Gugurkan Kandungan Itu!
Laura terbeliak melihat Jared berada di apartemennya. Wajah tampan dan tubuh maskulinnya itu membuat Laura terpana, aroma parfum aftershavenya tercium hingga ke hidung Laura. Laura masih bisa melihat jelas bola mata coklat indah milik Jared dari pintu ia berdiri. Laura tidak memperhatikan mata tajam sedang memandangnya. Jared menatapnya tajam. Namun, tidak menghilangkan aura maskulin dan ketampanannya itu.
"JELASKAN LAURA! APA KAU BISU?!" Jared meninggikan suaranya yang geram tak mendapatkan jawaban dari Laura.
Lidah Laura kelu untuk menjawab. Bibirnya gemetar, terpaku dengan semua ucapan Jared. Laura memandangi amplop putih yang diletakkan Jared di atas meja. Laura rasanya ingin bertanya bagaimana Jared bisa masuk ke apartemennya? Namun, lagi-lagi bibirnya getir untuk mengatakan sepatah katapun.
Jared memandang tajam Laura. Ia emosi dan murka dengan ketololan Laura yang mempermainkannya. Jared tidak terima seakan ia seperti dibuang oleh wanita tanpa rasa hormat. Laura hanya seorang sekretaris. Tetapi dengan seenaknya Laura meninggalkan amplop putih di atas meja kerjanya. Laura resign seenak jidat tanpa permisi. Ditambah Jared melihat alat tespack di kolong meja kerja Laura yang ia temukan. Otak Jared tidak bisa berpikir saat melihat dua garis merah terpampang di alat kehamilan itu. Jared terus bertanya-tanya, mengapa alat tespack itu terjatuh di sana? Dan kenapa Laura mendadak resign? Apa ada hubungan dengan semua itu? Dan kenapa Jared sangat ingin tahu?
Laura masih membisu. Jared melipatkan tangan, masih mengamati wanita di hadapannya ini. Laura mengigit bibir seperti orang ketakutan dan seperti tidak ingin menjawab pertanyaan Jared. Jared dapat melihat jelas wajah Laura yang menyembunyikan sesuatu darinya. Kegelisahan yang tergambar dari wajah Laura semakin membuat Jared penasaran dan frustasi.
"Aku—"
Jared mengangkat alisnya. "Katakan!" desak Jared.
Laura meremas tangannya yang gemetar. Laura menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba saja terasa kering. Tatapannya nanar memandang Jared. Rasa gusar mencekam hatinya. Bibirnya getir untuk menjawab. Ya! Seharusnya ini adalah kesempatan Laura untuk mengatakan semuanya. Tetapi, kenapa terasa sangat memilukan?
Jared mendesah kesal. Laura hanya diam dan membisu memandangnya. "Jangan membuatku emosi, Laura. Cepat katakan!" Jared mendesak Laura tanpa mempedulikan keresahan di wajah wanita itu.
"Aku hamil," jawab Laura dengan suara mengambang nyaris tak terdengar.
"APAAAA!!!" Jawaban Laura menusuk jantung dan telinga Jared. Apa tidak salah dengar Laura mengatakan hamil? Pikiran Jared sudah melayang tak karuan. Jared menepis pikiran konyolnya itu dan tetap tenang.
"Kalau kau hamil kenapa sampai resign?" tanya Jared menahan emosinya.
Laura menundukkan kepala. Ia tidak tahan terus melihat wajah Jared. Air mata terjatuh di pipi Laura. Pertanyaan Jared membuat udara paru-parunya terasa kosong. Laura terbakar amarah dan rasanya ingin memaki sepuasnya lelaki di hadapannya itu. Tidakkah itu konyol sampai tak tahu kenapa dirinya resign?
Jared sudah menduga bahwa Laura hamil.
Melihat Laura tiba-tiba menangis membuat Jared frustasi. Jared seakan diterpa masalah yang dahsyat. Padahal untuk apa juga Jared memusingkan kehamilan Laura? Tidak ada urusannya dengan dirinya. Namun, Jared kini penasaran. Anggap saja itu rasa kepeduliannya terhadap bekas karyawannya.
"Ok, kau hamil. Tidak bisakah kau resign dengan baik-baik, Laura?" Jared mencoba menenangkan Laura sebagai bentuk kepeduliannya terhadap bekas karyawannya itu. "Maksudku kau sudah bekerja lama di Newton dan sekarang tindakanmu tidak bisa memberikan rasa hormat kepada perusahaan."
Laura terpaku dengan ucapan Jared. Laura sudah menduga Jared tidak peduli. Jared tidak menanyakan dengan siapa dirinya hamil. Sebaliknya Jared berpikir wewenangnya sebagai boss. Lalu, untuk apa Jared datang ke apartemennya? Laura pikir Jared sudah menyadari perbuatan brengseknya itu.
Laura mendesah pelan. Ia mendongak menatap Jared dan bertekad memberitahu lelaki sialan di hadapannya ini. Tidak peduli apapun reaksi Jared. Laura sudah terbakar emosi dan rasa sedih yang mendalam.
"Saya hamil dengan anda, Bapak Jared Massimo. Apa belum jelas dan puas anda melihat surat resign dan alat tespack yang anda temukan?" jelas Laura dengan suara membara menegaskan Jared. Dengan mengepalkan kedua tangannya, Laura tegar dan memberanikan diri menatap Jared.
Kali ini jantung Jared ingin lepas. Jared terpaku mendengar pernyataan Laura. Jantungnya bak dihantam ribuan panah api yang menusuk hingga ke rongga paru-paru. Jared tidak salah dengar dengan ucapan wanita di hadapannya ini? Laura hamil dengannya? Otak Jared berfungsi mengingat-ingat kembali kejadian di luar batas tersebut. Namun, Jared tidak mengingat apapun. Tunggu! Ini hanya akal-akalan Laura. Tidak mungkin Jared menghamili wanita ini. Jared merasa Laura mempermainkannya dan merencanakan sesuatu.
Jared menyeringai sinis. "Kau yakin itu anakku?" tanya Jared dengan ekspresi dingin.
Laura membelalakkan matanya lebar penuh amarah. Sel-sel darahnya berjalan lambat mendengar Jared. Ia tak percaya Jared meragukan anak yang ia kandung. Jared lupa begitu saja setelah apa yang semua terjadi. Setelah peristiwa malam Anniversary Newton yang ke 50 th, mereka melakukan hubungan terlarang tersebut.
Laura tersenyum getir menatap Jared penuh amarah. "Andaaa—," Laura mendekat pada Jared. Ia tak tahan, tangannya terangkat dan...
PLAKK
Satu tamparan keras mendarat di wajah tampan Jared. Jared sontak terkejut dan meringis.
"Apa yang kau lakukan Laura? Apa kau sudah gila, hah?" maki Jared sambil mengusap pipi kanannya yang perih.
"Silahkan anda pergi dari apartemen saya!" erang Laura mengusir sambil menunjuk ke arah pintu keluar. Laura berusaha menahan tangisnya, menatap tajam Jared.
Jared mematung seakan ucapan Laura bak hukuman untuknya. Ia tidak menggubris usiran dari Laura. Rasa panik mulai mencekam hati Jared. Namun, Jared ahli dalam mengendalikan ekspresi tetap tampak tenang dan dingin. Jared memandangi Laura dengan tenang, sementara wanita itu matanya berkilat merah.
Jared menghela napas panjang. "Kau mengusirku?" tanyanya sambil tertawa getir. "Kenapa pertanyaan saya tidak kau jawab?" Jared melipatkan tangannya dengan santai.
Laura frustasi menghadapi Jared. Terhina dan geram. Ia sadar memang ini bukan pertama kalinya ia melakukan hubungan intim kepada lelaki. Namun, ucapan demi ucapan Jared yang terlontar jelas sangat menghinanya.
"Saya tidak meminta anda untuk tanggung jawab. Tapi, terima kasih untuk penghinaan dari anda. Jika sudah selesai anda silahkan keluar dari apartemen saya, Bapak Jared," ucap Laura tampak tenang menahan tubuhnya yang gemetaran.
"Gugurkan kandungan itu!" sela Jared tak menggubris ucapan Lily. Jared bangkit dari sofa dan mendekat pada Laura dengan mata yang mengkilat murka. "Atau kau tanggung akibatnya! Kau tahu Laura jika berani melawanku?" Jared dengan tatapan tajam yang menusuk hingga jarak padangan mereka hanya satu cm.
Tubuh Laura gemetaran menatap mata Jared. Bola mata coklat Jared terpampang jelas hingga aura kharisma lelaki itu membuat bulu-bulu Laura berdiri. Tatapan tajam dan dingin tak bisa dilawan. Laura mengendalikan ketakutan dan kegusarannya tampak tenang. Ia tak ingin dianggap sepele.
"Saya tidak peduli dengan ancaman anda," Laura menyeringai mencodongkan tubuhnya, menatap Jared dengan tegas.
Jared gusar, memberikan seringai jahat. Ia mendesah kesal. "Ok, kau tunggu saja!" ucapnya memutarkan tubuhnya berjalan ke arah pintu. Jared membanting pintu dengan kencang hingga Laura tersentak kaget.
Laura memandangi bahu tegap itu menghilang dari apartemennya. Ia resah menjatuhkan pantatnya di sofa. Air mata Laura langsung mengalir deras. Sekuat tenaga mengendalikan kesedihannya, tetap saja ia hanyalah wanita rapuh yang cengeng. Laura menangis sesenggukan mengeluarkan semua emosinya.
Bersambung...