Flash Back Satu Bulan Yang Lalu

1793 Words
Lanjutannya... Laura menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia menarik napas dalam-dalam sambil memijit kedua pilipis kepalanya. Kedatangan Jared benar-benar membuatnya gusar dan panik setengah mati. Pikiran Laura sudah melayang tak karuan. Ia takut dengan ancaman Jared. Terlebih Jared ialah orang yang sangat nekat. Bagaimana jika Jared melakukan sesuatu dengan anak yang Laura kandung? Laura tak ingin semua itu terjadi. Laura takut Jared akan menyakiti bayinya. Laura benar-benar takut. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Isak tangis Laura tak juga berhenti. Laura terus menangis hingga ia sudah tidak bisa berpikir jernih. Kehamilannya memang bukanlah harapan yang Laura inginkan. Sempat terlintas dalam pikirannya untuk menggugurkan saja, tetapi ia urungkan niatnya itu. Tidak peduli aborsi yang dilakukan oleh orang lain. Baginya, aborsi terlalu keji dan tidak manusiawi. Laura juga tidak ingin mengugurkan kandungannya. Ia masih manusia yang punya hati. Bayi ini tidak bersalah. Bayi ini hanyalah korban dua manusia yang bodoh. Bayi ini berhak hidup dan punya masa depan. Apa yang harus Laura lakukan sekarang? Meminta Jared menikahinya? Kedatangan lelaki itu tadi saja sudah membuat Laura naik pitam. Tidak mungkin juga Laura meminta hal bodoh itu. Jared sudah bertunangan. Atau Laura datang ke rumah Jared, memberitahu orangtuanya dan meminta perlindungan? Itu lebih tidak mungkin. Jared pasti akan membuat hidup Laura sengsara, nyawa Laura yang akan dipertaruhkan. Sekarang Hanya ada dua pilihan. Melahirkan dan membesarkannya sendiri. Lelah terus berpikir. Laura akhirnya memutuskan untuk pergi jauh dari lelaki b******k itu. "Ya! Aku harus menjauh dari, Pak Jared. Aku tidak bisa membiarkannya membunuh anakku." Laura harus pergi sejauh mungkin. Ia tidak ingin berhubungan lagi dengan Jared. Ia ingin hidup tenang dengan anaknya. **** *Flash Back* Satu bulan yang lalu. Acara anniversary Newton Group yang ke 50 tahun. Sebagai sekretaris dan kaki tangan Jared Massimo. Laura harus berpenampilan sempurna dalam segala hal. Bukan wajah saja yang diutamakan, tapi otak harus lebih unggul. Laura gugup setengah mati. Bagaimana tidak, Anniversary Newton yang ke 50 tahun disiarkan di TV secara live. Laura mempersiapkan segalanya untuk acara anniversary perusahaan benar-benar detail dan sempurna. Bahkan demi acara itu, Laura sampai kurang tidur selama satu minggu untuk mempersiapkan semuanya. Dari gedung, dekorasi, host, artis dan para tamu. Laura semua yang menghandle. Ada rasa senang dan bangga dapat dipercaya mengurus itu semua oleh Williams Massimo. Pendiri Newton Group sekaligus ayah dari atasannya, Jared Massimo. Namun, dibalik rasa cemas dan gugup Laura. Ia juga takut jika tidak sesuai dengan prediksinya dan membuat malu perusahaan. Tetapi Laura yakin saja, semua dapat ditanganinya dengan baik. Dengan mengenakan long dress merah dan rambut disanggul sederhana. Laura sangat percaya diri menyambut para tamu. Laura berdiri di pintu masuk menyambut para tamu dari kalangan pesohor, pejabat, artis, yang jelas semua kalangan elit. Laura terus memamerkan senyum terbaiknya. Laura bak manekin yang dipajang di pintu. Bibirnya rasanya kaku untuk berhenti sejenak.Tangannya mulai kesemutan. Selain menyambut tamu, Laura juga berbincang-bincang sedikit untuk basa-basi. Lelah! tetapi Laura tetap bersikap profesional. "Laura, apa kamu melihat Jared?" Wanita cantik dengan rambut bergelombang menghampiri Laura. Kerutan di wajahnya tidak menghilangkan keanggunannya itu. Siapa lagi jika bukan Ibu Masaayu Massimo. Yang tak lain ibu dari atasan Laura, Jared Massimo. "Tidak. Bu," jawab Laura setengah bingung. Ia juga sebenarnya tidak melihat Jared sejak tadi. Massayu tampak khawatir dan kebingungan. Ia memandangi seluruh ruangan berharap menemukan anaknya itu. "Haduh, Jared ini kemana ya? Acara penting seperti ini kok malah hilang." Massayu mengerutkan kening tak menemukan keberadaan Jared. Laura tersenyum simpul, juga tidak tahu. "Memangnya, Pak Jared tidak memberitahu, Ibu?" "Tidak, haduh kemana itu anak?" Massayu mendesah. "Tamu penting semua begini kok ditinggal begini." "Ibu sudah coba hubungin, Pak Jared?" tanya Laura. "Sudah, tapi HP Jared tidak aktif." "Mungkin Pak Jared sedang menelepon Celline, Bu." Laura mencoba menenangkan Massayu. Mungkin saja bossnya sedang galau dengan pacar modelnya itu. Karena mereka LDR sudah lima tahun lamanya. Massayu menghela napas panjang. "Yasudahlah, kamu tolong cari Jared ya Laura. Jangan deh sampai papinya ngamuk," kata Masaayu mulai gusar. "Baik, Bu." Laura mengangguk mengiyakan. Massayu pergi dengan wajah cemas dan setengah kesal. Kini Laura yang kebingungan harus mencari kemana bossnya itu? Laura menggaruk kepalanya yang tidak kegatalan. Sudah lelah terus berdiri, sekarang diminta mencari Jared. Rasanya Laura ingin berteriak pada bossnya itu. Kenapa keadaan seperti ini, ia juga yang harus turun tangan. Laura seperti tidak diberikan ruang bernapas. Jika bukan bossnya, sudah ia abaikan. Laura menghela napas panjang. "Oke, Lau sekarang waktunya cari Pak Jared!" Laura permisi meninggalkan para tamu. Ia melangkah keluar ballroom. Kakinya sangat pegal. Ia berjingkat merenggangkan otot-otot kakinya sejenak. Laura kembali berjalan menyusuri hotel lagi. Terutama balkon tak luput dari penyusurannya. Namun, ternyata di balkon pun Jared tidak ada. Laura mencoba lagi menyusuri hotel. Kali ini rooftoop. Tetap sama tidak ada juga. "Pak, Jared anda sebenarnya di mana?" Laura berteriak kesal berjalan menyusuri koridor. Tiga puluh menit Laura mencari, tidak juga menemukan bossnya itu. Laura menarik napas panjang. Ia menjatuhkan tubuhnya di bangku koridor. Laura menyerah. Kenapa bossnya sangat menyusahkan. Sambil istirahat sejenak, Laura memijit betisnya yang pegal. Drrttt... Drrttt... Ponsel Laura bergetar. Laura mengambil ponselnya di dompet dan mengeceknya. Ternyata Jared, atasannya yang menelepon. Laura membuang napas lega mendapatkan nama bossnya yang telepon. Ia langsung mengangkat telepon tersebut. "La, lau—" Suara Jared terdengar parau, nyaris tak terdengar. Laura panik. "Pak, apa anda baik-baik saja?" Anda sekarang di mana Pak?" Laura menodongkan pertanyaan. Terdengar dari telepon suara gaduh musik yang kencang. Mendengar suara Jared parau seperti itu membuat Laura cemas. Laura mengira-ngira Jared ada di bar. Bagaimana bisa sedang ada pesta perayaan perusahaan, bossnya itu melalang ke diskotik. "Kemarilah sayang, aku berada di Hotel Longe." Belum sempat Laura menjawab, sambungan telepon langsung terputus. Laura mengusap dahinya, ia khawatir terjadi sesuatu dengan bossnya itu. Suara Jared mengkhawatirkan, terlebih dengan ucapannya yang tak jelas menyebut Laura sayang. Dari awal Laura sudah menduga bahwa Jared sedang kacau karena pacarnya, Celline. "Pasti dia mabuk sampai mengigau begitu." Laura langsung sigap, memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas dan bergegas pergi. Tanpa pikir panjang, Laura meninggalkan hotel dan naik taksi ke Hotel Longe tempat Jared berada. Setiba di Hotel Longe dengan cepat Laura melangkahkan kakinya menuju bar di lantai lima. "Ya, Tuhan ramai sekali di sini. Di mana Pak Jared?" Laura frustasi melihat bar yang sangat ramai dan sangat berisik, membuatnya kepalanya semakin bertambah pening. Laura mengitari pengamatannya ke seluruh ruangan bar. Nampak, Jared duduk di kursi belakang dengan keadaan memprihatinkan. Jared lemas dan tak berdaya. Ia tertidur di meja dengan botol penuh alkohol yang berjejer di atas meja. Laura berlari menghampiri Jared. "Pak, apa anda baik-baik saja?" tanyanya panik. Keadaan Jared sangat berantakan. Jared setengah pingsan dan sadar. "Pak, ini saya Laura." Laura menepuk tangan Jared untuk membangunkannya. Namun, Jared tak bergeming sama sekali. Ia hanya menyeringai memandang Laura. Laura prihatin melihat bossnya kacau seperti itu. Meskipun sedang tidak sadar, tetapi ketampanan Jared tidak hilang. Yang Laura lihat kini, Jared seperti kehilangan kewarasan. Entah masalah apa yang bossnya miliki, tetapi nampak jelas kesedihan yang tergambar dari wajahnya. Laura bingung dan panik. Tidak mungkin membawa Jared pulang ke tempat acara dengan kondisi mabuk. Membawa pulang ke apartemennya juga tidak mungkin. Akhirnya Laura memutuskan untuk memesan kamar hotel saja. Laura melambaikan tangan kepada bartender bar untuk meminta bantuan. Bartender pun menghampiri Laura. Laura memberitahu bartender itu agar membantunya membopong Jared ke hotel. Mereka berdua keluar dari bar sambil memapah Jared yang tak sadar. Laura dengan cepat langsung memesan kamar di receptionist untuk Jared. Lalu mereka membawa Jared ke kamar yang sudah dipesan. Setiba di kamar, bartender membaringkan badan Jared pelan-pelan di ranjang. Laura ikut membantu membuka sepatu dan melepaskan jas Jared. Laura meletakkan itu di nakas. "Apa ada lagi Bu yang bisa saya bantu?" tanya si bartender. "Tidak. Terima kasih sudah membantu saya." Laura memberikan uang pada bartender sebagai ucapan terimakasih, dan bartender itu permisi pamit. Laura duduk di tepi ranjang seraya memandangi Jared yang tak sadarkan diri. Entah apa yang harus Laura lakukan sekarang, memberitahu Massayu juga rasanya tidak mungkin melihat kacaunya kondisi Jared. Pandangan Laura tak berhenti memandangi sosok Jared. Laura sendiri pun sebenarnya terpesona dengan bossnya itu. Wajah yang tampan, rahang yang tegas, alis tebal dan dagu agak berbelah membuat wanita terpana. Wanita mana yang tidak terpesona dengan Jared? Laura mengalihkan pandangannya. Ia menepis pikirannya konyolnya itu. Laura hanya kagum dengan ketampanan Jared. Tak ada terbesit pun dibenaknya memiliki Jared. Jared memang tampan, tetapi lelaki itu juga keji dan sangat dingin. Laura menarik napas dalam-dalam. Tak ingin gila terus memandangi wajah Jared. Laura beranjak berdiri untuk kembali ke pesta perusahaan. Ia akan mencari alasan kepada Massayu tentang anaknya itu, Jared. Baru ingin melangkah, langkah kaki Laura terhenti. Jared menarik tangannya dan mencengkeram erat. "Mau ke mana?" tanyanya setengah sadar. Laura membalikkan badan. "Saya mau kembali ke acara pesta perusahaan, Pak." "Jangan!" Jared menarik tangan Laura hingga Laura terjatuh di ranjang dalam posisi berhadapan dengan wajah Jared yang berjarak satu centi. "Kamu di sini saja temani aku," ucapnya tersenyum sambil mengedipkan mata. Laura menelan ludahnya. Ia tahu bossnya itu mabuk. Tetapi, kenapa memberikan tatapan menggoda. Jared tersenyum nakal menatap Laura. Jared membelai bibir Laura yang tipis. Membelai wajah Laura sambil tersenyum nakal menggodanya. Dibayangan Jared, Laura ialah Celline. Tangan Jared memainkan rambut Laura. Melepaskan sanggulannya dan membiarkan rambut Laura tergerai. "Kamu kalau begini cantik," ucapnya masih memainkan rambut Laura yang panjang. Jared masih terhanyut dengan pikirannya. Ia benar-benar merindukan wanitanya itu. Jared memandangi wajah Laura yang cantik. Terpesona. Mata bulat yang mengkilat, hidung mancung simetris, bibir yang tipis. Seksi! Itulah yang tergambar dipikiran Jared. Sudah lama sekali Jared ingin mencium wanitanya itu. Tetapi, Jared hanya bisa menahan rasa rindu. Jared sudah tidak bisa menahan lagi hasratnya. Ia tak tahan melihat wanita di hadapannya yang cantik dan seksi. Melayang, rasa ingin bercinta dengan wanita pujaannya begitu besar. "Celline. Aku merindukanmu sayang," ucap Jared membelai bibir Laura. Laura terpaku. Sentuhan Jared seperti aliran listrik yang menjalar ke tubuhnya. Laura menikmati setiap sentuhan Jared. Tubuh Jared yang merapat pada tubuhnya, membuat jantung Laura berdegup kencang. Jared sangat mempesona. Melumpuhkan seluruh saraf Laura hingga Laura tidak bisa mengalihkan pandangannya. Terus menikmati sentuhan Jared, membuat Laura dilema. Laura tersadar dengan suasana mereka yang salah. Jared hanya mengiranya sebagai Celline, bukan Laura. Laura tidak ingin terbuai dengan situasi yang salah kaprah tersebut. "Pak, saya Laura. Bukan Celline. Anda saat ini sedang mabuk." Jared tak menggubris, ia menempelkan jari telunjuknya di bibir Laura untuk membuat wanita itu diam. "Apa kau tidak merindukanku? Aku menginginkanmu, sayang." Laura menelan salivanya. Akward dan dilema! Itu yang Laura rasakan. Jantungnya semakin berdegup cepat. Jared mengeratkan tubuh Laura hingga tubuh mereka sudah menempel rapat. Laura tidak bisa berkutik, Jared semakin mengeratkan tubuhnya. Jared mulai memainkan sentuhannya dan membelai Laura penuh cinta dan kasih sayang yang mendalam. Laura akhirnya terbuai dan menikmati setiap sentuhan itu. Dan terjadilah peristiwa hubungan terlarang tersebut tanpa Jared sadari dengan siapa dirinya bercinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD