Evelyn diracun.
Perempuan malang itu telah diracun.
Alicia menengadah memandang langit ruang kerjanya. Apartemen menjadi satu-satunya tempat pelarian terbaik. Dan kemungkinan besar, dokter muda itu tidak akan ada di sana. Kabar yang mengejutkan baru saja terjadi, mengguncang keluarganya menjadi serpihan debu.
Ibu mereka baru saja diracun.
Malang sekali. Alicia mendesis dalam hati. Mengambil napas panjang dan membuangnya perlahan. Gambaran tentang Evelyn yang hampir merenggang nyawa lagi terbayang dalam benaknya. Alicia diam, mengetukkan jemarinya di atas pangkuan.
Pola beruntun ini akan terus sama.
Kalau musuh tidak bisa menemukan kelemahan lawan, maka cara terbaik adalah menyerang sisi lain. Kekanakkan, memang. Tetapi cara itu terbukti sangat ampuh.
Dannes dan Darius yang terkuat. Musuh tidak bisa melukai kedua pria itu. Maka cara terbaik adalah dengan mengusik keluarganya. Membiarkan Evelyn sekali lagi hampir merenggang nyawa.
Alicia bisa membayangkan ekspresi hancur Darius sekarang. Dokter muda itu mungkin saja terguncang hebat mendengar keadaan ibunya. Evelyn kritis. Terlambat barang semenit saja, nyawanya tidak lagi tertolong.
Kematian masih menunggu.
Tangannya menyambar bir dingin di atas meja. Tidak ada yang bisa Alicia pikirkan selain pria itu sekarang. Keadaan akan semakin mencolok kalau saja ia turut hadir di sana dan berpura-pura hancur. Toh, mereka tahu siapa dirinya.
Tetapi tidak pelakunya.
Alicia tersenyum penuh ironi. Hidup berjalan sekejam ini untuk memberi pelajaran umat manusia. Sementara mereka yang tidak sanggup bertahan, perlahan akan mati.
Kegelisahan mengusik jiwanya. Sekaligus rasa aman dan tenang yang mencengkeram. Kejadian yang dialami ibu Darius jelas bukan ketidaksengajaan, melainkan sebuah kebetulan. Sebuah insiden yang memaksa seseorang untuk berterus-terang terhadap kejahatan yang sebelumnya mereka lakukan.
Alicia mendesis. Merasakan kepalan tangannya memutih saat membayangkan perempuan malang itu tertidur dengan rasa sakit. Evelyn tak ubahnya sama seperti sang ibu, ibunya, yang memperlakukan dirinya layaknya berlian terbaik.
Royal Center. Ibu Darius ada di sana karena jalan tercepat sebelum sampai ke Medical Center. Untuk mendapat pertolongan pertama sebelum nyawanya benar-benar tidak tertolong.
"Ah, birku habis."
Alicia menyusuri jemarinya pada anak rambut yang tergerai dan kusut. Sudut bibirnya tertarik dingin. Memandang lurus pada potret membahagiakan antara dirinya dan sang ibu. Yang terkenang dalam bentuk gambar penuh warna. Foto itu cukup membuatnya terkesan.
"Bahkan sebagai ibumu, kadang aku tidak bisa memahamimu. Tidak bisa memahami putriku sendiri. Jalan pikiranmu berbeda. Kau misterius, kau senang menyendiri, kau senang memusuhi dunia."
Ucapan Emily terakhir kali sebelum memutuskan untuk kembali ke Tokyo dan meninggalkannya yang terbaring di rumah sakit sendiri. Alicia pernah merasakan sakit hati, dan itu karena ibunya.
Ibunya tidak bisa menyelamatkan apa pun yang tersisa. Emily berubah dari sosok pembangkang menjadi penuh perhatian luar biasa. Yang terkadang membuat Alicia muak.
Oh, tidak. Ia tidak muak pada ibunya. Ia muak pada segalanya. Kenapa orang-orang senang sekali memakai topeng? Manusia tidak akan hidup tanpa satu topeng. Mereka butuh dua, tiga, bahkan ratusan.
Ironis. Dari segala hal yang ingin ia hancurkan, Alicia menginginkan kebebasan ibunya sebagai balasan. Timbal balik dari semua rasa sakit yang perempuan itu alami selama puluhan tahun.
Kedua matanya terpejam. Ketika sebelah tangannya terjulur, menggapai udara dengan senyum samar. Sebelum turun, mengepalkannya kuat.
"Aku sudah memperingati kalian," lirihnya.
***
"Kopi untukmu."
Darius mendongak. Melihat Hana, sepupunya yang baru saja kembali setelah berpamitan sebentar. Membawa dua bungkus kopi dalam kardus. Menberikannya pada keluarga yang masih menunggu.
"Dia sudah melewati fase kritis. Kita hanya perlu bersabar sampai semuanya pulih." Tommy muncul dari pintu ICU dan berbicara dengan seorang perawat. "Setengah jam lagi istriku akan dipindah. Aku meminta ruangan khusus untuknya sendiri."
Dannes memandang gelas kopi di tangan. "Aku akan mencari tahu siapa pelakunya."
"Tidak sekarang," sahut Hanan lirih. "Supir pribadi kalian telah melaporkan ini ke polisi. Mereka yang akan menyelidikinya."
"Ini akan berjalan lama," sungut Dannes sebal. "Sebelum pelaku melarikan diri. Sebelum dia melewati neraka ini dan berhasil kabur dari kita."
Darius tampak merenung. Sementara Hana hanya mengawasi, memilih untuk diam di sebelah sang ibu yang lesu.
"Hanan benar. Kita fokuskan ini pada ibu lebih dulu. Kalau ibu sadar, kita akan tahu segalanya."
Kedua tangan si putra sulung terkepal. Dannes mengambil napas, membuangnya kasar. "Bagaimana dengan Darius?"
"Aku juga akan mencari tahu," balasnya.
"Meminta bantuan Alicia?" tanya Dannes agak sinis. "Apa pacarmu bisa membantu? Oh, tentu saja. Dia berkuasa. Atau mungkin ini termasuk akal bulusnya?"
"Dannes," tegur Dina dari seberang kursi. "Kau tidak boleh bicara begitu. Alicia tidak punya masalah dengan kita. Dia tidak akan berbuat jahat."
"Siapa tahu?"
Hana mendesah. Melihat situasi menegang membuat kepalanya semakin sakit. Ia tidak terbiasa menghadapi persoalan serumit ini. Lebih baik tenggelam dalam tugas dan hapalan daripada larut dalam permasalahan keluarga besar.
"Aku akan mencari tahu."
Suara Darius terdengar penuh tekad. Saat Hana bangun, memberikan kopi dan roti isi pada Tommy, yang diberi senyum tipis oleh pria paruh baya itu. Dan Hana kembali duduk, larut dalam lamunannya sendiri.
"Kau ingin pulang?" tanya Dina pada putrinya. "Hana tidak tidur semalaman. Kurasa dia perlu istirahat. Ibu akan telepon supir sekarang."
"Tidak. Hana akan tetap di sini," sahut suaminya dingin. "Aku tidak mau putriku celaka. Hanya mencoba mengantisipasi."
Dina menautkan alis. "Tidak akan terjadi sesuatu padanya, Hanan. Kenapa kau cemas?"
"Wajar jika aku cemas setelah tahu apa yang terjadi pada kakak ipar." Hanan mendesah berat. "Hana tetap di sini."
"Aku mau pulang."
Hanan memicingkan mata. "Nanti. Kau akan pulang bersama ibu atau bersamaku."
Dina menghela napas. Memeluk sang anak dan membantu menenangkannya. Ketika Darius tiba-tiba bangun, mengusik atensi mereka semua dalam tanya. "Darius?"
"Kau akan pulang bersamaku," tukas Darius datar. "Hana akan tidur di apartemenku."
"Itu terdengar lebih baik," timpal Tommy lega. "Setidaknya Darius akan menjaganya."
Dannes memandang adik dan sepupunya bergantian. Lalu mengangguk. Membiarkan Hana bangun untuk memakai jaket. Kemudian berpamitan dan pergi. Mengekori langkah Darius dalam diam menuju tempat parkir.
"Kau mau sarapan?"
"Bubur terdengar bagus."
Darius mengangguk. "Ada bubur dekat apartemen. Aku akan membawamu ke sana."
"Darius."
Pria itu berhenti membuka pintu.
"Apa Alicia yang melakukannya?" tanya Hana sedih. "Mencoba membunuh ibumu? Apa salahnya? Supir bilang, terakhir kali ibumu pergi adalah bertemu Alicia. Dan saat kita semua duduk di ruang makan. Setelah itu semua terjadi. Kebetulan atau tidak, waktunya terasa tepat."
"Kau percaya?"
Hana diam. "Aku tidak tahu."
"Aku tidak akan memaksamu percaya," ujar Darius dingin. Tanpa ekspresi berarti saat meminta Hana masuk ke mobil. "Tapi menurutku bukan dia. Alicia tidak melakukannya."
Hana menarik napas panjang.
"Aku juga berharap sama."
***
Cecil menahan langkahnya tetap diam di lorong sampai sosok Dannes dan Darius menghilang. Namun, dugaannya salah. Darius menangkap basah dirinya. Yang membuatnya tidak lagi bisa berlari pergi.
"Kalian di sini?"
Alis Darius tertaut. "Untuk apa kau datang?"
Cecil bergerak untuk menyembunyikan sesuatu dari tangannya. Dan Dannes menangkapnya dalam diam. Tidak lagi bertanya. "Kalian?"
"Royal Center milik keluarga kami," sahut Dannes pelan. Melirik Darius dan bersuara dengan nada datar. "Ibuku diracun seseorang. Kondisinya kritis."
Manik sebiru laut itu melebar. "Diracun?"
"Kau tidak bersama Alicia?"
Kepala pirang itu menggeleng. "Kemarin aku bersamanya. Dan sekarang tidak. Alicia punya urusan sendiri. Bagaimana bisa itu terjadi?"
"Kejadiannya cukup cepat dan singkat. Aku perlu bertanya pada sahabatmu," ujar Dannes dingin. "Kau bisa membawaku bertemu dengannya?"
"Darius?" tanya Cecil lirih. "Alicia menjauh darimu?"
"Kami tidak punya masalah satu sama lain," tukas Darius dingin. "Tapi mungkin dia lebih senang melihat Alicia dari orang lain ketimbang adiknya."
"Aku tidak mau melibatkan Darius. Penyelidikan harus tetap berlanjut. Aku perlu mencari pelaku yang meracuni ibuku."
Cecil menatap sepasang kakak beradik itu dalam diam. Kemudian mendesah pelan, menyugar rambut kucir kudanya. "Kau menduga Alicia, benar?"
Keduanya diam.
"Yah, kalau begitu kita sama. Kadang sebagai teman dekat, aku juga tidak bisa memahaminya."
Dannes mengernyit dalam. "Bagaimana maksudmu?"
"Alicia punya prinsip sendiri. Aku memang temannya, sahabatnya, tapi bukan berarti aku memahami jalan pikirannya." Cecil menepis keraguan dengan bicara tentang Alicia. "Ini berlaku untuk semua orang. Bahkan ibunya sendiri."
"Apa dia pelakunya?"
"Relasi antara ibu kalian dan dirinya apa?" tanya Cecil sinis. "Alicia tidak berkenan memberi masalah pada mereka yang tidak bersinggungan dengan keluarganya."
Dannes mendesah berat. Sementara Darius diam, memilih untuk meresapi setiap kalimat yang meluncur dalam bungkam.
"Semoga ibumu cepat pulih," ujar Cecil singkat. Sebelum berlalu pergi dan meninggalkan keduanya tanpa menoleh lagi.
"Alicia yang dibicarakan orang-orang tidak seperti itu," ucap Dannes dingin saat Darius mengekorinya dalam diam. "Rupanya sangat berkebandingan. Atau ini hanya topeng? Kau tahu, semacam kamuflase."
"Memang tidak. Dia berbeda."
Darius berhenti untuk mengekori sang kakak ketika langkah mereka sama-sama terhenti di tengah jalan. Sorot kelam itu bertemu dengan matanya. Maniknya menyipit penuh selidik. "Walau tidak terlalu banyak, aku mencoba memahaminya. Dia memang berbeda. Tidak seperti yang kebanyakan orang bicarakan. Alicia membangun kehidupan lain dari batas amannya sebagai seorang pebisnis dan penerus keluarga super kaya."
"Dan dia bisa melakukan apa saja," kata sang kakak sinis. "Dia bisa mengancam Putri Aiko dengan sebaris kalimat tajam dan berhasil membuat anggota kerajaan gemetar. Dia bisa melakukannya. Meracuni ibu kita bukan perkara sulit."
"Tapi bukan dia pelakunya."
Dannes mengambil napas panjang. "Kau mungkin menyukainya. Tapi sedikit saja berpikirlah secara rasional."
"Aku sudah berpikir secara rasional," timpal Darius masam. "Apa kau menuduhnya sekarang?"
"Aku memang mencurigainya sejak lama. Dia misterius. Dan tidak biasanya mudah terpikat dengan pria. Tetapi dia tertarik padamu. Aku tahu kau cukup terkenal. Namun sekelas Alicia terpikat, itu terdengar aneh."
"Aku tidak tahu pesonaku sejauh itu," bisik Darius lelah dan Dannes mendengus.
"Kita hentikan pembahasan ini dan pergi menjenguk ibu sekarang."
***
Lena menutup majalahnya dengan kasar. Bersama Emily yang merenung, melempar tatapannya ke luar jendela. Gerimis rintik tidak menyurutkan keinginan mereka yang keras menemui Alicia.
"Aku sudah di sini," tukas wanita itu pelan.
"Evelyn diracun." Lena menatap Alicia skeptis. "Kau tahu?"
Alicia melirik sang ibu yang menunggu jawabannya dalam diam. Lalu mengambil napas perlahan. Membiarkan detak jam memberi kesan dingin yang tak terarah.
"Ya."
Lena terpaku. Sementara Emily menunduk, menghela napas panjang. "Siapa yang melakukannya?"
"Aku tidak tahu." Alicia membalas dengan gelengan. "Motivasi kalian datang untuk menuduhku sebagai dalang, bukan?"
"Tidak." Lena menyahut pelan. "Ibumu mendengar kabar ini dari teman sosialitanya. Sempat menjadi perbincangan. Kami mendapat kabar kalau sebelum kejadian, Evelyn menemuimu. Kalian sempat berbicara."
"Akui saja," kata Alicia lirih. "Kalian berpikir aku yang melakukannya."
"Alicia," panggil ibunya pedih. "Jangan bicara seperti itu. Aku dan Lena tidak menuduhmu."
Kedua mata Lena terpejam. Wanita itu mengembuskan napas berat, memijit pelipisnya. "Aku benar, Emily. Bukan salahnya. Tapi kau berpikir—," suara Lena tercekat. "—ini salahnya. Alicia itu ambisius dan kau mencemaskannya terlalu banyak."
Alicia mendengus. Mendongak dengan cemoohan serta rasa sakit di mata teduhnya. "Kalau ya, mengapa? Dan kalau tidak, mengapa? Beri aku alasan."
Raut pucat Emily tampak jelas. Saat bibirnya membuka, tidak ada satupun yang meluncur selain napas kosong. Lena menanti dalam cemas. Barangkali Alicia memasang tampang bosan berlebih, yang membuat keduanya tidak sanggup bersuara.
"Gosip yang beredar belum terlalu pasti. Keluarga itu menyimpan rapat-rapat buktinya sebelum pelaku ditemukan. Sementara Evelyn masih kritis," tukas Emily pelan. "Mereka mengamankan rumah. Pelakunya disinyalir orang terdekat."
"Tanganku memang berlumuran darah," kata Alicia dingin. "Aku dan Alby sama saja. Kami melakukan apa yang menurut kami benar."
"Bukan Alicia," sela Lena pasrah. "Kau terlalu berlebihan."
"Kau tidak bisa membandingkan dirimu dengan Alby." Ibunya membungkam alasan logisnya dengan sebaris kalimat dingin. "Kau sempat menjadi pengacau, dan Alby belum sampai ke sana."
"Emily," tegur Lena tajam.
Alicia menarik napas panjang. Memainkan tangannya di atas meja dengan seulas senyum. "Santai saja, bibi. Aku terbiasa. Mama sering melakukannya saat kesehatannya terguncang."
"Alicia," panggil Lena lirih. "Aku tidak membandingkanmu dengan putramu. Kalian tidak bisa bertengkar demi keutuhan bisnis keluarga. Aku juga tidak akan mengangkat senjata untuk membunuh penerus. Yang tersisa hanya kau dan Alby. Aku dan ibumu."
"Cari pelaku itu untukku."
Lena berpaling. Memandang sang adik dengan pandangan penuh tanya. Sedangkan Alicia mendongak, memejamkan kedua mata. "Aku akan melakukannya."
"Bagus."
Emily meraih tas mahalnya dan berlalu pergi. Membiarkan Lena dan Alicia berdua dalam sepi. Sesaat Lena termenung, meremas tali tasnya dalam geraman tertahan.
"Ibumu masih terlalu mencintai sosoknya, bukan? Dia membelanya sampai semua terasa tidak berarti."
"Aku tidak tahu."
"Kau tahu," sahut Lena dingin. "Kau mau membiarkannya seperti ini, Alicia?"
"Entahlah."
Lena memejamkan mata. Menghela napas panjang sekali lagi. Untuk pertemuan yang tegang ini, ia mencoba menyelami sepasang mata teduh itu cukup lama. Dan kembali tidak mendapatkan apa pun.
"Emily kehilangan segalanya. Dia bahkan membenci dirinya sendiri karena itu."
Alicia memilih untuk diam. Menunduk memandang gelas jus alpukat yang penuh milik sang ibu. Saat Lena memutuskan untuk pergi, mengusap bahunya bermaksud memberi penghiburan. Sebelum berlalu pergi, membiarkan Alicia sendiri.
Aku juga membenci diriku sendiri melebihi apa pun di dunia ini.