Siapa Cowo Itu?

1067 Words
Tatapan mata tajam tampak terlihat dipendar netra Devan saat melihat Kiran sedang berbincang sangat dekat dan seru dengan seorang cowok yang merupakan mahasiswa di kampus. Bahkan Devan mengepalkan kedua tangannya berusaha menahan emosi yang mulai menyelimuti di dalam dirinya dengan pemandangan yang dilihat oleh dirinya pagi ini. Devan menghela nafas berkali-kali berusaha untuk menenangkan diri dan mengendalikan emosinya kali ini. Namun Devan merasa tidak mampu melakukan semua hal itu sehingga laki-laki tampan itu memutuskan untuk memutar badan dan pergi meninggalkan tempat itu menuju ke ruangannya untuk menenangkan diri lagi. “Kiran.. Kamu dipanggil pak Devan ke ruangannya,” ucap Dina yang tampak berbicara dengan nafas tersengal. “Aku dipanggil dosen killer itu? Sekarang apa besok?” Kiran membalikan pertanyaan tanpa menjawab ucapan Dina. Decakan kesal terdengar dari mulut Dina dengan kalimat yang keluar dari bibir Kiran. “Sekarang Kiran. Mana ada pak Devan manggil mahasiswa besok. Kamu tahu bagaimana pak Devan kan? Kalau kamu dipanggil pak Devan itu artinya sekarang. Bukan besok,” jawab Dina dengan nada kesal. Kiran tertawa melihat ekspresi salah satu teman satu kelasnya di kampus. Sedangkan Dina menautkan kedua alis melihat sikap Kiran yang masih tampak santai dan tidak bergeming dari tempatnya hingga detik ini. “Kenapa kamu ketawa gitu? Kenapa kamu masih di sini?” tanya Dina dengan nada sedikit tinggi dan kesal. “Kamu lucu. Aku yang dipanggil dosen killer. Kenapa kamu yang takut dan panik gitu?” jawab Kiran dengan nada santai dan sedikit meledek. “Gimana aku tidak panik dan takut. Kita tahu bagaimana pak Devan kan? Kalau kamu terlalu lama ketemu pak Devan di ruangannya yang kena aku nanti. Aku yang disuruh pak Devan panggil kamu kan?” sambung Dina sembari memberikan penjelasan kepada Kiran. “Kamu tenang saja Din. Pak Devan tidak akan marah sama kamu. Kalau pak Devan marah sama kamu. Aku akan bela kamu nanti. Ok,” seru Kiran dengan penuh percaya diri. “Aku tidak mau mendengar semua penjelasan kamu, Kiran. Aku minta tolong sama kamu cepat datang ke ruangan pak Devan. Aku mohon sama kamu. Demi aku,” pinta Dina dengan nada memohon. Kiran yang merasa tidak tega kepada Dina lantas melangkahkan kami pergi meninggalkan Dina dan Andrian tanpa mengeluarkan satu patah kata pun. Kiran berjalan dengan langkah yang sangat malas dan sedikit kesal menuju ke ruangan dosen killer di kampus itu. “Ada apa Anda memanggil saya untuk datang ke ruangan ini?” tanya Kiran tanpa basa basi dengan nada kesal setelah berada di dalam ruangan Devan yang luas. Devan yang sedang memeriksa tugas dan laporan mahasiswanya lantas mengangkat kepalanya dan menatap ke arah wanita cantik yang sedang berada di depan meja kerjanya saat ini. Devan meletakan tinta di atas meja lalu beranjak dari tempat duduknya. Devan berjalan dengan langkah dan tatapan tegas ke arah Kiran yang sedang menatap dirinya dengan tatapan kesal kali ini. “Siapa cowo tadi?” tanya Devan dengan nada tegas dan sedikit emosi. “Kenapa Anda bertanya kepada saya? Bukannya Anda tahu itu salah satu mahasiswa di kampus. Jadi jawaban saya juga tidak penting kan buat Anda?” Kiran bertanya balik tanpa mempedulikan ucapan Devan. “Apa hubungan kamu dengan cowo itu?” tanya Devan lagi dengan nada sedikit tinggi dan emosi yang mulai naik setelah mendengar ucapan Kiran. “Saya rasa pertanyaan Anda tidak perlu dijawab karena bukan urusan Anda juga kan?” tanya balik Kiran lagi. Devan yang mulai terpancing emosi dan rasa kesal lantas melangkahkan kaki untuk mengurangi jarak dengan Kiran yang berada di hadapan dirinya. “Apa hubungan kamu dengan cowo itu?” tanya Devan lagi berusaha menurunkan nada bicaranya. Kiran tertawa mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir Devan. Ya. Kiran merasa sangat lucu dengan kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir Devan kali ini. Sedangkan, Devan menautkan kedua alis masih dengan tatapan tajam ke arah Kiran saat melihat mahasiswinya itu tertawa meledek dirinya saat ini. “Kenapa kamu tertawa? Kamu menertawakan saya?” tanya Devan dengan nada kesal lagi. “Bagaimana saya tidak menertawakan Anda. Katanya Anda orang yang cerdas dan lulusan luar negeri dengan nilai yang tinggi. Cumlaude. Tapi kenapa Anda memberikan pertanyaan bodoh kepada saya?” jawab Kiran masih dengan nada santai tanpa rasa takut sedikit pun dengan tatapan intimidasi dari Devan. “Pertanyaan mana yang bodoh dari saya?” tanya Devan sedikit bingung. Kiran yang mulai merasa malas berada di ruangan dosen itu lantas memutuskan untuk menjawab pertanyaan yang tidak berguna bagi dirinya. “Cowo yang bersama saya itu mahasiswa Anda. Anda juga mengajar kelas cowo itu kan?” jawab Kiran. Decakan lidah kesal keluar dari bibir Devan setelah mendengar jawaban yang diberikan oleh Kiran. Tatapan tajam diberikan oleh laki-laki tampan yang merupakan dosen paling killer di kampus saat ini. “Bukan itu maksud dari pertanyaan saya. Saya ingin tahu hubungan cowo itu sama kamu?” ucap Devan. “Wah.. Kalau itu rahasia. Pak Devan tidak ada hak untuk tahu dan ikut campur urusan pribadi saya. Ok,” balas Kiran dengan nada santai. “Saya mamilki hak untuk tahu kehidupan pribadi kamu karena saya calon suami kamu. Kita akan menikah dalam waktu dekat ini alias sebentar lagi. Apa kamu paham,” sambung Devan dengan nada tegas memberikan penjelasan kepada Kiran. Kiran terkekeh dengan jawaban yang diberikan oleh Devan. Ya. Kiran merasa pertanyaan Devan sangat tidak masuk akal. Kiran bahkan merasa tidak percaya jika laki-laki yang berprofesi sebagai dosen dan terkenal dingin itu mengucapkan kalimat seperti itu. Kiran merasa Devan seperti anak kecil saat ini. “Pak Devan si dosen killer yang terhormat. Kita belum menikah. Kita belum resmi sebagai suami istri. Kita baru calon istri dan suami kan? Pak Devan juga belum menjadi suami sah saya dan sebaliknya. Jadi tidak ada hak pak Devan ikut campur urusan pribadi saya. Jika kita jadi menikah nanti. Pak Devan juga tidak memiliki hak untuk ikut campur urusan pribadi saya dan mengatur saya karena pernikahan kita itu tidak ada cinta sama sekali. Pernikahan itu keinginan pak Deva. Bukan keinginan saya. Apa pak Devan paham dengan ucapan saya tadi?” Kiran memberikan jawaban panjang lebar kepada Devan dengan harapan laki-laki itu mengerti maksudnya dan tidak membahas pertanyaan bodoh lagi seperti tadi. Devan tercengang mendengar jawaban yang diberikan oleh Kiran. Ya. Devan benar-benar tidak menyangka jika wanita cantik yang terkenal sebagai mahasiswa bar-bar itu akan menjawab pertanyaan dari dirinya dengan ucapan yang sedikit menohok kali ini. "Kita memang belum menikah secara resmi hari ini. Tapi saya pastikan kamu akan menjadi istri saya secara resmi besok!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD