duadelapan

2121 Words
"Mengapa Cecil tidak bersamamu?" "Dan mengapa kami harus terus bersama?" tanya Alicia sarkatis. "Dia punya pekerjaan dan kehidupan. Kau seharusnya bertanya, bukan memandangku seperti aku seorang penjahat." Alby mendesah. Menyugar rambut tebalnya dengan desisan samar. Saat dia mengangkat tangan, menatap Alicia datar. "Oke. Aku mendapat laporan kalau mata-mataku terbunuh. Tidak hanya itu, mata-mata yang ibumu kirimkan juga berakhir sama." "Cecil bukan penjahat. Dia bahkan gemetar memegang pisau." Alicia membalas dengan rokok terselip di ujung bibir. "Kau menuduhnya." "Aku tidak menuduhnya," kata Alby kasar. "Aku mencoba meluruskan benang kusut ini sampai ke pintu utama. Kau tidak mungkin melakukannya." "Bukan aku, bukan Cecil." Alby bernapas berat. "Yah, aku menaruh curiga pada Fabian, ayahmu." Ekspresi Alicia masih sedingin tembok sebelumnya. Tidak ada yang berubah, tidak ada yang berarti. Semua masih terlihat sama. "Ibumu juga setuju kalau ini semua karena Fabian. Dia mulai panik." Alby mendengus. "Berpikir kalau suaminya akan mengambil putri kesayangan darinya." "Aku tidak diambil siapa pun," ujar Alicia malas. "Juga tidak berminat hidup susah dengan pria macam itu. Aku bersama ibuku." "Kau pantas menenangkannya. Dia terguncang." "Ya. Aku akan pergi melihatnya nanti," timpal Alicia. Memainkan rokok dalam diam, tidak berniat membakar ujungnya. "Dia butuh berlibur. Aku memesan tiket untuknya dan untuk ibumu berjalan-jalan." "Ke mana?" "Kapal pesiar. Berlayar ke penjuru dunia." "Ombak tidak bersahabat." "Sebentar lagi memasuki musim tenang. Ombak akan bersahabat," gerutu Alicia pelan. "Kau mungkin ingin terbebas dari ibumu walau barang sebentar." Bibir Alby terkatup, tidak lagi bersuara apa pun. "Aku sekarang di sini. Mata-mata kalian sudah mati. Aku bekerja dan mencoba meraup keuntungan lebih banyak. Bisnisku berjalan dengan berbagai cabang. Pikiranku terbelah." Alby mengambil napas panjang. "Kau dari dulu senang mengacau. Tapi keberuntungan terus melingkupi. Ibumu tidak dihukum, tidak pula kau. Kau tahu keberuntungan yang sama tidak menimpa kerabat lain. Kakek membunuh mereka." "Mereka membuat kita malu," ucap Alicia datar. Mengernyit jijik dengan tampang malas. "Menembak seseorang di bar. Memakai sabu sembarangan. Ah, benar-benar tidak tahu aturan." Kepala Alby tertunduk. Gagasan tentang melanggar aturan telah terbentuk bertahun-tahun lalu dikepalanya. Tapi tidak satupun bisa terealisasi. Alby tersandung beban dan tanggung jawab. "Hanya kita berdua yang tersisa. Daripada aku, kau lebih pantas menikah dan punya anak. Buatlah anak sebanyak mungkin." "Kau bergurau." "Kita tidak akan menikah. Lupakan saja perintah pria tua sialan yang raganya telah terkubur di tanah. Dia tidak akan menghantui kita dengan desakan harus menikah secepatnya." Alby mengacak rambutnya asal. "Kau benar. Lagi pula, aku sudah tidak tertarik lagi padamu." Sebuah kekehan terdengar halus. Alicia mendengus dengan gelengan lemah, menatap Alby dengan pandangan mencemooh. "Kau punya mainan baru yang lebih membuatmu tergila-gila. So, lupakan saja yang pernah terjadi di antara kita berdua. Aku dengan senang hati melakukannya." *** "Alicia." Alicia berhenti. Menunggu dalam diam sampai sang ibu bersuara. "Kau tahu kalau salah satu keluarga Foster dekat dengan Fabian?" "Ya." "Apa kau berniat—," suara ibunya terputus. Sebelum mendesah dan kembali melanjutkan. "—menghancurkan mereka sekaligus?" "Apa aku berpikir sejauh itu?" Ekspresi ibunya berubah datar. "Kau tidak tertebak. Tidak pernah. Satu-satunya alasan mengapa mendiang kakekmu mempertahankanmu adalah dia percaya kalau kau punya sesuatu yang tidak mereka miliki. Aku tidak tahu apa." "Setelah yang lain terbunuh?" Alicia bertanya sarkatis. "Dia tidak segan membunuh kerabatnya sendiri demi reputasi dan harga diri, bukan?" "Mereka pengacau." "Apa bedanya denganku?" Emily meneleng pelan. "Tidak ada. Tapi kau putriku. Aku juga pengacau, pembangkang di usia muda. Masa remaja membawaku pada jurang kehancuran." "Mama menyesalinya?" "Ya, sedikitnya aku menyesali berbagai hal yang terjadi." Kedua bahu itu terangkat. "Toh, sekarang sudah berlalu. Kita hanya punya masa depan." "Kau bisa diandalkan," tambah ibunya lirih. "Kakekmu tidak pernah memaksamu memegang perusahaan besar selain Alby. Tapi dia tetap memberikan bagiannya untukmu. Alicia banyak memegang saham besar dan penting. Yang bahkan tidak bisa Alby sentuh." "Orang-orang berasumsi musuh terbesar keluarga adalah aku," kata Alicia muram. Merapat pada meja dan bersandar di sana. "Mereka kerap membandingkanku dan Alby. Tapi sejauh ini, kami tidak terlalu peduli." "Aku akan mencari tahu siapa yang membunuh anak buahku. Yah, meski tuduhan ini mengarah pada Fabian seutuhnya." "Dia akan membayar segalanya, bukan?" tanya Alicia sinis. Sepasang matanya menyipit, menilai lantai dengan bias dingin. "Semuanya. Segalanya." Emily mengambil napas panjang. Menyusuri rambut sebahunya yang tergerai dengan kedua tangan. "Kau perlu istirahat. Putriku punya kesibukan yang bagus daripada ibunya." "Mama tetap menjadi panutanku," sahut sang anak dengan senyum manis. "Yah, Mama memang tidak perlu bekerja keras untuk memegang perusahaan. Mama pernah melakukannya." "Aku lumayan sering membereskan kekacauan Lena. Dia terlihat tenang tapi sedikit tergesa-gesa." "Sifat itu menuruni Alby." Sang ibu tersenyum. "Aku tidak pernah malu karena melahirkanmu. Lasima selalu bilang kalau kau anak pengacau. Tapi, toh, lihat dirinya yang mencoba mengemis bantuan pada kita. Apa dia pantas melakukannya setelah semua itu? Tidak." "Mama tidak akan membantunya?" "Walau aku punya kekuasaan, aku tidak berniat melakukannya. Kau sudah melakukan hal yang tepat karena mengabaikannya." Alicia menghela napas lega. "Aku tidak punya gagasan untuk membantunya. Alby juga berlaku sama. Itu urusannya. Dia akan tercekik karena tingkah putrinya." Kedua mata mereka bertemu dan Alicia bergegas memeluk ibunya kembali sebelum berpisah. "Aku hampir meneteskan air mata jika melihat lukamu sekali lagi." "Ini sudah membaik. Aku punya dokter pribadi," bisik Alicia lembut dan ibunya tersenyum. "Aku tertarik padanya. Dia tidak seperti kebanyakan pria." "Aku tahu. Kau hanya perlu berhati-hati." Alicia mundur dengan senyum. Siap melepas salam perpisahan sampai sang ibu bersuara untuk terakhir kali. "Samia kembali?" "Ya." "Karena apa?" "Adiknya terkena kanker pankreas dan ibunya terlalu panik. Aku menariknya pergi karena dia dapat diandalkan." "Malang sekali nasibnya," ujar Emily prihatin. "Kau membantu membayar biaya rumah sakitnya?" "Tidak. Aku pernah memberi Samia cukup banyak uang. Dan itu menjadi haknya untuk dipergunakan dalam hal apa. Bukan urusanku membayar biaya rumah sakit keluarga karyawanku." *** "O-ow, kenapa kalian memandang ayahku seperti itu?" "Diam, Hana." "Aku bicara serius," ketus Hana. "Apa yang salah?" Evelyn membantu menenangkan keponakannya dengan usapan lembut. Saat Hanan menyerah, mengangkat tangan. "Ini sesuatu yang penting. Kau pergilah ke kamar." "Aku perlu tahu," tukas Hana muram. "Ibuku tidak di sini dan harus pergi karena urusan. Lantas, kenapa ini?" Darius mendesah. Melirik Hana yang gusar di kursinya dengan tatapan datar. "Anak kecil tidak perlu tahu." "Demi Tuhan, usiaku delapan belas tahun. Aku punya kartu tanda penduduk dan surat izin mengemudi. Kalian semua keterlaluan." "Jauhi Fabian." Bibir Hana terkatup ketika Dannes melempar topik yang membuatnya mengerutkan alis. Tommy diam, sementara Hanan hanya menunduk. "Aku tidak—," "Kau bisa, Hanan. Demi kami, demi kita semua." Evelyn berujar lembut. "Alicia sudah memberi peringatan. Kita sebaiknya mendengarkan itu." "Alicia?" tanya Dannes dingin. "Dia menemui ibu?" "Bukan, ibu yang menemuinya." Matanya melirik sang anak bungsu. "Aku berbicara sebentar dan dia mau mendengarkan. Tidak banyak yang kami berdua bincangkan selain Alicia memberi peringatan kecil itu." Dannes menarik napas panjang. "Sudah kuduga. Keluarga Grice punya masalah serius dengan Fabian." Hanan menyerah dengan geraman tertahan. "Ini tidak akan terjadi semisal Darius tidak berbuat sembrono dengan mengencani penerus keluarga kaya lama itu!" "Kau apa?" Hana memelotot kesal. "Apa salahnya dengan mengencani perempuan sehebat Alicia? Dia sama hebatnya dengan ibu. Darius tidak salah. Kenapa ayah menyudutkannya?" "Hana," tegur Hanan muram. "Aku tidak suka saat orang lain membahas perasaan murni manusia. Rasa tertarik itu ada karena memang manusia memiliki hati untuk merasa. Darius tidak salah," bela Hana dingin. Hanan menyerah dengan cibiran. "Aku berutang pada Fabian." "Utang?" "Aku tidak bisa membahasnya di sini. Ini sangat mendesak dan terburu-buru. Aku pernah mengalami masa sulit dan Fabian ada untuk membantu. Sampai kapan pun aku tidak akan bisa melunasi kebaikan itu dengan uangku." Tommy menautkan alis. "Apa sebanyak itu?" "Uangmu juga tidak akan bisa. Ini berupa jasa, berupa kebaikan yang tulus. Aku tidak bisa. Tapi aku tidak berniat melawan keluarga Alicia. Tidak sama sekali." Darius memandang meja dengan raut dingin. Dannes terlihat berusaha menahan diri sementara ayahnya mencoba mencerna semua ucapan Hanan dalam diam. Ibunya masih berusaha menenangkan Hana yang gelisah. "Alicia ... kenapa mereka menyebutnya berbahaya?" "Alicia lahir dari keluarga kaya lama. Keluarga yang berpuluh tahun menempati posisi sebagai penguasa. Hana, keluarga kita tidak sebanding dengannya. Mereka punya kuasa, punya kekuatan untuk merubah ekonomi satu negara dalam semalam. Keluarga kerajaan tidak berkutik untuk melawan mereka." Hana pucat pasi. "Kita mendapat masalah?" "Belum." Dannes menyela dengan dingin. "Belum terjadi sampai ayahmu mencari mati berkawan dengan Fabian." "Darius bisa membantu?" tanya Hana gemetar. "Kalau dia mencoba melukai kita, Darius mungkin bisa bicara?" "Aku tidak berniat mengumpankan adikku ke kandang singa sekalipun," cibir Dannes pada Hana yang pucat. "Keluarga Alicia bermasalah dengan Fabian, bukan dengan Darius." Tommy mendesah. "Dan mereka memukul rata semua orang yang mendukung musuh. Kita hanya perlu cari aman, Hana." Manik kelam Hana memandang ayahnya serius. "Kalau begitu, ayah harus bisa melakukannya. Demi aku, demi kita." Hanan bungkam seribu bahasa. *** Alicia mengamati kaset usangnya yang tertimbun di dalam kardus. Banyak kenangan semasa remaja yang tertinggal saat dirinya memutuskan untuk membereskan kamar. "Ah, tidak menyala. Ini semua sudah rusak." Satu-satunya ide yang tertinggal adalah dirinya bisa memanfaatkan barang bekas ini untuk hiasan. Ia pernah mengikuti kelas membuat kerajinan tangan selama di Los Angeles nyaris satu tahun. Ia bisa melakukannya untuk mempercantik kamar. Bel pintu kamarnya berbunyi. Ia bergegas pergi setelah mendorong kardusnya ke sudut kamar. Membuka pintu dan melihat Darius di sana, bersandar dengan pakaian kasual yang memukau. "Kau darimana?" "Bertemu Dannes." "Kalian punya masalah?" "Tidak terlalu besar," sahut Darius muram. "Boleh aku masuk?" "Tentu, pangeran." Alicia membuka pintu lebih lebar dan menutupnya. "Kau butuh minum?" "Soda?" "Alright, soda." Alicia pergi ke dapur, membuka kulkas dan memberikan dua soda dingin pada Darius. "Hanya tersisa dua lagi. Aku perlu pergi berbelanja besok." "Bagaimana harimu?" "Lancar. Kau?" Alicia melompat duduk di kursi bar. "Kau terlihat tidak baik. Sesuatu terjadi?" "Seberapa parah hubunganmu dengan ayahmu?" "Kau perlu bertanya?" Ekspresi Darius berubah penuh sesal. "Aku tidak—kau tidak perlu menjawab." "Aku mencoba mengunci mulutku. Keluargamu bukan satu-satunya yang diperingati," timpal Alicia datar sambil membuka penutup sodanya. "Kami hanya tidak mau menghadirkan risiko lain." "Aku tidak mengerti." "Rumit. Aku tidak tahu harus darimana memulai." Dan meminum soda dengan dua tegukan. "Lantas, apa kau baik-baik saja?" Jemari Alicia berhenti memutar kaleng soda saat Darius bertanya. Kedua matanya memudar, bias matanya meredup. "Kau bertanya tentang keadaanku?" "Ya." "Tidak terlalu. Tetapi aku bisa mengatasinya." Gagasan menolak simpati orang lain terlalu melekat dalam benak. "Ini bukan permasalahan sebentar. Sudah cukup lama terjadi." Soda menjadi penenang saat ia membutuhkannya. Darius memainkan kaleng di tangan, memutarnya asal. "Kupikir kau juga terluka. Anak-anak yang besar dari keluarga kurang harmonis, cenderung suka menutup diri." "Aku lupa kalau kau seorang dokter." Alicia berbicara sembari mencemooh dirinya sendiri. "Tapi aku baik-baik saja. Ibuku bukan orang egois. Dia tidak mementingkan siapa pun kecuali aku." "Ibumu luar biasa." "Sangat." Darius memilih untuk diam. "Keluarga kami juga memiliki celah. Dan yang menjadi persoalan adalah bagaimana cara mengatasi celah tersebut. Mendiang kakekku mengajari dasar itu padaku dan Alby sejak kecil. Dia tahu kami berdua bisa saja bertikai dan saling membunuh karena harta." "Dia bersikap adil," tambah Alicia. "Aku dan Alby tidak berniat bertengkar karena kami memiliki lebih dari cukup." Alicia berpaling, memandang matanya. "Kau ingin tahu sebuah rahasia?" Tidak menunggu sampai Darius menjawab. "Aku dan Alby diharuskan menikah. Pesan terakhir sebelum pria tua itu pergi untuk selamanya. Pernikahan sepupu tidak akan membuang harta kami pergi ke orang lain. Mendiang nenekku berasal dari kerabat jauh, masih dalam lingkup marga yang sama. Mereka tidak saling mencintai. Tetapi berkomitmen untuk membuat kekuasaan melebar dan semakin menancap dalam. Yang paling utama tentang bisnis dan uang." Kedua mata kelam Darius menyipit. "Kalian berdua menolaknya?" "Aku berniat melakukannya. Aku dan Alby. Tapi kemudian aku melarikan diri. Lalu semua berubah. Aku menolak menikahinya. Ibu dan bibi tidak keberatan sama sekali karena hal itu. Alby punya sedikit obsesi berlebih padaku sebagai sepupu." Darius bergeming. "Mengejutkan, benar?" Alicia mendesah lega. "Itu yang terjadi. Kami tidak rela uang berhamburan pergi untuk keluarga lain." "Dan mendapati aku tertarik padamu, itu menjadi persoalan luar biasa. Aku tidak bisa mengutukmu, tidak bisa mendorongmu menjauh. Membiarkan takdir bermain sesekali bukan masalah." Alicia tersenyum ke arahnya. Merapatkan tubuhnya yang ramping semakin dekat. Memangkas jarak dengan tatapan penuh arti. "Aku merasa baru saja memenangkan sebuah taruhan," ucap Darius dengan senyum. "Tetapi kau sedang tidak bertaruh. Aku bisa melihatnya sejak pertama kali kita bertemu di pesta membosankan itu." Alicia mendongak untuk mencium bibir Darius ringan. Hanya sentuhan ringan, yang membuat napas mereka memberat. Tiba-tiba merasa sesak dan terengah. Karena sang dokter menunduk, membenamkan bibirnya begitu dalam ke bibirnya. Mencecap, merasakan, mengambil semua bagian dengan liar. Alicia tersengal, merasakan napasnya hampir habis dan dadanya meledak karena sensasi. Lidah mereka bertemu. Begitu pula dengan seluruh napas yang Darius renggut darinya. Alicia kehilangan pegangan. Hanya bisa memegang lengan pria itu, mencengkeramnya lembut. "Kamar," ucap Alicia terbata. "Kita butuh kamar." Darius tidak berpikir dua kali untuk bangun dan menarik tangannya pergi. Membawanya dari dapur menuju kamar, mengunci mereka berdua demi menikmati malam yang panjang dan penuh gairah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD