Bab 3. Ghibahin Om Galak

1391 Words
“Maaf Tuan, kalau boleh tahu saya mau dimasukkan di universitas mana?” tanyaku ragu. “Panggil Aku Rendra saja, aku ini bawahanmu, Nona Zi,” ucapnya sambil sekilas menatapku dan kembali kepada tumpukan kertas yang aku berikan. Ia memberikanku beberapa opsi universitas ternama. “Tuan memintaku untuk mendaftarkan Nona Zi di sini,” ucapnya sambil menunjuk salah satu brosur universitas. “Ha?” Aku benar-benar terkejut ketika melihat nama Universitas tersebut. Tempat di mana Mesa menuntut ilmu, bahkan Pak De sampai harus menjual beberapa hektar sawahnya hanya untuk biaya masuk sekolahnya saja. “Maaf Rendra, apa aku bermimpi? Coba kamu cubit lenganku!” ucapku sambil menjuntai kan lenganku di depannya. “Nona Zi memang lucu,” ia senyum simpul hingga lesung pipitnya kembali terlihat begitu manis. *** Aku kembali melaksanakan pekerjaanku, apalagi kalau bukan menyiapkan makan siang untuk Om galak, bangunan dapur ini begitu luas, mungkin hampir sama dengan dua kamar bude dan Mesa jika disatukan. Perabotan di sini pun tampak bersih dan rapi. Kulkas berpintu empat, rak piring dan perabotan tempat ini berwarna senada dan begitu indah, bahkan beberapa bunga yang berdiri indah di atas vas itu turut menjadi pelengkap dapur ini. “Nasinya sudah dibuat, Mbok?” tanyaku kepada perempuan tua yang menjadi seniorku. “Tuan tidak makan nasi, Non. Tuan makannya kentang kukus. Ini lagi Simbok kupas kentangnya,” ucap wanita itu dengan pisau dan kentang di tangannya. “Ha? Tidak makan nasi, Mbok? Apa kenyang cuma makan kentang ini?” tanyaku sambil mencuci kentang yang sudah di kupas. Membayangkan sehari makan tanpa nasi saja membuatku kelaparan. Aku tidak bisa jika harus meninggalkan karbo yang itu, tidak makan nasi bagiku tidak makan. Bahkan, makan nasi bekas itu lebih mengenyangkan dari pada memakan kentang rebus seperti ini. “Ya begitulah, Non. Itu memang menu makanan Tuan. Hampir dua tahun ia makan dengan menu yang selalu sama.” Aku mengernyitkan dahiku, aneh, rasanya Om galak itu gak normal. Mana mungkin ada orang yang mau mengonsumsi makanan yang sama tiap harinya. Ini bahkan sampai dua tahun. “Kenapa di rumah besar ini, hanya ada Simbok dan Pak Tejo. Apa tidak kewalahan untuk membersihkan tempat seluas ini?” tanyaku sambil memasukkan kentang ke dalam kukusan. “Gak ada yang betah, Non. Semua mengundurkan diri, tak ada yang bertahan selama sehari.” “Apa, Mbok?” Aku masih tak percaya dengan tuturan wanita di sebelahku ini. “Jujur aku juga capek, Non. Simbok sudah beberapa kali berniat untuk pulang kampung, ingin menghabiskan waktu bersama anak dan cucu. Tapi Simbok selalu gak tega jika melihat Tuan sendirian. Siapa yang akan mengurusnya?” “Orang tua Om Zuan ke mana, Mbok? Kenapa mereka gak di sini dan ikut membantu mengurus anak galaknya itu,” Selama di sini aku memang belum bertemu orang tua Om Zuan. Bahkan saat hari pernikahan itu pun, orang tuanya tidak ikut serta. Hanya ada Om galak itu dan beberapa rekannya. “Ayahnya tuan sudah meninggal lama, sedangkan ibunya Tuan Zuan kini sedang berada di luar negri untuk melanjutkan pengobatannya.” “Pengobatan? Sakit apa, Mbok?” “Aku gak tahu, Non. Aku juga gak berani tanya sama Tuan. Banyak bicara sama dia sama saja mencari masalah. Gini aja mbok masih banyak yang keliru,” ucapnya sambil terkekeh menahan tawa. “Dulu tuan Zuan itu sosok lelaki yang hangat, Non. Dia lelaki yang baik dan begitu menyayangi istrinya. Apalagi saat nona cantik hamil, ia bahkan memberi kami uang yang cukup lumayan. Katanya syukuran atas hadirnya janin yang mengisi rahim istrinya. Gak tanggung-tanggung Non hampir sama dengan harga satu unit motor saat ini. Apalagi asisten rumah tangga di sini begitu banyak, hampir 15 orang.” “Om Zuan sudah menikah, Mbok?” “Iya, Non. Tapi meninggal saat melahirkan, beserta dengan janinnya. “Ehem,” Deheman keras membuat kami saling menatap satu sama lain. Suara khas dengan suara berat di tenggorokan. “Astagfirullah, Om. Ngagetin Zi saja,” ucapku ketika menengok ke sumber suara. Lelaki berjas dengan tas kerja di tangannya itu membuat aku bergidik ngeri. Aku menampakkan senyum yang kupaksa sambil menampakkan jejeran gigiku. Semoga saja ia tak berdiri di situ lebih lama, apa ia mendengar pembicaraan kami ? “Kaget karena gosipin saya di belakang? Apa ini salah satu pekerjaan wanita? Tukang ngegosip,” ucapnya dengan nada tinggi. Tubuhku gemetar, sepertinya Om galak ini memang mendengar percakapan kami. “Bukan seperti itu, Om . Tapi ....” Aku tertunduk. Sejenak memikirkan ide. Bagaimana cara aku mengalihkan pembicaraan kami. “Tapi apa, ha?” “ Itu, Om. Ini jam dua belas kurang lima belas menit. Kenapa sudah sampai rumah?” tanyaku sambil menunjukkan jam tangan yang melingkari lengannya. “Ini rumah saya, Zi. Terserah saya mau pulang jam berapa,” ujarnya dengan mata melotor. Benar-benar membuatku terasa terpojok. “Maaf, Tuan. Makanannya belum siap,” ucap Simbok dengan mengernyitkan dahinya. Wanita itu tampak ketakutan ketika tuannya datang dan belum mampu menyajikan menu apa pun. “Gak apa, Mbok. Jam makan saya memang masih lima belas menit lagi.” Lelaki itu meletakkan tasnya di kursi lalu melonggarkan dasinya. Ia duduk di kursi ujung seperti saat sarapan tadi, mengambil buah apel yang tersaji di atas meja dan menggigitnya. “Jangan, Zi! “Jangan, Non!” Teriak Om Zuan dan Simbok bersamaan, benar-benar membuatku terkejut dan melepas barang yang aku pegang. Seketika bawang goreng itu berhamburan mengisi ruangan dapur ini. Bahkan beberapa sudah masuk dalam kuah sup yang aku buat. “Zi, bukankan aku sudah bilang. Kamu harus belajar dari Simbok. Aku tak suka makan sup ayam yang ditaburi bawang goreng,” ucapnya sinis sambil melihat kuah sup yang aku buat. “Tapi, Om!” “Gak ada tapi. Lain kali kalau mau melakukan sesuatu bicara dulu. Jangan seperti itu. Main cemplang cemplung, gak jelas,” imbuhnya lagi. “Oh ya, jangan lagi buat dapurku kotor seperti ini. Saya tidak suka.” Manik mataku mengarah ke tubuhnya yang kini kembali ke kursi makan. Benar-benar lelaki yang aneh, bukankah bawang goreng membuat makanan menjadi lebih sedap? Simbok kini membersihkan bawang goreng yang berceceran di atas meja, bahkan ada juga yang jatuh dilantai. Parahnya, beberapa bawang goreng itu sudah ada yang masuk di kuah sup Om galak. Sedangkan kami gak mungkin lagi membuat makanan baru. Waktu yang tersisa hanya tinggal beberapa menit, seperti ajang masak saja. Dua bola matanya menatap sup yang aku buat, sedangkan tangannya tampak membolak balikkan ayam, dan beberapa irisan sayur di dalamnya memakai sendok. “Kenapa lagi, Om?” tanyaku. Ia mengarahkan telapak tangannya ke arahku. Seakan memberi kode untuk berhenti bicara. “Kamu mau membunuhku, Zi?” tanyanya sambil mengarahkan pandangan kepadaku. Dua alisnya saling bertaut, dengan mimik wajah yang membuatku ketakutan. Seingatku, aku tak memasukkan bahan aneh-aneh. Ya. Meskipun benar sih lelaki itu membuatku jengkel. Tapi aku tak pernah berpikiran untuk memberikan ia racun. “Tapi, Om. Zi tidak ....” “Kentangnya harus tiga potong ukuran sedang. Yang kamu masukkan di sini, empat potong ukuran besar. Kamu ingin aku cepat mati?” “Ya elah, Om. Gitu aja marah. Tinggal makan 3 potong saja kan beres. Gak harus marah-marah. Cepat tua Lo, Om. Pantas saja banyak kerutan di dahi Om Zuan,” ucapku sambil menunjuk dahinya yang kini semakin berkerut. “Zi,” ucapnya dengan penegasan. “Zi lupa, Om. Belum ngasih makan pusi. Zi permisi dulu,” ucapku dan berlari. Berlari dengan terengah-engah menuju ke kamar. Pusi adalah kucing kesayanganku saat di kampung. Bagaimana kabarnya saat ini ya? Apa sekarang pusi sudah makan? Kasihan kamu meow. “Menyiapkan makan Om Zuan, seperti ikut kontes MasterChef saja. Gak boleh ini, gak boleh itu. Harus sempurna. Mendingan ikutan kontes sih, kalau di sana menang dapat hadiah, kalau di sini. Dapat hadiah enggak, dapat omelan iya,” ucapku sambil berdiri di atas balkon kamar, melihat pemandangan bawah dengan air mancur serta pepohonan yang tampak rindang. Sesaat mataku terpaku ketika Om galak sudah berada di kamar. “Tunggu, Om!” teriakku sambil menutup kedua mataku dengan tangan. Lelaki yang masuk ke dalam pandanganku itu hampir melepas pakaian yang dikenakannya. “Ada apa lagi, Zi?” tanyanya terheran. “Bisa gak, Om. Kalau ganti pakaian di kamar mandi saja. “Ini kamarku, Zi. Apa saya salah?” “E-enggak, Om,” jawabku sambil menggeleng. “Atau jangan-jangan ....” Lelaki itu mendekat menyisakan jarak hanya tinggal beberapa senti, senyumnya menyeringai membuat tubuhku gemetaran. Kini kurasakan peluhku pun ikut keluar, sedangkan tanganku terasa dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD