“Dean ... tolong aku ....”
“Cathy ...?”
“Iya Dean. Please tolong aku …,” mohonku dengan suara yang begitu mengiba dan sedikit mendramatisir suasana agar Dean mau menolongku.
Ah, baru saja jadi tunangannya semalam, kini aku sudah berani-beraninya meminta tolong pada pria kaya yang sekarang berstatus sebagai calon suamiku. Hanya saja, hal ini benar-benar penting dan otakku buntu, siapa lagi yang bisa aku mintai tolong selain dia.
“Ini Cathy Adelicia?” tanyanya menuntun. Sepertinya dia mengkhawatirkan aku.
“Iya Dean … iya. Aku Cathy Adelicia, bisakah kau menolongku sekarang,” ulangku kembali meminta pertolongan pada Dean.
“Kamu kenapa? Bagaimana aku bisa menolongmu kalau kamu di kereta, sedangkan aku di rumah. Aku sempat melihat kamu naik kereta, sekarang katakan apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja?”
Ah … Dean, tentu saja aku dalam kondisi super baik. Apa yang sebenarnya dia pikirkan sehingga suaranya terdengar begitu bergetar, tidak seperti saat kami bicara langsung tadi. Apa ini faktor signal atau ….
“Cathy? Are you okay,” ulangnya kembali bertanya saat aku hanya diam saja.
“Everything gonna be ok Dean, hanya saja aku lupa bawa desain gambarku. Bisakah kau memfoto dan mengirimkannya padaku.”
Terdengar helaan napas dari seberang, entahlah itu napas lega atau napas karena Dean menahan rasa kesal padaku.
“Kau meminta tolong seolah-olah dalam bahaya hanya untuk memintaku memfoto sebuah kertas? Kamu tahu aku hampir jantungan gara-gara ini!” geramnya.
Aku meringis sedikit merasa bersalah, tapi kertas itu benar-benar sangat penting untukku.
“Maaf,” desisku lirih.
“Aku tidak mau kamu seperti ini lagi, kamu bisa chat aku sebelum telepon dari pada meminta tolong seperti tadi, paham!”
Aku mengangguk, lupa kalau dia tidak mungkin bisa melihat karena aku meneleponnya lewat panggilan suara biasa bukan melalui panggilan video.
“Bodohnya lagi, aku langsung khawatir dan mengira kamu dalam bahaya, seperti dirampok, atau … ah sudahlah,” geramnya membuat aku benar-benar meringis dengan menggigit bibir bawahku.
“Maaf Dean, tapi itu sangat penting untukku … aku tidak mungkin minta tolong sama Mama karena kualitas foto kamera Mama tidak akan bisa mengambil gambar dengan sempurna,” rintihku dengan nada memohon agar kali ini dia mau menolongku.
“Oh my good Cathy, sepenting apa kertas itu hingga membuat aku harus ke rumahmu sekarang,” rutuk Dean yang sepertinya sama sekali tidak berniat untuk membantuku.
Aku hanya menghela napas, pada siapa lagi aku akan meminta pertolongan. Sam, aku baru teringat pada Samuel sahabatku. Mungkin dia bisa membantu kalau Dean bersikukuh tidak mau melakukannya padahal kertas itu akan menghasilkan pundi-pundi uang untukku.
Dia tidak akan tahu betapa berharganya goresan tangan yang aku tinggalkan karena dia terlahir dari kalangan keluarga yang serba ada sehingga sebuah kertas yang biasa dihargai satu juta oleh Nyonya Laudya mungkin tidak ada artinya untuk Dean.
“Baiklah, kalau kamu tidak bisa membantu … biar aku menelepon Sam untuk-”
“Aku akan melakukan apapun demi kamu Cathy! Tidak usah mengandalkan pria lain!” bentaknya langsung menutup telepon. Tentu saja hal itu membuatku bertanya-tanya apa Dean benar akan melakukan seperti yang aku mau atau ….
Sudahlah, aku yakin Dean akan ke rumah, biar aku telepon saja Mama terlebih dulu agar menyiapkan tiga lembar kertas yang tertinggal di meja belajarku saat masih bersekolah dulu. Setidaknya tiga desain bisa membuatku sedikit memiliki tabungan untuk kembali pulang dan mempersiapkan pernikahan dengan Dean karena semua uang yang aku dapat dari Nyonya Laudya sebelum pulang sudah berpindah tangan pada Mama yang langsung dia bayarkan untuk mencicil utang kami.
Hanya tinggal lima ratus ribu saja uang yang tersisa di dompet, itu karena aku mengandalkan tiga desain yang rencananya langsung akan diserahkan pada Nyonya Laudya besok. Setidaknya berapa pun Nyonya Laudya menghargai ketiga desainku, itu akan menambah uang makan untuk bertahan di sana selama tiga minggu sebelum aku pulang dan mengubur dalam-dalam semua mimpiku untuk terus berkarya menjadi seorang desainer batik ternama.
“Cathy ….”
“Iya, Ma. Cathy mau minta tolong sama Mama,” ujarku setelah mendengar suara sapaan Mama.
“Apa, Sayang?”
“Tiga gambar Cathy tertinggal di meja, Dean akan ke sana untuk memfoto ketiganya. Bisa Mama siapkan itu sebelum Dean datang?”
“Tentu Sayang, Mama akan siapkan. Jangan lupa kasih kabar kalau kamu sudah sampai,” pesan Mama sebelum aku mengucapkan terima kasih dan memutuskan panggilan.
Aku kembali memasukan ponsel ke dalam tas Selempang yang kupeluk erat sebelum memilih memejamkan mata menghabiskan sisa waktu perjalanan yang kurang lebih masih empat jam lagi. Kebetulan aku duduk bersama seorang ibu yang membawa serta kedua anaknya untuk menyusul sang ayah yang berada di kota. Dengan begitu, aman saja kalau aku terlelap sejenak karena mereka juga terlihat sama mengantuknya denganku.
Tak terasa dua jam aku terlelap, begitu membuka mata aku melihat sang ibu yang duduk tepat berhadapan denganku mengulas senyum yang jelas dia tujukan untukku.
“Dari tadi ponselnya bunyi, Mbak. Untung bunyinya tidak kencang,” katanya memberitahuku dengan menunjuk tas yang sedari tadi aku dekap erat.
Aku langsung mengambil ponsel dari dalam dan … astaga, sebegitu lelapnya aku tidur hingga melewatkan enam panggilan dari Dean. Dia juga mengirim ketiga foto yang aku minta dengan format Jpn. ‘Mampus,’ gerutuku membayangkan kekesalan Dean dari beberapa pesan yang dia kirimkan.
Aku segera meneleponnya meskipun Dean mungkin marah padaku karena merasa diacuhkan padahal dia sudah berusaha melakukan apa yang aku minta padanya.
“Cathy … setelah kamu menyuruh aku ke rumahmu dengan tenangnya kamu tidur?” geram Dean yang membuatku menjauhkan ponsel dari telinga.
“Sorry …,” desisku dengan menggigit bibir.
Tuan muda, anak dari konglomerat terkaya di wilayahku. Aku lupa status Dean, aku benar-benar harus mengingat hal itu agar tidak berharap terlalu muluk kalau Dean akan memperlakukan aku semanis oppa-oppa Korea pada pasangannya seperti Drakor yang sering aku tonton.
“Itu yang kamu butuhkan?” tanyanya kemudian.
“Iya ….”
“Ada lagi?” lanjut Dean dengan nada mulai melembut.
“Tidak, terima kasih ….”
“Jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai,” pesannya sebelum memutuskan panggilan secara sepihak.
‘Menyebalkan,’ sungutku tanpa suara. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasibku nantinya setelah menikah dengan Dean Demetria, sang Tuan muda. Semoga ada keajaiban yang bisa membuatnya bisa sedikit memperlakukanku dengan manis dan romantis sehingga aku bisa sedikit mencecap kebahagiaan saat berstatus sebagai istrinya.
Istri ….
Secepat itukah aku melepas masa lajang. Biarlah, toh aku akan menikah dengan pria tampan, gagah dan yang terpenting dia kaya. Setidaknya Nyonya Valeria sudah berjanji pada Mama akan melunasi semua utang-utang kami kalau aku dan Dean resmi menikah. ‘Hore ....’
[Cathy, kapan kamu balik ke butik?]
Sebuah pesan masuk dari Nyonya Laudya langsung aku balas, tapi jaringan internet di wilayah yang sedang dilewati kereta sepertinya kurang bagus, sehingga pesanku tidak terkirim. Aku memasukan ponsel kembali ke dalam tas setelah mengetik balasan pada Nyonya Laudya yang memberitahu keberadaanku sekarang.
Lima jam perjalanan kereta terlewatkan, aku pun turun di stasiun tujuan dengan hanya membawa tas gendong yang kosong tanpa isi. Itu sengaja aku lakukan karena pas pulang nanti, semua pakaian dan beberapa barang akan aku boyong pulang. Diizinkan atau tidak oleh Nyonya Laudya, aku harus tetap keluar dari butik karena di jari manisku sekarang melingkar sebuah cincin yang akan selalu mengingatkan aku kalau bulan depan aku akan menikah dengan Dean.
[Bagus, besok ada tamu spesial yang akan datang memesan sepuluh gaun untuk sebuah acara besar.]
Balasan dari Nyonya Laudya baru aku baca saat sudah berada dalam taksi online yang membawaku dari stasiun menuju butik Nyonya laudya yang berada di pusat kota.
[Siap.]
Baru saja aku menekan ikon untuk mengirim pesan balasan pada Nyonya Laudya, nama Dean kembali tertera dilayar.
“Sudah sampai?” tanya Dean.
“Masih di mobil, mungkin sepuluh sampai lima belas menit lagi aku sampai,” jawabku membuat Dean menghela napas.
“Harusnya aku tak mengizinkanmu kembali ke kota. Harusnya aku langsung saja meminta papi menikahkan kita.”
“Ha- Dean, are you okay?” selaku memotong kalimat yang sedari tadi tidak aku mengerti apa maksud Dean mengucapkan semua itu.
Tiba-tiba dia menelepon dengan nada suaranya yang berganti menjadi melankolis dan sok puitis. Padahal saat di kereta dia bicara dengan nada tinggi dan lantang saat aku ketiduran dan tidak menggubris pesan yang sudah dia kirim.
“I’m not okay,” desisnya.
“Tanpa alkohol dan tanpa kamu hidupku serasa hampa.”
“Hellow, kita tidak sedekat itu Dean,” protesku mengingatkan dia kalau kami baru mengenal satu hari saja dan tidak mungkin ketidak beradaanku di sisinya memberi efek sedahsyat itu.
“Setidaknya penampilanmu malam itu membuat aku terus membayangkan bisa membenamkan wajahku di dadamu.”
“s**t,” makiku yang langsung membuat Dean diseberang terkekeh.
“Kamu seksi sayang dan itu membuat imajinasi liarku tak terkontrol,” akunya.
Aku hanya bisa menggeleng mendengar penuturan Dean selanjutnya yang benar-benar membuatku semakin bertanya-tanya kalau calon suamiku ini tipe pria seperti apa. Sesaat aku merasa dia begitu manis, tapi tadi siang dia serasa menyebalkan dan sekarang aku menilai kalau dia benar-benar pria m*sum yang mengatakan dengan terang-terangan imajinasi liar yang berkeliaran di otaknya.
“Cukup Dean,” pintaku saat dia terus saja mengungkapkan semua imajinasinya gara-gara melihat penampilanku yang teramat menantang malam itu.
Aku kembali mendengar kekehan Dean. “Telepon aku kalau sudah sampai,” pintanya lagi sebelum kembali memutuskan panggilan sepihak tanpa aba-aba.
Benar-benar semena-mena dan tidak sopan. Setelah bicara panjang lebar, dia seenaknya memutuskan panggilan begitu saja. Namun, setidaknya aku tahu kalau malam itu aku membangkitkan gairah kelelakian Dean yang sempat hilang bertahun-tahun. Itu berarti aku harus siap untuk menjadi santapan singa lapar seperti dia saat kami menikah nanti.
Jam sembilan malam aku baru tiba di depan butik. Mobil Bian terparkir tepat di pintu gerbang belakang. “Ngapain Bian masih ada di sini,” gumamku sembari terus melangkah mendekati pintu belakang butik.
Pikiran negatif melintas begitu saja dalam otakku hingga aku pun berjalan mengendap-endap agar mereka tidak menyadari kedatanganku. Perlahan aku masukan anak kunci dan membuka pintu masuk. Baru satu kaki yang melewati pintu, aku bisa mendengar deru napas dan desahan dari mulut Bian maupun Naura.
Aku penasaran, sungguh aku tidak bisa membayangkan apa yang sebenarnya mereka lakukan hingga napas mereka terdengar begitu memburu dan desahan yang keluar dari mulut keduanya terdengar begitu vulgar di telingaku. Perlahan langkahku mendekat ke arah pintu kamar Naura yang tidak tertutup rapat.
“Bian … faster please. Aaahhhh ….”
“Nikmat Sayang ….”
“Nau … aku suka guamu … oh my b*tch love you so much,” erang Bian sambil terus menggerakan pinggangnya menghujam Naura yang terkungkung di bawah tubuh kekarnya.
“Naura ....,” desisku lirih dengan menutup mata dan langsung menjauh dari depan pintu Naura.
Aku langsung masuk ke dalam kamar dan langsung menguncinya rapat-rapat sebelum mereka berdua menyadari keberadaanku. Naura, sungguh aku tidak pernah berpikir dia bisa melakukan hal seperti itu di sini.
Aku tidak kuat melihat adegan dewasa di depan mataku. Padahal dalam layar kaca atau layar ponsel pun aku tidak pernah menyaksikannya. Dan kini, aku melihatnya secara real dan diperankan oleh sahabatku sendiri. Sungguh aku tidak mengerti apa yang membuat Naura jadi seperti ini.
Padahal aku selalu mengingatkan dia untuk tidak berhubungan terlalu jauh dengan Bian. Laki-laki hanya menginginkan kenikmatan sesaat dan menjanjikan cinta saat dia belum mendapatkan apa yang dia inginkan. Namun, saat kesucian kita terenggut olehnya, dia akan begitu mudahnya membuang kita bak sampah.
Kurang lebih seperti itulah kalimat yang selalu aku gaungkan kala memberi sedikit nasihat pada Naura, tapi ternyata pesona dan cinta Bian mungkin sudah membuatnya lupa daratan hingga bisa melakukan s*ks pra nikah.
Apa setiap malam mereka melakukannya di sini saat aku tidak ada? Naura mungkin berpikir kalau aku akan pulang besok karena aku berpesan pada Elsih akan pulang selama empat hari sehingga malam ini Naura membawa Bian ke sini karena tidak menyangka aku datang sekarang.
Ya ampun, apa yang tadi aku lihat benar-benar mengacaukan pikiranku. Aku langsung memutuskan untuk mandi agar bayangan Naura yang sedang mendesah nikmat di bawah kungkungan Bian segera hilang dari otakku.
Setelah mandi, aku baru ingat tidak membawa serta bungkusan nasi goreng yang aku beli saat menunggu taksi online di stasiun, aku meletakkannya di tempat sepatu di samping pintu masuk. Sebenarnya aku malas keluar, malas mendengar suara-suara aneh dari keduanya. Namun, rasa lapar membuatku memaksakan diri untuk keluar mengambilnya.
“Cathy …,” desis Naura menyebut namaku. Dia berdiri di depan pintu hanya memakai handuk yang melilit di badannya.
“Sorry, gue cuma mau ambil ini,” kataku yang langsung menyambar plastik kresek putih yang berisi sebungkus nasi goreng beserta sebungkus kerupuk di dalamnya.
“Cat, gue ….”