Perjalanan dari rumah mbak ke apartemen yang ingin di sewa Abian hanya memakan waktu sekitar 1 jam.
Sebelumnya Abian sudah mencari-cari informasi sewa apartemen yang murah dan dekat dengan kampus.
Dengan uang yang ia kumpulkan selama ini hanya mampu untuk menyewa apartemen, uang kampus, uang kendaraan, s**u Fellysia, dan makanan pokok mereka sampai 2 tahun kedepan.
Syukurnya.. Sebelum habis uang simpanan itu, Abian sudah lulus dari kampusnya.
Abian bisa langsung bekerja untuk menghidupi dirinya dan adiknya.
Abian menuju pintu nomor 6, sambil menggendong Fellysia dan membawa tiga koper itu.
Abian membuka pintu apart dengan kata sandi.
Sebenarnya bulan lalu Abian sudah membayar uang sewa apartemen ini dan mengisi barang-barang dengan menyicilnya.
Suasana di dalam apartemen Abian benar-benar seperti rumah yang ia impikan.
Fellysia yang masih merasa asing, melihat sekeliling apartemen itu dengan bingung.
"Kamu bingung ya?" tanya Abian.
"Kita bukan di rumah Mama papa lagi Fellysia, sekarang kita tinggal di apartemen. Maaf ya cantik. Fellysia abang jauhi dari Mama Papa." ujar Abian kepada Fellysia yang sedang duduk santai diatas tempat tidur.
Abian tersenyum dan mengoceh seakan sedang membalas ucapan abangnya.
Abian tertawa melihat Fellysia yang sedang mengoceh itu.
"Kamu sudah besar ya... Udah bisa jawab ucapan abang. Kamu seneng tinggal disini?" ucap Abian gemas sambil mencium-cium pipi gembul Fellysia.
Fellysia tertawa riang seperti ia menyukai suasana apartemen dari pada rumah megah itu.
"Makasih ya sudah jadi anak baik yang ngga pernah rewel. Makasih sudah jadi anak bayi yang periang. Sekarang abang yang jaga Fellysia, jadi kalo udah besar jangan melawan ya. Awas kamu kalo melawan-melawan sama abang." jelas Abian sambil menggigit tumit kaki Fellysia.
"Aaaaaaeeehh..." rengek Fellysia sambil memukul-mukul kepala abangnya itu.
Abian tertawa lalu mencium Fellysia.
"Kamu main sendiri dulu ya cantik. Abang mau nyusuni pakaian kita." ucap Abian sambil meletakkan semua mainan Fellysia di atas tempat tidur.
Fellysia tak merespon ucapan Abian. Ia terlalu fokus memandangi banyaknya mainan yang di serakkan di hadapannya.
Setelah Abian selesai menyusun pakaian, ia melihat adiknya yang sudah tertidur dengan pulas ditengah-tengah gerombolan bonekanya.
Abian menyusun satu persatu boneka milik Fellysia diatas meja yang cukup panjang.
Lalu Abian memindahkan Fellysia ke tempat tidur ukuran anak-anak yang sudah disekat. Ia khusus membeli itu untuk adik perempuannya.
Keesokan paginya, Abian menelepon Ziva.
"Apa sih. Pagi-pagi udah nelponi orang." ucap Ziva langsung kepada Abian.
"Pagi-pagi ngga boleh marah-marah loh. Nanti kamu cepat keriputnya." canda Abian.
"Udah cepat ada perlu apa?" ucap Ziva karna Abian tak pernah menelpon kalau bukan sesuatu yang penting.
"Aku perlu bantuanmu va."
"Bantuan apa? Yang jelas aja kalo ngomong. Jangan setengah-setengah. Ku matikan telponnya nanti."
"Itu... Adikku perempuan, biasa yang mandikan dia itu babysitternya. Cuma sekarang babysitternya itu ngga kerja lagi. Bisa minta tolong mandikan adikku va?" ucap Abian.
"Haaaaa? Kan ada mama kamu. Ngapain minta tolongnya sama aku."
Abian diam tak merespon ucapan Ziva selama beberapa menit.
"Yaudah deh.." ucap Abian lalu ia mematikan panggilan telepon itu.
Ziva meletakkan ponselnya kembali ke atas meja yang ada di sebelah tempat tidurnya.
Memejamkan kembali matanya yang sempat terbangun karena panggilan telepon dari Abian tadi.
"Aaakh" kesal Ziva sambil menendang-nendangi kakinya yang ada di dalam selimut.
Ziva kembali mengambil handphonenya dan membuka fitur chat.
"Share lokasimu. Cepat." ketik Ziva dan mengirimnya ke Abian.
Ziva menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai, ia kembali mengecek handphonenya. Ternyata Abian sudah mengirimkan lokasinya.
Ziva kebingungan melihat maps yang menunjukkan lokasi Abian sangat dekat dengannya.
Ziva mengikuti arahan maps itu. Maps itu menunjukkan arah lokasi yang ada diseberang apartemen Ziva.
Dengan penuh keraguan, ia menekan bel apartemen itu.
Lalu pintu itu terbuka...
Lelaki tinggi berkulit putih dengan pakaian casual dan terlihat sempurna itu sedang menggendong bayi yang sepertinya baru bangun dari tidurnya.
Ternyata itu Abian dengan Fellysia adik perempuannya.
"Loh........??" ucap bingung Abian yang heran kenapa Ziva cepat sampai di depan pintunya.
"Kamu beneran tinggal disini? Sejak kapan??"
"Abian... Sejak kapan kamu jadi penguntit?" ucap Ziva.
"Masuk dulu. Nanti aku ceritain." ucap Abian.
Ziva masuk kedalam apartemen Abian. Melihat adik Abian yang belum sepenuhnya tersadar dari tidurnya. Sudah gemas, malah sekamin gemas.
"Enghh" rengek Fellysia kepada abangnya.
Ziva langsung terpikat begitu melihat Fellysia. Wajah bulat dengan pipi yang berisi penuh lemak, mata bulat indah dengan bulu mata yang lentik, dan rambut yang sedikit ikal tapi hitam dan lebat.
"Hai cantik.. Nama kakak Ziva. Nama kamu siapa?" tanya Ziva kepada adiknya Abian.
"Nama adik Fellysia kakak." ucap Abian menggantikan adiknya yang belum bisa bicara.
Ziva mencoba menggendong Fellysia, dan ternyata Fellysia mau. Karena pada umumnya, anak kecil bakal bersikap malu-malu dengan orang yang baru ia jumpain.
"Iiiii anak pinter." ucap Ziva sambil mencium pipi Fellysia.
"Fellysia udah mamam lom?" tanya Ziva sambil jalan menuju kearah dapur.
Fellysia menggelengkan kepalanya karena ia belum sarapan pagi.
"Aduuuh. Ngga di kasi mamam sama abang ya cantik? Uuuh abang ini, ngga kasinya Fellysia mamam." ucap Ziva memanjakan Fellysia.
Tiba-tiba Fellysia menyenderkan kepalanya dipundak Ziva sebentar lalu mencium pipi Ziva.
"Ih" sambil mencium Fellysia.
Fellysia gantian mencium Ziva sambil tertawa kecil.
"Ih" mencium lama pipi Fellysia.
Fellysia pun tertawa kegirangan karena diajak main oleh Ziva.
Abian yang sedari tadi melihat interaksi antara Ziva dan Fellysia dibuat tersenyum-senyum.
Aneh,, Ziva yang selama ini ia kenal sangat jutek dan tak pernah sama sekali menunjukkan ekspresi apapun.
Tapi hari ini,, Ziva menunjukkan sisi lainnya yang membuat jantung Abian berdetak kencang.
Manis kali..
Abian memandangi Ziva dari meja dapur sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Abian.. hei Abian.. Bian.." Ziva memanggil Abian tiga kali tapi tak ada respon dari Abian.
Sambil tersenyum-senyum Abian terus memandangi Ziva. Membayangkan mereka seperti suami istri yang sedang mengurus anak.
Karena tak ada respon dari Abian, Ziva melepaskan topangan dagu Abian sebelah.
Benar saja, Abian tersadar setelah itu..
"Dipanggili dari tadi kok. Melamun aja abang ini ya kan Fellysia." ucap Ziva dan Fellysia tertawa kecil.
"Kamu belum ada beli beras? Kulkasmu juga kosong." ucap Ziva karena dapur hanya ada kompor dan kulkas.
"Aku belum ada beli apa pun. Aku ngga tau mau beli apa aja." ucap Abian.
"Jadi tadi malam kalian makan apa?" tanya Ziva.
"Ya ngga makan."
"Fellysia juga ngga makan?" tanya Ziva lagi.
"Ya ngga juga. Fellysia pun diam aja. Ngga nangis juga." ucap Abian.
"Mau nangis atau ngga, kalo udah malam itu ya di kasih makan lah Abian. Tengok ini perutnya sampai gembung gini." ucap Ziva sambil memeriksa perut Fellysia dengan sedikit tepukan kecil.
Abian diam ngaku salah.
"Udahlah, kita sarapan diluar aja. Setelah itu belanja. Dirumahku juga tidak ada apa-apa." ucap Ziva sambil menuju kamar mandi untuk memandikan Fellysia.