"Ya karna aku bawa ke sini." ucap Ziva.
"Aku kira bakal kamu simpan dirumahmu." ujar Abian dan Ziva enggan menjawabnya.
Kalau tau bakal kaya gini, lebih baik tadi aku beli aja bunganya.
Ternyata sebelum berangkat ke kampus, Abian sudah mampir ke toko bunga.
Untuk membeli bunga mawar buat Ziva tiba-tiba ke ingat kalau kemarin Ziva ngirim foto bunga itu.
Jadinya bunga tadi ngga jadi dibeli oleh Abian.
"Pinjam pena dong." bisik Abian ke telinga Ziva.
Padahal ada 2 pena di dalam tas Abian.
"Apaan sih. Padahal kamu bisa langsung bicara. Ngga perlu bisik-bisik." ucap kesal Ziva sambil mengambilkan 1 pena di dalam tempat penanya.
"Kembalikan." ucap Ziva sambil meletakkan pena itu ke atas meja Abian dan kembali ke posisi sebelumnya.
"Pinjam ya canju." goda Abian.
Ziva melanjutkan bacaan novelnya yang tertunda tadi.
Selesai jam pelajaran, Abian mengembalikan pena milik Ziva yang ia pinjam.
"Ini pena kamu. Aku kembalikan tanpa lecet." ujar Abian.
"Karna kamu udah pinjamkan aku pena, hari ini kamu akan aku antar pulang sampai rumah dengan selamat." ucap Abian yang jalan beriringan dengan Ziva.
"Ngga perlu. Aku bisa naik bis." ujar Ziva.
"Kalo gitu besok pagi aku jemput kamu. Kita jalan-jalan, oke?" ajak Abian.
"Aku cuma pinjemi kamu pena, bukan uang 1 miliyar. Ngga usah berlebihan. Alay."
"Bukan alay, aku cuma mau ngajak jalan-jalan." ujar Abian.
"Nggak."
"Yaudah, kalo gitu aku antar kamu pulang hari ini." ucap Abian.
"Aku bilang ngga usah Abian Maverick." ucap tegas Ziva dengan mata sedikit melotot.
"Okelah..." ucap Abian sambil menaikkan sebelah ujung bibirnya.
"Hati-hati ya orang jutek." lagi ucap Abian yang hanya melihat Ziva berjalan lurus menuju halte.
Setelah itu Abian memasuki mobil dan duduk dikursi pengemudi.
Melajukan mobilnya menuju rumah yang sebenarnya enggan untuk ia jadikan tempat pulangnya.
Sesampainya dirumah, ia di sambut dengan tawa riang Fellysia karena melihat abangnya datang.
Lagi dan lagi,,,
Padahal hari masih cerah, tapi suasana dirumah Abian kembali mendung.
Hampir setiap hari orang tuanya bertengkar.
Kenapa ya.. Mempe ribet i kehidupan.
Mereka tahu sudah tidak ada lagi ke cocokan, jadi apalagi yang mau di pertahankan?,.
Abian memarkirkan mobilnya di halaman rumah.
Jederrrrr
Suara gebrakan yang sangat keras dari pintu kamar orang tua Abian.
Abian menyuruh mbak babbysitter tetap berada di halaman rumah bersama Fellysia sedangkan ia masuk ke dalam rumah.
Semua barang berserakan di atas lantai, juga kepingan kaca yang sudah hancur seperti kristal.
Karena kamar kedap suara, Abian tak mendengar suara ribut apapun dari kamar orang tuanya.
Hampir setiap hari, Abian kecil menyaksikan pertengkaran orang tua itu layaknya menonton sinetron televisi tentang pertengkaran suami istri.
Selalu saja bertengkar, baikan, bertengkar lagi, baikan lagi, besoknya sudah bertengkar lagi, dan begitu lagi.
Sampai hari ini, Abian benar-benar muak.
Cukup ia yang merasakan penderitaan ini, asalkan jangan adiknya Fellysia.
Abian menuju kamarnya yang berada di lantai dua, menaiki anak tangga dengan cepat.
Hampir semua pakaian, semua uang simpanannya dan 2 buku tabungan untuk kehidupannya dengan Fellysia.
Ia masukkan semuanya ke dalam koper sedang berwarna hitam.
Abian kecil ingin mempunyai rumah sedang yang penuh kebahagiaan, dari pada megah bak istana tapi penuh penderitaan seperti rumah orang tuanya.
Ia ingin tinggal dirumah itu tanpa kedua orang tuanya, karna itu lebih baik.
Baik untuk dirinya dan sangat baik untuk mentalnya.
Keinginan yang aneh untuk anak se usia itu.
Tapi juga di inginkan oleh orang-orang dewasa yang tertekan di dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat mereka untuk berlindung.
Anak usia segitu seharusnya sedang bermain dengan teman-teman sebayanya.
Main pasir dipinggir pantai, jalan-jalan ke puncak dengan satu keluarga.
Tapi Abian kecil selalu berdiam dikamar, belajar yang rajin.
Abian sangat yakin, kalau ia pintar dan jadi juara kelas, kelak ia akan punya banyak uang.
Abian kecil terlalu berlebihan memikirkan kehidupan dewasanya yang belum tahu pasti akan seperti apa.
Memikirkan caranya menghasilkan uang banyak untuk kehidupannya nanti.
Mulai dari situ, Abian menabungi setiap uang yang ia punya.
Membeli apa yang ia butuhkan dan bukan yang Abian inginkan.
Lebih ke menahan sesuatu yang ingin ia beli.
Setelah itu ia menuju kamar Fellysia, membawa semua pakaian dan perlengkapan Fellysia dengan koper yang besar.
Koper-koper itu ia letakkan di bagasi belakang mobil yang ukurannya lumayan besar.
"Mau kemana bang?" ucap babysitter yang masih menggendong Fellysia.
Abian mengambil Fellysia dari pelukan mbak babysitter.
"Abang minta maaf sebelumnya mbak. Mulai besok mbak ngga usah datang lagi yaa. Abian sama Fellysia mau pindah dari rumah ini mbak. Biar Abang aja yang ngurus Fellysia mbak." ucap sopan Abian ke babysitter.
Abian mengambil banyak lembar uang kertas berwarna merah dari dompetnya dan ia berikan ke babysitter sebagai upah mengurus Fellysia.
"Jadi kalo abang ngampus, siapa yang jagain Fellysia?" ucap babysitter.
"Mungkin bakalan abang bawa ke kampus mbak. Yang penting sekarang Fellysia harus abang bawa pergi dari rumah ini." ucapnya sambil meletakkan Fellysia di kursi pengemudi yang sudah terpasang dudukan bayi.
"Yaudah bang.. kalo menurut abang susah mengurus Fellysia, antar kerumah mbak aja ya bang." ucap babysitter menatap iba Fellysia.
"Iya mbak. Kalau misalnya ada yang Abian ngga tau, boleh nanti Abian telpon mbak?"
"Boleh Abian.. Tanya apa aja yang abang nggak tahu."
"Abian antar mbak kerumah ya?" ucap Abian sambil membukakan pintu mobil untuk mbak.
"Makasih ya bang." ujar babysitter lalu masuk dan duduk di mobil.
Abian pun langsung melajukan mobilnya dengan cepat.
Meninggalkan orang tuanya yang sedang berantam di rumaph besar itu.
Mereka pun sampai di depan rumah babysitter nya.
Babysitter pun turun dari mobil, mencium Fellysia yang sedang tertidur pulas.
Ia menatap iba kedua anak majikannya itu dengan senyumannya.
"Jangan terlalu pikirkan kami mbak. Sekali lagi terima kasih ya mbak." ujar Abian kepada mbak yang umurnya 20 tahun lebih tua dari Abian.
"Jaga kesehatan ya bang, sayang sama Fellysia yaa.." ucap mbak dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca tak rela melihat kedua anak yang selama ini ia asuh dengan kasih sayang akan hidup mandiri.
Karna sadar dengan mbak yang mau meneteskan air mata, Abian pun turun dari mobil.
Menghampiri mbak lalu memeluk erat layaknya seorang anak yang sedang meredakan emosi sedih Mama nya.
Mbak benar-benar nangis sedih, tak rela melepaskan meraka berdua.
Anak kecil yang dulu tak tahu apa-apa. Hanya diam dan menyaksikan orang tuanya yang sedang bertengkar.
Tapi sekarang sudah berani untuk kabur dari rumah itu selamanya.
Sudah 22 tahun mbak kerja dengan orang tua Abian. Dari Abian masih bayi merah, mbak sudah mengurusnya dengan kasih sayang.
"Abian minta maaf kalo selama ini Abian sering nakal ya mbak." ucap Abian sambil melepaskan pelukan itu dan menghapus air mata babysitternya yang sudah ia anggap Mama sendiri.
"Dari kecil abang itu anaknya baik. Ngga pernah nakal sama sekali, selalu dengerin apa yang mbak bilang." ucap mbak sambil mengelus tangan Abian.
"Makasih ya mbak, udah mau jadi orang tua kami selama ini. Makasih udah sayang sama kami..." ucap Abian.
"Iyaa bang.." ucap singkat mbak.
"Kalau gitu abang pergi ya mbak. Mbak jaga kesehatan. Kalo Abian nanti udah kerja, udah banyak duit, kita jalan-jalan ke bali ya mbak." ucap riang Abian.
"Aamiin. Abang yang rajin belajarnya ya, biar banyak uangnya. Abang juga jaga kesehatannya ya,, Banyak makan, jangan bergadang terus ya." ujar mbak dengan senyum manisnya.
"Iya mbak. Pasti... Abian pergi ya mbak." ucap Abian sambil senyum riangnya lalu salim dengan mbak..
Abian pun kembali masuk ke mobil, menghidupkan mesin dan melaju pergi..
Abian mengeluarkan tangan kanannya dari dalam mobil dan melambaikan tangannya ke mbak. Lambaian tangan itu pun dibalas oleh mbak sambil tersenyum.
Dia sudah sedewasa itu...