Kami setengah duduk dengan punggung ditopang tumpukan bantal, sedangkan arah mata kami tak saling terpaut satu sama lain, terlihat saling asyik dengan pandangan masing-masing.
“Selamat datang di rumah saya, Zi. Benarkan panggilan kamu, Zi?”
“Be-benar, Om,” ucapku terbata.
“Om?” ucapnya heran sambil menatap ke arahku.
“Maaf, bukannya tuan memperbolehkan saya memanggil dengan sebutan apapun,” protesku.
“Sudahlah, terserah kamu saja.”
“Iya, Om.”
“Baiklah, Zi. Hari ini kita memang sudah selesai akad. Tapi ada satu yang harus kamu ingat, jangan pernah menaruh hati kepadaku. Kamu boleh menikmati semua fasilitas ku semua, tapi jangan berharap aku mencintaimu.”
Pernikahan semacam apa ini? Tanpa cinta? Hanya sebatas hitam di atas putih? Lantas saja Mesa menghilang tanpa kabar seperti ini.
“Umur kamu berapa?” tanya lelaki itu sambil mengarahkan pandangan ke arahku, dari bawah ke atas.
“Dua puluh tahun, Om,”
“Kamu tidak kuliah?”
“Tidak, Om, tapi aku ingin sekali melanjutkan pendidikanku itu,”
“Baiklah, kalau kamu berminat. Kamu silahkan kuliah, kamu pilih universitas apa yang kamu inginkan. Nanti biar asisten saya yang mengurus semua keperluannya.
‘ya Allah ya Robbi, semalam mimpi apa? Aku ketiban rejeki nomplok,'
“Kamu senang?” tanya lelaki itu, yang sepertinya menyadari senyum bahagiaku.
“Iya, Om. Terima kasih banyak.”
“Jangan senang dulu, kamu harus perhatikan kalimatku ini baik-baik. Kamu harus melayaniku aku selayaknya seorang istri beneran, setiap pagi jangan lupa sediakan kopi hitam dan roti selai. Ingat kopinya jangan terlalu manis, tapi juga jangan terlalu pahit. Harus yang pas. Kamu bisa belajar dari Simbok. Kedua, setiap jam dua belas tepat.” Lelaki itu menunjuk ke arah jam sudut di kamar ini.
“Seriap jam dua belas tepat, Saya pulang ke rumah. Semangkok sup ayam hangat dengan geprekan jahe harus sudah tersaji di atas meja. Ingat harus dalam keadaan hangat, jangan terlalu panas apalagi sampai dingin. Kamu harus bisa mengatur waktumu sendiri supaya menu itu bisa aku santap dengan hangat. Jangan lupa jus jeruknya, juga jangan terlalu manis, aku gak suka. Kamu paham?”
“Paham, Om,”
“Bagus.”
“Hari ini saya cuti kerja, jadi saya mau tidur. Kalau kamu mau keliling rumah ini silahkan. Atau kalau mau makan sesuatu, bilang saja sama Simbok. Masakan Simbok jauh lebih enak daripada rawon yang kamui makan tadi,” ucap lelaki itu sambil memeluk guling berwarna putih bersih itu.
Rawon? Bukankah dalam acara tadi, ia tak melihatku menyantap makanan lezat itu. Bagaimana ia tahu?
Tak berapa lama dengkuran halus terdengar di indraku, mudah sekali lelaki ini terlelap. Sedangkan aku yang tak tahu harus berbuat apa, kini lebih memilih berjalan-jalan menikmati pemandangan rumah ini. Ya, halaman di sini sangat luas dengan sebuah air mancur besar di depan. Beberapa ikan koi dengan warna merah menyala berenang asyik menikmati air jernih dari pancuran air ini.
“Non Zi, kenapa berdiri di situ sendirian?”
Wanita paruh baya yang tadi menyambutku kini melangkah mendekat.
“Enggak apa, Mbok. Lagi ingin melihat ikan koi ini. Indah sekali ya, Mbok,” ucapku sambil menunjuk salah satu ikan yang berenang begitu gesitnya.
“Gimana, Non?” tanya Simbok yang menatapku heran.
“Gimana apanya, Mbok?”
“Gimana perilaku, Tuan? Dia tidak marah-marah atau berkata kasar kepadamukan?” tanya Simbok yang tampak khawatir dengan jawabku.
“Alhamdulillah, Om Zuan baik,”
“Apa? Kamu bilang Tuan baik?”
Simbok terlihat menelan salivanya, ia tampak tak percaya dengan kalimat yang baru saja aku ucap.
***
“Om, bangun, Om. Ini sudah subuh. Mari kita jamaah dulu,” ucapkan sambil menggoyangkan tubuhnya. Entah mulai kapan lelaki ini tertidur di sini, tepatnya di sofa panjang sebelah meja kerjanya. Aku tertidur ketika ia masih sibuk menghadap tumpukan kertas di meja kerja itu.
“Aku masih ngantuk,” ucapnya masih dengan mata tertutup. Kini ia mengubah posisi dengan membelakangiku.
“Om bangun, adzan sudah selesai berkumandang dari tadi. Jangan seperti anak SD yang susah dibangunkan untuk berangkat sekolah.”
“Apa? Kamu bandingkan aku dengan anak SD?”
“Maaf, Om. Tapi memang itu benar. Aku biasanya membangunkan ponakanku selalu pakai drama, sama seperti membangunkan om!”
“Zi,” ucap lelaki itu dengan menaikkan nadanya.
“Kamu tahu, itu baru jam setengah lima pagi?” ucapnya sambil menunjuk jam di sudut kamar.
“Tahu, Om.”
“Kenapa kamu bangunkan aku jam segini? Ini bukan jamku untuk bangun, nanti pukul enam aku akan bangun sendiri, jangan lupa kamu harus sudah menyiapkan sarapanku,” ucap lelaki berparas tampan berahang simetris itu kembali terbaring di posisi semula.
“Tapi, Om.”
“Apalagi, Zi? Ha?”
“Bukankah Om yang memintaku untuk tetap melayani Om sepeti selayaknya seorang istri seperti biasa?”
“Hm,”
“Ya sudah bangun. Ayo, Om kita jamaah. Aku tak ingin kamu tertinggal di neraka,”” ucapku dengan menarik lengan bertubuh kekar itu. Sekuat apapun aku menariknya, rasanya tubuh itu tak bergeser sedikitpun.
“Om. Ayo solat, Om. Aku takut terseret ke neraka karenamu,” ucapku masih terus menarik lengannya.
“Cukup, cukup, bawel kamu, Zi. Mimpi apa aku semalam, harus ketemu wanita sepertimu.”
Lelaki itu beranjak ke kamar mandi, sedangkan kini terdengar suara kran yang menyala.
“Om, kenapa gerakannya seperti itu? Itu salah, Om. Berwudhu itu harus tertib. Dari doa, lalu ...”
“Zi, hentikan. Aku membawamu ke sini bukan untuk ceramah di depanku. Ingat itu. Oh ya, jangan lagi ganggu aku. Tugasmu hanya yang aku sebutkan seperti kemarin, gak ada bangunkan tidur, gak ada meminta berwudhu. Gak ada lagi memintaku untuk ini dan itu, sebatas menyiapkan sarapan dan makan siang,” ucapnya dengan rahang yang mengeras serta tangan yang mengepal. Ia melihatku dengan pandangan yang tajam, sangat mengerikan.
Kini ia kembali menjatuhkan tubuhnya dan tertidur kembali.
Aku berlalu menuju dapur seusai menjalankan rakaatku, untung sekali kemarin aku menyempatkan mengelilingi rumah ini ditemani Simbok jadi aku tidak bingung mencari lokasi dapur ada di mana. Rumah yang terlalu besar, ternyata begitu menyusahkan.
“Simbok, bagaimana komposisi yang tepat untuk membuatkan kopi Om Zuan”
Simbok mengajari aku bagaimana membuat kopi, berapa suhu air yang harus aku gunakan. Juga bagaimana mengoles roti yang benar sesuai kesukaan Om galak itu.
“Ribet sekali ya, Mbok! Terlalu perfeksionis ia,” ucapku menggerutu.
“Hus, nanti kalau tuan dengar,” ucap Simbok sedikit berbisik.
“Aku sudah mendengar, lain kali aku tak ingin mendengar gosip seperti ini lagi,” ucapnya sambil duduk di bangku ujung meja makan. Lelaki bidang berpawakan tinggi serta jas hitam berdasi yang dikenakannya, membuat lelaki itu terlihat begitu keren. Keren? Sepersekian detik aku baru menyadari batinku yang salah itu.
“Sana, Non. Antar kopi dan roti selainya ke depan, Tuan,” ucap Simbok sambil menunjuk kopi hangat dan roti selai yang sudah berada di nampan. Perlahan aku membawa makanan tersebut di depan Om Zuan. Dua bola matanya tampak memperhatikan makanan yang kusajikan.
“Zi,” teriak si Om saat aku hendak berlalu.
“Lihatlah, lain kali aku tak mau minum kopi yang di sajikan dengan berantakan seperti ini. Karena ini hari pertamamu jadi aku maklumi, tidak untuk besok,” ucap lelaki itu sambil menunjuk cangkir kopi di depannya. Ya, kopi beralaskan cawan bening itu sedikit tumpah dan mengenai cawan. Mungkin karena tubuhku yang gemetaran, hingga minuman tersebut bisa seperti itu.
“Ba-baik, Om.”
Lelaki berahang simetris tanpa jambang maupun kumis itu tampak menyeruput kopinya.
Srupp
Ia tampak mengecap setelah kopi tersebut melewati bibirnya, bahkan meninggalkan bekas hitam kopi di bibir tersebut.
“Zi, kopi buatanmu ini terlalu manis, aku tak suka,” ucapnya dengan menatapku dengan tatapan elang.
Ia meletakkan kopi yang terlihat masih utuh begitu saja.
“Karena Om meminumnya sambil melihatku, jadi perasa gulanya semakin bertambah.”
“Ini kesalahan fatal, Zi. Jangan anggap bercanda,” ucap lelaki itu yang kini mengunyah roti selainya. Sedangkan Simbok tampak mendekatiku dan memberiku kode untuk tak berkomentar apapun.
‘Dasar lelaki kaku, tak memiliki selera humor sedikitpun,' batinku.
“Ingat, komposisi kopi nya diperbaiki. Jangan lupa siapkan makan siangku,” ucap lelaki itu sambil mengangkat tas kerja warna hitamnya. Meninggalkan kopi panas yang masih terlihat utuh, serta roti selai yang hanya berkurang dua gigitan
**
Tak banyak yang aku lakukan selain rebahan di kamar, sambil membaca beberapa koleksi buku di rak sudut ruang ini. Selera lelaki ini payah sekali, tak ada Novel roman ataupun Komix. Hampir sebagian besar rak ini terisi dengan buku sains, buku akutansi dan sejenisnya. Pantas saja ia kaku dan tak memiliki selera humor.
“Non, ada tuan Rendra datang, ia ingin bertemu Nona Zi” terdengar suara dari balik pintu kamar.
Bergegas aku membuka pintu dan bertemu seorang lelaki berjas hitam dengan sepatu mengkilat.
“Maaf Nona Zi, saya membutuhkan beberapa dokumen anda untuk menyelesaikan administrasi di universitas,”
“Ha, a-aku ku-kuliah?” tanyaku setelah menelan salivaku kasar. Rasanya ini benar-benar mimpi.
Aku bahkan sampai mencubit lenganku, untuk memastikan apakah ini nyata.
Lelaki itu tampak tersenyum lepas ketika melihat tingkahku, berbeda sekali dengan bos nya yang kaku dan dingin. Apalagi parasnya terlihat lebih muda, serta memiliki lesung Pipit yang membuat ia terlihat manis.
‘Seperti ini nih, yang menjadi pasangan idamanku,’ batinku sambil menatap lelaki bawahan Om Zuan tersebut.