"Aku tidak lapar."
Cecil mengedarkan mata birunya ke seluruh penjuru ruangan sampai benar-benar bosan. Saat Alby meminta pelayan untuk membawakan buku menu, ia segera memesan.
"Aku mau pulang."
"Diamlah."
Sebisa mungkin dirinya tidak melirik barisan menu di atas meja. Pelayan ramah tadi memberikan dua buku menu untuk mereka. Cecil tidak membukanya sama sekali. Sedangkan Alby terlihat sibuk.
"Kau punya alergi dengan beberapa jenis ikan. Bagaimana dengan ramen kepiting ini?"
"Aku tidak berminat."
Alby meliriknya yang bersedekap. Memutuskan untuk tidak bertengkar saat meminta pelayan mencatat pesanan mereka.
"Tuhan, kau membuatku terkejut."
"Alicia?" Kepala Cecil berpaling, menatap sahabatnya dengan napas tercekat. "Kau di sini?"
"Dia pelakunya," tunjuk Alicia pada sang sepupu. "Aku menghubungi ponselmu."
"Ah, ya, mati. Kehabisan baterai." Cecil memasang raut sedih. "Aku minta maaf. Tapi bisakah kita pulang sekarang?"
"Pesanannya belum sampai."
Cecil mendesah. "Aku tidak lapar. Tidak sama sekali. Aku cukup banyak makan di pesawat."
"Sahabatmu berbohong," tukas Alby bosan. "Dia menumpangi pesawat kelas ekonomi. Tidak ada makanan selain camilan dan segelas air."
Alicia menautkan alis. "Kau seharusnya membawanya pada bangku kelas pertama atau bisnis."
"Tidak perlu repot. Aku lebih senang menumpangi kelas ekonomi. Yang terpenting aku kembali," sela Cecil dengan senyum. "Apa kabar? Aku mengirimkan pesan suara terlalu malam, benar?"
"Ya. Dan aku tidak bertanya karena kupikir kau perlu waktu. Kau seharusnya berlibur lebih lama."
Alby memutar mata malas. "Dia putus asa karena mencoba mencari pekerjaan yang sesuai. Ayahnya hampir terjerembab dalam kubang dosa yang sama."
Cecil meneleng sedih. "Aku belum bercerita. Tapi kurasa itu tidak perlu. Kau sudah banyak membantu. Aku tidak akan mengemis lagi."
Obrolan terhenti karena pesanan datang. Alicia mundur, menilai reaksi Cecil dan Alby bergantian. Sebelum akhirnya mengernyit, melihat Cecil yang sama sekali tidak berselera dengan makan siangnya.
"Kau tidak suka?"
"Aku tidak lapar," ucapnya datar.
Alby diam. Dan perasaan Alicia menggema menjadi firasat buruk. Saat mata biru Cecil meredup, Alicia terlambat memperingatkan pria itu.
"Jangan."
Sudah terlambat.
Mangkuk berhamburan di atas lantai. Yang membuat Cecil berjengit dan mundur. Nyaris tersandung kaki kursi dan terjungkal. Para pengunjung berpandangan. Sementara pelayan terlihat panik.
"Kenapa kau melakukannya?"
"Kau tidak mau makan, bukan? Aku membayar makanan itu. Sesukaku."
Alicia bangun melihat sahabatnya berdecak dan menggeser kursi. Ia terlihat bersalah ketika pelayan datang untuk membersihkan kekacauan sedangkan Alby bersantai.
"Cecil," panggilnya. Wanita itu tidak menggubris.
"Aku minta maaf," bisiknya saat memindahkan mangkuk dan mencoba mengelap lantai dengan tisu. "Aku berbuat salah."
"Tidak apa-apa, Nona. Kami akan menggantinya dengan yang baru."
"Oh, tidak perlu. Biar aku yang membayar makanan itu nanti. Terima kasih banyak."
Alicia bisa melihat bekas kemerahan karena panas di kulit sahabatnya. Cecil mendesis kecil, meringis berulang kali dan mencoba membungkuk untuk meminta maaf karena telah merepotkan.
"Jangan memandangku seperti itu."
Bibirnya terkatup. Alicia melihat Cecil menatap Alby sengit sebelum menarik kursi untuk duduk, menciptakan jarak.
"Aku yang akan mengantarmu pulang."
"Kopernya ada di dalam mobilku."
"Lupakan saja koper itu," sahut Alicia datar. "Kau ingin pulang, kan? Kuantar kau kembali."
"Aku akan pergi ke rumah sakit."
Kalimat itu cukup membuat Alby tegang di tempat duduknya.
***
"Ayahnya benar-benar tidak akan kembali?"
"Aku belum dapat kabar," kata Darius datar saat bangkit dari lantai. Setelah memeriksa Alan yang tertidur, ia memilih untuk pergi dan menutup pintu. Meninggalkan kamar yang tenang.
"Malang sekali." Kia mendesah. "Ah, aku belum bercerita padamu tentang donatur baru."
"Donatur baru?"
"Wanita itu datang kembali siang ini. Aku berniat mempertemukan kalian, tetapi dia sudah terburu-buru pergi karena mendapat telepon penting."
"Siapa?" Darius penasaran. "Namanya?"
"Samia."
"Dia berasal dari keluarga kaya? Datang untuk mewakili badan amal?"
"Pribadi," sahut Kia pelan. "Dia baik dan ramah. Bantuannya tidak kecil dan cukup membangun taman dalam waktu kurang dari seminggu. Dia tidak bilang berasal dari keluarga kaya, tapi berkecukupan dan dia pekerja keras."
"Aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya," tukas Darius datar. "Samia. Mungkin Samira?"
"Hah, entahlah. Aku pikir pendengaranku mulai buruk. Samia atau Samira. Berasal dari keluarga kaya?"
"Samira putri pemilik perusahaan percetakan. Ibunya seorang notaris ternama. Dia dua bersaudara. Adiknya laki-laki dan bersekolah di Boston. Keluarga kaya baru."
"Sepadan denganmu?"
Kepala Darius menggeleng. "Ayahnya menekuni bisnis itu baru dua generasi. Belum sempurna. Tetapi cukup mendulang sukses karena dukungan sponsor sana-sini."
Kia menghela napas lega. "Aku pikir tidak semua orang mempunyai uang sebanyak itu. Samia atau Samira mungkin benar-benar kaya."
"Aku mendengar putri pertama mereka memang sering terjun ke dunia amal. Banyak melakukan kebaikan dengan menghadirkan sponsor dan memberi banyak bantuan. Dia sempat menjadi duta UNICEF selama dua tahun sebelum memutuskan untuk menekuni bisnis lain."
"Ah, mungkin benar dia." Kia mengangguk.
Darius bergeser untuk bersiap pergi. Ia tidak akan lama setelah memeriksa Alan dan memastikan bocah itu tidak mendapatkan luka serius. "Ayah Alan punya pekerjaan berbahaya. Aku rasa dia tidak akan kembali. Alan mungkin akan menetap sampai semua membaik."
"Bukan masalah. Kalau dia siap, kita bisa memasukkannya ke sekolah umum. Seperti anak-anak lain," timpal Kia hangat. "Alan dan temannya pantas mendapat pendidikan setara. Mereka berbakat."
Darius mencoba menepis firasat buruk yang tiba-tiba menggulung bagaikan ombak di tengah lautan. "Alan menyukai tempat ini. Aku bisa melihatnya. Dia mungkin merasa nyaman karena memiliki teman baru. Ayahnya bilang, dia kurang pandai bersosialiasi."
"Ada sedikit kendala," bisik Kia. "Tapi semua bisa teratasi. Aku beruntung karena para pengasuh punya kekuatan magis membuat mereka rukun dan saling melengkapi. Aku memiliki prinsip untuk membuat mereka saling membutuhkan satu sama lain."
Darius menarik napas panjang, membuangnua lega. "Aku akan sangat berterima kasih padamu karena mau membantu."
"Sama-sama." Kia tersenyum. "Itu sudah menjadi tugasku."
"Aku mengajukan satu pertanyaan lagi."
Kia mengernyit. "Ya, silakan."
"Bagaimana ciri-ciri donatur baru ini?"
"Ah, itu." Kia mulai menjelaskan dengan nada senang. "Dia cantik. Cantik sekali. Penampilannya selalu modis walau terkesan santai tetapi terlihat mahal. Dia sering berpergian dengan mobil hitam yang tidak kutahu apa namanya. Rambutnya panjang. Warnanya cantik dan unik. Matanya indah, berwarna hijau."
Darius membeku. "Hijau?"
"Ya."
Hanya ada satu nama yang terlintas dalam kepalanya sekarang. Dan saat Kia menyebut spesifik warna rambutnya, Darius tercekat.
Sebelum sebuah telepon mengusik kegelisahannya. Membuatnya semakin hancur, tersesat dalam lorong pekat tanpa lampu, dan tak berdaya.
***
"Kakak ipar?"
Hana melihat ibunya bergegas menghampiri pamannya yang duduk lesu sembari menunggu. Saat mereka sampai, ibunya terus gemetar dan terlihat pucat. Hana baru paham saat mereka mendapat kabar menyakitkan. Kalau bibinya, ibu Darius, baru saja diracun dan kritis.
"Ayah?"
"Ya Tuhan, Hana." Hanan mengusap rambut putrinya sebelum beralih pada Tommy yang terguncang. Sambil memegang pundak sang istri, Hanan memberi kekuatan pada Tommy yang kacau.
"Dina, jangan menangis."
Dina, ibunya, meminta maaf dengan rintihan saat mundur dan menyeka air matanya. Hana mendekat, memeluk sang ibu dan membiarkan ibunya menangis di pundaknya.
"Ibu?"
Suara Dannes tercekat saat melihat pintu ICU tertutup. Medical Center tidak terjangkau dari kediaman mereka. Evelyn yang kritis harus dilarikan ke Royal Center, rumah sakit dengan Tommy sebagai kepala utama. Masih dalam jangkauan gurita bisnis keluarganya.
"Apa yang terjadi?" Dannes terlihat panik. Pucat pada wajahnya tidak lagi bisa tertahan. "Ayah, apa yang terjadi?"
"Dannes," tegur Dina lirih. "Tenang dulu, anakku. Ibumu sudah teratasi. Dia kritis."
"Kritis artinya terlambat," kata Dannes gusar. "Jika saja tidak ada yang tahu, ibu bisa pergi. Dia akan meninggalkan kami semua."
Hana ikut gemetar. Sementara ibunya yang kini tampak tenang bergantian memeluknya. Kekacauan ini sama seperti saat usianya tiga tahun. Ketika Evelyn nyaris merenggang nyawa karena sebuah kecelakaan parah yang mengambil semua nyawa korban terkecuali bibinya.
"Mengapa harus ibu?"
Hanan menarik tangan Dannes untuk tenang. Meski rumah sakit ini milik keluarga mereka, ada baiknya tidak mengusik pasien lain yang beristirahat. "Tenang. Kau harus tenang."
"Aku tidak bisa!" Dannes menarik rambutnya dengan kasar. Kedua matanya menyorot pilu. "Aku tidak bisa. Paman, kepalaku terasa berhenti bekerja."
Hanan meminta Dannes untuk duduk. Ketika Hana bersuara lirih, melihat Darius yang hadir dengan pucat pasi. Ekspresi sama yang Dannes tinggalkan beberapa menit lalu.
"Ibu, dia, selamat?"
"Darius," Dina bangun untuk menenangkan keponakannya. "Ibumu selamat. Dia hanya kritis. Maaf karena memberi kabar dengan air mata. Aku ikut takut. Panik sekali."
Pikiran Darius bercabang. Sementara Tommy tidak bisa bersikap dewasa dengan menenangkan kedua putranya. Mereka sama-sama terguncang. Belum bisa mencerna semua kejadian dengan benar.
"Siapa yang membawa ibu pergi?"
"Supir." Tommy menyahut lirih. "Aku pergi untuk undangan makam malam bersama menteri kesehatan. Saat supir menghubungi, aku dalam perjalanan pulang."
"Ada CCTV di rumah," tukas Dannes dingin. "Kita bisa melacaknya dari sana. Kita bisa mencari tahu siapa pelakunya. Pelaku yang meracuni ibu dengan sengaja."
Hanan bertanya. "Bagaimana kesaksiannya?"
"Dia mendengar suara pecahan gelas dari dapur. Supir tidak memeriksanya lebih cepat karena harus memeriksa kendaraan. Lalu saat masuk, dia melihat istriku terbaring dan tidak sadarkan diri. Mulutnya berbusa. Gelas itu melukai tangan dan pipinya."
Hana membeku mendengar penjelasan tersebut. "Sedikit lagi, nyawa bibi mungkin saja tidak tertolong."
"Sssh, Hana." Dina merangkul bahu putrinya. "Itu semua belum terlambat. Supir berhasil membawanya kemari. Dia menghubungi pamanmu saat dalam perjalanan."
"Aku langsung datang. Meminta agar mereka memindahkan istriku ke ruang ICU sebelum pergi ke kamar inap. Aku tidak bisa berpikir. Ini semua seperti memori lama."
Hanan menepuk bahu Fabian dengan tepukan lembut. Ia memandang istri dan putrinya yang sama-sama bersedih. Lalu pada dua keponakannya yang menunduk. Baik Darius dan Dannes sama sekali tidak bersuara.
"Aku akan membunuhnya."
Hana menatap Dannes yang mengepalkan tangan.
"Siapa pun yang melukai ibu, aku akan membunuhnya. Berdoa saja semoga si pelaku tidak terlalu cerdik dan meninggalkan jejak. Kalau sampai itu tidak terjadi, aku akan menyewa detektif swasta untuk memburunya. Uang bukan masalah, bukan? Tidak akan pernah menjadi masalah."
Darius mengusap wajahnya yang letih. "Kita bisa mencari tahu tanpa melibatkan pihak luar. Lagi pula, sebelumnya Alicia pernah memperingatkan, bukan?"
Semua orang membeku atas kebenaran kalimat Darius.