"Kau tidak suka dipeluk?"
"Berpelukan." Alicia mengoreksi dengan datar. Memandang langit kamar yang temaram bersama secuil kesempatan untuk mengatur napas. "Aku tidak terbiasa melakukannya. Kalau untuk menghibur, itu mungkin berada pada titik arti lain."
Darius terbaring di sebelahnya. Telanjang. Bersama selimut yang membungkus keduanya sampai pinggang. Alicia bersedekap, mencoba membunuh dingin dengan penuh tekad.
"Aku bukan orang suci," kata Darius, bernapas pendek di sampingnya. "Setelah apa yang kita berdua lakukan."
"Kita dua individu yang telah beranjak dewasa. Aku menginginkannya, dan kurasa—," Alicia melihat pria itu mendesah. "—aku juga." Yang membuatnya mengangguk, tersenyum lega.
"Kau pernah berkencan sebelum ini? Kehidupan asmaramu begitu mengesankan?"
"Aku tidak tahu dalam hal apa bisa disebut mengesankan," tukas Darius datar. "Aku berkencan sama seperti orang kebanyakan. Tapi mungkin beberapa hal membuatnya mendesakku dalam komitmen serius. Ibuku tidak terlalu suka. Aku menyadarinya dan memilih mundur."
"Menurutmu, restu ibu adalah segalanya?"
"Ya. Aku belajar banyak dari sekitarku. Ketika kita mematuhi mereka dengan pikiran rasional, kau akan menemukan jawabannya. Aku merasa baik-baik saja berkat ibu."
Alicia mengerang kecil dari atas tumpukan bantal. "Ah, bodoh sekali aku. Tidak pernah sekalipun merasa demikian. Aku berpikir, pusat dari segalanya adalah Mama."
"Kita berdua bergerak ke arah yang sama tanpa disadari." Darius menepis keraguannya saat mencoba memandang Alicia dari sisi wajah. "Menghormati ibu melebihi segalanya."
Alicia mengambil napas. Mengulurkan tangan untuk memandang telapak tangannya sendiri yang bersih. Ada guratan kasar yang menandakan dirinya telah banyak bekerja keras sepanjang hidupnya. "Kau benar. Aku hanya tidak menyadarinya."
"Mengapa kau tidak punya teman?"
"Leon." Darius mengangkat alis. "Kami cukup akrab. Tapi tidak sedekat itu untuk berbagi keluhan. Dia cocok dengan Dannes. Aku penyendiri."
"Aku bisa melihatnya, dokter."
Alicia berguling untuk menghadap pria itu. Mengagumi parasnya yang rupawan, diam-diam tersenyum lembut. "Kita berdua berpikir rasional tentang relasi. Kadang-kadang pertemanan bisa saja merusak segalanya. Aku cukup berhati-hati dengan Cecil karena dia menjadi satu-satunya."
"Dia sahabatmu yang berharga?"
"Benar," aku Alicia ceria. "Aku menyukainya. Tapi kebanyakan orang berpikir Cecil tidak lebih dari benalu yang menempel pada inang. Dia banyak membantu. Dia lebih dari tuduhan mereka."
Sorot mata kelam Darius memaku wajah manis itu di depannya. Kecantikan Alicia tidak memudar meski tanpa riasan. Walau Darius tahu bahwa Alicia bukan seorang perawan, tetap rasanya berbeda.
"Pengalaman bercintamu berasal dari para mantanmu?"
"Seks bukan aspek penting dalam kehidupan seorang perempuan berbisnis," balas Alicia masam. "Aku sibuk dengan karier dan suka merasa lelah setiap saat. Mempunyai beberapa mantan tidak lantas membuatku perlu membawa mereka ke kamar."
Darius tercengang. "Lantas?"
"Alby."
Suara terkesiap muncul dari bibir Darius yang terbuka. Alicia tersenyum. Sama sekali tidak merasa tersinggung dengan fakta yang baru saja ia beberkan. "Kami berdua gemar berpetualang. Sebagai pengalaman pertama satu sama lain, Alby benar-benar handal."
"Dia sepupumu."
"Memang. Itu yang membuat Alby punya sedikit obsesi berlebih padaku. Kami sempat bersama sebagai teman tidur, bukan sebagai sepupu yang harus membantai dunia demi melindungi kerajaan bisnis."
Darius hanya mencoba meresapi walau sepenuhnya terlontar keluar begitu saja. Alicia dan Alby?
"Ini yang membuat mendiang kakekku sadar ada sesuatu di antara kami. Dia menganggap ini kemajuan dan mungkin bisa melindungi hartanya. Tapi aku berpikir kami berdua hanya sepasang remaja suka bersenang-senang."
Alicia menoleh. Mendapati ekspresi datar itu berubah penuh rasa terkejut. Sudut bibirnya tertarik kala tangannya merambat naik, memainkan pola melingkar di atas d**a bidangnya. "Aku belum mau tidur."
Darius tahu perempuan ini penggoda paling berbahaya.
***
"Halo, selamat datang kembali."
Alicia memamerkan senyum bersahabat saat melihat mata Kia, pemimpin pengurus pondok memandangnya dengan sinar berbinar. Raut senang terpancar dari wajah ramah itu.
"Selamat siang."
Dari kejauhan, ia bisa mendengar suara anak-anak tengah bermain. Langit terlihat tidak begitu bersahabat ketika Alicia datang. Tetapi tidak menyurutkan semangat anak-anak untuk bermain bersama. Taman terlihat penuh. Bersama pengasuh yang setia menemani.
"Silakan, duduk dulu. Kau berasal dari kota, kan?"
"Ya, Tokyo."
"Ah, perjalanan tidak sebentar."
"Hanya setengah jam." Alicia mengembuskan napas saat mencium aroma bunga freesia dan buah pear yang segar. "Aku senang dengan situasi yang terjadi di sekitar sini."
"Pemandangannya masih asri. Anak-anak senang melihat senja di luar rumah. Sayang sekali, sebentar lagi hujan. Mendungnya tidak lagi tertolong."
"Samia, ingin minum sesuatu?"
"Air putih dingin saja, mungkin? Trims."
Ketika Kia yang berdiri untuk memberinya minum, Alicia memutuskan untuk berjalan-jalan. Membuka pintu kayu samping yang menembus ke arah taman. Pekarangannya cukup luas. Menjorok sampai ke dalam dan ada kolam ikan besar.
"Lempar kemari bolanya, Alan."
Alan berlari dengan senyum sumringah saat bola itu menggelinding tepat di depan Alicia. Ketika mata mereka bertemu, senyum Alan hampir memudar. "Um, siapa?"
"Hai, aku Samia." Alicia memperkenalkan diri. "Teman-temanmu memanggil Alan. Namamu Alan?"
"Ya."
"Alan!"
"Yah, sebentar." Alan melempar bola dan mereka menangkapnya. Kemudian berpaling pada Alicia. "Aku seperti tidak asing padamu."
Alicia bisa mendengar suara langkah kaki Kia mendekat. Saat senyumnya hampir memudar, meredup karena terlalu lelah berpura-pura.
"Aku datang untuk memberi bantuan ke pondok ini. Yah, anak-anak di tempat ini sangat manis, aku tidak tahan melihatnya."
Alan mengangguk setuju. "Mereka sangat baik."
Manik hijau Alicia memindai kulit anak itu dan melihat luka-lukanya memudar cukup cepat. Alan kembali dalam kondisi fit. Dia bisa bermain puas bersama teman-temannya.
"Ayahnya belum kembali."
Alan memandang Kia dengan sedih. "Mungkin suatu hari nanti, ayahku akan kembali. Dia akan datang dan menjemputku."
"Begitukah?" sahut Alicia pelan. "Dia berjanji seperti itu padamu?"
"Ya. Ini hanya untuk sebentar."
Alan memandang Alicia. "Aku ingat sebelum dia pergi, samar-samar mengingatkanku pada perempuan bernama Alicia. Dia berbicara dengan dokter muda itu. Berbicara kalau perempuan bernama Alicia berbahaya. Karena keluarganya sangat kaya, sangat berkuasa."
Alicia mendesah. Berpura-pura memasang raut simpatik. "Terlalu banyak orang bernama Alicia di dunia ini. Yang mana?"
"Aku tidak tahu," kata Alan dengan gelengan.
Alan berlari menuju teman-temannya. Ketika Alicia berpaling, mengamati ekspresi Kia yang rapuh. "Aku baru mendengarnya berbicara seperti itu. Ayahnya memberi pesan tersirat rupanya."
"Kurasa mencoba menanamkan ke kepala bocah malang itu tentang Alicia yang jahat." Alicia meneleng sedih. "Dia mendengar percakapan ayahnya dengan dokter yang merawatnya secara samar. Dia bocah pintar."
"Malang sekali nasibnya."
"Aku ikut bersedih," timpal Alicia. Memandang lurus ke langit ketika Kia balas memandangnya. "Lagi pula, dunia ini selalu punya kejutan."
"Aku setuju. Nah, Samia. Sebentar lagi Darius akan datang. Aku ingin kau mengenalnya sebagai donatur terbesar pondok ini. Mungkin kau berkenan menunggunya?"
Alicia bergeming.
***
Cecil menahan napas melihat siapa sosok yang menunggunya kembali bersama kerumunan orang lain di depan pintu utama bandara.
Pria itu hanya memakai setelan kemeja dan celana. Tidak ada jas atau dasi yang biasa terlihat. Membuat mata birunya menyipit, menilai dengan seksama dan tidak bisa mundur untuk menghilang. Dirinya sudah terlanjur tertangkap basah sekarang.
"Sayangku."
Seorang ibu mengulurkan tangan kepada sosok yang lebih mungil dari sebelah kanan. Saat Cecil bergeser, mendengar sorak ramai dari para keluarga yang senang mendapati kepulangan anggota keluarga mereka dengan selamat.
"Kau ingin sambutan juga?"
Bibir Cecil terkatup. Mendongak menatap papan layar besar yang menunjukkan daftar rute pesawat dan mendesah. "Aku bisa saja keluar dari pintu selatan dan bukan pintu timur. Kau tahu?"
"Aku tahu ke mana kau mencoba melarikan diri," sahut pria itu ringan. "Tapi aku tidak mencoba mengejarmu. Aku membiarkanmu."
"Kau juga tidak perlu menjemputku," balas Cecil sinis. Melepas kacamata hitamnya dan membiarkan mata mereka bertemu. "Aku akan pergi ke rumah sakit."
Ekspresi Alby terlihat tidak senang. "Untuk apa kau pergi ke rumah sakit?"
"Kau berpura-pura bodoh sekarang," sela Cecil masam. Membuang wajahnya dan bergeser untuk mencari taksi. "Aku perlu ke sana untuk melihatnya."
"Kau bergurau."
Alby menarik tangannya, menyeret paksa wanita itu untuk pergi ke parkiran mobil saat petugas bandara membawakan Porsche miliknya. "Dia terbaring di ranjang selama bertahun-tahun dan tidak ada harapan hidup. Kau masih mengharapkan manusia patung itu? Kalau alat itu dicabut, dokter punya alasan menyebutnya telah mati."
"Berhenti memaksaku." Cecil menarik tanganya lepas. Memandang pria itu tajam. "Aku tidak peduli. Bagiku dia masih bernapas, masih mendengarku bicara. Dia masih bermimpi!"
"Omong kosong."
Alby menarik kopernya dan membuka pintu penumpang saat Cecil terdorong masuk ke dalam. Saat pria itu membungkuk, memungut tas selempang wanita itu yang jatuh. "Pakai sabuk pengamanmu."
"Aku ingin memukulmu sekarang!"
Cecil menahan mulutnya tetap terkunci saat Alby membanting pintu kemudi di sebelahnya. Iris biru langitnya memicing, mendapati mobil demi mobil melaju menjauhi area parkir bandara dan berbaur bersama kendaraan lain di jalan.
"Kupikir kau lebih lama bersenang-senang di tempat lain."
Cecil mendengus keras. "Aku punya tanggungan di kota ini. Kau pikir aku gila meninggalkan keluargaku dan kekasihku sembarangan?"
Rahang Alby mengeras saat dirinya memutar kemudi untuk berbelok ke persimpangan. "Aku tidak ingat kau punya kekasih."
"Kau yang membunuhnya."
"Oh, itu bukan kesengajaan. Aku tidak sengaja. Alicia juga melihatnya. Itu bukan kesengajaan."
Saat ini yang Cecil perlukan hanya mundur dan tidak lagi berdebat. Ia butuh tidur sebentar dan meluruskan syaraf otaknya yang tegang.
"Kau benar. Seharusnya aku pergi lebih lama."
Alby melirik dengan cibiran saat mengetuk jemarinya di atas kemudi. "Silakan saja kalau kau bisa."
"Kau berniat menyusul? Mencari dan menyeretku seperti kambing peliharaanmu yang lepas?"
"Kambing?" Alby berpaling dengan cemoohan. "Ya, aku akan melakukannya. Kau tidak perlu repot memakai pesawat komersil. Menumpangi jet pribadi lebih cepat dan nyaman."
Cecil menarik napas dalam-dalam sebelum mengembuskannya kasar. "Persetan denganmu."
Alby mendengus kecil. Menikmati bagaimana raut cantik itu kerap berubah-ubah karena jengkel dan marah.