“Cat, gue ….”
Brak.
Cathy menutup pintu kamar dengan cukup keras. Dia tidak memberi kesempatan sedikit pun pada Naura untuk bicara. Cathy butuh waktu untuk sendiri dan menenangkan diri setelah melihat perbuatan sahabatnya yang begitu membuat dia jijik.
Cathy menggidikan badannya kala mengingat Naura yang mengerang di bawah Bian dengan pusat tubuh mereka yang saling menyatu. Mereka bergerak untuk saling beradu dengan desahan yang terdengar begitu menjijikan di telinga Cathy.
Cathy memang sudah dewasa, hanya saja dia tidak pernah menonton film dewasa sehingga adegan Naura dan Bian yang sedang b******u menggoyang ranjang membuat Cathy benar-benar merasa muak melihat wajah Naura.
Dia melihat begitu jelas saat telapak tangan Bian merangkum buah dad* Naura, sedangkan bibirnya menghisap salah satu ujung yang lain … Bian terus menaik-turunkan badannya saat Naura mendesah dan memintanya untuk bergerak lebih cepat lagi.
Keringat di sekujur badan mereka terlihat seperti kristal karena cahaya lampu yang menerpa. Cathy begitu jelas melihatnya … Cathy tak menyangka menyaksikan live adegan dewasa di depan matanya yang diperankan langsung oleh sahabatnya.
“Aaaa, nafsu makan gue jadi hilang,” teriak Cathy dengan membanting sendoknya.
Padahal perutnya tadi merasakan lapar, tapi melihat wajah Naura seketika bayangan menjijikan yang dilihatnya terus saja berputar. Mungkin imajinasinya akan berputar liar kalau seandainya dia gadis nakal yang mengaggap s*x di luar nikah adalah hal yang biasa dan umum terjadi. Namun, kenyataannya Cathy malah sebaliknya, dia menganggap hal itu tidak pantas untuk dilakukan di luar ikatan pernikahan.
Cathy memang kerap berpenampilan seksi, tapi sampai saat ini dia masih menjaga kesucian yang kelak akan dia persembahkan untuk suaminya. Dia memang tinggal di kota, tapi waktunya hanya dihabiskan untuk bekerja. Tidak pernah sekalipun Cathy berpikir untuk menjalin suatu hubungan dengan pria … akhir pekan pun selalu dihabiskan dengan rekan kerja yang sama-sama berstatus jomblo.
Bagi Cathy menjadi seorang jomblo bukan lah suatu kehinaan. Namun, kalau dia sampai tergoda bujuk rayu pria buaya yang memberinya segudang janji manis tanpa sebuah jaminan sehingga menyerahkan kehormatannya secara Cuma-Cuma pada si pria, itu baru kehinaan yang sesungguhnya.
Cathy beranjak dari duduknya meninggalkan bungkus nasi goreng yang sudah terlanjur dia buka. Dia membanting badannya di atas kasur. Matanya langsung terpejam, berharap esok pagi bisa melupakan kejadian ini.
Drrrttttttt.
Ponselnya bergetar saat dia baru saja mulai terbang ke alam mimpi. “Dean? Uh, menyebalkan,” umpat Cathy yang terpaksa mengangkat panggilan telepon dari Dean karena tidak ingin kembali mendengar omelan Dean.
“Iya.”
“Aku nungguin kabar dari kamu, kamu malah tidur,” protes Dean sedikit berteriak hingga Cathy menjauhkan ponsel dari telinganya.
‘Menyebalkan, telepon hanya untuk ngomel tidak jelas. Tahu gitu aku matiin saja,’
gerutu Cathy.
“Cathy … kamu beneran tidur?”
Cathy masih mendengar suara panggilan Dean, tapi dia sengaja mengabaikannya. Dia malah menggumam tidak jelas agar Dean mengerti kalau dirinya kini teramat mengantuk hingga ponsel yang Cathy pegang dibiarkan tergeletak di atas kasur saat dirinya sudah tak kuasa menahan matanya untuk tetap terbuka.
“Gila … wanita memang seenaknya sendiri. Setelah aku menunggu kabar darinya, dia malah begitu saja tidur,” gerutu Dean yang disertai omelan yang tak kunjung usai menyadari Cathy yang mengabaikannya begitu saja.
Dean membanting ponselnya ke kasur. Dia begitu kesal kenapa Cathy malah mengabaikannya dan memilih untuk tidur sementara sedari tadi Dean sudah menunggu telepon dari Cathy.
“Kenapa gadis itu benar-benar membuatku kembali tidak waras. Tidak Dean, kamu jangan sampai terjebak kembali pada satu kata bernama Cinta yang membuatmu jadi budaknya.
Kuasai dirimu Dean. Jangan biarkan Cathy semena-mena padamu hanya kamu terlihat begitu memujanya.
Arrrgggghhh, aku tidak bisa. Nyatanya aku terlalu lemah kalau sudah berhadapan dengan wanita yang membuatku terpesona. Cathy Adelicia, lihat saja aku akan mengurungmu seminggu penuh kalau kau sudah resmi jadi istriku.”
Dean membanting badannya dengan kasar, sekelebat bayangan Cathy saat memakai gaun merah di pertemuan pertamanya kembali muncul menggoda Dean.
“Sial, pergilah,” usir Dean mengibaskan tangannya ke atas kepala dengan mata tertutup. Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam dan besok dia ada kelas musik pagi. Tidur lebih dini adalah salah satu cara agar dia bisa mendengar bunyi alarm yang akan membangunkannya tepat jam enam pagi agar tidak terlambat masuk sekolah.
Lagian selama ini dia terlambat datang pun tidak ada yang berani menegurnya karena papanya menjadi donatur tetap di sekolah Dean. Bukan hanya itu, beberapa fasilitas seni dan olah raga pun disediakan oleh keluarga Demetria sehingga selama mengajar di sana semua rekan Dean segan padannya.
_______________i.s______________
“Oh God … Dean,” desis Cathy menyadari dirinya tertidur padahal seingatnya semalam dia mengangkat panggilan telepon dari Dean.
Matanya mengerjap beberapa kali sembari sorot matanya terus memindai ke jam bulat yang terpasang di dinding.
“Ini sudah pagi,” gumam Cathy.
Dia meraih ponsel yang masih tergeletak di kasur. Cathy mengecek panggilan terakhir dari Dean.
“Lima menit,” gumamnya lirih menyadari Dean meneleponnya selama lima menit, sedangkan dia tidak mendengar apapun yang Dean katakan karena terlalu mengantuk.
“Ah, biarlah dia marah,” ujar Cathy yang langsung beranjak bangun untuk mandi sebelum mencari sarapan untuk mengisi perutnya yang benar-benar lapar karena nasi goreng yang semalam dia beli belum disentuhnya sama sekali.
Pintu kamar Naura masih tertutup rapat saat Cathy keluar dari kamarnya untuk membeli sarapan. Dia sama sekali tidak berniat membukanya meskipun ada secuil rasa penasaran apa Bian dan Naura masih berada di dalam sana atau Bian pulang saat Naura tahu kalau dirinya sudah pulang.
Klik.
Pintu terbuka, udara pagi yang terasa begitu segar membuat Cathy merentangkan tangan dan menghirup napas dalam-dalam. Sejenak dia melakukan gerakan peregangan sebelum kembali mengunci pintu dan berjalan menuju kedai sarapan langganannya.
Jalanan masih sepi, apalagi jam masih menunjukan jam enam kurang. Tentu saja belum banyak orang berlalu lalang di sana. Hari ini Cathy memakai jeans panjang dengan tuniq batik press body tanpa lengan sesuai dengan seragam yang harus dia kenakan hari ini.
Laudya memang mewajibkan seluruh karyawannya memakai atasan sesuai dengan seragam yang sudah dia tentukan. Ada pun bawahannya, Laudya membebaskan ketiga karyawatinya untuk memakai jeans, rok, celana kain atau apapun yang membuat mereka nyaman bergerak.
“Hai cantik ....”
“Rudy ...,” pekik Cathy berjingkat kaget saat Rudy menepuk punggungnya.
“Lo kaget mulu sih, emang gue menyeramkan apa?”
“Sangat! Lo kayak jaelangkung. Datang tanpa diundang,” cebik Cathy sebelum mempercepat langkahnya.
Dia tak peduli Rudy terus menggerutu dan memprotes Cathy yang menyamakan dirinya dengan Jaelangkung. Tiba di kedai penjual sarapan, seperti biasa Cathy langsung menyebutkan pesanan.
“Nasi kuning sama sambel goreng ampela ati ya Bu, dibungkus,” pinta Cathy sambil mengambil satu bungkus rempeyek kacang hijau dan menyerahkannya di depan Ibu penjual nasi.
“Sambelnya dibanyakin nggak, Mbak?”
“Iya, Bu. Seperti biasa.”
“Jangan makan yang pedas-pedas cantik. Masih pagi, kasian perutnya,” sambar Rudy yang kini sudah berdiri di samping Cathy.
“Tuh kan lo datang kayak Jelangkung. Tiba-tiba datang main sambar omongan saja,” protes Cathy yang memang tidak pernah bisa untuk beramah tamah dengan Rudy.
“Ya elah, Cat. Salah gue apa sih, lo kok judes banget sama Babang Rudy yang tampan ini. Kualat loh, Cat. Ntar lo jatuh cinta sama gue.”
“Idih … Amit-amit jabang bayi. Kagak bakal kali,” elak Cathy sambil bergidik ngeri merespon kalimat yang diucapkan Rudy, sementara Rudy malah terbahak melihat ekspresi wajah Cathy.
“Cathy … Cathy … ayolah terima cinta Abang, biar Abang bisa menghalalkanmu sayang,” rayu Rudy yang tak kenal lelah memepet Cathy sedari delapan bulan lalu. Saat dia tahu kalau Cathy si seksi ternyata masih jomblowati.
“Gue bulan depan mau nikah Rudy. Jadi lo tidak usah berharap apapun lagi,” tegas Cathy.
Rudy terbelalak mendengar pengakuan Cathy. Namun, sedetik kemudian dia tertawa lagi. Cathy sudah malas menanggapi semua gombalan Rudy, dia langsung menerima uluran plastik berwana putih yang berisi pesanan nasi kuning yang sudah selesai dibungkus beserta rempeyek yang sudah dia pilih.
“Lo mau nipu gue, kagak mempan sayang, sebelum janur kuning melengkung … Babang Rudy masih akan terus berjuang mendapatkan kamu Cat. Eh, tiga hari kemarin kemana? Perasaan kita tidak ketemu di sini?” tanyanya.
Hampir setiap pagi selama lima hari Rudy bekerja mereka memang akan selalu bertemu di kedai sarapan. Entah itu Rudy yang datang terlebih dulu atau Cathy yang sudah terlebih dulu memesan sarapannya dan terkadang, mereka juga jalan bersama ke kedai ini karena kosan Rudy memang melewati rumah batik Cathy.
“Gue habis lamaran, Lo bisa lihat cincin ini kan. Jadi tidak ada tuh ceritanya gue mau nipu Lo,” tegas Cathy dengan memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Sebuah kenyataan pahit yang membuat Rudy meneguk lidahnya tidak bisa menyangkal kata-kata Cathy.
“Berapa, Bu?” tanya Cathy tak mau lagi berlama-lama berbasa-basi dengan Rudy.
“Lima belas ribu, Mbak,” kata si Ibu penjual.
Cathy langsung membayarnya dengan uang pas dan meninggalkan Rudy yang masih bengong dan baru sadar saat ibu Warung menegurnya.
“Neng Cathy sudah pergi Mas … mau pesan apa?
“Hah … hey Cathy … Lo pikir gue percaya kalau Lo mau nikah secepat itu,” teriak Rudy yang ditanggapi Cathy hanya dengan lambaian tangan tanpa membalikan badan sedikit pun.
“Sabodo, lo mau percaya apa kagak gue mau nikah. Yang jelas bulan depan gue tidak usah lagi susah payah mikirin hutang-hutang Mama karena Nyonya Valeria yang akan melunasi semuanya,” gumam Cathy sambil terus melangkah kembali menuju butik.
Matre? Kalaupun itu disematkan untuk dirinya, Cathy sudah tak peduli. Toh, dia tidak merasa meminta untuk dinikahi oleh Dean Demetria. Dia hanya menerima tawaran yang diajukan Nyonya Valeria pada Martina, sang Mama. Tawaran dengan bonus mendapatkan suami setampan Dean.
Tampan?
Cathy tersenyum membayangkan sosok Dean yang baru 24 jam dikenalnya sebelum dia memutuskan untuk kembali ke kota. Dean yang kadang terlihat begitu manis, tapi tiba-tiba bisa berubah menjadi sosok otoriter yang menyebalkan. Terus saja Cathy membayangkan Dean hingga langkahnya terhenti di depan pintu masuk tempat tinggalnya.
Dia hendak memasukan anak kunci saat tiba-tiba pintu terbuka dan menampakan Naura yang sudah terlihat rapi dengan dress batik selutut dengan rambut yang dibiarkan tergerai dengan bando pink yang dia pakai untuk mempercantik penampilannya.
“Cat … gue ….”
“Terserah lo mau kemana, bukan urusan gue,” sela Cathy.
“Minggir, gue mau lewat.”
Naura menggeser badannya untuk memberi jalan untuk Cathy lewat. Cathy dengan santai melewati Naura tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Dia masih jijik bertatap muka dengan Naura. Bayangan semalam terus saja terlintas saat dirinya harus bertatapan dengan Naura, makanya Cathy lebih memilih menghindar dari pada nafsu makannya kembali hilang seperti semalam.
“Cat …,” panggil Naura yang berharap Cathy mau diajak berbicara sebentar saja untuk menjelaskan sesuatu meskipun itu tidak akan mengubah pandangan jijik Cathy yang begitu kentara saat bertatapan dengan Naura.
“Cat, gue mau jelasin sesuatu,” ucap Naura saat Cathy menoleh ke arahnya.
“Tidak perlu ada yang dijelaskan. Semuanya sudah jelas, Nau. Aku lapar ... jujur aku belum ingin melihat wajah kamu. Maaf, aku harus jujur kalau aku perbuatan kamu begitu membuatku jijik,” aku Cathy sembari membuka pintu kamarnya.
“Tapi aku terpaksa melakukannya, Cat,” jujur Naura agar sahabatnya mau sedikit saja mendengarkan alasan kenapa dia bisa melakukan hal itu.
“Terpaksa kamu bilang? Terpaksa menikmati?” tuduh Cathy dengan tatapan nyalang saat membalik badannya dan berhadapan dengan Naura yang sudah tampak meneteskan air mata.
“Ah, peduli apa. Lagian itu urusan lo dan gue tidak berhak ikut campur. Tidak usah menangis, bukannya aku selalu bilang kalau penyesalan itu tidak akan berarti kalau kamu sudah tergoda bujuk rayu si Bian,” seloroh Cathy dengan senyum sinis sebelum masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.
“Cat … gue bisa jelasin,” teriak Naura. Namun, percuma … Cathy seolah menutup rapat telinganya dan tidak peduli dengan suara ketukan pintu berkali-kali disertai dengan panggilan Naura.
Dia berhak kecewa dengan kelakuan Naura, dia tidak peduli kalau Naura melakukan hal gila itu bukan di tempat ini, di tempat tinggal mereka dan dia tidak melihatnya. Namun, semalam dia sangat kecewa kenapa Naura sampai membawa Bian ke kamarnya dan bercinta di sini.
Ponsel berdering saat suara Naura sudah tidak lagi didengar Cathy. Cathy meraih ponsel yang masih berada di atas kasur. Nomor tanpa nama terpampang di layar ponsel Cathy.
“Siapa lagi coba,” gumamnya sambil menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan.
“b******n! Bayar hutang Lo!” teriak seorang pria diseberang yang langsung membuat Cathy menjauhkan ponsel dari telinganya.