duatujuh

1081 Words
"Kalau kau mencari masalah, ini bukan waktu yang tepat." Darius menghela napas berat ketika menemukan sang kakak menerobos masuk ke ruangannya setelah ia selesai berkeliling. Dannes senang mengacau, dan pria itu melakukannya di sini, di ruangannya. Kakaknya tidak punya jam kerja dan memilih untuk mengobrol. "Aku tidak mencari masalah." Alis itu terangkat sebelah. "Kau berniat meminjam uangku?" "Untuk apa?" "Berjudi?" "Sial. Kau pasti bercanda," tegur Dannes masam. "Aku tidak perlu meminjam uangmu. Aku tidak berjudi lagi. Tidak di tempat terkutuk itu." "Kasino itu punya nama dan pemilik. Alby yang membeli lahan dan membangun klub besar bawah tanah. Hampir semua kawanan elite mengetahuinya termasuk kau," ujar Darius datar. Membolak-balik berkas tidak serta-merta membuat pikirannya ikut larut. "Kau yang bermain, kau yang terbakar." "Aku tidak tahu kalau Alicia sehebat itu." "Lantas?" "Dia memenangkan taruhan besar bersama Alby. Di meja kasino yang sama. Alby melawan Alicia. Kau tahu bagaimana itu berjalan? Luar biasa. Dia tidak segan menguras habis rekening sepupunya?" Darius meneleng. "Siapa yang bercerita?" "Leon. Siapa lagi?" raut Dannes berubah. "Kau tahu?" "Tidak. Aku baru mengetahuinya darimu," kata Darius pahit. "Itu urusannya." "Itu membuatku semakin yakin siapa dirinya dan dengan apa kau berhadapan." Sang kakak berujar tegas. "Kau tidak berhadapan dengan perempuan sembarangan. Perempuan yang berkencan denganmu, tanpa kau tahu sisi lain dirinya." Darius mendesah, sepenuhnya mengabaikan tudingan itu dengan dingin. "Aku harus melindungimu. Aku perlu melindungi keluargaku. Keluarga besarku." "Kita berdua selalu punya cara untuk melindungi keluarga. Kau pikir ini pertama kali?" tanya Darius geram. "Alicia bukan ancaman." "Kenapa kau terus membelanya? Kau bahkan tidak berterus-terang kemana kau menyembunyikan Alan. Aku perlu tahu." "Dia aman." "Aman untuknya tapi tidak untuk kita," sungut Dannes sebal. "Mau sampai kapan kau keras kepala?" "Aku perlu waktu." Darius berkata pelan. Yang membuat mata mereka beradu satu sama lain. "Kalau memang Alicia berbahaya, aku akan menjauh darinya." "Kau sudah diperingatkan." "Memang. Tetapi bagaimana caraku melihatnya dan bagaimana caramu dan Leon melihatnya berbeda. Aku tidak mau menghakiminya hanya karena reputasi yang selama ini beredar di lingkungan kita." Dannes menghela napas panjang. "Kau benar-benar keras kepala. Adik yang selalu menuruti logika dan hati secara bersamaan. Aku tidak paham mengapa kau mau repot-repot sejauh ini?" "Karena aku tertarik," sahut Darius cepat. "Atau yang lebih mendalam dari itu, aku jatuh cinta padanya." Ekspresi Dannes bergeming. Tidak ada sesuatu yang membuat pria itu terkejut atau memasang air muka berbeda. Bibirnya terkatup, rahangnya terlihat tegas, sorot matanya mendingin. Dannes dalam pose waspada memang mengerikan. "Kebersamaan kalian hanya singkat. Aku berharap kau menemukan perempuan lain yang bisa membuatmu lupa akan Alicia." Darius diam. "Aku akan bicara pada paman." "Untuk?" "Menjaga jarak dari Fabian. Dia bisa saja menjadi buruan utama keluarga Alicia. Who knows?" "Karena dia punya keluarga lain. Fabian punya anak selain dari istri sahnya. Alicia putri tunggal. Dia tidak bisa menyentuh Alicia sama seperti dia menyentuh putranya." Dannes mengernyit. "Kau cukup tahu banyak. Tapi apa pun itu, aku berniat menarik mundur paman sebelum semuanya menjadi rangkaian jelas. Aku tidak ingin mengambil risiko besar dengan melibatkan keluarga kita." Kepala Darius terangguk. "Aku punya trauma mendalam setelah hampir kehilangan ibu." Kemudian pintu tertutup. *** "Selamat siang." Alicia memindahkan tempat pensilnya saat melihat Evelyn Foster mampir ke dalam kantornya dengan seulas senyum ramah. Para pekerjanya berbisik tentang kemurahan hati wanita itu secara diam-diam. Membandingkan antara para pengunjung dengan pengunjung lain. Termasuk dengan Nyonya Lasima, yang kerap datang untuk mengacau. "Selamat siang." Evelyn memindahkan tasnya ke atas meja dengan senyum. "Halo, Alicia. Maaf kalau kedatanganku mengganggu." "Tidak. Ini makan siang. Para pekerjanya biasanya akan beristirahat. Anda datang untuk mengambil gaun?" "Yap. Aku akan membayar. Bagaimana dengan Hana?" "Aku memberikan gratis untuknya." "Ah, dia pintar merayu seseorang rupanya," kata Evelyn dengan ringisan saat Alicia meminta pekerjanya membungkus gaun dan menaruhnya di meja kasir. "Dia bercerita kalau dirinya tidak perlu membayar gaun. Kau memberikannya secara gratis." Alicia tersenyum. "Kalau kau tidak keberatan, bisa kita bicara sebentar?" Keningnya berkerut halus. Sementara Alicia membereskan kertas sketsa di atas meja kerjanya dan berdeham. "Tentu saja. Kita bisa bicara di kantorku. Aku menghargai privasi." "Terima kasih banyak untuk kemurahan hatimu." "Bukan masalah, Nyonya. Santai saja." Alicia membawa ibu Darius masuk ke dalam ruangan. Ia melirik Samia yang diam, lalu meminta agar gadis itu mengurus bagian depan selagi dirinya tidak ada. "Aku tidak tahu harus memulai darimana. Tetapi ini tentang keluargaku." Suara Evelyn berubah lebih parau. Sorot matanya berubah saat mata mereka bertemu. "Jika saja putraku membuat kesalahan, aku dengan besar hati meminta maaf." "Kesalahan yang mana?" tanya Alicia. "Darius tidak berbuat kesalahan. Darius dan Dannes, tidak ada yang salah dari mereka." "Hanan dekat dengan Fabian, ayahmu." Evelyn menghela napas panjang. "Aku memang jarang berbaur dengan ibumu. Tapi setidaknya, masalah kalian, aku sedikit tahu." Alicia diam. Ekspresinya berubah terlebih saat Evelyn memilih untuk membuang wajahnya ke arah lain. "Jika sesuatu terjadi, Anda harus bersiap diri." Kedua mata Evelyn melebar. "Aku bukan cenayang. Ini hanya kemungkinan," ucap Alicia datar. "Aku tidak akan membahas konflik yang terjadi di dalam keluargaku. Tapi setiap kemungkinan berisiko menghancurkan orang lain." "Darius pria baik dan aku menyukainya," tambah Alicia cepat sebelum ibu Darius pingsan di kantornya. "Dia menyayangi keluarganya dengan tulus. Aku melihat sekilas tidak ada perbedaan di antara kami. Kami melakukannya atas nama keluarga, untuk melindungi orang yang kita cintai." "Sesuatu yang buruk akan terjadi?" Alicia mendesah. "Jauhkan Hanan dari Fabian. Itu sudah cukup." Evelyn mundur. Mengambil napas panjang saat kedua matanya meredup. Sebelum anak rambutnya yang tersanggul mencuat naik, tangan Evelyn yang gemetar merapikannya. "Baiklah. Aku akan bicara dengan suamiku untuk mencari jalan solusi." "Aku tidak pernah berpikir untuk menyakiti kalian." Alicia memberi senyum dan raut Evelyn berubah lembut. "Aku malah sangat berterima kasih. Baik Darius maupun ibunya tidak pernah memandangku sebagai sesuatu yang jahat. Tidak seperti mereka ketika di pesta." "Ya Tuhan—," seolah Evelyn kehilangan suaranya. "Kau baik sekali. Aku tidak mengerti mengapa barisan konglomerat suka berbicara yang buruk tentangmu dan keluargamu. Mereka hanya tidak tahu dengan siapa mereka berhadapan." Alicia tertawa singkat. "Yah, kami terbiasa mendapatkannya selama bertahun-tahun. Aku, ibuku, keluargaku, kami sudah terbiasa." Evelyn tersenyum dan Alicia tersentak karena rasa sakit asing merambati tengkuknya. "Aku punya hadiah." Alicia bangun dari tempat duduknya untuk pergi ke sebuah lemari kecil. Kemudian mengambil barang yang masih terbungkus kardus dari salah satu rak. "Oh, cantik sekali. Apa itu?" "Aku sempat mengikuti kelas membuat karya tangan. Ini terbuat dari kerang dan mutiara." "Kau memberikannya untukku?" "Ya. Ibuku menyukainya. Kuharap Anda juga." Evelyn memandangnya dengan haru. "Aku akan menyukainya. Terima kasih banyak, Alicia." Hadiah kecil ini tidak akan bisa menebus apa pun yang pernah terjadi di kehidupan Evelyn sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD