Bukan Penggoda

2182 Words
Naura keluar dari ruangan Nyonya Laudya bertepatan dengan aku dan Elsih yang baru kembali dari kamar Naura. “Evin, Elsih, Milly, Cathy, semuanya mendekat,” perintah Nyonya. Aku lihat tangan kanan Nyonya Laudya merengkuh pundak Naura, hanya Milly yang terlihat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Naura. Dia memang belum berkata apapun pagi ini. Apa dia juga sudah menerima telepon dari debt collector yang menagih utang Naura? Aku, belum sempat bertanya apapun pada Milly. Rasanya semua berlalu begitu singkat. Namun, memang inilah yang terbaik untuk naura, secepatnya pulang ke desa dan menghindar dari Bian sebelum semuanya terlambat. “Huft ….” Nyonya Laudya terlihat menghempaskan napasnya. Dia memang galak dan tegas, tapi si Nyonya tidak pernah pilih kasih pada semua karyawati di tempat ini. Dia tahu siapa yang bekerja serius atau main-main tanpa kami harus menjadi penjilat di depannya dan penggunjing di belakangnya. “Rasanya berat untuk melepas keluarga kita yang paling lama bergabung di butik ini. Apalagi butik sedang dalam keadaan ramai …. Hanya saja, saya tidak bisa menahan Naura untuk tetap bekerja di sini. Hari ini Naura berpamitan ingin pulang kampung dan mengurus ibunya yang sudah sakit-sakitan di sana.” “Loh kok mendadak sih,” sahut Milly sementara kami bertiga yang sudah tahu hal ini memilih diam. “Memang kesannya mendadak Mil, tapi saya yakin Naura sudah lama memikirkannya. Sebagai keluarga kita hanya bisa memberi dukungan pada Naura leat doa dan semangat agar dia juga bisa mendapatkan kesuksesan di sana. Terima kasih Naura untuk dedikasinya selama bekerja di sini. Saya tidak bisa memberi apapun selain ucapan terima kasih dan pesangon untuk tambah modal usaha kamu selama di desa.” “Terima kasih Nyonya,” ujar Naura. Nyonya Laudya memberikan kami kesempatan untuk saling berpelukan dengan Naura, semua memang mendadak dan aku yang pasti akan kehilangan dia karena setiap hari, waktuku dihabiskan bersama Naura. “Cath, jaga diri baik-baik. Jangan sampai kejadian yang aku alami menimpamu,” desis Naura lirih saat kami berpelukan. “Lo juga Nau, janji jangan sampai terulang kedua kali kejadian seperti ini. Tidak ada kata terlambat untuk berubah. Berjanjilah untuk menjadi lebih baik.” “Aku janji Cath, aku janji. Terima kasih untuk semuanya …” Pelukan kami terlepas, aku dan Evin yang mengantar Naura menuju pintu belakang butik dimana sopir pribadi Nyonya Laudya sudah menunggu dan akan mengantarkan Naura ke stasiun bus yang akan membawanya ke kampung halaman. “Hati-hati Nau, jangan sungkan menelepon kalau perlu bantuanku,” pesanku melepas kepergian sahabatku, rekan kerja dan teman satu atap yang menemaniku di sini. Seperti ada sesuatu yang terlepas dari diriku saat mobil yang membawa Naura menjauh pergi. Kosong … kini tak akan ada lagi teriakan heboh Naura di butik ini. Dulu aku harus membiasakan diri untuk mendengar celotehan Naura yang berisik, kini aku kembali harus membiasakan diri untuk tidak merindukan tawa ceria dan hebohnya Naura yang sering bikin ribut di kamarku setiap malam. “Kamarnya kosong Cath, lo mau tinggal bareng Milly apa Elsih?” tanya Evin saat aku menutup kamar Naura. “Elsih, biar dia bisa bersih-bersihnya pagi, terus bantuin kita jaga toko, nanti aku ngomong lah sama Nyonya buat kasih dia gaji tambahan,”ujarku yang disetujui Evin. Di antara kami berlima, hanya Evin yang sudah menikah dan bersuami. Mereka berdua berasal dari kota yang sama, tapi dipertemukan kembali di perantauan. Akhirnya, tahun lalu mereka menikah meskipun Evin memutuskan untuk menunda memiliki mongmongan. Suaminya bekerja sebagai staf administrasi di bank yang letaknya tidak jauh dari butik kami. Bank yang sama dengan tempat Rudy bekerja sebagai satpam. Evin bilang tahun depan baru mereka berpikir untuk memiliki mong-mongan, setelah bisnis online shop yang dirintis Evin mulai berkembang. Milly dan Elsih terlihat sedang melayani pembeli yang sudah mulai berdatangan, Evin kembali menempati tempat resepsionis juga kasir. Rasanya kurang satu personil akan membuat kerjaan di butik ini pasti lebih berat. Apalagi aku sendiri harus segera bersiap-siap meninggalkan butik ini meskipun aku belum berani mengatakannya pada Nyonya Laudya. “Cathy … sebentar lagi tamu kita datang. Kamu bisa bawa ke ruangan saya kalau mereka sudah tiba,” kata nyonya Laudya dari ambang pintu saat aku sedang menemani salah satu pembeli memilih long dress batik untuk acara di kantor suaminya. “Di sini katanya ada batik eksklusif juga ya Mbak?” tanya si ibu yang kembali menaruh batik yang sempat akan dia ambil. “Iya Bu. Kalau ibu mau, ada batik eksklusif dengan motif yang didesain khusus untuk ibu dan dijahit khusus hanya buat ibu juga,” jawabku dengan ramah. “Pasti mahal,” tebaknya. Aku pun mengangguk karena sesuatu yang eksklusif memang selalu mahal. Jadi kalau mau harga yang murah, ya harus memilih barang yang umum dan lazim saja. aku pribadi tidak akan sanggup membeli satu batik eksklusif pun di sini. Rasanya sayang kalau untuk sebuah baju harus mengeluarkan uang hampir sepuluh juta. Menurutku apa pun yang kita pakai akan terlihat istimewa kalau kita percaya diri saat mengenakannya dan yang paling penting kita harus nyaman dengan apa yang kita pakai tanpa harus mencoba busana bagus. Namun, justru membuat kita risih atau tidak nyaman karenanya. “Mbak … nanti aku balik lagi ya,” ujar Si ibu yang mungkin belum menemukan batik yang sesuai dengan keinginan dan keuangannya. “Iya, Ibu. jangan sungkan untuk datang kembali,” balasku dengan menangkup tangan di depan d**a. Tidak dipungkiri bukan hanya si ibu itu yang kadang datang hanya lihat-lihat dan tidak membeli satu pun baju. Namanya juga pembeli, mereka adalah raja yang ahrus dilayani sebaik mungkin. Kalau hari ini mereka tidak jadi beli karena sesuatu dan lain hal. Kalau pelayanan kita memuaskan, tidak menutup kemungkian kalau mereka suatu saat akan kembali lagi dengan membeli sesuatu. “Selamat pagi, selamat datang di butik batik Nyonya Laudya ….” Suara Evin yang ramah dan lembut kembali terdengar menyambut tamu yang baru datang. “Kami sudah buat janji dengan Nyonya Laudya, apa beliau ada?” tanya si Ibu yang berpakaian jas navy dengan kerudung hitam. Di sampingnya ada wanita muda yang terlihat begitu cantik dan trendy dengan celana kulot abu yang dipadankan dengan long cardigan wana senada serta sebagai inner, si Mbak cantik itu memakai kaos putih. “Selamat pagi Nyonya, saya Cathy Adelicia … mari saya antar ke ruangan Nyonya Laudya,” ujarku yang sudah di amanahkan si Nyonya untuk mengantarkan tamunya ke ruangan. “Selamat pagi Cathy, saya Merlin tunangan Yohan dan ini Tante saya Sukmaya,” balas gadis cantik yang ternyata adalah tunangan dari anaknya Nyonya Nurlisa. “Mari Nona Merlin dan Nyonya Sukmaya saya antar ke ruangan Nyonya Laudya,” ulangku sembari menundukkan badan mempersilakan mereka berjalan terlebih dulu setelah aku menunjukan ruangan Nyonya Laudya. Entah kenapa aku melihat sedari tadi Merlin seolah memindai penampilanku. Aku pikir hari ini aku berpakaian cukup sopan karena seragam batik yang aku pakai kali ini modelnya tidak mencetak tubuhku, apalagi aku juga mengenakan celana jeans panjang. “Pantas Yohan memuji kamu, ternyata untuk ukuran perempuan dad* dan bok*ng kamu memang cukup menggoda. Kenapa kamu tidak jadi p*****r saja, aku yakin kamu akan meraup banyak uang dengan tubuhmu,” bisik Merlin di telingaku. Aku hampir saja membalas ucapannya, tapi pintu ruangan Nyonya Laudya langsung terbuka dan sepertinya aku memang harus mengalah dan tidak perlu menimpali ucapan Merlin yang bernada syirik dan iri dengan bentuk tubuhku. “Selamat datang Nyonya Sukmaya dan Mbak Merlin … senang sekali kalian bisa berkunjung ke butik kami,” sapa Nyonya Laudya begitu ramah. Aku pamit undur diri tanpa peduli dengan tatapan Merlin yang seolah mengejekku. Suka hati dia menilai seperti apa … mungkin Yohan terlalu menghiperbolakan penampilanku di depan Merlin hingga tunangannya merasa inscure dan berakhir iri padaku yang memiliki lekuk tubuh menarik, tidak seperti Merlin yang tinggi dan rata mirip papan triplek. “Cath, itu orang kayaknya kagak demen sama Lo. Ada masalah apa Lo sama dia?” tanya Milly saat aku menghampirinya yang baru selesai menemani pelangg*n memilihkan batik yang sedang dibayar di kasir. “Itu tunangannya si Yohan, yang kemarin datang ke sini.” “Oh, yang kata Evin dia remas bok*ng Lo,” kekeh Milly dengan menutup mulutnya. “Pantas saja si Yohan mupeng sama Lo, tunangannya rata, tidak seperti badan Lo yang t*ket sama b*kong mengembang semua.” Tawa Milly makin kencang dan aku hanya membiarkannya saja tanpa mencoba menghentikan keasikan Milly meledekku. Apa yang dia katakan memang benar, jadi biarkan saja Merlin memandang sinis padaku. Aku tidak peduli. “Eh … Naura tuh pulang karena hamil atau karena si Pinjol sih?” sambung Milly bertanya sesuatu yang membuatku memicingkan mata dengan kening berkerut karenanya. “Hamil, ngaco Lo,” elakku meskipun aku tidak tahu kenapa dia seyakin itu menebak kalau naura hamil. Seolah Milly tahu sesuatu yang dia sembunyikan dari aku dan lainnya. “Lagian ya Cath, kalau masalah Pinjol rasanya fine saja sih, kagak bakalan juga tuh mereka nagih ke sini. Nah, beda lagi kalau dia bunting. Secara gue sering lihat dia ke klub bareng si Bian.” “Hah? Ngaco kamu … setiap malam aku ngobrol sama dia kok di kamar. Mana ada Naura ke klub,” tangkisku yang memang selalu menghabiskan malam hari berdua Naura sebelum rasa kantuk menyerang. “Halah, saking Lo saja tidak tahu, tetangga kosan gue kan kerja di klub dan setiap Naura ke sana dia selalu lapor gue. Padahal bodo amat sih, bukan urusan gue juga. Lagian gue aneh deh, si Nau itu punya pacar kaya, kerjaan juga enak, tapi masih saja ambil Pinjol. Tuh, anak otaknya cetek banget,” ujar Milly yang terlihat paling tidak bersimpati dengan keadaan Naura dibandingkan Evin dan Elsih. “Wis lah Mil, aku tak mau ambil pusing. Yang penting Naura sudah berniat ingin pulang, memperbaiki diri dan menghindari Bian.” “Cathy,” panggil sebuah suara yang langsung membuatku membalik badan segera. “Ada yang bisa saya bantu Nona Merlin?” tanyaku mendapati Merlin berdiri di belakang kami. “Bisa bicara sebentar?” Merlin melirik Milly, tanpa suara pun Milly mengerti kalau Merlin menginginkan bicara berdua denganku hingga Milly langsung undur diri dan memberikan sedikit ruang untuk aku bisa ngobrol berdua dengan Merlin. “Cathy, sudah berapa lama kamu mengenal Yohan?” Hah? Aku melongo mendapati sebuah pertanyaan yang jelas tidak pernah terlintas sedikit pun dalam otakku. Merlin bertanya berapa lama aku mengenal Yohan, sedangkan aku kenal dia saja hanya sebatas pembeli dan SPG butik. Tak pernah aada pertemuan lanjutan setelah Yohan datang ke butik ini. Apa sebenarnya yang mendasari Merlin bertanya hal tersebut. Aku menarik kedua sudut bibir agar membentuk sebuah senyuman. Merlin adalah pembeli istimewa di butik ini. Aku harus profesional dan memastikan tetap ramah menghadapinya selagi dia tidak berbuat sesuatu yang menyebalkan terlebih dulu. “Saya hanya satu kali bertemu dengan Tuan Yohan saat dia datang bersama kedua orang tuanya memesan batik untuk pertunangan kalian Nona,” jawabku sesuai dengan fakta tanpa ada unsur kebohongan sedikit pun. “Serius? Tapi dari cara bicara Yohan … dia begitu mengagumimu.” Merlin terlihat berdecak saat mengatakannya. Pantas lah kalau dia cemburu, aku pun pasti cemburu kalau calon tunanganku memuji wanita lain di hadapanku. “Maaf Nona, mungkin anda salah. Saya tidak mengenal tuan Yohan selain sebagai pembeli. Saya juga sudah bertunangan dengan pria yang dijodohkan Mama saya.” Aku menunjukan cincin yang melingkar di jari manisku sebagai bukti kalau Merlin tidak perlu takut aku akan merebut Yohan darinya. “Oh … terus apa yang membuat dia begitu seringnya menyebut namamu saat kami bertemu kemarin? Bukan karena kamu sengaja menggodanya, kan,” tuduh Merlin. Aku meremas genggaman tanganku sendiri, makin lama dia makin menyebalkan, tapi sialnya aku harus tetap sabar menghadapi pembeli seperti apa pun meski dia sudah terang-terangan mulai menghinaku. “Maaf Nona, lebih baik anda tanyakan langsung pada tuan Yohan karena saya pribadi tidak bisa menjawabnya. Dan satu yang harus Nona tahu, saya bukan penggoda.” Tidak salahkan aku menjawab seperti itu karena aku memang tidak tahu alasan apa yang mendasari Yohan menyebut namaku di depan tunangannya. Tidak mungkin juga aku bilang kalau Yohan itu tertarik dengan dad* dan b*kongku yang berbanding terbalik dengan miliknya. Aku juga tidak pernah bermaksud menggodanya, tapi dia yang tergoda sendiri dengan penampilanku. Sebenarnya semua wanita itu memiliki keistimewaan masing-masing, hanya pria mes*m saja yang hanya melihat wanita dari sisi keseksian saja. semoga Dean bukan laki-laki seperti itu. Lagian kalau dia memang suka dengan wanita seksi, itu tidak terlalu menjadi masalah karena aku memiliki sesuatu yang dia inginkan. “Maaf Nona, ada lagi yang bisa saya bantu?” tanyaku dengan senyum paling ramah yang aku tujukan padanya. “Tidak ada … aku hanya takut kalau ternyata dia punya affair dengan SPG sepertimu,” ujar Merlin dengan nada sinis dan langsung masuk kembali ke ruangan Nyonya Laudya. Nyonya Laudya bilang mereka pelangg*n istimewa, tapi ternyata aku sama sekali tidak dipanggil untuk konsultasi desain dan sebagainya. Apa mungkin desain yang aku berikan tadi pagi yang dipakai Nyonya Laudya atau …. Tak lama berselang Merlin dan Tantenya keluar dari butik, tapi anehnya sorot wajah Nyonya Laudya tidak bahagia seperti biasanya setiap kali habis menerima tamu dari pelangg*n eksklusif yang meminta konsultasi desain langsung dengannya. “Cathy,” panggil Nyonya Laudya dengan nada tinggi. “Iya, Nyonya.” “Keterlaluan, masuk ke ruangan saya!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD