"Kau pulang lebih awal?"
Saat Darius tiba, ia melihat orangtuanya tengah duduk dan berbincang. Di hari senja, ayahnya banyak mengobrol bersama ibunya. Mereka berbagi banyak hal. Kisah-kisah yang mungkin terlupakan setelah mereka menikah. Yang Darius tahu, ayahnya sangat terpukul saat kecelakaan maut itu menimpa istrinya. Ayahnya lebih banyak diam dan berdoa. Darius tidak pernah melihat seorang Tommy sekacau itu sepanjang hidupnya.
"Oh, Darius di sini."
"Ayah, ibu."
"Nak," ayahnya menyapa ramah. "Kau terlihat sedikit letih. Apa kau pulang untuk menyantap masakan ibumu?"
"Ayahmu terdengar tidak mau berbagi," tukas ibunya dengan sumringah. "Kau terlihat pucat. Ada masalah?"
"Aku mungkin perlu bicara dengan ibu," Darius berdeham. "Sebentar."
"Oh, tentu saja. Percakapan antara ibu dan putranya yang telah dewasa." Tommy bangun dengan senyum. "Aku tidak akan menguping. Kalau kau membutuhkan saranku, aku ada di ruang tengah dengan majalah ekonomi keluaran bulan lalu."
"Dia itu kuno," timpal ibunya muram. "Aku berniat membuang majalah itu dan dia melarangnya."
"Itu koleksi terbaik. Aroma kertasnya membawaku pada kenangan lama."
Darius mengambil napas. "Aku setuju dia sedikit kuno."
Tommy tertawa dan pergi setelahnya.
Ibunya meraih bantal. Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil menatap putranya. "Kau punya masalah?"
"Aku ingin bicara sesuatu."
"Alicia?"
"Ibu tahu?"
"Ya Tuhan," ibunya terkekeh ringan. "Ibu yang mengandungmu, ibu juga yang melahirkanmu. Apa tidak sejelas itu? Tidak ada yang mengenal baik putranya sendiri selain ibunya."
"Aku percaya." Darius mendesah. "Itu alasanku datang."
"Alicia menolakmu?"
Kening sang anak berkerut dalam. "Lebih tepatnya, menghindari. Aku bertanya-tanya apa salahku sampai dia seperti ini."
"Alicia tahu kau tertarik padanya?"
"Kurasa. Aku mengungkapkannya tanpa malu," ujar Darius rapuh. "Aku hanya ingin terbuka. Karena aku tidak terlalu senang kepura-puraan. Ini pertama kali."
"Firasat ibu tidak bicara apa pun seperti sebelumnya." Ibunya menghela napas panjang. "Kalau kau merasa yakin, silakan. Ibu sama sekali tidak melarang meski risikonya terlalu besar. Itu Alicia, ingat? Marganya. Kita sempat punya masalah meski aku tidak yakin apakah itu berlaku sampai kehidupan sekarang atau tidak. Alicia ramah dan bersahabat. Dia tidak terlihat seperti penerus keluarga hebat."
Darius menatapnya dalam. "Jika sesuatu terjadi pada keluarga ini, aku tidak akan diam saja."
"Nak, sesuatu tidak akan terjadi pada kita." Ibunya memberi nasihat. "Hanya karena putraku jatuh cinta, dunia berkontribusi mematahkan hatinya? Tidak bisa begitu. Apa salahmu?"
"Aku terlalu banyak berpikir."
"Dan bekerja," sahut ibunya ringan. "Kau kurang bersenang-senang. Dannes menemukan hobinya sendiri walau itu merugikan. Nah, kau sendiri?"
Darius hanya diam.
"Langkah apa pun yang kau ambil, ibu tidak akan melarangmu. Ibu bukan penghadang yang baik. Tidak ada paksaan, tidak ada perdebatan. Ibu mau kau menemukan jalan hidupmu sendiri alih-alih kami tentukan."
Mungkin kehidupan terlalu kejam. Namun Darius memiliki seorang malaikat yang tinggal di rumahnya. "Kalian yang terbaik."
"Aku sempat berpikir kalau menyenangkan mengurus Hana karena dia lebih terbuka daripada kedua putraku," ucap ibunya dengan tawa. "Tapi sekarang itu tidak berlaku lagi. Aku menyayangi Hana karena dia menjadi dirinya sendiri. Kedua putraku tetap yang terbaik. Aku sebisa mungkin akan mengarahkan mereka ke jalan yang terbaik."
***
"Alicia."
Alicia menatap para tamu sosialita yang mampir ke rumahnya dan duduk melingkari ruang makan dengan obrolan random membahas kekayaan.
"Halo, selamat malam."
"Malam." Semua serempak menjawab sapaannya.
Ibunya tersenyum. Merangkul Alicia untuk masuk ke dapur, berbicara sesuatu dengan cepat. "Undangan arisan, seperti biasa. Mama meminta mereka untuk datang dan makan malam di sini. Koki memasak khusus untuk para tamu. Mama menyisakan makanan untukmu."
"Ya."
"Apa kau lelah?"
"Tidak," kata Alicia dingin. "Aku perlu ke kamar."
Saat Alicia berjalan, dia mendengar suara Nyonya Lasima berdenging di ruang makan yang bising. Perempuan itu tidak akan lelah dalam memancing urusan perkara atau gosip baru. Alicia mengenalnya.
"Oh, Alicia. Kudengar si benalu pirang itu masih sering menempel padamu, ya?" Lasima memercik api baru. "Putriku sempat memergokinya berbelanja bersama Alby, sepupumu. Astaga, apa mereka berkencan?"
Alis ibunya tertaut tajam. "Cecil?"
"Alicia itu anti sosial," salah seorang yang lain menimpali. "Satu-satunya perempuan yang akrab dengannya hanya Cecil. Keluarganya pailit dan keluarga besar ini menolongnya. Astaga. Apa dia masih saja bersikap benalu? Aku tidak mau dekat-dekat dengan Nyonya rumah."
Alicia mengambil napas. Memasang tampilan datar sebaik mungkin di hadapan banyak orang. "Aku tidak tahu apa pun. Dan perlu dikoreksi sekali lagi, Cecil bukan benalu. Dia berkontribusi banyak dalam beberapa hal yang berkaitan dengan perusahaan."
"Ah, yang benar?" Lasima menimpali dengan gelengan kepala. "Keluarganya belum juga berubah. Mereka suka sekali menempel sana-sini seperti parasit. Aku masih beruntung karena tidak terlalu akrab dengannya."
Ibunya menghela napas. Memandang Alicia yang berdiri sinis menatap para tamunya. "Sebaiknya, kita berhenti—,"
"Lantas, apa bedanya dengan kalian?"
Semua orang terdiam.
"Arisan sosialita ini sama saja mencoba mengangkat derajat kalian di mata para konglomerat yang lebih kaya, bukan?"
"Seolah kalian mampu. Seolah kalian bisa membayar harga mahal." Alicia mendesis pahit. "Kita semua menyadari, kalau perempuan paling kaya satu-satunya di sini hanya ibuku. So, apa yang kalian bisa lakukan? Kalian berbicara tentang parasit, seandainya suami kalian mengalami guncangan, aku yakin kalian mencoba mencari bantuan yang sama."
Semua orang menarik napas. Saling berpandangan satu sama lain. Dan Alicia berbalik, berjalan menaiki tangga menuju lantai atas kamarnya.
"Lasima," tegur Emily dingin. "Jangan memancingnya. Jangan memancing putriku. Dia tidak terlalu senang dengan ide menginjak-injak harga diri orang lain. Alicia punya prinsip."
"Kami tidak serius, Emily. Kau tidak melihatnya?" Lasima menukas tidak percaya. "Apa dia sebegitu percayanya dengan Cecil si benalu? Aku saja tidak lagi mau berdekatan dengan keluarganya."
"Kami tidak mau terkena nasib sialnya."
"Dan berujung mengemis perhatian orang lain. Cecil beruntung karena dia memiliki sahabat super kaya seperti Alicia."
Emily hanya menggeleng. Diam-diam menghela napas dan duduk di kursinya. Kemudian beberapa menit setelahnya, Alicia terlihat kembali. Bersiap pergi.
"Alicia?"
Putrinya berbalik. Memandang sang ibu bersama para sosialita lain dengan sinis. "Aku pergi, Mama. Selamat malam."
"Sayang." Ibunya mendesah. "Jangan mengemudi terlalu cepat. Ini sudah malam."
"Putrimu cantik sekali," ujar salah seorang dari mereka dengan iri. "Terlihat sepertimu di masa muda. Ah, pantas saja dokter dari keluarga pebisnis rumah sakit itu terpincut padanya."
"Siapa?"
"Darius. Kau tidak tahu?"
Emily memilih untuk membungkam mulutnya.
***
Alicia belum sepenuhnya melangkah saat melihat Darius baru saja muncul dari unit apartemennya sendiri.
Mereka bertemu pandang, tetapi Alicia mencoba mencuri satu sampai dua kali tatapan pada objek lain. Manapun asal tidak mata kelam yang membius itu di depannya.
"Alicia."
"Hai, selamat malam. Kau mau pergi?" tanyanya berbasa-basi saat melihat gestur tegang Darius di depan pintu. "Selarut ini?"
"Ini baru jam delapan." Darius mengernyit. "Kau baru pulang dari kantor?"
"Bukan. Dari rumah Mama." Mengaku dengan suara serak. Berjalan melintasi pria itu untuk menekan kartu pada unit apartemennya sendiri. "Aku mampir sebentar dan memutuskan untuk pulang ke apartemen."
Darius menghampirinya dan yang perlu Alicia lakukan hanya mencoba melarikan diri dari sana.
"Aku masih punya waktu untuk mengobrol denganmu," kata Darius datar. "Kalau kau berkenan."
"Tentu saja."
Alicia mendorong pintu agar terbuka lebih lebar. Sementara Darius masuk. Mencium aroma manis yang lembut dari ruangan. Alicia berhenti untuk berpikir, sebelum bersuara. "Aku akan pergi untuk mencuci muka dan berganti pakaian. Tunggu di sini. Aku akan datang dengan segelas kopi dingin."
Darius mengangguk. Membiarkan gadis itu pergi dan mencari sofa terbaik untuk duduk. Memandang lurus ke luar jendela. Pemandangan mahal yang terpapar bernilai tinggi. Gemerlap kota yang tidak pernah tidur bermandikan cahaya lampu mengesankan setiap mata.
Alicia kembali sepuluh menit setelahnya. Memakai kaos polos sebatas bahu dan celana pendek. Gadis itu terlihat siap tidur alih-alih kembali mengurusi pekerjaan sampai tertidur.
"Americano dingin," ujar Alicia saat menyusul Darius di ruang tengah. "Aku punya persediaan di kulkas. Untuk berjaga-jaga karena aku malas menunggu sampai mesin kopi selesai menumbuk biji kopi."
Darius meringis. "Kau menyukai cara instan?"
"Yap, tentu saja. Lebih efisien dan praktis." Alicia tersenyum. "Ke mana kau akan pergi?"
"Ke rumah kakak."
"Dannes." Alicia mengangguk. "Aku mendengar hobi bawah tanahnya yang serius. Apa dia menghabiskan uang keluargamu?"
Darius menggeleng. "Tidak. Itu uangnya sendiri. Tetapi caranya merugikan. Aku tidak terlalu suka dengan ide semacam itu."
"Pangeran, kau terlihat suci. Aku berpikir kalau diriku terlalu rusak berada di dekatmu."
Darius mengernyit. "Tidak begitu."
"Tidak ada manusia yang sempurna, benar?" Alicia mengambil napas, memeluk lututnya sendiri. "Aku menyadari hal itu dengan sebaik mungkin."
"Alicia, aku tidak ingin kau menghindariku."
Iris hijau itu bersinar di tengah redupnya ruangan. "Kenapa tidak? Aku hanya tidak ingin kau terlibat banyak masalah yang tiba-tiba hadir. Kau tahu, dokter. Kebanyakan kemungkinan bisa saja terjadi."
"Aku tidak peduli."
"Aku peduli." Alicia menyahut tenang. "Karena aku peduli, aku menginginkan yang terbaik."
"Apa itu berarti ... penolakan?"
"Kau terbiasa mendapatkannya?"
Darius meneleng dengan kernyitan. "Aku tidak pernah mendapatkannya. Dan aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya padamu."
Barangkali kejujuran pria itu membuat perasaan Alicia menghangat. Darius tidak seperti kebanyakan pria yang Alicia lihat sebelumnya. Atau mungkin memang Alicia hanya perlu mengenal pria itu secara lebih dalam.
"Dokter, kalau kau beranggapan hanya kau yang tertarik seorang diri, kau salah."
Sorot kelam itu memakunya dengan tatapan penuh arti.
"Aku juga mengalami perasaan yang sama. Aku ingin mengenalmu lebih jauh walau rasanya mungkin menyesatkan dan salah. Ada banyak kemungkinan yang bisa mengusik kita berdua di masa depan. Kau tahu, aku terlalu pengecut untuk bertahan."
Darius diam. Bertindak sebagai pendengar yang baik adalah solusi.
"Aku tidak mau kau dan aku bertindak impulsif karena kita berdua terdesak oleh sesuatu yang tidak terlihat." Alicia berujar dingin, memandang masa depan dengan caranya sendiri. "Aku bertemu ibu dan bibimu. Mereka sangat ramah. Tidak ada tatapan menghakimi dari keduanya yang membuatku tidak nyaman. Keluargamu membuatku terkesan."
"Kau berencana menyerah?"
"Aku terlalu takut untuk memulai." Alicia mengambil napas panjang. "Walau aku mau, walau kau berkenan. Ini serasa tidak benar."
Darius mendesah. "Aku ingin mencoba. Dan kita pantas memperjuangkan hal ini bersama. Kenapa tidak? Kenapa tidak mau?"
"Kau keras kepala."
Alicia kehilangan suaranya setelah pria itu menunduk, memangkas jarak di antara mereka dengan satu ciuman singkat yang melumerkan sepasang lututnya. Kedua matanya berpendar rindu bercampur getir.
"Dan kurasa kau tidak pantas bangga karena hal itu."
Kemudian memberanikan diri untuk maju, melingkarkan tangannya di sepanjang bahu dan menetap di leher untuk berpegangan. Menyatukan bibir mereka dalam, saling memagut, saling merasakan, saling mencicip untuk mencoba kesenangan baru.