Terpesona

2012 Words
“Please Dean Ja-” Dia melangkah mundur, wajahnya benar-benar menyiratkan ketakutan. Aku semakin suka melihat ekspresi wajahnya. Sudah lama aku tidak merasakan sedikit pun ketertarikan pada wanita. Namun, saat bertemu dan melihat Cathy semalam. Penampilannya benar-benar membuatku terpesona, membangkitkan satu rasa yang telah lama hilang. Dia membuatku benar-benar b*******h, pasti akan menyenangkan kalau nanti kami sudah menikah. Aku yakin awalnya dia juga menolak perjodohan ini. Pakaian yang dia kenakan semalam cukup menjadi bukti kalau Cathy memiliki niat seperti itu. Mungkin dia berpikir Papa dan Mama akan membatalkan lamaran padanya jika melihat penampilan dia yang begitu terbuka layaknya seorang wanita penggod*. Bayangkan saja kulitnya yang putih dipadukan dengan dress yang merah menyala. Dress yang bagian dadanya tidak mampu menampung payudaranya hingga kedua bukit kenyal Cathy tersembul keluar dan aku malah menikmati sajian gratis sebagai awal pembuka pertemuan kami. Setelah menikah, bukan hanya mataku yang bisa menikmati keindahan tubuh Cathy. Aku juga bisa leluasa menikmati setiap jengkal kulit mulusnya. Aku bisa bebas meremas apapun bagian kenyal tubuh Cathy yang sudah sangat membuatku tersiksa hanya dengan melihatnya saja. Cathy, kau benar-benar membangkitkan serigala yang sudah tertidur lama. Kau harus tanggung jawab karena sudah membuat diriku meronta-ronta untuk segera menyesap kehangatan bercinta denganmu. “Dean kamu mau apa?” tanyanya dengan meletakan kedua telapak tangan di dadaku. “Aku mau kamu,” jawabku dengan seringai jahil yang membuatnya semakin meringsut ketakutan dengan punggung yang sudah mentok di tiang besar sehingga tidak bisa mundur sedikit pun. Aku suka dengan raut wajah takutnya yang disertai rona merah di wajah, dia juga terlihat jengah oleh tatapanku. Namun, ini terlalu mengasikan untuk diakhiri karena menggodanya begitu sangat menyenangkan. Aku menarik pinggangnya mendekat, tapi sebuah pengumuman dari pengeras suara yang menginformasikan agar penumpang kereta yang akan menuju Ibukota untuk segera bersiap-siap membuatku seketika menghentikan kejahilanku menggoda wanita cantik yang sebentar lagi akan kupersunting. “Aku bercanda sayang, maafkan aku,” bisikku diakhiri sebuh kecupan di pucuk rambut Cathy. “Tidak lucu, Dean,” cebiknya dengan bibir mengerucut. “Kalau bibirmu begitu, itu sudah jelas kamu godain aku.” Aku mengusap bibirnya dengan jemari, padahal rasanya bibir ini yang ingin mengusapnya langsung. “Boleh aku-” “Tidak Dean aku harus pergi sekarang juga. Terima kasih sudah mengantarku,” sela Cathy sembari mendorong badanku menjauh. Baik lah biar aku simpan dulu semua keinginanku terhadap tubuh Cathy. Aku harus menghormati pilihannya. Sebulan bukanlah waktu yang lama sehingga tidak masalah kalau aku harus lebih bersabar mengikuti kemauannya. Bukankah cepat atau lambat bukan hanya bibirnya yang bisa kuusap dan kusapu, bahkan semua tubuhnya bebas menjadi milikku. “Hati-hati, jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai,” pesanku sebelum melepas kepergian Cathy. “Siap, Bos. Kamu juga hati-hati bawa mobilnya. Salam buat Nyo … eh buat Mami dan Papi,” balasnya yang kembali akan memanggil Mami dengan sebutan Nyonya. Semalam Mami sendiri yang meminta Cathy untuk memanggilnya Mami dan mengganti panggilan Tuan dengan Papi. Dia akan menjadi menantu di keluarga Demetria. Jadi, tidak mungkin dia terus-menerus memanggil kedua orang tuaku dengan sebutan Tuan dan Nyonya. “Cathy …jangan terlalu lama di sana. Cepat lah pulang kembali,” rajukku masih berusaha menahan langkah Cathy. “Siap, Bos … bye.” Cathy segera berlari masuk setelah petugas memeriksa tiketnya. Aku tidak rela dia tinggalkan. Padahal baru sejenak aku merasa hidupku kembali b*******h setelah bertahun-tahun bertahan dengan prinsipku yang menutup diri untuk wanita. Sakit hatiku membuatku menjadi pria dingin dan jujur, aku sempat membenci makhluk bernama wanita, kecuali Mami. Naya, gadis itu benar-benar membuat aku muak dengan bangsanya. Naya, Begitu pandai bersandiwara hingga aku jatuh dalam jeratan tipu dayanya yang hanya menginginkan uangku saja. Aku pikir Naya mencintaiku saat dia dengan rela menyerahkan selaput daranya aku tembus. Aku kira naya hanya milikku saat hampir setiap minggu dia mendesah di bawahku saat kami bercinta di rumahnya yang selalu sepi setiap hari. Saat itu aku hanya remaja polos yang menikmati sajian tubuh Naya yang dia berikan padaku tanpa paksaan sedikit pun, bahkan aku sendiri saat itu tidak menginginkannya karena meskipun jadi anak dari orang terkaya di kotaku. Aku paling anti dengan dunia malam dan s*ks bebas. Naya lah yang mengajarkanku menikmati pergumulan panas dengan wanita. Naya begitu aktif menggodaku setiap saat hingga aku pikir dia menyerahkan kesuciannya karena cinta. Dia tidak menangis sedikit pun saat kehilangan keperawanan dan parahnya saat itu aku lah yang merasa menyesal dan berjanji akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan padanya. Padahal yang dia lakukan ternyata hanya demi materi dan uang. Dia tak ubahnya dengan p*lacur yang menjual dirinya padaku. Namun, diimbuhi dengan kedok cinta yang membuatku percaya dengan semua bujuk rayunya hingga apapun yang dia minta selalu aku kabulkan. Aku sangat menyesal pernah mencintainya. Cinta pertama yang menjadikan dia ratu hatiku, tapi ternyata dia justru menusukku dari belakang. Seandainya malam itu aku tidak memergokinya bersama Louis, mungkin sampai saat ini aku masih menjadi b***k cintanya. Aku selalu memberikan apapun yang Naya inginkan, bukan hanya uang, ponsel keluaran terbaru, perhiasan yang bisa aku ambil sesuka hatiku dari salah satu toko Papi dan juga barang-barang mahal yang tidak akan bertahan lama. Semua barang yang aku belikan tidak akan bertahan lama di tangan Naya, dia selalu beralasan kalau kalung … ponsel atau apapun itu diminta oleh orang tuanya dan dijual untuk kebutuhan hidup mereka. Oke, saat itu aku mencoba untuk paham karena Naya memang memiliki kedua orang tua yang hanya berprofesi sebagai buruh tani. Aku benar-benar menjadi budaknya yang teramat mencintai Naya hingga menutup mata dari semua kejanggalan prilakunya. Aku tidak pernah curiga sedikit pun saat Naya hanya mau aku temui di hari minggu pagi, pantas saja dia tidak pernah mau aku main ke rumahnya selain hari minggu pagi. Ternyata selain hari minggu, Naya akan bersenang-senang dengan Louis. Selain hari Minggu Naya akan berada di bawah kungkungan Louis, melakukan hal sama yang sering dia lakukan denganku. Jijik rasanya kalau mengingat aku menikmati tubuh Naya yang ternyata bekas orang lain. Jijik kala mengingat aku menyapu kulit tubuh yang bekas disapu lidah orang lain. Jijik, saat menyadari lubang kenikmatan milik Naya ternyata bukan hanya dijebol oleh tombak kejantananku. Aku merasa sakit hati mendalam saat tahu kalau bukan hanya aku yang membuatnya mengerang dan menyebut namaku berkali-kali saat badai kenikmatan menerjangnya. Bukan hanya aku yang selalu menyemprotkan cairan kenikmatan di atas tubuhnya. Sejak mengetahui hal itu, aku pun langsung meninggalkan dia tanpa alasan. Aku hanya mengirimkan foto dia sedang bergumul panas dengan Louis sebelum kepergianku ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan di sana. Ah … setiap mengingat tentang pengkhianatan Naya, aku semakin menyesal pernah dengan begitu bodohnya mencintai gadis murahan seperti Naya. Sudah lah, biar kututup rapat-rapat semua kenangan Naya. Toh, Papi sudah memilihkan seorang gadis yang jauh lebih baik dari Naya. Aku yakin dia baik meskipun di awal perjumpaan kami, dia memakai gaun yang begitu menantang dan menggoda, tapi tak terlihat sama sekali kalau Cathy w*************a. Apalagi Sam, sahabatku, meyakinkan kalau Cathy masih gadis alami, masih bersegel dan belum pernah sekalipun berpacaran. Beruntung sekali pria seperti aku bisa mendapatkan dia meskipun dia memang berasal dari keluarga miskin dan aku tidak tahu kenapa Papi dan Mami malah memilihnya. “Dean? Cathy sudah berangkat?” tanya Mami yang langsung berdiri menyambut saat melihat aku berjalan masuk ke dalam rumah. “Sudah.” Aku mengurungkan niatku menapaki anak tangga, sepertinya ada hal yang ingin Mami sampaikan. Aku pun memilih duduk di sofa kosong yang berada di depannya. Setidaknya aku harus berterima kasih untuk pilihan Mami dengan berusaha bersikap baik padanya mulai saat ini. “Good boy,” puji Mami. “Baru semalam sepertinya Cathy sudah mengubah anak Mami, apalagi kalau dia menjadi menantu Mami. Dia pasti akan membuat kamu mau untuk ….” “Mami tidak perlu berpikir terlalu tinggi, sampai kapanpun musik adalah hidupku. Aku sama sekali tidak tertarik mengurus semua toko emas Papi,” elakku. Aku yakin Mami akan berusaha membujukku untuk melanjutkan bisnis Papi, mengurus toko emas milik keluarga yang memiliki lima cabang di kota besar. Sungguh aku tidak tertarik, hal itu pasti sangat membosankan. Berbeda dengan kesibukan yang aku jalani sekarang. Yups, aku seorang guru musik di salah satu SMA terbaik di kota ini. sudah jelas penghasilanku bagai debu kalau dibandingkan dengan apa yang mungkin aku dapatkan kalau mau meneruskan usaha keluarga. Hanya saja aku benar-benar tidak tertarik harus terjebak dengan rutinitas yang jauh dari kata menyenangkan. “Kalau begitu Mami hanya berharap dapat banyak cucu darimu. Setidaknya mereka akan meneruskan bisnis keluarga kita,” ucap Mami yang hanya bisa aku tanggapi dengan tawa. “Menikah saja belum. Bagaimana bisa Mami sudah berpikir untuk memiliki banyak cucu.” “Bisa dong, istrimu akan mewujudkan keinginan Mami,” tegasnya begitu yakin kalau Cathy, calon istriku akan menuruti keinginannya. “Dia wanita baik, penurut dan yang jelas dia tidak begundal sepertimu,” sindir Mami seolah dia tahu banyak tentang Cathy. Pasti … Mami dan Papi tidak akan memilih wanita sembarangan untuk menjadi menantunya. Mereka mungkin tidak mempermasalahkan kasta kami yang berbeda. Hanya saja, Mami pasti akan memilihkan wanita baik-baik yang bisa dia setir agar menggantikan aku menjalankan semua kewajibanku sebagai pewaris tunggal keluarga Demetria. “Terserah Mami saja,” timpalku pasrah. Aku sudah berdiri dan berniat melangkahkan kaki menuju kamar. Namun, Mami melarang dan menyuruhku kembali duduk. “Jangan kabur, Mami belum selesai. Banyak hal yang perlu kita bahas untuk pernikahanmu.” “Aku manut Mami saja. Kali ini aku benar-benar akan nurut, seperti apapun pesta pernikahan yang Mami inginkan, aku setuju,” kataku tidak mau ribet dengan urusan pemilihan dekor, hiburan dan masalah lainnya. “Okay, berarti apapun yang Mami inginkan kamu setuju?” “Yup. Mami bebas memilih semuanya sesuka hati Mami.” Aku mengangguk dan mengacungkan kedua ibu jari sebelum bergegas menaiki anak tangga sebelum Mami kembali melayangkan pertanyaan untukku. Sampai kamar aku melihat sebuah pesan dari Samuel, dia kembali mengajakku untuk menikmati berbotol-botol alkohol di tempat nongkrong kami. Di gubug pinggir sawah dimana aku melihat Cathy mengayuh sepedanya sore itu dan berhenti sejenak untuk menyapa Samuel. Ah salah, saat itu bukan kali pertama aku bertemu Cathy. Pertemuan pertama kami adalah saat dini hari, ketika dia baru datang dari kota dan berdiri di tengah jalan. Aku sampai membanting stir motor agar tidak menabraknya. Kalau saja aku tahu dia gadis pilihan orang tuaku, sejak malam itu aku tak akan menyia-nyiakan waktu untuk mendekatinya. Terpesona, mungkin satu kata yang bisa menggambarkan perasaanku saat melihat Cathy. Nyatanya, di kegelapan malam pun dia tetap terlihat cantik. Kemolekan tubuhnya terlihat jelas meskipun tanpa lampu penerangan. Kalau saja malam itu bukan dia gadis yang menyebabkan aku dan motorku jatuh. Sudah kupastikan akan membuat dia menyesal berdiri di tengah jalan. Namun, sejak malam itu pun aku merasa terpesona. Pesona Cathy benar-benar tidak bisa kuelak sedikit pun. Sehingga aku memilih langsung pergi meninggalkannya. [No, Sam. Lo minum sama yang lain saja. Gue berhenti minum.] Sebuah pesan balasan langsung aku kirim pada Sam. Tentu saja pesan tersebut akan membuat Sam terbelalak kaget. Biarlah, aku sudah berjanji pada Cathy untuk berusaha menghindari Alkohol. “Dean, aku tidak suka alkohol. Bisakah kamu menjauhinya?” Kalimat yang diucapkan Cathy sebelum aku melajukan mobil menuju stasiun. Sebuah permintaan yang rasanya tidak masalah untuk aku kabulkan. Jadi, tentu saja aku akan mencobanya. Tidak mudah membuang kebiasaan yang sudah lama aku lakukan. Hanya saja aku juga tidak mungkin menolak begitu saja permintaan pertama Cathy. Cathy Adelicia, pesonanya membuatku kembali b*******h. Cathy Adelicia, aku yakin bisa berbahagia menjalani pernikahan dengannya. Apalagi Mami bilang dia gadis baik dan penurut. Rasanya dia tidak akan terlalu menyusahkanku dengan berbagai rajukan manja yang akan mengekangku. Sungguh aku menyesal selalu menolak gadis pilihan Mami kalau ternyata gadis itu adalah bidadari cantik seperti Cathy. Cathy memang hebat … dia mampu membuatku kembali jatuh hati pada wanita. Dia benar-benar memiliki magnet yang mampu menarik mata dan hatiku hingga langsung jatuh dalam pesonanya. Ponselku berdering, nomor tanpa nama yang memanggil. Biasanya aku malas meladeni nomor asing. Namun, kali ini entah kenapa aku langsung mengangkatnya. “Dean ... tolong aku ....” “Cathy ...?” Ada apa dia menelepon meminta tolong? Aku langsung bergegas duduk. Entah kenapa aku merasa begitu mengkhawatirkannya meskipun aku baru mengenalnya dua puluh empat jam saja. Aku tidak ingin ada sesuatu buruk terjadi dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD