajahnya.
Sampai terlintas dipikiran Abian kalau Ziva punya gangguan mental, tapi Abian menyangkalnya.
Maksudnya bukan aneh, tapi kenapa dan apa yang buat dia sampai segitunya nutupi ekspresi kesalnya.
Di lain sisi, Ziva sudah sampai di apartemennya dan sekarang lagi duduk di depan meja kerjanya.
Ziva menjerit kesal sambil mengusap kasar wajahnya.
Ziva yang tengah mengatur nafas tiba-tiba handphonenya berdering tanda panggilan masuk.
Ternyata dari nomor tidak dikenal.
"Ini siapa lagi nelpon tapi ngga ada nama." ujar Ziva sendirian.
Ziva menerima panggilan itu dan menempelkan handphone ke telinganya.
Menunggu orang itu berbicara.
"Halo.." ucapnya disana.
Ziva terkejut dan langsung mencampakkan handphonenya diatas kasur.
Ternyata yang panggilan masuk itu dari Abian.
Karna Abian nembak Ziva kemarin, nomornya dihapus dari kontak oleh Ziva.
"Ahk bodoh. Kan kemarin aku cuma nge hapus nomornya, bukan nge blokirnya. Dasar Ziva bodoh." ucapnya sambil menepuk kepalanya berkali-kali.
Ziva memajukan jari telunjuknya ke arah handphone dan menekan tombol merah di layar sentuh handphonenya.
Setelah itu Ziva mengambil handphonenya dan mematikan handphonenya agar tak ada lagi telepon masuk dari Abian.
Ziva menjerit kesal dan menutup lagi kepalanya dengan bantal.
Esok paginya di ruang kelas, Abian dibuat terpaku oleh gadis yang sedang jalan menuju arah ia duduk.
Gadis itu bukan lain Ziva Calandra. Rambut hitam panjang yang dibiarkan tergerai. Polesan make up yang natural sangat cocok diwajahnya. Lipstik ombre paduan nude dan red wine. Dan dress yang digunakannya membuat tampilan Ziva sangat sempurna.
Teman satu kelasnya sudah tahu kalau arisan Ziva diadakan setiap tanggal 25.
Karna Ziva malas pulang kerumah lagi jadinya hari ini ia berdandan tak seperti biasanya agar nanti bisa langsung pergi.
Ziva feminime hanya bisa dilihat sebulan sekali.
Jadinya setiap jalan, Ziva diperhatikan sama anak-anak kampus. Banyak juga gadis-gadis lain iri kepadanya.
Dengan porsi tubuh yang ideal bahkan terbilang montok, membuat mereka insecure banget.
Benar-benar tipe yang laki-laki sukai.
Abian yang tengah duduk santai dikursinya, tidak melepaskan pandangannya dari Ziva.
Bahkan beberapa aki-laki dikelas ternganga melihat kecantikan Ziva Calandra.
Yang biasanya pakai celana panjang dan baju kaos over size dengan rambut diikat cepol, tanpa polesan make up ataupun lipstik sedikit pun, kali ini benar-benar terlihat sangat sempurna.
"Makin cantik," ucap nakal Abian kepada Ziva yang hendak duduk dikursi yang ada dihadapan Abian.
"Mes*m," ketus Ziva sambil menduduki kursinya.
"Bukan aku yang mes*m, memangnya kamu cantik. Siapa suruh kamu cantik." goda Abian sambil menopang dagu dengan tangan kanannya yang disanggahkan di atas meja.
Ditengah-tengah berlangsungnya jam belajar, Abian meletakkan setangkai bunga mawar merah lagi ke dalam tas Ziva yang di ada di atas lantai sebelah kanan kursi Ziva.
Pelan-pelan tapi pasti dan masuk.
Karna aksinya itu berhasil, Abian tersenyum menang.