Sahabat

2376 Words
“Aku …. Maaf Cat ….” Naura memandang takut ke arah Cathy. “Maaf? Untuk apa meminta maaf, Nau.” Naura menundukkan kepala, air mata kembali menetes dari kedua pelupuk matanya. Tetesannya membasahi rok yang Naura kenakan. Cathy memberikan sekotak tisu pada Naura, dia tidak tega melihat kesedihan yang begitu tampak jelas di wajah Naura. Sebutan Aku yang menggantikan kata Gue pun menjadi salah satu bukti yang menunjukan Naura kini benar-benar sangat menyesali semua kesalahan fatal yang sudah dia perbuat. Hilang sudah rasa jijik dan marah Cathy pada Naura saat melihat sahabatnya terus terisak menyesali keputusannya mengambil pinjaman online yang berakhir dengan kehilangan kehormatannya di tangan Bian. “Maaf karena selama kamu pergi … aku … aku bawa dia ke sini dan melayaninya setiap malam dengan bayaran tujuh belas juta,” aku Naura dengan terisak. Cathy dan Evin mengusap wajah mereka hampir bersamaan, pengakuan Naura membuat mereka semakin miris mengetahui sejauh mana pengorbanan Naura demi melunasi semua hutang online yang sudah menjebaknya hingga menjadikan dia b***k nafsu dari Bian. “Lo gila, Nau.” “Lo … ah, sudah lah. Semuanya sudah terlanjur, tinggal bagaimana Lo memperbaiki semua kekacauan ini,” desah Cathy frustasi mendapati kenyataan kalau sahabatnya sudah terjebak terlalu jauh dalam hubungan s*ksual di luar nikah bersama Bian. “Aku mau keluar dari sini, aku mau pulang Cat … Vin. Aku sudah tidak sanggup menghindar dari semua permintaan Bian. Dia benar-benar memanfaatkan kesulitan ini, aku … aku ….” Naura tidak sanggup menceritakan perlakuan Bian yang benar-benar menjadikan dia b***k s*ks dan alat pemuas nafsunya. Tidak dipungkiri kalau Naura pun merasakan kenikmatan karena Bian selalu memperlakukannya dengan lembut. Namun, Bian tidak akan berhenti dan membiarkannya beristirahat sebelum nafsunya benar-benar terpenuhi. Badan Naura sudah terasa remuk redam karena selama kepulangan Cathy, Bian semalaman akan menggempurnya habis-habisan tanpa ampun meskipun Bian memang membayar Naura untuk melayaninya. Semalam, dia harus rela ikut pulang ke apartemen Bian untuk melayaninya yang belum juga merasa terpuaskan padahal sudah dua kali Bian mencapai klimaks. Naura yang tahu Cathy sudah kembali tidak mungkin tetap melayani Bian di sana hingga dia mengalah ikut pulang bersama semalam dan kembali pagi hari saat Cathy sudah keluar mencari sarapan. “Nau … maafin gue,” sesal Cathy yang sempat marah pada Naura. Cathy kembali memeluk sahabatnya, badan Naura bergetar dalam dekapan Cathy. Tangis dan isakannya menggambarkan kalau dia menyesali semua kesalahannya. Namun, semua sudah terjadi. Dia tidak mungkin mengembalikan apa yang sudah hilang dari dirinya. Naura hanya bisa berharap agar tidak ada benih Bian dalam perutnya hingga dia bisa melanjutkan hidupnya di desa dengan lebih baik tanpa membawa beban dari kesalahan yang sudah dia perbuat. “Cathy ....” Suara panggilan dari Laudya membuat Cathy melepaskan pelukannya. “Sorry Vin, Lo urus Naura dulu. Jangan sampai Si Nyonya mengeluarkan taringnya,” pamit Cathy meninggalkan Naura dan Evin setelah mengambil tiga gambar design yang dia simpan di loker. “Cathy …,” ulang Laudya dengan suara yang lebih kencang. Namun, senyum langsung tercetak di wajahnya saat melihat Cathy berjalan mendekati ruangannya sambil membawa tiga lembar kertas. “Ini desain baru?” tanya Laudya saat menerima kertas-kertas dari tangan Cathy dan memindai hasil gambar Cathy. “Iya Nyonya … apa ada yang kurang?” tanya Cathy melihat ekspresi wajah Laudya yang masih serius mengamati setiap gambarnya. “Masuk,” ujarnya sembari berjalan masuk ke ruangan tanpa mengalihkan pandangan dari kertas yang ada di tangannya. “Cocok, saya rasa customer yang akan datang pasti akan menyukai desain ini.” “Kamu ingat Nyonya Nurlisa?” tanya Laudya pada Cathy. Tentu saja dia ingat karena anak laki-laki Nyonya Nurlisa yang bernama Yohan sempat membuatnya naik pitam. “Ini pesanan teman Nyonya Nurlisa. Dia juga dari Malaysia dan memesan batik di sini,” imbuh Laudya dengan aura bahagia yang tidak bisa dia sembunyikan. Semakin hari butiknya memang semakin ramai, orang-orang penting semakin banyak yang berdatangan dan mengunjungi butik batik Nyonya Laudya yang menyediakan motif batik eksklusif yang diproduksi sesuai dengan permintaan dan bisa dicetak terbatas sesuai dengan permintaan customernya. Orang-orang kini semakin mengenal gaung butik batik Nyonya Laudya, apalagi setelah kunjungan dari ibu negara, wanita nomer satu di negeri ini. Tentu saja kedatangannya tempo hari ke butik Laudya semakin membuat Butik Batik Ny. Laudya semakin dikenal banyak orang. Foto bersama ibu negara juga sudah dipasang di tembok belakang kasir. Sesuatu yang selalu menjadi bahan pertanyaan pembeli yang akan membayar dan menangkap pigura besar yang memajang foto Nyonya Laudya beserta seluruh karyawatinya dengan ibu negera. “Kamu hebat Cathy, hasil goresan tanganmu benar-benar memberikan dampak luar biasa untuk butik ini,” puji Laudya. “Terima kasih, Nyonya,” balas Cathy menanggapi pujian untuknya. Laudya terlihat menarik laci meja, dia mengambil segepok uang seratus ribuan dan mulai menghitungnya untuk imbalan dari desain batik yang Cathy bawa. “Ini bonus buat kamu, sepuluh juta Sayang … ini imbalan atas totalitas kamu dalam mendesain semua baju dan motif eksklusif di butik ini. Aku puas, customer puas dan aku harap kamu pun puas dengan imbalan dari butik ini.” “Sepuluh juta? Apa ini tidak terlalu banyak?” tanya Cathy yang belum menerima uang dari tangan Laudya karena masih ragu dengan nominal yang tiga kali lebih banyak dari yang biasa dia terima sebagai imbalan saat menyerahkan desain terbaru. “Tidak Cathy … atau menurutmu ini kurang?” tanya Laudya dan seketika Cathy menggeleng sembari menerima segepok uang yang kini berpindah ke tangannya. “Tidak Nyonya … ini sudah lebih dari cukup untuk semuanya. Terima kasih sudah memberi bonus sebanyak ini.” Mata Cathy berkaca-kaca merasa terharu hasil karyanya bisa menghasilkan uang sebanyak ini. Semudah ini mengumpulkan uang sepuluh juta hanya dengan menarikan pena di atas kertas gambar. Ah, hidup di perantauan memang tidak bisa duga. Untung tak bisa dikejar, Malang pun tak bisa dihindar. Cathy puas dengan pencapaiannya selama bekerja di butik batik Ny. Laudya. Namun, di sisi lain Naura juga mendapat kemalangan padahal dia bekerja di tempat yang sama, tinggal satu atap yang sama, hanya saja takdir mereka berbeda. Cathy keluar dari ruangan Nyonya Laudya dengan perasaaan yang begitu lega karena jerih payahnya mengulang gambar desain yang tertinggal kini dibayar kontan, bahkan dengan hasil yang jauh lebih banyak dari yang dia prediksi. “Nau … kita ke kamar sebentar,” ajak Cathy saat melihat Naura dan Evin masih duduk di tempat yang sama. Butik memang sepi kala pagi, para pembeli mulai berdatangan di atas jam sepuluh dan puncaknya jam dua siang menuju tutup mereka berdatangan dan kadang membuat lima pekerja di butik pun kewalahan. “Masuk,” suruh Cathy saat dia sudah duduk di tepi ranjang, tapi Naura masih berdiri di ambang pintu. “Lo mau pulang?” Naura pun mengangguk lemah, pulang adalah jalan satu-satunya untuk dia bisa terhindar dari Bian. Pulang memang akan membuat dia kehilangan pekerjaan dan sahabat-sahabat yang sudah seperti saudaranya. Namun, itu menjadi pilihan terbaik dari dua pilihan yang ada. Tetap bekerja di sini dan bertemu Bian atau kehilangan pekerjaan dan pulang. Dia tahu dirinya tak lagi perawan, tapi meminta Bian bertanggung jawab atas dirinya pun sesuatu yang tidak mungkin dia lakukan. Bian sudah membayarnya … dan diakui atau tidak Naura sudah layaknya gundig Bian yang mau tidak mau harus selalu melayani sang tuan jika Bian datang dan menginginkan servis ranjang dari Naura. Sehingga dia tidak rasanya tidak punya hak meminta pertanggung jawaban dari Bian setelah banyaknya uang yang dia terima dari kekasihnya. “Pulang lah, Gue harap ini cukup untuk modal usaha Lo di desa.” Cathy hanya mengambil lima lembar uang yang diberikan Nyonya Laudya, sedangkan sisanya dia taruh digenggaman tangan Naura. “Ini bonus dari Nyonya Laudya, sepuluh juta. Hanya saja uang Gue hanya tinggal dua ratus ribu saja. Gue ambil lima lembar dan semuanya buat Lo,” terang Cathy yang memang sudah berniat membantu sahabatnya. Niat baiknya memang belum terucap karena dia sendiri belum tahu berapa uang yang akan diberikan Nyonya Laudya. Namun, nyatanya Tuhan mendengar dan mungkin uang sepuluh juta yang diberikan Nyonya Laudya memang sudah rejeki Naura karena Cathy berniat akan memberikan seluruh uang yang dia dapat untuk Naura dan hanya akan mengambilnya lima ratus ribu saja. “Cath … aku … aku tidak bisa nerima ini. Kamu sudah terlalu baik … aku tidak mau memanfaatkan kebaikan kamu. Ini terlalu banyak Cath, aku ….” “Bawa lah, Lo butuh ini buat pegangan sebelum mendapat pekerjaan baru. Semoga Lo bisa memperbaiki diri dan tidak malah terjun ke dunia malam. Lo bisa berubah kalau Lo menginginkannya … dan gue harap Lo bisa hidup lebih baik di sana.” Badan Naura merosot ke lantai, dia menjatuhkan kepalanya di pangkuan Cathy. Tangisnya meluap lagi menerima perlakuan istimewa dari sahabat yang sudah beberapa tahun tinggal bersamanya. “Aku gagal Cat, dulu aku berharap dengan merantau bisa memperbaiki kehidupan keluargaku. Namun, aku justru salah jalan dan berakhir mengenaskan seperti ini. Aku gagal Cat … aku gagal,” isak Naura dengan suara parau yang teredam jeans yang Cathy kenakan. Cathy mengusap punggung sahabatnya, dia mengingat masa-masa awal mereka tinggal berdua di butik ini, mereka lah yang pertama bekerja di butik ini sebelum ketiga rekan lainnya datang. “Lo sahabat Gue yang paling baik. Lo juga selalu bantu Gue saat awal-awal kerja di sini. Gue harap dengan pulang dan menghindar dari Bian, Lo bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Berjanjilah kalau Lo mau berusaha memperbaiki diri Lo demi masa depan Lo Nau,” pinta Cathy dengan mengangkat dagu sahabatnya. Naura mengangguk dan Cathy pun menariknya berdiri dan kembali berpelukan untuk menguatkan sahabatnya yang sedang terpuruk. Sejatinya sahabat memang selalu ada bukan hanya saat kita bahagia, tapi dia juga selalu siap membantu kala kita terpuruk pada titik nadir paling bawah. “Pergilah, pamit sekarang juga pada Nyonya Laudya, aku akan membantumu membereskan apa yang bisa kamu bawa mumpung butik masih sepi. Jujur lah pada Nyonya, katakan semua yang sudah kamu katakan pada aku dan Evin. Aku yakin Nyonya akan mengerti alasanmu dan memberikan gaji serta pesangon yang layak untuk menambah bekal pulang Lo, Nau.” Naura mengangguk berkali-kali, dia mengusap lelehan air mata yang tidak juga mau berhenti. Cathy pun menggandengnya keluar kamar dan berganti masuk ke kamar Naura. Naura menyimpan uang pemberian Cathy di dompet yang sama dengan uang tujuh belas juta yang diberikan Bian. “Aku pamit dulu sama Nyonya.” “Pergilah … panggil Elsih ke sini untuk membantuku,” pinta Cathy sebelum Naura keluar dari kamar. Cathy tak menyangka kalau mulai hari ini dia akan sendiri di sini, dia berpikir untuk merayu Elsih agar bersedia menemaninya tinggal di sini menggantikan Naura. “Mbak Cathy manggil aku?” tanya Elsih dari ambang pintu kamar Naura. Bola matanya seketika melebar saat melihat Cathy mengeluarkan baju-baju Naura dari dalam lemari dan memasukannya ke dalam tas besar yang ada di atas ranjang. “Mbak … kok baju-baju Mbak Naura dimasukin ke tas. Memangnya Mbak Naura ini mau kemana toh?” sambungnya kembali bertanya meskipun pertanyaan pertama saja belum dijawab Cathy. “Naura mau mudik, dia mau pulang kampung,” jawab Cathy tanpa menghentikan aktivitasnya memindahkan baju-baju Naura ke dalam tas travel super besar. “Loh … kerjanya sudahan Mbak? Kok tiba-tiba sih? Apa karena telepon yang suka nagih dia utang itu? Padahal kan sayang … Mbak Naura paling lama bekerja di sini. Nanti kalau Mbak Naura pergi, Mbak Cathy sendirian dong,” celoteh Elsih yang memberondong Cathy dengan beberapa pertanyaan. “Elsih, Mbak itu nyuruh kamu ke sini untuk bantuin beresin ini. bisa tidak nanyanya sambil bantu, Mbak?” Glek. Elsih seketika langsung bergerak cepat menuju lemari dan membantu Cathy memasukan semua baju-baju Naura ke dalam tas, sementara Cathy beralih membereskan alat make up Naura yang dia masukan ke dalam pouch yang tergantung di atas meja rias. Diam dan tak ada suara meskipun banyak pertanyaan yang bergerilya dalam otak Elsih, hanya saja statusnya yang paling muda di butik ini serta Cathy yang begitu seringnya mentraktir Elsih makan siang, membuat dia memilih untuk bungkam sementara. “Istirahat nanti kamu bawa barang-barangmu ke sini, kamu tinggal di sini sama Mbak.” “Hah! Kok gitu mbak,” protes Elsih, tapi sedetik kemudian dia langsung membungkam mulutnya sendiri. Rasanya ini terlalu mendadak untuknya, tapi Elsih tidak tahu cara menolak keinginan Cathy. Kosannya memang cukup jauh dari tempatnya bekerja, tapi harga sewa kamar di sana lebih murah daripada menempati kamar mewah di sini. Elish tidak pernah tahu kalau Naura dan Cathy tidur secara cuma-cuma tanpa membayar sewa kamar. Selama ini mereka berlima memang jarang membahas masalah pribadi saat sedang bekerja. “Jadi kamu mau temani Mbak di sini tidak,” ulang Cathy karena Elsih belum juga memberi jawaban. “Aku mau sih Mbak, tapi yok sayang tinggal di kamar bagus pasti mahal,” aku Elish dengan nada polos. Tangannya berhenti sejenak saat netranya kembali memindai kamar Naura yang memiliki fasilitas lengkap layaknya kamar di rumah sendiri. “Gratis, siapa juga yang suruh kamu bayar,” cetus Cathy yang membuat bola mata Elsih terbuka sempurna saat mendengarnya. “Iya toh Mbak gratis?” tanyanya tidak percaya. “Iya, jadi kamu mau tidak tinggal di sini.” “Mau Mbak mau,” sahut Elish cepat dan Cathy pun mengembangkan senyumnya. Urusan izin dengan Nyonya Laudya bisa dia urus nanti setelah membantu Naura mengemasi pakaiannya. Yang terpenting nanti malam Cathy tidak harus berada sendirian di sini. Dia butuh teman untuk bicara meskipun Naura memang sering diam-diam meninggalkan Cathy saat hampir tengah malam tanpa sepengetahuannya. Setidaknya setahu Cathy, setiap malam Naura ada di kamarnya. “Mbak … iku Mbak Naura pulang gara-gara Pinjol ya,” tebak Elsih saat semua baju Naura sudah masuk ke dalam tas besar dan berganti lemari yang kini kosong. “Nanti saja bahasnya, kalau sudah selesai kamu balik ke depan, nanti pas istirahat pulang lah sebentar beresin pakaianmu.” “Wah, tidak bisa Mbak … kosan aku jauh. Sora saja lah, pulang kerja aku pulang terus langsung ke sini ya,” tawar Elsih dengan memainkan kedua alisnya. Suatu pertanda saat dia sedang merayu lawan bicaranya. “Baiklah, terserah kamu. Asal sebelum isya kamu sudah sampai ke sini.” “Siap, Mbak. Aku ke depan lagi ya. takut si Nyonya cari nanti malah marah-marah,” pamit Elsih setelah menyelesaikan tugasnya memindahkan baju-baju Naura ke dalam tas. “Bareng, yuk.” Mereka keluar dari kamar Naura, tidak lupa Cathy menguncinya karena memang tidak aman saat butik buka membiarkan kamar mereka tidak terkunci.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD