“Dasar begundal!” maki Tuan shaqa dengan kedua tangan yang dia letakan di pinggang. Aku sudah berdiri dan bersiap untuk keluar, tapi tangan Mama mencekalku.
“Kalian sengaja mengikuti kami!” tuduhnya pada kedua pemuda yang berdiri tepat di hadapannya.
“Maaf Tuan, Saya ….”
“Sam?” tebakku sembari berjalan keluar saat mengenali suara sahabatku yang terdengar bergetar. Apalagi aku ingat sore kemarin Sam berjanji akan datang ke rumahku saat tubuhnya sudah wangi tanpa bau alkohol lagi.
“Sam, Kau kah itu?” tanyaku dengan mendekat ke arah mereka.
“Wouw, seksi,” puji pria yang berdiri di samping Sam saat melihatku yang kini berdiri di samping Nyonya Valleria.
Tatapan matanya terus memindai setiap lekuk tubuhku dan tak satu pun yang terlewatkan dari tatapannya. Dia mendekat selangkah ke arahku dengan mengulurkan tangannya.
Siapa pria tampan yang datang bersama Sam ini, rasanya aku tidak pernah bertemu sekali pun dengannya, tapi dia seolah mengenaliku. Apalagi pria itu malah melangkah mendekatiku dengan senyum yant tak pernah lepas dari wajahnya. Senyum yang tidak bisa aku artikan karena matanya jelas mengekspos seluruh tubuhku yang sengaja aku pampang malam ini.
“Hai cantik, perkenalkan, aku calon suamimu,” katanya dengan seringai jahil saat mengulurkan tangan padaku.
“Calon suami?” tanyaku sembari menegok ke arah Nyonya Valleria yang kini menatapku dengan melempar senyum yang begitu manis seraya menganggukan kepala seolah dia menegaskan kalau pria di depanku adalah putranya.
“Chairi Dean Demetria, putra tunggal keluarga Demetria. Anak semata wayang dari Papi Shaqa dan Mami Valleria yang datang ke sini melamarmu untukku,” ucap Dean masih dengan tangan yang terulur menungguku untuk menjabat tangannya.
“Cathy Adelicia,” balasku menyebutkan nama dan menjabat tangannya.
Oh, jadi dia yang bernama Dean. Dia yang nantinya akan menikah denganku. Tanpa sadar aku pun balas memindai Dean dari ujung rambut hingga ujung kaki, aku ingin memastikan kalau dia tidak memiliki cacat ditubuhnya yang membuat Dean sampai harus dijodohkan dengan putri dari janda miskin sepertiku.
Tidak ada masalah, Dean terlihat sempurna untuk ukuran seorang laki-laki. Apalagi selain tampangnya yang mirip dengan Serkan Cayoglu, artis Turki favoritku, dia juga pewaris tunggal dari semua harta keluarga Demetria. Rasanya aku ketiban pulung malam ini. Tampan dan Kaya, kurang apalagi Dean … aku pun tersenyum ke arahnya sebagai pertanda kalau niat awalku yang terpaksa menerima perjodohan ini sudah berganti dengan sangat beruntung menuruti permintaan Mama untuk pulang dan bertemu pria tampan sepertinya.
“Jadi dia, gadis pilihan yang kalian maksud?” tanya Dean yang kini beralih menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
“Bukannya Papi sudah bilang kalau kau akan berubah pikiran jika sudah bertemu dengannya,” timpal Tuan Shaqa yang sedikit membuatku menebak kalau Dean sempat menolak perjodohan ini, sama sepertiku.
“Yes, of course. I will marry her, She is so sexy,” ucapnya dengan tatapan layaknya singa lapar yang hendak menerkamku.
Seketika aku menyesal memilih gaun yang kukenakan sekarang. Tujuanku membut tuan Shaqa dan Nyonya Valleria membatalkan lamaran ini justru gagal karena kedatangan Dean yang langsung tertarik melihat keseksian lekuk tubuhku.
Aku seolah menjadikan diriku sendiri sebagai mangsa Dean dengan sengaja berpenampilan layaknya seorang b*tch di hadapannya. Semua sudah kepalang tanggung, tidak mungkin juga aku menggnti baju dadakan karena semuanya tetap sudah terjadi.
‘Damn it!’ makiku pada diri sendiri.
Meskipun begitu, tak bisa aku pungkiri kalau Dean dan aku akan menjadi pasangan paling serasi, tinggi kami hampir sama, wajah tampan Dean setidaknya akan membuat beberapa wanita menatapku iri bisa bersanding dengan pria tampan nan kaya di hadapanku ini.
“Mari Tuan, Nyonya, kita masuk ke dalam,” ajak Mama dengan sesekali menengok ke kanan dan kiri rumah. Karena entah kenapa sedari tadi memang terlihat banyak orang yang tiba-tiba berjalan kaki lewat di depan rumah kami.
Aku pun memang bisa melihat kekepoan para tetangga kami melihat tuan Shaqa, Nyonya Valleria dan putra tunggalnya berdiri di depan rumah kami. Padahal mobil mewah yang membawa tuan Shaqa dan istrinya sudah tidak berada di sana. Namun, kehadiran orang terkaya yang paling mereka hormati di rumah Mama yang mereka sebut si janda miskin. Tentulah menjadi tontonan menarik yang akan menjadi topik perbincangan hangat untuk beberpa pekan ke depan.
Biarlah mereka heboh dengan aktivitas berguncing yang tidak berfaedah, toh apapun yang terjadi. Tuan Shaqa malah memilih aku untuk anaknya. Bukan memilih putri dari keluarga mereka yang selalu julid pada aku dan Mama
“Dean … inilah Cathy Adelicia, gadis pilihan Mamimu. Kami datang ke sini untuk melamarnya meskipun kamu tadi sore menolak permintaan Papi,” ujar Tuan Shaqa membuka obrolan setelah kami semua berada di dalam rumah dan duduk melingkari hidangan seadanya yang sudah disiapkan Mama.
“Jadi, apa kamu masih menolak untuk menikahinya atau-”
“Tidak Pi, aku tidak pernah berkata kalau menolak untuk dinikahkan dengan wanita secantik dan seseksi Cathy,” sela Dean memotong kalimat Tuan Shaqa dengan lirikan matanya yang terasa menghujam jantungku.
“Lihat Mam, anakmu langsung jatuh hati pada gadis pilihanmu. Papa rasa, Cathy nantinya bisa sedikit menjinakan Dean,” sambung Tuan Shaqa disertai tawa yang begitu renyah menyindir Dean yang sempat menolak perjodohan ini.
“Papi, aku bukan Singa atau macan yang harus dijinakkan. Tolong jangans amakan aku dengan binatang buas,” protes Dean pada Tuan Shaqa. Padahal aku merasa kalau Dean memang seperti singa lapar yang sudah siap menerkamku.
“Kamu menolak disebut Singa atau macan, tapi sorot matamu itu terlihat begitu tidak sabar untuk menerkam Cathy,” sindir Tuan Shaqa seolah bisa membaca apa yang ada dalam pikiranku.
“Papi … katakan pria mana yang tidak tergoda padanya. Dia cantik, seksi, bibirnya sensual dan ….” Mata Dean mengarah ke dadaku dan aku pun reflek menyilangkan tangan menutupnya.
“Percuma Cathy, aku sudah melihatnya sedari tadi, bahkan aku sudah berkhayal jauh karena melihatnya tersembul dan meronta karena kemben yang kamu kenakan kurang menampung besarnya,” celetuk Dean yang membuat wajahku langsung terasa panas.
Aku malu, seandainya aku tahu kalau Dean juga akan datang ke rumah ini. jelas aku tdiak akan berpakaian seperti ini. Mama hanya bilang kalau Tuan Shaqa dan Nyonya Valleria yang datang, makanya aku memiliki ide gila ini agar mempengaruhi penilaian mereka supaya berakhir dengan digagalkannya niat taun Shaqa melamarku untuk Dean.
“Sabar Dean … kamu akan memiliki dia seutuhnya jika kalian sudah menikah nanti,” sahut Tuan Shaqa yang membuatku sedikit bernapas lega karena dia tidak membahas lebih lebar gaun yang aku kenakan malam ini.
Aku melirik ke arah Sam yang duduk di samping Dean, entah kenapa sedari tadi dia hanya diam tanpa berkata apapun. Padahal setahuku Sam paling aktif bicara, tapi malam ini aku menangkap sorot kecewa dari matanya. Aura wajahnya juga terlihat tidak seceria tadi ssore. Apa karena pengaruh alkohol sehingga sore tadi dia terlihat begitu ceria, tidak sendu seperti sekarang.
“Martina, berhubung Dean sudah setuju dengan pertunangan ini. Maka aku, dan istriku datang ke sini untuk melanjutkan niat kami yang sudah terlebih dulu disampaikan Valleria padamu.”
Tuan Shaqa melirik istrinya, kemudian aku lihat Nyonya Valleria mengeluarkan sebuah kotak berbentuk hati warna merah yang bisa aku prediksi berukuran sekitar sepuluh kali sembilan centi meter.
“Kami datang ke sini untuk melamar putrimu Cathy Adelicia untuk putra tunggal kami Chairi Dean Demetria,” sambung Tuan Shaqa yang disertai gerakan tangan Nyonya Valleria membuka kotak perhiasan di tangannya.
“Tuan, Nyonya … saya sangat tersanjung dengan niat dan kedatangan Tuan dan Nyonya Demetria ke gubug saya. Apalagi Tuan datang untuk melamar putri saya, sungguh saya tidak bisa berkata apapun mendapat kehormatan seperti ini dari keluarga Demetria. Namun, untuk perihal lamaran Tuan dan Nyonya, Cathy lah yang akan menjawabnya,” tanggap Mama dengan suara yang begitu halus dan lembut.
Kini Mama menatapku, netranya seolah berharap penuh kalau aku akan menerima lamaran ini. tentu saja, aku tidak akan mengecewakan Mama. Apalagi sudah aku katakan tadi kalau aku beruntung mendapatkan pria paket lengkap seperti Dean yang tampan juga mapan.
“Bagaimana, Cathy … apa kamu menerima lamaran mereka?” tanya Mama.
Aku mengangguk dan ucapan syukur penuh rasa bahagia pun terlontar dari bibir Mama.
Cincin pertunangan sudah melingkar di jari manisku, Dean sendiri yang memakainya. Aku pun melakukan hal yang sama memasangkan sebuah cincin di jari manisnya sebagai tanda kalau kini kami terikat pada sebuah pertunangan. Langkah awal menuju pernikahan yang mungkin akan mengubah kehidupanku.
Aku ralat, tentu saja hal itu bukan hanya akan mengubah kehidupanku. Namun, juga kehidupan Mama dan cara pandang keluarga dan para tetangga kepada kami si miskin. Kecantikan dan keseksian tubuhku benar-benar membawa suatu keberuntungan hingga aku dipinang oleh pewaris tunggal keluarga Demetria.
Persetan dengan cinta, aku yakin seiring waktu berjalan, aku pun akan terbiasa berada di dekat Dean dan mungkin tidak akan sulit menumbuhkan benih-benih cinta untuk pria tampan yang begitu berkharisma seperti Dean.
Nyonya Valleria juga menyerahkan kotak perhiasan padaku. Sebagai tanda awal pemberian dari keluarga mereka. Awal … dan sudah terlihat mewah. Aku bsia membayangkan bagaimana saat sudah menajdi bagin dari keluarga mereka.
Meskipun aku baru tahu dari Sam semalam kalau ternyata kedatangan Dean ke rumahku awalnya hanya mengantarkan Sam untuk sekedar mengunjungiku. Namun, hal itu justru menjadi acara pertunangan dadakan yang hanya dihadiri keluarga inti dan Sam, sahabatku yang menjadi photograper dadakan semalam.
“Cathy, apa yang membuatmu menerima lamaran keluargaku?” tanya Dean yang pagi ini mengantarkanku menuju stasiun kereta.
Aku memang kembali lebih awal, tidak seperti cuti yang sduah aku ajukan pada Nyonya Laudya. Esoknya aku memilih langsung pulang sebelum mendengar aneka gosip yang dihembuskan para tetangga.
Apalagi aku juga harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda sebelum pernikahan aku dan Dean dilangsungkan bulan depan. Yups, tiga puluh hari cukup untuk keluarga mereka mempersiapkan pernikahan kami yang sudah kutebak akan memakan dana ratusan juta.
“Mama … Mama yang menyuruhku menerima lamaran dari orang tuamu,” jawabku jujur.
“Lantas kenapa Mama menyuruhmu menikah denganku?” tanyanya lagi.
Tentu saja aku mengangkat kedua bahuku, aku bukan Mama. Aku memang tidak tahu alasan apa yang membuat Mama menyuruhku untuk menerima lamaran keluarga Demetria selain karena dia tidak tahan aku terus digunjingkan orang-orang.
“Mama hanya ingin orang-orang berhenti membicarakan semua fitnah yang sudah tersebar yang menuduhku menjadi seorang pelac*r di kota,” jawabku dengan kekehan yang menertawakan diriku sendiri.
“Hanya itu?” tanyanya seolah sedang menyelidiki sesuatu.
“Hanya itu yang aku tahu. Mama yakin kalau mereka akan berhenti membicarakanku kalau aku menikah dengan anak Nyonya Valleria,” tegasku membuat dia melemparkan sebuah senyum kecut. Namun, tetap membuat wajahnya terlihat tampan.
Padahal selain itu aku tahu perjanjian Mama dan Nyonya Valleria. Hanya saja Dean memang tidak perlu tahu itu karena aku tidak ingin dia mengecapku matrealistis meskipun nyatanya memang begitu, salah satu alasanku menerima lamarannya karena keluarga Dean memang kaya.
“Kamu cantik Cathy,” pujinya dengan senyum merekah yang membuat mataku enggan beralih dari wajah tampannya.
Shit, aku sudah beberapa kali terpesona dan memuji ketampanan Dean, padahal belum 24 jam aku mengenal seorang Chairi Dean Demetria.
“Cathy katakan kalau Mamamu menerima perjodohan ini bukan karena harta?” tanyanya dengan tatapan yang kini beralih lurus ke depan.
“Ah kalau soal itu, kamu bisa tanyakan pada Mama langsung. Aku pribadi sangat tidak tertarik dengan harta milikmu dan keluarga Demetria yang kata orang-orang, kekayaan kalian tidak akan habis dimakan tujuh turunan,” elakku dengan tertawa ringin yang berhasil mambuat Dean juga ikut tertawa.
Tangan kirinya terulur mengusap rambutku, glesar aneh merayap di d*da. Tidak, kau tidak boleh takluk begitu cepatnya pada Dean. Biarlah dia yang memujaku terlebih dulu.
“Aku akan merindukanmu,” bisik Dean di telingaku saat mobilnya terhenti di parkiran stasiun.
Debaran jantungku tak menentu, wajah tampan Dean begitu jelas di hadapanku, bibirnya begitu manis. God, masa aku harus menciumnya terlebih dahulu.
“Please, jangan sedekat ini,” kataku mendorong d**a Dean agar menjauh.
“Tapi aku ingin selalu dekat denganmu, Cathy,” desisnya lirih dengan hembusan napas yang terasa hangat menerpa wajahku.
Aroma seger mint dari mulutnya semakin membuatku merinding. Oh God, kebapa kau ciptakan makhluk setampan Dean. Mana aku tahan diperlakukan semanis ini olehnya.
“Aku terpesona dengan kecantikanmu, keseksianmu. Sungguh rasanya tak sabar menunggumu mendesah di bawahku.”
Plak.
“Aw, sakit, Beib,” pekik Dean saat menerima tamparan telapak tanganku di lengannya.
“kamu mau ikut turun mengantarku?” tanyaku sembari melepas seat belt untuk segera turun dari mobil Dean. Bukan turun, mungkin lebih tepatnya kabur.
Aku tak ingin terlalu lama berdua dengan Dean. Otakku tak sinkron, ingin menolak bujuk rayunya pun percuma karena pada dasarnya aku juga menginginkan hal yang sama. Aku pun tergoda untuk menerima cumbuan Dean.
“Cathy,” desis Dean dengan tangannya yang melarangku untuk membuka pintu mobil.
“I wanna kiss you, please,” bisik Dean dengan sapuan napasnya yang begitu hangat menerpa kulit wajahku.
Rasanya aku ingin menjerit untuk menjawab, Yes pleas kiss me, Beib. Tidak! Otakku masih waras meskipun sebagian diriku sudah terpesona dengan Dean. Akhirnya kepalaku menggeleng sebagai jawaban dari permintaan Dean.
“Kamu bukan hanya bisa menciumku. Kamu pun bebas mencumbuku saat kita sudah sah menjadi sepasang suami istri,” jawabku dengan segera membuka pintu mobil dan kabur dari situasi yang membuat debar jantungku tak menentu.
Kabur. Yupz, hal itu yang aku lakukan. Seburuk apapun penampilanku, aku tetaplah anak gadis Mama yang selalu mengingat semua pesannya untuk tetap menjaga diri dan kesucianku hanya untuk pria yang menikahiku.
Aku lihat Dean ikut turun dari mobil dan menyusulku, dia segera menggandeng tanganku memasuki stasiun kereta.
“Jagalah dirimu hanya untukku, Cathy Adelicia,” bisiknya di telingaku saat kami sudah berdiri di depan pintu masuk khusus penumpang.
“Tentu Dean. Bersabarlah, aku akan kembali setelah menyelesaikan semuanya,” janjiku pada Dean. Sebuah janji yang aku ucapkan sungguh-sungguh. Padahal sebelumnya aku terpaksa pulang dan memenuhi permintaan Mama.
“Mana ponselmu,” pinta Dean. Aku mengambil ponsel di tas dan menyerahkannya.
“Buka,” perintahnya lagi. Aku pun meletakan telunjukku untuk membuka ponsel yang terkunci.
Aku melihat dia mengetik sesuatu. Sepuluh digit angka yang diberi nama My Love.
“Jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai,” pintanya sembari menyerahkan ponsel kembali padaku. My Love. Oh, God, lebay banget dia.
Rasanya, tampang dia tidak pantas sebucin ini padaku, tapi biarlah. Bukankah aku memang berharap dia yang memujaku terlebih dulu.
“Siap My love,” jawabku dengan senyum termanis yang membuatnya menahan gemas dengan tingkahku. Aku memang sengaja menggodanya dengan sedikit menjulurkan lidah setelah mengucapkan kata My Love.
“Oh Cathy please aku ….”
Dia benar-benar menarik tanganku dan membawaku ke sebuah tempat yang sedikit tersembunyi dari lalu-lalang orang. Di balik tiang besar dia mengungkung tubuhku dengan kedua tangan kokohnya. Jantungku berdebar kencang tidak tahu harus bagaimana menghindar dari Dean sekarang.
Sekali lagi aku menyesal suah menggodanya padahal aku tahu kalau tanpa digoda pun Dean memang sudah tergoda. Kini aku hanya bisa mengiba meminta belas kasihannya agar mau melepaskanku.
“Dean No!” mohonku saat melihat wajahnya semakin mendekat.
Boleh tidak sih aku sedikit melupakan sejenak pesan Mama agar tidak coba-coba untuk berciuman sebelum menikah. Lagian kami sudah bertunangan. Rasanya tidak masalah kalau aku memberikan my first kiss pada Dean.
“Aku tidak tahan Cathy, salah sendiri kamu sudah menggodaku,” sahut Dean dengan suara yang malah terdengar seperti desahan.
“Please Dean Ja-”