Dua Hari sebelum resign. Sudah setengah jam lebih Laura berada di kamar mandi apartemennya. Perasaannya kacau. Hampir lima belas menit lebih Laura memegang alat tes kehamilan itu, ia memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menarik napas dalam-dalam, tidak berani melihat alat tes tersebut. Ia takut pada kebenaran yang akan terpampang di depan matanya.
Tangannya bergetar. Tubuhnya panas dingin memegang alat tes itu. Perasaannya kacau mengetahui dirinya telat datang bulan hampir empat puluh hari lamanya. Laura selalu menghitung dan mencatat rutin kesuburannya di kalender. Rasanya tidak percaya mengetahui ketelatan menstruasinya itu. Awalnya Laura berpikir itu hanya kesalahan saja. Laura mungkin hanya lelah dan terlalu banyak kerja sehingga mengakibatkan dirinya telat datang bulan. Namun, ia tidak yakin mengingat kejadian malam itu ketika pesta ulang tahun perusahaan tempat dirinya bekerja.
Laura menguatkan hatinya untuk membulatkan keputusan membeli alat tes kehamilan. Ia masih memejamkan matanya berharap perasaannya salah. Semua yang terjadi hanya kesalahan pada penyakit yang dimiliki wanita. Ia mengangkat tangannya yang memegang tespack. Perlahan, matanya terbuka, dan pandangannya terarah pada alat tes di tangannya. Napasnya tercekim di tenggorokan, tidak bisa ke luar dari bibirnya. Matanya terbeliak, jantung berdetak sangat kencang. Tangannya gemetaran memegang alat tes itu.
"Ini tidak mungkin," ucapnya parau.
Laura masih tidak percaya apa yang ia lihat. Sebelumnya, ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Tetapi, hatinya terus menyangkal kemungkinan itu. Namun, kali ini tanda positif terlihat sangat jelas. Dua garis merah terpampang nyata di depan matanya. Ia hamil! Perasaan Laura tidak karuan. Takut, panik dan bingung bercampur jadi satu. Ia masih berharap bahwa tanda positif yang tertera di
tespack hanyalah khayalannya.
Apa yang harus dilakukannnya sekarang? Ia tidak mungkin hamil di saat seperti ini. Ini pasti sebuah kesalahan. Alat testpack itu pasti tidak bekerja dengan baik. Ia berharap semua ini hanya sekedar mimpi. Hatinya semakin gelisah.
"Pasti alat ini ada yang salah," jeritnya tak kuasa.
Laura memejamkan matanya berharap ini hanya mimpi. Ia memberanikan dirinya kembali menatap alat tespack itu lagi. Namun, alat tespack itu semakin jelas terlihat di depan matanya. Laura kini sadar ia tidak sedang bermimpi. Ini kenyataan!
Tangannya gemetar hebat tak terkendali hingga tespack lepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai kamar mandi. Hatinya semakin kacau.
Bagaimana ini? Laura belum siap memiliki anak. Masih banyak cita-cita yang ingin ia gapai. Ia masih sangat muda, tidak mungkin Laura menjadi seorang ibu. Umurnya baru dua puluh lima tahun, masa depan masih menantinya. Ia ingin menjelajah hidupnya lebih luas. Hamil? Memanglah impian setiap wanita. Tetapi, tidak pada saat ini! Saat dirinya sedang bersemangat dan bersungguh-sungguh dengan pekerjaannya. Laura adalah sekretaris dan wanita yang mapan dan pintar. Laura masih ingin berkarir dan membangun impiannya menjadi pengusaha, memiliki toko kue dengan banyak cabang. Jika ia melepaskan pekerjaannya hanya karena hamil, ia tidak akan mempunyai kesempatan lagi.
Bagaimana caranya membesarkan anaknya seorang diri? Selama ini Laura hanya memiliki saudara laki. Kedua orangtuanya sudah tiada sejak mereka di bangku sekolah dasar. Laura dan kakaknya besar di panti asuhan tanpa memiliki sanak saudara. Tujuan hidup Laura hanya satu, dapat hidup layak dengan hasil keringat sendiri.
Air mata Laura mulai mengalir deras. Ia menangis sesenggukan tak berdaya. "Tuhaaan! Kenapa engkau tidak adil denganku," lirihnya kecewa. Laura tidak sanggup.
Ia terus menangis sesenggukan. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucapnya emosi dalam kesedihan.
Ia tak kuasa. Emosi tangisnya pecah. Laura merenung. Ia tidak mungkin aborsi. Aborsi sangat keji dan tidak manusiawi. Sama saja Laura pembunuh jika melakukan perbuatan biadab tersebut. Mengatakan kepada lelaki yang sudah menghamilinya lebih tidak mungkin. Lelaki itu sudah bertunangan, bahkan wanita tunangannya pun Laura sangat mengenalnya. Laura merutuki kebodohannya! Kenapa ia bisa terlena terperangkap tidur satu malam dengan lelaki itu. Kalaupun Laura terpaksa mengatakan dirinya hamil. Laura juga sudah menduga, lelaki itu tidak akan mengakui bayi ini, apalagi untuk bertanggung jawab. Pasti lelaki itu akan meminta Laura untuk menggugurkan kandungannya.
"Aku tidak mungkin menggugurkan bayi ini. Dia tidak bersalah. Aku harus menjauh dari orang-orang yang mengenalku." Laura mulai berpikir jernih.
Laura bangkit dari toilet dan ke luar dari kamar mandi, sambil mempertimbangkan keputusannya. Ia melangkah ke dapur, mengambil segelas air es, dan menengguk perlahan. Laura berjalan mondar-mandir dengan resah dan gusar. Laura menarik napas dalam-dalam. Mungkinkah ini takdir Laura? Mungkinkah rencana Tuhan untuknya ini?
"Ya! Keputusanku sudah bulat. Aku resign dari Newton dan membesarkan bayi ini. Mau tidak mau aku harus melakukan itu. Tidak ada pilihan lain. Lebih baik aku pergi menjauh darinya daripada nyawaku berbahaya."
Keputusannya sudah bulat untuk resign dari kantor. Mempertahankan bayi ini pada lelaki itu sama saja Laura memberikan nyawanya digadaikan. Laura mencoba menerima keadaannya saat ini, meskipun ia belum menerima secara lapang d**a. Namun, untuk apa Laura larut dengan rasa kecewa dan kesedihannya terlalu lama? Tidak ada gunanya juga. Pada akhirnya kenyataan yang ia terima ialah mempunyai anak dan menjadi seorang ibu.