“b******n! Bayar utang Lo!” teriak seorang pria diseberang yang langsung membuat Cathy menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Lont* Lo!”
Gila, sejak kapan Mamanya berurusan dengan debt collector sangar seperti ini, pikir Cathy yang menyangka telepon tersebut berkaitan dengan utang sang Mama. Padahal sebelumnya dia sama sekali tidak pernah berurusan langsung dengan penagih utang Martina.
Dia hanya menerima laporan dari sang Mama saat pemberi utang menagih mamanya. Tak ada satupun yang langsung menelepon Cathy dengan perkataan brutal seperti itu. Toh Martina juga berutang pada keluarga dan kerabat terdekat saja. Bukan pada orang lain yang tidak punya hubungan darah sama sekali.
“Cathy adelicia, jangan hanya diam saja!” hardik si pria yang barusan berteriak menagih utang hingga membuat Cathy trauma mendekatkan ponselnya ke telinga.
“Iya, maaf saya tidak punya utang apapun,” jawab Cathy yang merasa dirinya memang tidak punya sangkutan meskipun sang Mama memang memiliki banyak utang, tapi semuanya atas nama Martina bukan Cathy.
Cathy meletakan ponsel di atas meja, tidak mau lagi memposisikan ponselnya di dekat telinga. Takut si pria debt collector yang menagihnya kembali berteriak lantang seperti saat pertama dia mengangkat telepon.
“Kontak anda sudah didaftarkan menjadi kontak darurat oleh saudara Naura Augustin.”
“Naura Augustin,” ucap Cathy menyebut nama teman sebelah kamarnya yang baru dia temui tadi.
“Iya, Naura Augustin teman anda?”
“Iya,” jawab Cathy singkat.
“Katakan agar l***e sialan itu segera melunasi pembayaran pinjaman online pada kami sebanyak tujuh belas juta rupiah.”
“Hah! Tujuh belas juta!”
“B*debah! Apa kurang jelas perkataan gue! Bilang ke Naura sialan, secepatnya bayar utang di-”
Klik.
Cathy memutuskan sambungan sepihak saat dia sudah paham bahwa pihak yang meneleponnya mencari Naura. Pinjaman Online, salah satu kemudahan yang ditawarkan oleh pihak penyedia modal dengan bunga mencekik meskipun prosesnya memang sangat mudah. Hanya bermodal kartu identitas dan menyetor beberapa kontak nomor yang dijadikan nomor darurat ketika si peminjam mangkir dari jadwal pembayaran yang sudah disepakati bersama.
Cathy memang kerap melihat berita dari para nasabah Pinjol yang stress dan depresi menghadapi debt collector yang akan memaki-maki, berteriak dan berbicara kasar saat menagih utang yang sudah jatuh tempo. Namun, Cathy sama sekali tidak menyangka kalau Naura sampai berurusan dengan jasa penyedia pinjaman online.
Di mata Cathy, selama ini Naura sudah hidup dengan hemat. Apalagi mereka berdua juga tidak perlu membayar uang kontrakan karena tinggal di butik ini secara cuma-cuma. Apalagi haji yang diberikan Nyonya Laudya untuk mereka di atas UMR.
“Hu … untuk apa sih Naura berurusan dengan Pinjol,” dengkus Cathy kesal.
Ponselnya kembali berdering dan nomor tanpa nama yang kembali menghubunginya. Cathy membiarkan ponselnya terus berkedip tanpa getar dan suara. Malas meladeni nomor asing yang bisa jadi itu orang yang sama yang meneleponnya tadi dengan tujuan menagih utang Naura.
“Bodo amat, Lo mau ganti nomor berapa kali pun kagak bakal gue ladenin,” geramnya yang sudah tidak akan pernah mengangkat panggilan dari nomor asing lagi.
Cathy membuka bungkusan sarapan yang baru dibelinya. Cacing dalam perutnya sudah tidak sabar mendapatkan jatah makan. Dia meneguk air minum sebelum mulai menikmati sarapan nasi kuning kesukaannya. Untuk sementara dia belum mau bertanya apapun pada Naura berkaitan dengan pinjaman online yang kini memburu Naura karena telatnya pembayaran yang dia lakukan.
Dia ingin Naura sendiri yang akan membuka percakapan tentang ini. hanya saja setelah Cathy siap berhadapan dengan Naura. Bagaimanapun sangat susah menghapus bayang-bayang Naura dan Bian yang tertangkap netranya.
“Ah, apa gara-gara ditagih Pinjol Naura terpaksa ….” Cathy mulai mencoba menerka kemungkinan yang terjadi. Hanya saja otaknya masih terlalu buntu saat perutnya belum diisi penuh.
Jam delapan pagi seperti biasa Elsih sudah datang untuk membersihkan butik, pintu yang menjadi akses Cathy masuk ke butik pun terbuka. Dia langsung menuju butik dengan membawa tiga buah kertas hasil dia menggambar ulang desain baju yang tertinggal di rumahnya.
Usai sarapan Cathy memilih menggambar ulang dengan sedikit merubah komposisi batik dalam gambarnya, tidak sama persis dengan foto yang Dean kirim. Saat perutnya kenyang, inspirasinya akan langsung terkoneksi dengan kencang sehingga begitu ringan menggerakkan jemarinya di atas kertas gambar.
“Mbak Cathy aku kangen,” rengek Elsih dengan merentangkan tangan bersiap berpelukan dengan Cathy saat melihat Cathy mulai memasuki butik.
“Kangen traktirannya, kan?” tebak Cathy.
Elsih mengangguk dan jari Cathy pun mendarat di kening Elsih, satu jentikan dari Cathy membuat Elsih mengaduh dan mengusap keningnya.
“Sakit Mbak …,” keluh Elsih mengusap keningnya.
“Nanti siang diganti sakitnya sama makan gratis.”
“Horray … sayang Mbak Cathy. Eh, katanya Mbak pulang empat hari, kok baru tiga hari libur sudah masuk lagi?” tanya Elsih setelah melepaskan pelukannya.
“Halah, tadi bilang kangen. Sekarang malah nanya kenapa sudah datang … ya sudah lah aku libur lagi hari ini,” gurau Cathy yang berpura-pura bersiap kembali menuju kamarnya.
“Ah … jangan ngambek Mbak Sayangku … kalau hari ini Mbak libur, nanti siang tidak ada traktiran dong,” ringis Elsih memamerkan deretan giginya sambil menaik-turunkan alis tebal bak ulat bulu yang alami tanpa digambar dengan pensil alis.
“Kamu itu baik sama aku kalau ada maunya ya? Dasar bocah ababil!” Cathy kembali menjentikkan jarinya di kening Elsih.
“Ya elah Mbak, dua kali aku kesakitan berarti traktirnya wajib dua kali ya,” rengek Elsih yang kembali mengusap keningnya.
“Sabodo, otak kamu isinya traktiran mulu!” Cathy memasukan gambar di loker kerja ruang istirahat. Dia membantu Elsih membuka tirai butik dan melakukan beberapa pekerjaan ringan lainnya.
“Mbak Cathy kok tidak bareng sama Mbak Naura?” tanya Elsih celingukan tidak melihat Naura yang biasanya masuk butik bersama dengan Cathy.
Cathy menjawab pertanyaan Elsih dengan mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu, seketika Elsih memepet tubuh Cathy dan mendekatkan bibirnya di telinga Cathy. Cathy berjalan mundur menjauh. “Lo mau cium gue,” tegur Cathy.
“Ih, Mbak. Aku masih suka cowok kok,” elak Elsih mengibaskan tangannya.
“Mbak jangan Lo … Lo sih, aku serem dengernya. Aku-kamu saja ya,” kata Elsih mengingatkan kata ganti yang biasanya dipakai Cathy dan semua rekannya saat berbicara dengan Elsih.
“Oke Elsih! Terus ngapain bibir kamu dekat-dekat kayak mau cium aku?” ulang Cathy kembali bertanya maksud Elsih yang mendekatinya dengan bibir monyong.
“Diem sih, Mbak. Aku mau bisikin sesuatu,” desis Elsih dengan suara begitu pelan. Dia kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Cathy. Kali ini Cathy diam saja.
“Aku ditelepon orang yang nagih utang ke Mbak Naura,” bisik Elsih.
“Dua,” jawab Cathy tanpa rasa kaget sedikitpun. Itu malah membuat Elsih memicingkan mata mendengar kata dua yang disebutkan Cathy.
“Kok dua?”
“Aku juga sama, berarti baru dua orang yang ditelepon debt collector pinjaman online itu dan perlu kamu tahu kalau pinjaman online itu biasanya butuh lima kontak,” terang Cathy membuat Elsih membelalakkan matanya.
“Berarti tiga orang lagi yang ditelepon.”
“Sementara iya.”
“Kok sementara sih? Kan tadi Mbak bilang lima orang, berarti tiga lagi dong.” Elsih memperlihatkan kelima jarinya, kemudian menekuk dua jari dan memperlihatkan ketiga jari yang masih berdiri di depan Cathy.
“Kalau dia bayar. Kalau enggak, semua nomor dikontak dia pasti dihubungi, kan sudah disadap sama pemberi utang.”
“Oh ….” Mulut Elsih terbuka lebar dengan kepala manggut-manggut.
“Kok serem sih Mbak.”
“Makanya jangan tergoda Pinjol.”
“Pinjol? Apa tuh Mbak?”
Elsih memang si bungsu di butik tersebut. Karyawan paling muda yang bertugas sebagai office girl, tapi malah dipercaya oleh Nyonya Laudya memegang kunci butik. Awalnya Cathy merasa lucu kenapa justru Elsih yang dipercaya menggantikan dia memegang kunci butik. Namun, setelah tahu kepolosan dan tanggung jawab Elsih dalam menjalankan pekerjaan sesuai dengan job descriptionnya. Cathy setuju, Elsih memang yang paling pantas diberi amanah memegang kunci utama butik.
“Pinjaman online oon!”
Cathy meninggalkan Elsih yang masih berusaha mencerna jawaban yang dia berikan dengan berulangkali menyebutkan kata Pinjol-Pinjaman online secara terus menerus.
Hingga jam sembilan, saat semua karyawan sudah datang, barulah Naura masuk ke butik padahal tidak seperti biasanya dia datang siang seperti ini. Begitu melihat Naura datang, Evin terlihat mendekatinya, sementara yang lain sudah di posisi tugas masing-masing.
“Nau, gue mau nanya?”
Naura mengangkat wajahnya, dia terlihat ketakutan seperti sudah bisa menebak apa yang ingin ditanyakan oleh Evin. Melihat Naura yang hanya diam menatap Evin tanpa mengeluarkan jawaban apapun Evin langsung menariknya masuk ke ruangan di belakang tempat kasir yang biasanya digunakan para karyawan butik untuk makan dan istirahat sejenak kala siang.
“Lo ambil pinjaman online?”
Deg. Mata Naura langsung berkaca-kaca. Itu cukup menjadi jawaban dari pertanyaan Evin.
“Kenapa?” tanya Evin tak mengerti kenapa sahabatnya, rekan kerjanya selama tiga tahun ini bisa terjebak dan tergiur dengan pinjaman online yang memang sedang marak. Mereka menawarkan pinjaman melalu pesan singkat, iklan bersponsor di i********: dan f*******:, bahkan ada juga yang menelepon langsung untuk menawarkan pinjaman.
Entah dari mana penyedia kredit ilegal seperti mereka mendapatkan nomor kontak tersebut. Hanya proses yang begitu mudah sering membuat mangsa mereka tergiur untuk mengambil pinjaman padahal bunganya sangat besar disertai resiko nomor kontak di ponsel mereka akan disadap oleh para pemberi pinjaman.
“Gue butuh duit saat itu. Emak sakit di kampung, dia minta aku kirim uang sepuluh juta padahal uang gaji bulan itu sudah aku kirimkan, terpaksa aku ….”
“Berapa aplikasi pinjol?” sambar Cathy yang tiba-tiba masuk ke ruangan tersebut.
“Lima, yang empat sudah lunas tinggal satu.”
“Kok jadi tujuh belas juta? Padahal yang kamu butuhkan cuma sepuluh juta?” selidik Evin yang juga ditelepon pihak pinjaman online yang memberitahu total utang Naura yang belum dibayar.
“Bunganya gede, Vin,” sela Cathy.
“Total yang sudah Lo bayar berapa?”
Naura beralih menatap Cathy. “Empat puluh juta.”
“Hah!” koor Cathy dan Evin yang begitu kaget mendengar jawaban Naura.
“Sebanyak itu?” tanya Cathy tidak percaya utang yang berawal sepuluh juta menjadi beranak pinak begitu banyaknya mengalahkan rentenir lintah darat di kampungnya.
“Iya, Cat. Gue nyesel, hanya saat itu gue butuh buat bayar biaya rumah sakit Emak. Tidak ada pilihan lain selain mengambil pinjaman online.” Naura terduduk di lantai dengan isak yang mulai terdengar. Kalimat penyesalan terus keluar dari bibirnya.
Evin kini mendekapnya, memberikan sedikit semangat untuk Naura sebagai tanda kalau Naura tidak akan sendirian menghadapinya.
“Terus dari mana Lo dapat uang sebanyak itu untuk membayar empat aplikasi pinjol yang sudah lunas?” Cathy kembali bertanya pada Naura.
Sebuah pertanyaan yang membuat Naura merasa terdesak. Dia tidak ingin menjawab pertanyaan Cathy, tapi dia juga tidak mungkin menyembunyikan itu seterusnya. Setelah empat puluh juta, dia masih menyisakan satu utang pada satu aplikasi pinjaman online yang sudah tidak sanggup dia bayar.
“Gue jual keperawanan sama Bian,” aku Naura.
“Astaga Nau ….” Evin kembali menarik Naura yang semakin terisak ke dalam pelukannya.
Sungguh kesalahan fatal Naura berani terlibat dengan pinjaman online. Akhirnya, keperawanan dia pun terjual hanya karena menutupi utang dengan bunga yang begitu mencekik.
“Tadinya aku mau bayar sisa yang tujuh belas juta agar kamu, Evin, Elsih dan Milly tidak lagi diganggu telepon dari mereka. Hanya saja aku batalkan karena butuh uang itu untuk tabunganku agar tidak lagi terjebak Pinjol,” terang Naura masih dengan terisak dipelukan Evin.
“Semua nomor di kontakmu disadap loh Nau, bukan hanya kita nantinya yang akan dihubungi pihak pinjol.”
“Aku tahu Cat, makanya di ponsel gue cuma ada nomor kalian berempat dengan satu nomor cadangan milikku. Nomor lain aku simpan di ponsel yang biasa aku pakai. Karena aku sudah memprediksi semua ini bisa saja terjadi.”
Penyesalan terlihat dari wajah Naura. Dia benar-benar tidak ingin kembali berurusan dengan pinjaman online yang membawanya kehilangan kesucian meskipun keperawanannya dijual pada sang pacar.
Tangis dan ekspresi wajah Naura sudah cukup menggambarkan kalau dia menyesali semua perbuatannya. Tanah rantau nyatanya memang terlalu berat kalau seorang anak gadis malah dijadikan tulang punggung keluarganya.
Mungkin bukan hanya Naura yang memilih menjual keperawananya saat dalam situasi terdesak. Hanya saja bagi Cathy, dia tidak akan melakukan cara itu untuk melunasi semua utang mamanya. Masih ada banyak cara yang bisa dia lakukan tanpa terjerumus ke dalam lembah hitam yang membuat Cathy akan sulit untuk keluar dari dalamnya.
“Terus duit tujuh belas juta itu Lo dapat dari mana?” tanya Evin yang penasaran dari mana Naura mendapatkan uang sebanyak itu.
“Aku ….” Naura menatap Cathy dengan jemari yang terus memainkan ujung baju yang dia kenakan.
“Aku …. Maaf Cat ….”