Bab 4. Ke Universitas

1659 Words
“Atau jangan-jangan ....” Lelaki itu mendekat menyisakan jarak hanya tinggal beberapa senti, senyumnya menyeringai membuat tubuhku gemetaran. Kini kurasakan peluhku pun ikut keluar, sedangkan tanganku terasa dingin. “Jangan, Om,” ucapku sambil mendorong tubuhnya agar tak semakin mendekat. “Kenapa, Zi? Ha? Kamu terganggu?” Lelaki itu terus mendekat sambil kembali menyeringai, ia semakin mendekat hingga terasa aroma nafasnya saat ia berbicara. Desiran jantungku benar-benar tak karuan. Ini pertama kalinya aku bersama lelaki sedekat ini. Aku terpejam, rasanya aku tak mampu menatap lelaki itu lebih lama. Sungguh perasaan yang tak pernah aku mengerti, dibalik rasa ketakutan, ada rasa yang aneh yang kini menjelajahi ruang hatiku. “Ba,” terdengar suaranya yang mengejutkan serta aroma nafas yang kian menyeruak. Sontak aku membuka mata, dan ia tertawa begitu konyolnya. “Kamu pikir aku mau ngapain, Zi? Ha? Aku tidak mungkin melakukan itu denganmu,” ucapnya sambil menata nafasnya yang terengah. Ia terus tertawa setelah puas mengerjaiku. “Aku tegaskan lagi, aku tak mungkin mencintaimu. Dan kamu juga jangan sampai jatuh hati kepadaku,” tuturnya sambil kembali melanjutkan tawanya yang tertahan. Tawa yang jahat. Entah mulai kapan aku merasakan sakit diperlakukan seperti ini. ** Aku menatap tubuhnya yang dari duduk di kursi kerja, dua bola matanya tampak menyusuri tulisan dalam layar laptop di depannya. Sesekali ia menengok ke ponsel untuk memastikan sesuatu, dan kembali menatap layar yang sama. Aku akui, ia memang pekerja keras. Dari kemarin aku hanya melihatnya kerja, marah, kerja, marah. Hanya itu. Mungkin karena kesibukannya yang monoton itulah membuat hidupnya kaku, serasa kanebo kering. Ia tampak meneguk air putih yang sudah kusiapkan, lagi-lagi pandangannya kembali ke dalam jejeran tulisan dalam layar tersebut. Sesekali aku melirik detikan jarum jam yang berada di sudut kamar, semakin benda itu berputar, rasa laparku semakin menyeruak. Kata Simbok tiap malam Minggu Om galak tak makan di rumah. Ia lebih memilih menikmati masakan resto favoritnya. Entah di mana itu akupun tak tahu. “Om,” teriakku sambil duduk di ranjang menatap ke arahnya yang tampak tak peduli denganku. “Hm,” hanya terdengar Deheman, tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. “Ini sudah jam delapan malam, Om,” ucapku sambil menahan lilitan perut yang semakin perih. Apalagi siang tadi aku tak ikut makan, karena mood makanku hilang setelahemdengar om marah-marah. “Iya, Kamu tidur saja dulu. Nanti aku menyusul. Kamu bukan anak kecil yang harus di dongenginkan?” tanyanya sambil menggerakkan jemarinya, menyusun jejeran huruf dan angka di layar depannya. Tetap dengan posisi yang sama, tanpa menoleh ke arahku. Sedangkan dari tadi aku terus saja mengelus perut untuk memintanya bersabar. “Tapi, Om, aku ....” “Sudahlah, Zi. Aku ini kerja. Bisa kan untuk tidak bawel sekali ini saja,” ucapnya dengan nada meninggi. Kali ini ia menoleh ke arahku. “Lapar,” ucapku lirih melanjutkan kalimat yang terputus. “Kamu bilang apa?” “Enggak, Om. Enggak jadi.” Lelaki itu berjalan mendekati pintu almari, di ambilnya pakaian yang menggantung dan bergegas memakainya. Kini ia berjalan ke arahku dengan muka yang masih terlihat serius. “Ayo ikut aku,” ucapnya dengan nada meninggi. Lebih tepatnya seperti teriakan. “E-enggak, Om.” Aku menggelengkan kepala, merutuki diri sendiri. ‘Kenapa kamu harus mengganggu kerjanya, Zi? Kamu tahu kan lelaki itu lelaki seperti apa? Kenapa kamu cari mati begini?’ “Ayo,” ucapnya lagi. Kali ini berbeda, ia mengulurkan tangannya ke arahku. “Enggak, Om. Aku mau tidur,” ucapku bergegas berbaring. Sungguh di luar dugaanku, ketika tubuh kecilku terasa terangkat. Ia membopongku ke punggungnya. Seperti kuli yang sedang mengangkat beban beras sekarung dalam pundaknya. Aku meronta, meminta untuk dilepaskan, namun laki-laki ini benar-benar kaku, ia tak bergeming sama sekali. Bahkan beberapa pukulan yang aku layangkan, ia sama sekali tak mengaduh kesakitan. Mobil terhenti di depan sebuah resto. Pandangan pertamaku mengarah kepada gambar menu besar di depan pintu masuk, aku menelan salivaku dalam. Rasanya ingin sekali menikmati makanan seperti gambar tersebut. Aku terhenyak ketika mendengar suara pintu mobil yang terbuka. Lelaki itu kembali menggendong tubuhku seperti saat awal tadi, hingga kulihat semua pasang mata mengarah kepadaku. “Om lepaskan,” ucapku sambil meronta. Ia sama sekali tak bergeming seakan tak mendengarnya. “Menu biasa. Dua porsi,” ucapnya ketika melewati salah satu pramusaji. Ia tetap dengan posisi semula, tanpa melepas gendongannya. Kulihat wajah wanita itu yang tampak tersenyum sambil menatap ke arahku. Sial, rasanya aku benar-benar malu saat ini. “Kamu kenapa, Zi?” tanya Om Zuan sambil menarik buku menu yang ku pegang. Ya, kami duduk di ujung ruangan dengan beberapa pasang mata yang menatapku aneh. Apalagi ini malam Minggu. Tempat ini begitu ramai. “Kembalikan buku menu itu, Om. Aku malu semua mata menatap ke arahku,” ucapku sambil mencoba meraih buku berukuran lumayan besar dari tangannya. Buku menu yang mampu menjadi penghalang manik-manik mata ke arahku. Tanpa di sangka, Om Zuan kini justru tertawa terbahak. Hingga membuat se isi ruangan ini kembali mengarahkan pandangan ke meja kami, tak terkecuali pramusaji tadi yang kini berjalan mendekat dengan nampan yang berisi beberapa menu pesanan lelaki di depanku. “Istrinya ya, Pak? Serasi sekali,” ucap pramusaji cantik itu sambil melengkungkan bibirnya. Apa? Aku di bilang serasi dengan om-om seperti ini? Kemungkinan umur kamipun terpaut sepuluh tahun lebih, dan ia bilang serasi? Sepertinya mata wanita ini benar-benar tidak beres. *** Aku menatap makanan yang tersaji di meja, rawon yang memiliki kuah santan pekat serta daging bakar yang disajikan beserta panggangannya. Aku tak mampu menahan untuk tidak menelan salivaku. “Jangan hanya dipandang. Kamu laparkan?” ucapnya menatap ke arahku. Dua tangannya telah memegang pisau dan garpu. “Baik, Om,” ucapku sambil meraih rawonnya. Kuincip sedikit kuah kental tersebut, benar-benar nikmat. Sungguh rawon di rumah bude memang tak ada apa-apanya. “Enakkan?” Aku mengangguk. “Ini habiskan juga. Aku tak ingin seorang istri dari Zuan Raditya merasakan kelaparan “ ucapnya sambil meletakkan rawon miliknya di dekatku. Istri Zuan Raditya? Terasa ngilu aku mendengarnya. “Pasti, Om,” jawabku santai. Kapan lagi aku bisa makan enak gini. Dari pada makan sup ayam tanpa bawang goreng, sudah pasti nikmat masakan ini dong. Aku juga tak perlu jaim-jaiman kepada lelaki di depanku ini, mengingat perutku yang masih bagai genderang meskipun telah menghabiskan semangkuk rawon milikku. Aku menatap ke arah Om Zuan yang kini menaruh pisau dan garpunya, membalikkan benda tersebut sebagai pertanda selesai makan. “Om, kenapa tidak dihabiskan?” tanyaku yang menatap ke arah daging di depannya. Hanya teriris sedikit, mungkin dua sampai tiga irisan saja. “Aku sudah kenyang,” jawabnya singkat, padat dan jelas. “Tapi, Om.” “Sudah jangan bawel, habiskan dulu makananmu. Tidak baik makan sambil bicara.” Aku menelan suapan terakhirku, dua mangkok rawon, serta satu steak daging dengan rasa yang begitu nikmat. Rasanya inilah makanan terenak yang pernah masuk ke perutku. “Om, kenapa tak dihabiskan?” tanyaku lagi sambil menatap steak daging di depannya yang masih terlihat utuh. “Aku kenyang.” Aku melambaikan tangan kepada salah satu pramusaji wanita terdekatku. “Mbak, tolong bungkus makanan ini ya,” ucapku sambil memberikan steak yang berada di depan Om. “Baik, Mbak,” jawab wanita cantik itu. “Zi,” ucapnya setengah berbisik dengan bola mata yang hendak keluar. “Om, tidak baik memubadzirkan sesuatu. Apalagi makanan. Tahu gak sih, Om. Di luaran sana banyak sekali yang ingin menikmati daging lezat ini, lah ini om malah seenaknya membuang begitu saja. Itu namanya kufur nikmat, Om. Gak baik. Dari pada di sini di buang kan mending dibawa pulang. Nanti bisa dihangatkan lagi kalau di rumah. Lumayan juga kan Om menghemat pengeluaran hari besok.” “Ini, Mbak silahkan. Ini juga total harga makanannya.” Wanita berseragam resto ini memberikan steak yang telah terbungkus rapi, tidak lupa dengan selembar kertas total tagihan makan. Aku meraih kertas tersebut bersamaan dengan kotak makan yang aku terima. Glekk. Aku menelan salivaku kasar saat melihat nominal yang tertera. Satu juta lebih. Nominal yang fantastis bukan? Jika di kampung uang segitu bisa untuk mencukupi kebutuhanku sebulan, dan di sini? Hanya sekali makan dan hendak di buang sia-sia. “Ini tidak salah, Mbak?” tanyaku kepada wanita di depanku. Dengan senyuman ia menjawab tak ada yang keliru, ia membacakan nominalnya, satu juta dua ratus ribu rupiah. Kini aku menatap Om galak itu, dari tadi ia hanya menatap seolah membiarkanku untuk membayarkan tagihannya. “Om, cepat bayar, Om!” “Kamu kan yang menerima tagihannya, berarti kamu yang bayar! Yang makan semua makanan siapa? Kamu juga kan?” “Tapi kan, Om. Aku kerja di rumah Om sama sekali tidak bayar,” Entah, setelah mendengar kalimat yang aku ucap, wajah Om galak tampak memerah, ia memberikan sebuah kartu kepada wanita itu. Sedangkan wanita itu tampak menahan tawa saat hendak berlalu. ** “Sudah siap, Nona Zi?” Seorang lelaki berpawakan menarik itu tepat berdiri di depanku, ia mengenakan jas hitam dengan sepatu mengkilat seperti biasanya. Dan di wajahnya senantiasa di hiasi dengan senyum yang memamerkan lesung pipitnya. Aku kembali melihat tubuhku yang kini mengenakan sebuah kemeja warna putih tulang, di bagian depannya tampak aksen pita yang membuat penampilanku terlihat manis. Apalagi aku juga memakai celana resmi berwarna hitam yang aku padankan dengan sepatu flat berwarna senada. “Bagaimana penampilanku , Ren?” “Sempurna,” ucap lelaki itu dengan menunjukkan jempolnya. Senyum lesung Pipit yang membuatku meleleh itu terus saja dipamerkannya. Aku dibawa lelaki itu memasuki bangunan yang begitu besar, nama universitas tertampang jelas dari jalan raya. Sebuah universitas yang sama sekali tak pernah aku impikan. Ya, aku memang tak pernah bermimpi untuk kuliah, siapakah aku, Nur Aziza, seorang gadis desa yatim piatu yang hidup di bawah garis kemiskinan. “Nona Zi, apa perlu saya temani untuk masuk? Semua biaya administrasi sudah saya penuhi, nona hanya tinggal tanda tangan pendaftaran saja.” “Jangan panggil aku Nona, Ren. Panggil aku Zi saja.” Aku mendapatkan tatapan sinis dari beberapa wanita yang tampak menatap kami. Ia seperti keheranan, atau mungkin mereka merasa cemburu, wanita katrok dan dekil sepertiku bisa bersama dengan lelaki tampan dan keren seperti Rendra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD