Datang untuk Menemuimu

1233 Words
"Apa kamu tidak tahu mengenai denda pinalti karena pembatalan yang baru saja kamu lakukan?" tanya Ishana kembali. Pasalnya, Tristan tidak juga menjawab pertanyaannya. Tristan yang ditanya pun menegakkan tubuh dan memasukkan kedua tangan ke saku celana. Dia menjawab, "Saya tahu mengenai hal ini dan saya tidak keberatan untuk membayarnya." Ishana benar-benar dibuat naik pitam dengan ucapan yang baru saja Tristan berikan. Apa maksudnya pria itu tidak keberatan? Hingga dia yang melihat Tristan berbalik badan dan siap pergi. Secepat mungkin, Ishana menahan lengan pria itu, membuat langka Tristan kembali terhenti. "Jelaskan dulu sebelum pergi! Aku butuh penjelasan mengenai masalah kali ini," ucap Ishana dengan nada penuh penekanan. Dia tidak terima dengan apa yang dilakukan pria itu. Dia merasa kalau Tristan sedang mencemooh dirinya. Memangnya siapa dia sampai melakukan hal ini denganku? Batin Ishana berkata. Tristan membuang napas kasar. Lagi-lagi pertanyaan yang sama. Dia pun mulai membenarkan posisi berdiri, sepenuhnya menatap Ishana yang masih menuntut jawab. Pandangannya terasa tajam dan menusuk. "Kamu ingin tahu alasan saya?" Tristan menatap lekat, melihat Ishana yang sedang menunggu jawaban. "Itu karena sikap kamu yang ceroboh dan tidak bisa mengurus diri sendiri. Kamu sebagai pimpinan saja asal tidur di jalanan, bagaimana saya bisa percaya dengan kinerja kamu? Itu sebabnya, saya lebih memilih resort lain yang jelas bisa dipercaya daripada melanjutkan kerjasama dengan resort ini," imbuh Tristan. Dia segera melangkah pergi, meninggalkan Ishana yang masih termenung. Asal tidur di jalanan? Ishana yang mendengar penjelasan kali ini pun terdiam dengan kedua mata melebar. Tidak ada yang mengetahui mengenai kejadian itu selain dia dan pangeran tampan yang menolongnya. Freya pun tidak mengetahui apa pun. Hingga dia mendongak, menatap ke arah Tristan yang sudah menjauh. Apa dia pria yang menolongku? Batin Ishana, masih membeku di tempat. "Ishana, kamu kenapa?" tegur Freya ketika melihat Ishana melamun. Ishana yang ditanya pun tersentak kaget dan menatap ke arah Freya. Dia masih dibuat heran dengan ucapan Tristan. Kalau memang pria itu yang menolongnya, kenapa sikapnya berbanding terbalik dengan sebelumnya? Waktu itu Tristan baik dan menjaganya sampai pagi, tetapi kenapa kali ini terasa ketus dan dingin? Meski Ishana tidak sepenuhnya sadar, tetapi dia tahu dari cerita yang dikatakan petugas kebersihan yang dibayar Tristan untuk menjaganya "Ishana! Kamu kenapa, hei?!" tanya Freya kembali. "Aku mau meminta data mengenai Tristan, Freya," ucap Ishana. Freya pun mengangguk kepala. Dengan cepat dia melangkah ke arah kantor, diikuti Ishana yang juga penasaran. Dia benar-benar ingin tahu mengenai pria yang baru saja ditemuinya. Hingga keduanya sampai di dalam ruangan. Freya pun segera mengambil dokumen di meja dan menyerahkan ke arah Ishana. Ishana pun langsung mengambil dan membukanya. Dia membaca nama yang tertera di dalam dokumen. Caraka Tristan Andara. Membaca nama itu, Ishana langsung melebarkan kedua mata. Nama tersebut sama dengan inisial yang ditemukan di jaket sang penyelamatnya. Bahkan dia menutup mulut dengan kedua tangan karena rasa terkejutnya yang berlebihan. Jadi benar Tristan yang menyelamatkanku? Kenapa bisa aku seceroboh ini, batin Ishana. Sedangkan di tempat lain, Andre masih menatap lekat ke arah Tristan yang ada di sebelahnya. Dia masih menuntut penjelasan mengenai apa yang dilakukan pria itu. Bahkan dia merasa kesal karena Tristan yang seperti tidak bersalah sama sekali. "Tristan, kamu harus jelaskan sedetail-detailnya. Kenapa kamu membatalkan rencana pemesanan resort?" tanya Andre kembali. Dia belum menemukan jawaban yang jelas, membuatnya masih merasa penasaran. Tristan yang ditanya pun melirik ke arah Andre dan kembali menatap jalanan. "Tidak ada alasan khusus, Andre. Aku membatalkannya karena aku tidak ingin saja. Selain itu, sekarang lebih baik kamu cari resort yang lain saja," jawab Tristan. "Tapi semua undangan sudah diberikan, Tristan," ucap Andre. Seketika, Tristan pun melebarkan kedua mata dan menatap Andre tajam. "Kenapa kamu bisa melakukan hal seceroboh ini, Andre? Kenapa kamu tidak mengatakannya padaku sebelumnya?" Rasanya kali ini Tristan ingin sekali marah dengan pria di sebelahnya. "Waktu itu kamu bilang kalau kamu menyukainya, Tristan. Jadi, aku anggap itu persetujuan dari kamu. Jadi, kalau kamu sampai membatalkan pemesanan resort kali ini, itu tidak mungkin," sahut Andre. Seketika, Tristan diam. Dia enggan mempercayakan masalah kali ini dengan orang yang salah. Investor kali ini benar-benar penting untuk yayasan amal miliknya. Kalau sampai ada yang salah, Tristan yakin semua rencananya akan gagal. Hingga sesuatu melintas dalam pikirannya, membuat Tristan kembali tenang. "Hubungi saja mereka, Andre. Katakan kalau pertemuan kali ini berpindah tempat," ucap Tristan enteng. *** Mobil yang ditumpangi Tristan berhenti di depan sebuah gedung sederhana. Bangunan itu tidaklah megah. Di sana juga sangat tenang. Perlahan, Tristan dan Andre keluar dari mobil. Keduanya melangkah pelan, sembari menikmati semilir angin yang dirasakan. Ada perasaan senang ketika melihat nama yayasan amalnya tertera di depan. Andre yang berada di depan, kali ini membuka pintu kantor dan masuk, diikuti Tristan yang mengamati sekitar. Pandangannya tertuju ke segala sudut dengan tatapan bingung. Hingga dia menatap ke arah Andre berada. "Andre, kenapa kantor ini sepi?" tanya Tristan. Andre yang baru saja melangkah untuk menunjukkan ruangan Tristan pun berhenti. Dia menatap ke arah Tristan dan menjawab, "Sebenarnya selama ini kantor dijalankan secara online, Tristan. Banyak pegawai yang merasa keberatan kalau harus dipindahkan ke Bali." Tristan yang mendengar pun terdiam, tidak menyangka jika keputusannya memindahkan karyawan ke pulau Dewata membuat masalah untuk yang lainnya. Dia bahkan tidak memikirkan mengenai hal ini. Dia hanya tahu untuk mencari ketenangan bagi diri sendiri. Hingga dia membuang napas kasar dan menatap Andre. "Kalau begitu, kamu rekrut karyawan baru saja, Andre. Bagaimanapun kantor ini harus berjalan secara offline. Kita tidak bisa menjalankan kantor ini secara online," ucap Tristan. "Terus, karyawan kita yang lama, bagaimana, Tristan? Apa kita memecatnya?" tanya Andre kembali. Sejenak, Tristan diam, mencoba mencari jalan keluarnya. Tidak mungkin dia memecat semua karyawannya hanya karena dia yang berada di Bali. Bukan hanya itu, tetapi dia merasa sangat keterlaluan kalau dia hanya memikirkan egonya. "Mengenai mereka, aku akan coba bicara dengan Papa, Andre. Biar mereka bekerja di kantor Papa saja," putus Tristan. Andre yang mendengar pun cukup lega. Dia pikir Tristan akan memecat semua karyawannya yang enggan berpindah ke kota Dewata ini. "Kalau begitu aku akan tunjukkan ruangan kamu, Tristan. Kita bisa membahas masalah pertemuan Minggu besok," ucap Andre. Tristan pun mengangguk setuju. Dia melangkah ke arah ruangan yang dimaksud. Mengenai dekorasi kantor, Tristan tidak memiliki komplain apa pun. Dia cukup menyukai bangunan yang baru satu Minggu itu dibuka. Dia bahkan merasa nyaman dengan tempat kali ini. Tristan melihat ruangannya. Semua tertata rapi. Bibirnya mengulas senyum tipis, merasa senang karena sang papa yang mengetahui kesukaannya. Sederhana, tetapi tetap terlihat elegan dan tegas. Namun, Tristan tidak memiliki banyak waktu untuk mengagumi ruang kerjanya. Dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Tristan pun melangkah ke arah kursi, dimana Andre sudah membuka beberapa berkas. Tristan dan Andre pun mulai membicarakan mengenai rencana keduanya. Tristan memberikan masukan sedikit untuk rencana yang sudah dibuat Andre. Mereka juga mulai mencari resort baru karena Tristan yang membatalkan janji sebelumnya. Satu jam rapat, keduanya selesai. Tristan juga merasa lelah karena seharian tidak beristirahat sama sekali. Rasanya benar-benar berbeda dengan kehidupannya dulu. Dulu, dia bahkan tidak sekeras ini memikirkan kehidupannya. "Setelah ini kamu mau kemana, Andre?" tanya Tristan saat keduanya berjalan keluar kantor. "Aku ikut ke mana kamu pergi, Tristan," jawab Andre. Tristan yang mendengar pun hanya tersenyum tipis. Dia memilih melanjutkan langkah, tetapi saat akan sampai di dekat mobil, Tristan berhenti. Dia melihat seseorang berdiri di sebelah mobilnya. Kedua matanya pun menyipit, mencoba memastikan bahwa orang yang dilihatnya tidaklah salah. "Kenapa kamu di sini?" tanya Tristan ketika sampai di sebelah mobil. Ishana yang sejak tadi menunggu pun menatap lekat dan menjawab, "Aku datang untuk menemuimu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD