p*****r Istimewa

2048 Words
“Lihat ini …” Nyonya Laudy melempar satu desain gambar yang baru aku serahkan sebelum kedatangan Merlin dan Nyonya Sukmaya yang menurutnya tamu istimewa di butik ini. “Loh kok …” Aku segera meraih satu gambar yang kini terlihat dipenuhi berbagai coretan hingga desain gaun dan batik yang aku hasilkan kini sudah tidak terlihat lagi keindahannya. “Kurang ajar si Merlin. Dia sudah membuat gambarmu rusak dan parahnya mereka tidak jadi memesan satu baju pun di sini. Kalau kere bin miskin, buat apa dia bikin janji untuk memesan desain eksklusif segala,” dengkus Nyonya Laudya dengan kedua tangan terkepal di meja. I see … jadi ini penyebab si Nyonya tidak senang usai menyambut mereka. Ternyata kedatangan Sukmaya dan Merlin hanya merusak mood Nyoya Laudya, ditambah lagi hasil desain yang aku hasilkan dengan susah payah kini dirusak Merlin tanpa bertanggung jawab sama sekali. “Nyonya … biar saya perbaiki. Nyonya tidak perlu membayar untuk perbaikannya,” kataku mencoba meredam emosi si Nyonya. “Terima kasih Cathy, saya tahu kamu memang bisa diandalkan. Hanya saja saya kecewa dan merasa dibohongi oleh Merlin sialan itu,” makinya. Terus saja Nyonya Laudya mengomel menumpahkan unek-uneknya, kekesalan si Nyonya memang sudah di ubun-ubun sehingga omelannya tak segera reda meskipun sudah hampir dua puluh menit dia mengeluarkan sumpah serapah yang dialamatkan pada Merlin. “Nyonya … boleh aku revisi ini sekarang?” tanyaku saat Nyonya Laudya sudah terlihat mulai tenang. “Silakan Cath … oh saya lupa. Sepulangnya Naura Elsih saja yang temani kamu d sini, kamu tolong kasih tahu dia untuk pindah sore ini juga,” perintah Nyonya Laudya. Padahal aku sendiri sudah menyuruh Elsih sebelum si Nyonya memberikan titahnya. “Baik Nyonya, saya keluar dulu.” Aku pamit undur diri sembari membawa sebuah kertas yang sudah acak-acakan, biarlah nanti aku saja aku urus revisinya. Saat aku keluar dari ruangan Nyonya Laudya, toko dalam keadaan ramai, Milly terlihat membantu Evin di meja kasir yang menyatu dengan meja resepsionis. Elsih melayani pembeli sendirian hingga dia terlihat keteteran dan aku pun segera membantunya. Hingga toko tutup tak ada jeda istirahat kecuali untuk makan secara bergantian. Entah ini perasaanku saja atau memang karena kami hanya berempat. Rasanya pembeli hari ini terlihat lebih banyak, kakiku sampai terasa lemas karena hanya duduk sebentar saat makan dan usai menghabiskan makan siang, aku harus kembali berdiri dan melayani para pembeli yang terus saja berdatangan hingga toko tutup pukul empat sore. “Wuah, lelah banget,” jerit Milly sembari memijat betisnya. “Nyonya bakal cari pengganti Naura tidak ya? Aku rasanya melambaikan tangan kalau kita Cuma kerja berempat tanpa tambahan gaji,” sambung Milly yang juga diangguki aku dan yang lainnya. “Ada sih, tadi Nyonya tanyain aku … dia nyuruh aku nyari cewek buat kerja disini, tapi katanya harus mirip sama aku, ya susah. Aku kan tidak punya kembaran Mbak,” celetuk si polos Elsih. “Lo bawa Emak Lo ke sini deh sih! Pasti mirip Lo kan, cantik, polos, rajin, tidak banyak tingkah juga,” sambar Milly yang membuat Elsih langsung mengerucutkan bibirnya. “Mbak Milly kalau ngomong sama aku jangan Lo-Lo sih. Aku serem Mbak, lagian Emakku mana ngerti jadi penjaga butik,” jawab Elsih dengan logat jawa medok yang membuat tawa kami bertiga pun terdengar setelah saling mengeluh karena hari yang melelahkan ini. “Maksud Nyonya, kamu suruh cari teman yang rajin, tidak banyak menuntut dan bisa kerja cepat kayak kamu. Bukan cari yang kembar dan wajahnya mirip kamu,” terang Evin dengan bahasa yang lebih lembut. Dia memang lebih dewasa di antara kami, cocok lah kalau urusan Elsih dia yang menghandle. Kalau aku dan Milly ya satu-dua. Kami malah lebih sering meledek Elsih dari pada menerangkan sesuatu yang salah dia tangkap artinya. Jam empat sore kami berempat bubar jalan, tak lupa aku mengingatkan Elsih agar dia segera membawa barang-barangnya ke sini sebelum malam. Aku tidak ingin bermalam di sini sendirian, rasanya seram. Tidak ada tetangga, tidak ada kawan bicara, entah lah bagaimana aku melewati malam di sini tanpa kawan. Kalau Naura pulang, biasanya aku lebih memilih menginap di kontrakan Joshua. Hanya saja, malam ini aku masih lelah setelah perjalanan pulang kemarin yang cukup menyita tenagaku. Bolak balik di kereta tujuh jam ditambah perjalanan dengan mobil membuatku butuh istirahat lama malam ini. Apalagi hari ini toko dalam keadaan ramai sehingga aku benar-benar merasakan tubuhku remuk redam. Usai mandi, aku membanting tubuhku ke kasur, di tanganku ada ponsel yang sejak pagi tadi aku letakkan di atas nakas karena aku memang tidak pernah membawa ponsel ke butik saat bekerja. Biasanya aku punya waktu sejenak untuk beristirahat dan amsuk ke kamar mengecek ponselku. Namun, tanpa Naura, jangankan mengecek ponsel, duduk sejenak untuk makan pun telinga kami terus saja mendengar panggilan dari Nyonya Laudya yang meminta kami segera melayani pembeli yang baru datang. Sepuluh panggilan tidak terjawab dari Dean dan dua buah pesan yang intinya sama-sama menyuruhku memberi kabar jika sudah selesai bekerja. Aku hampir lupa kalau kini aku punya tunangan dan harus menyisipkan waktu untuk menghubungi dan memberi kabar padanya di sela-sela waktuku yang teramat padat oleh jadwal kerja-kerja dan kerja. Siang kerja di butik. Terkadang malam aku harus mencari inspirasi untuk menghasilkan sebuah gambar, kalau malam gagal, maka pagi harinya aku harus mengganti kegagalan dengan sebuah keberhasilan menghasilkan desain baru. Aku kembali berdiri untuk menengguk air mineral sebelum memutuskan menelepon Dean. Bunyi tuts kini mulai terdengar dengan disertai kata berdering di bawah nama My Love, nomor Dean yang dia simpan di ponselku dengan diberi nama My Love. “Halo Cath, sibuk banget sampai dari pagi hingga sore baru bisa telepon aku.” “Jadi babu emang sibuk tuan muda, beda halnya dengan tuan yang tinggal duduk manis dan tak perlu memikirkan uang,” sindirku menimpali kalimat Dean. Dia tertawa seolah benar-benar mengejek aku yang hanya seorang babu, sedangkan dia adalah pangeran yang tidak pernah tahu rasanya bersusah payah mencari uang untuk makan apalagi untuk melunasi utang karena aku yakin seumur hidup Dean dia tidak akan mengerti bagaimana rasanya dikejar pekerjaan agar bisa melunasi tumpukan utang. “Sayang … kalau memang jadi babu itu melelahkan, balik lagi lah ke sini. Aku jemput besok ya. Kamu di sini tinggal duduk, dandan yang cantik dan puaskan aku dengan tubuhmu. Semua kebutuhanmu akan terpenuhi,” kekehnya benar-benar meledekku. “Kamu mau jadikan aku istri apa p*****r,” hardikku dengan suara sinis karena mendengar tawa menyebalkan si Dean membuatku mual seketika. “Dua-duanya Cath, kamu istriku … dan kamu p*****r istimewaku,” seloroh Dean yang membuatku memilih memutus sambungan telepon. “Menyebalkan. Mentang-mentang orang kaya dia ngomong seenaknya saja. Masa iya aku dinikahi hanya untuk dijadikan pelacurnya, dijadikan alat pemuas nafsunya," umpatku dengan suara menggeram karena rasa kesal pada gurauan Dean yang sudah keterlaluan. [Sih, jam berapa ke sin?”] [sudah di jalan Mbak e, sabar ya.] Akhirnya, sebentar lagi si Elsih sampai, aku kembali berbaring meluruskan badanku yang terasa lelah sembari menunggu Elsih datang dan aku bisa mengajaknya keluar terlebih dulu mencari makan. Kalau Elsih rasanya tidak akan mengelak diajak keluar untuk makan asalkan ditraktir. Beda dengan Naura yang selalu menolak ajakan aku buat makan, bahkan aku tidak tahu dalam sehari berapa kali Naura makan. Seringnya aku melihat dia saat makan siang saja di butik, makan pagi juga sesekali dia menitip padaku. Hanya saja kalau malam aku tidak pernah tahu kapan dia makan. Terkadang Naura menolak aku ajak makan dengan alasan berdiet. Tet … tet …. Bel pintu berbunyi bertepatan dengan ponsel yang kembali berdering dan menampilkan My Love alias si Dean yang menelepon balik setelah aku mematikan sambungan telepon tadi. Ah aku malas mengangkat telepon darinya, biarkan saja dia marah karena aku lebih memilih membiarkan telepon terus berdering dan bersiap keluar kamar untuk membuka pintu untuk Elsih. Cepat juga dia sampai, padahal baru tadi dia bilang kalau sudah di jalan. Aku buru-buru keluar dengan hanya menggunakan hot pants super pendek dengan singlet kemben karena setelah membantu Elsih beres-beres baru lah aku berganti pakaian dan mengajaknya keluar. Tet …. “Sebentar,” teriakku saat bel kembali berbunyi. Aku memutar anak kunci dengan cepat dan segera membukakan pintu untuk Elsih. “Masuk, Sih … Bian ….” Mataku melotot melihat ternyata yang berdiri di hadapanku adalah Bian, pacar Naura yang netranya kini mengarah tepat ke dadaku yang terbuka. “Naura tidak ada dia sudah pulang kampung,” ujarku bersiap menutup pintu kembali. Namun, Bian mendorong pintu satu kali hentakkan tangannya hingga badanku pun terdorong mundur. “Bagus dong kalau Naura tidak ada, berarti malam ini kamu bisa menggantikannya memuaskanku,” ucap Bian dengan seringai senyum yang membuatku langsung merinding takut. “Keluar Bian! Tidak ada satu pria pun yang boleh masuk ke tempat ini!” teriaku nyalang. Sebuah teriakan yang rasanya sangat percuma ketika aku sadar di sini jangankan tetangga, orang lewat pun tidak akan ada. Di malam hari suasana si sekitar butik memang sangat sepi. Lalu lalang orang pun jarang terlihat. Pada siapa aku meminta tolong dalam situasi genting seperti ini. “Kamu salah Cathy, setiap malam aku bisa sesuka hati masuk sini. Aku sudah lama menginginkanmu … harus berapa aku membayarmu Cathy?” Bian semakin melangkah maju, aku meraih sapu di dinding dan mencoba memukulnya. Namun, gagal! Yang ada aku malah membuat gelas seng jatuh hingga bunyi klontrang terdengar begitu jelas, tapi lagi-lagi … aku harus sadar kalau tidak akan ada yang mendengarnya. “Cath … mengakulah kalau kamu tahu aku akan datang, lihat lah pakaianmu! Kamu sudah sangat menantangku malam ini,” ucapnya dengan memindai badanku penuh sorot nafsu yang membuatku semakin ketakutan. “Pergi Bian! Pergi!” teriakku mengacungkan tangan, tapi Bian malah menangkap tangan kananku dan menguncinya di belakang tubuhku. Dia mendorongku mundur hingga di belakangku tembok dan aku tidak bisa berkutik dibuatnya. “Cathy … aku sudah lama bernafsu melihatmu … kamu cantik … seksi dan lebih menggoda dibanding Naura. Aku yakin kamu pasti akan membuatku jauh lebih puas. Ayo lah Cath, katakan berapa aku harus membayarmu.” “Aku tidak menjual diriku! Kalau kamu banyak uang kamu bisa membeli wanita yang menjual dirinya di klub malam! Jangan malah mendatangi wanita yang tidak bernafsu padamu!” balasku dengan berteriak. Aku tidak peduli Bian akan semakin marah, aku hanya tidak ingin terlihat lemah di hadapannya sekuat tenaga aku akan mempertahankan diriku dari laki-laki seperti Bian. Apa belum cukup dia menjadikan Naura b***k nafsunya selama tiga hari aku pulang, kenapa malam ini dia kembali datang. Bodohnya lagi, aku sama sekali tidak memprediksikan kedatangan Bian ke tempat ini. Setahuku Bian memang tidak pernah masuk ke sini kecuali kemarin malam saat aku melihatnya bersetub*h dengan Naura. Sehingga aku pikir dia tidak akan sekonyong-konyong mengetuk pintu tanpa menghubungi Naura terlebih dulu. “Aku bisa membeli siapapun dengan uangku Cathy, termasuk membeli tubuhmu yang sintal ini.” “Aw, lepaskan!” dia meremas dadaku dengan begitu kencang hingga aku merasakan nyeri yang luar biasa karenanya. “Besar … kenyal, dan biarkan aku memperlakukanmu dengan kelembutan sayang … agar kamu bisa mendapatkan kenikmatan dariku,” desisnya dengan aroma mint yang tercium hidungku karena wajah kami yang terlalu dekat. “Minggir,” teriakku mencoba mendorongnya. Bian tertawa dan membiarkanku melihat ke segala arah untuk mencari benda yang bisa aku gunakan untuk melindungi diriku. Sayangnya tidak ada tongkat, sapu atau apapun di sini. “Bian, keluar! Aku mohon keluar sebelum ….” “Sebelum apa sayang, tidak ada siapapun yang akan mendengar teriakanmu di sini. Kemarilah sayang.” Satu kali tarikan tangan Bian membuatku menempel rapat di dadanya. “Ayolah sayang, bercintalah denganku. Aku yakin desahan seksimu akan membuatku candu untuk menikmati tubuhmu.” “Cuih,” aku meludahi wajahnya dan itu membuat Bian langsung mencekik leherku dengan tangan kananya. Sorot matanya terlihat merah menahan amarah karena kelakuanku dan aku tidak peduli akan hal itu. Aku lebih memilih mati di tangannya dari pada haru menyerahkan kehormatanku ke tangan lelaki b***t seperti Bian. “Dasar l***e! Berani kamu meludahiku! Kamu pikir siapa dirimu hah! Aku bisa menaklukan wanita sepertimu dengan mudah!” teriaknya tepat di hadapanku. Bug. Prang! Aku menendang selangkangannya dan membuat dia jatuh menyenggol rak sepatu yang membuat kaca di sampingnya pecah karena pegangan rak. Aku segera berlari keluar kamar untuk mencari bantuan. “Tolong … tolong ….!” Jeritku sekuat tenaga. Namun, ternyata dari dalam mobil Bian terlihat dua orang berbadan kekar keluar dan menghalangi satu-satunya jalan keluar. Gila! Apa-apaan ini, bagaimana aku bisa bebas dari Bian!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD