Vas Bunga

1000 Words
Ternyata ini arisan perempuan yang pekerjaannya jadi penulis yang beranggotakan 25 orang, termasuk Ziva Calandra. Beragam umur yang hadir. Ada ibu rumah tangga, anak sekolah, seumuran Ziva juga banyak, bahkan ada juga yang single mom. Arisan mereka bukan arisan seperti ibu-ibu sosialita. Arisan ini termasuk silahturami para penulis. Ngobrol tentang keseharian mereka, benefit dari nulis novel, makan, terus foto-foto. Semua makanan itu dibayar sama nama yang terpilih di dalam box. Didalam box itu ada nama setiap anggotanya. Sewaktu dipilih satu kertas diantara banyak kertas, nama Ziva Calandra tertulus di kertas itu. Artinya Ziva harus membayar semua makanan yang mereka pesan. Beberapa dari mereka banyak yang bersyukur karna bukan mereka yang bayar. Mereka juga berterima kasih ke Ziva sambil haha hihi. Ziva membayar tagihan ke kasir, dan totalnya hampir 1juta. Setelah itu Ziva kembali lagi ke mereka. "Berapa totalnya va?" ucap salah satu anggota yang seorang ibu rumah tangga dengan membawa 2 anaknya. "Ngga banyak kok bu, sudah nasib saya karna saya juga yang ngajak ke tempat ini." ucap Ziva sambil tertawa kecil. Mereka semua mengucapkan terima kasih dan mendoakan Ziva makin banyak uangnya. Setelah itu Ziva dan yang lainnya pulang kerumah masing-masing. Sebagian dari mereka ada yang pulang sendiri karena rumahnya beda arah termasuk Ziva. Ziva berjalan santai menuju halte terdekat. Bis yang akan dinaikinya tiba di halte dan ia langsung masyk ke bis dan duduk di kursi tengah. Setelah sampai, Ziva langsung merebahkan badannya ke atas kasur tanpa membersihkan diri. Capek. Tak lama handphone Ziva berdering Ia mengambil tas yang setelah sampai tadi ia letakkan saja di lantai. Mencari handphone di dalam tas tapi malah nemu setangkai mawar merah yang di selipkan Abian tadi. Ziva mengerutkan dahinya lalu mencampakkan setangkai mawar tadi ke atas kasur. Ia mencari lagi handphonenya di dalam tas dan akhirnya ketemu. Mama "ngapai lagi sih," ucapnya sambil menolak panggilan dari Mamanya. Kembali ia ke posisi sebelumnya disebelah bunga tadi. "eh mawar merah, sejak kapan kamu ada di tasku? siapa yang menaruhmu di dalam tas?" ujarnya kepada setangkai bunga mawar merah yang ada dihadapannya. Mencari kontak bernama Abian Maverick dan mengirim foto bunga mawar. "ini kerjaan kamu kan?" ketik Ziva setelah itu mengirimnya ke Abian. 5 menit berlalu. "emang kenapa?" balasan pesan dari Abian. Ziva hanya membaca pesan dari Abian itu. Setelah itu ia ke dapur mencari vas bunga yang ia simpan di bawah meja kompor. Ia bersihkan dahulu vasnya, setelah itu ia isi dengan air dan menaruh mawar merah itu ke vas. setelah itu meletakkan vas bunga itu diatas meja kerjanya. Cantik. Tetiba Ziva tersenyum sendirian. "Haha haha. Pembalutku ketinggalan. Aku sampe lupa mau beli. Padahal dari tadi pagi ini otak udah ngingeti biar ngga lupa. Tapi tetap aja lupa." ucapnya seorang diri di dalam apartemen itu. Sementara itu Abian yang sedang dikamar terlihat senyum-senyum sendirian sambil menatap layar handphonenya. Karena nerima pesan dari Ziva yang sudah ia tunggu dari sepulang ngampus tadi. tok tok "Masuk mbak," ucap Abian. Babysitter pun masuk dengan menggendong Felysia adiknya Abian. "Nah.. itu abang.." ucap babysitter ke Felysia sambil menunjuk Abian dan Felysia langsung kegirangan. Memang Felysia sama Abian sangat dekat. Bahkan, untuk tidur pun harus dekat dengan Abian. Abian pun segera menghanpiri adiknya Felysia. "Hei Felysiaaaa... Udah rindu sama abang ya cantik... Uuuu sini-sini.." rayu Abian ke adiknya. Sambil menggendong adiknya dan berkali-kali mencium pipi Felysia yang bulet seperti kue pau. "Mbak boleh istirahat. Felysia biar sama Abian." ucapnya ke babysitter. "Yaudah bang. Kalo gitu mbak izin masak ke dapur untuk nyiapin makan malam." "Iya mbak. Makasih ya mbak. Byeeeee." ucap Abian sambil melambaikan tangan Felysia yang mungil ke mbak. "Hei.. Ini cantiknya siapa? Gemes kali pipinya.HAP." ucapnya sambil melahap pipi Felysia yang gemoi. Felysia pun tertawa karna tingkah abangnya dan itu malah bikin ia makin gemes. Di umurnya yang 8 bulan ini, Felysia udah bisa berjalan walaupun masih jatuh-jatuh. "Aaaabbrrrrrrr" Felysia memainkan kedua bibirnya yang membuat air liurnya bertebaran di wajah abangnya yang ganteng. "Aaaaaabbbbrrrrrrr" "Heeeehhhh ludahnya ke muka abang semua ini dek." ucap Abian sambil mengusap mukanya. "Aaaabbbrrrrrrr" gantian Abian yang melakukannya ke arah wajah adiknya Felysia. Tapi Felysia malah kegirangan, gemes banget. "Eh malah ketawa. Gigit Fely yaa Akhe akhe akhe." menggigit gemes Felysia yang bikin Felysia makin kegelian. Selesai bermain dengan Felysia, Abian mencium pipi gembul Felysia dan membiarkn Felysia bermain dengan mainannya. Abian membuka handphone dan membuka aplikasi i********:. Mengetik username Ziva, membuka salah satu foto Ziva yang bergaya ala-ala candid. "Felysia setuju ngga kalo abang sama kakak ini? Tapi cinta abang masih di tolak." ucapnya sambil memeluk adiknya yang tengah bermain dengan beberapa boneka. "Abang ini kurang apa ya Fel? Kan abang ganteng, keren, cewek-cewek lain juga bilang abang seksi. Tapi kenapa abang ditolak ya?" ucapnya sambil menaruh kepalanya diatas paha kecil adiknya. Felysia tertawa riang melihat abangnya yang sedang manja itu. Felysia meremat wajah abangnya dengan jari-jarinya yang gembul-gembul. Gantian Felysia menggigit pipi abangnya. Menampar-nampar kecil wajah abangnya yang sudah terkena air liur bekas gigitan tadi. Melihat keriangan adiknya, ia makin membuat adiknya tertawa lepas karena ulahnya memainkan ekspresi wajah. Sementara itu Ziva sedang mendapat panggilan dari Papanya. "Ziva, ini saya. Saya ingeti ke kamu, jangan pernah ngemis-ngemis minta uang ke suami saya ya. Kamu minta uang aja ke Mama kamu, jangan minta-minta uang ke suami saya lagi." ucap disana. Ternyata itu Mama tiri Ziva yang menelpon Ziva dari nomor Papanya. "Kamu lagi ngomong apa lagi nge gong gong?" tanya Ziva. "Kamu ngatai saya anj*ng? Kurang ajar kamu. Hueh pantas ya ngga punya sopan santun, dari kecil aja di asuh babysitter. Punya orang tua tapi ngga pernah ngurusi. Kasian kali ya." ucap Mama tirinya sambil tertawa melece. "Dasar pelak*r miskin." ucap Ziva dengan santai lalu mematikan panggilan tersebut. Ngga tau diri. Keesokannya paginya, Ziva berangkat ke kampus dengan membawa vas yang berisi bunga mawar merah. Sesampainya di ruang kelas, Ziva meletakkan vas bunga itu ke atas meja dosen. "Ini bukannya bunga yang kemarin va?" ucap Abian yang baru saja masuk kelas dan kedapatan Ziva meletakkan vas mawar itu. "Kenapa bisa ada disini?" lanjut Abian sambil duduk dikursi yang ada dibelakang Ziva.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD