limabelas

1504 Words
"Kupikir dia tidak akan lagi mau bertanggung jawab setelah semuanya." Alby berujar sambil menatap pemandangan gedung pencakar langit dari ruang kantor pribadi miliknya. Berlantai lima puluh, menghadap para raksasa gedung yang mengindikasi kekuasaan mereka. Sementara Alicia bersandar, memandang pada vas bunga mungil di atas meja kerja Alby dalam diam. "Apa kau pernah merasa sedih sekali saja?" Alis Alby bertaut satu sama lain. Tubuhnya berbalik, menggeser tatapannya pada Alicia yang melamun. "Sedih? Apa kesedihan itu perlu?" "Perlu. Sesekali kita perlu meratapi," kata Alicia lemah. "Yah, walau tidak harus melulu meratapi kesedihan itu sendiri. Setidaknya, kita pernah berduka." "Kau pernah sedih?" Alicia mendengus kecil. "Ketika Angel pergi untuk selamanya. Kau tahu bagaimana perasaanku? Hancur. Anjing yang kurawat sejak bayi pergi begitu saja. Dunia itu kejam, benar?" "Dunia baik-baik saja. Kita yang membuat segalanya bertambah keji," sahut Alby. Berpaling untuk memandang barisan para awan yang menjelajah langit. "Untuk apa kau bersedih karena anjing yang mati?" "Pertanyaan yang sama; untuk apa kau menangisi temanmu yang terluka saat membelamu dari lemparan batu?" Alby mendesah pahit. "Itu sudah lama berlalu." "Dia mengorbankan sesuatu, kau tidak melihatnya?" Alicia hanya berhenti dan tidak lagi bersuara. Ia memandang muram pada vas bunga di atas meja alih-alih sosok tinggi Alby yang menjulang. "Kau mendulang kesuksesan yang sama di sini maupun di Amerika. Apa kau bangga?" "Tentu. Aku mencintai pekerjaanku." Alicia mengembuskan napas. "Setidaknya aku tidak dipusingkan untuk mencari peninggalan mahal yang entah ada dimana." "Itu berharga." "Untuk keluarga kita, bukan untukku. Kalau menurutmu itu berharga, kau pantas mencarinya sampai ke ujung dunia sekalipun." Alby menghela napas. "Kau tidak memahami konteks masalahnya di sini, Alicia. Itu penting. Berlian itu berharga. Mereka mencurinya dari kita." "Mereka?" Sorot Alicia berubah dingin. "Sindikat ini tidak berjalan sendirian?" "Sindikat," aku Alby suram. "Mereka senang bermain-main atau memancing kita. Setidaknya ayahmu tahu sesuatu tentang keluarga ini karena masih menjadi suami sah ibumu." "Aku tidak bisa memaksa mereka bercerai," pungkas Alicia. "Yah, walau aku mencoba memberikan solusi. Kau bisa bertanya pada bibimu bagaimana cara membujuknya. Dia punya alasan." "Oh, dan apa alasan itu?" "Cinta, mungkin?" Lidahnya mendadak terasa pahit setelah mengatakan satu kata yang membuat dunia terombang-ambing. Perasaan. Alicia hanya naif dalam menyikapi pandangan tentang dunia yang fana ini. "Kau bergurau," dengus Alby. "Ibumu mencintai pria b******n macam itu? Dia yang diam-diam berkeluarga? Yang diam-diam punya anak lain selain dirimu?" Alicia bangun dari sofa. Meraih tas selempang miliknya dan melirik jam di pergelangan tangan. Setengah jam lagi sebelum kantornya buka dan dia harus bersiap-siap untuk berangkat. "Aku tidak ingin membahasnya. Permasalahan soal keluarga sama sekali tidak membuat suasana hatiku membaik," katanya dengan senyum. "So, Alby, kalau kau punya ide untuk menghancurkan seseorang, silakan saja. Kau terkenal tidak punya belas kasihan terhadap siapa pun. Sementara aku masih sering meratapi anjing-anjing terlantar yang kelaparan dan terluka." Barangkali tawaran itu menggiurkan. Alby memandang Alicia cukup lama. "Kau terdengar ragu." "Bagian yang mana?" "Kau bersiap melihat ibumu menangis?" Bibirnya terkatup. Alby memangku dagunya di atas kepalan tangan, meneleng menatap Alicia dengan seulas senyum angkuh. "Dia akan baik-baik saja." Alicia hanya perlu pergi untuk mengatasi rasa sakit di kepalanya. Atau setidaknya, membiarkan waktu yang akan menyembuhkan segalanya. *** "Dokter, ada yang memberikan titipan di meja Anda." Darius lantas mengangguk. Membiarkan perawat senior itu pergi dan dirinya beristirahat setelah jam kerja yang padat. Sebagai dokter umum yang dibutuhkan setiap saat, Darius rasanya sulit untuk bersantai barang sebentar. Sebuah bingkisan cantik mampir ke mejanya. Memenuhi meja dengan berdiri berdampingan bersama layar monitor yang besar. Darius mengambil napas, menyugar rambutnya dan duduk di kursi. Diam-diam mengamati bingkisan yang terlihat lucu. Ada pita berwarna oranye yang terbuat dari dasar kain. Darius tersentak, menyentuhnya sekali lagi dan benar-benar terkejut. Alicia. Sesuatu mengusik penasarannya. Ia meraih ponsel dari saku celana, mencari nama gadis itu dan menekan panggilan dalam satu kali sentuhan. Dering keempat, suara lembut Alicia memenuhi telinga dan menghiasi benaknya. Gadis itu terlihat berbincang bersama seseorang sebelum fokus padanya. "Ya, halo?" "Kau tidak tahu siapa yang menghubungi?" Dengan menahan geli, tentu saja. Darius tidak tahu mengapa ia harus mengulum senyum karena kalimat barusan. "Oh, astaga!" Alicia mendesah panjang. "Pangeran, aku rasa ini telepon mendadak. Ada apa?" "Hanya ingin mengucapkan terima kasih untuk makan siangnya." Alicia tertawa. "Oh, ya. Makan siang. Sudah diantar sampai ke tempatmu?" "Sudah mendarat dengan selamat di mejaku." "Itu terdengar bagus." "Kau tidak melukai tanganmu sendiri, kan?" "Tidak untuk sekarang. Tidak ada plester lucu. Aku sekarang mahir memakai pisau. Kemajuan yang bagus, bukan?" Darius diam. Membiarkan jeda membentang cukup lebar di antara mereka. "Kau sedang tidak mencoba menghindariku, kan?" "Untuk?" "Kau tidak pulang ke apartemen." "Aku menginap di rumah Mama. Kami punya masalah." Darius memilih untuk tidak lagi mendebat. "Oke." "Aku harus bekerja. Nikmati makan siangnya. Kali ini tidak ada pesan lucu. Semoga kau menyukainya. Sampai jumpa." Suara riang gadis itu sama sekali tidak bisa menyembuhkan apa pun. Darius masih tertahan di sini, terdampar bersama kenangan yang mengapar di lantai. Ia menunggu Alicia pulang, dan gadis itu menetap di rumah ibunya. Apa ini bersangkutan dengan dirinya? Darius tidak tahu. Ia hanya tidak mau Alicia meninggalkannya tanpa alasan khusus. Darius hanya ingin semuanya jelas. Ia tertarik pada gadis itu. Benar-benar tertarik dan tidak punya alasan untuk mundur. Satu kencan mereka membuka masalah baru. Dan Darius berniat menabrak segalanya. Ini aneh. Dan perasaan ini justru membuatnya semakin dongkol. Semakin kesal bukan main. Terutama terhadap dirinya sendiri. Yang biasanya selalu tenang, kini sering terlihat gelisah. Mungkin Darius harus menemui ibunya. Ibunya yang punya sejuta solusi untuknya. Satu-satunya alasan Darius bertahan dari banyak hal. Ibunya yang hangat dan terbuka, yang tidak terlalu senang menghakimi orang lain. Bahkan pada Dannes yang melakukan banyak kesalahan sekalipun, Darius tidak pernah melihat ibunya meledak seperti kebanyakan orang. Ia akan berterus-terang. Bicara apa adanya untuk meluruskan segalanya. Darius hanya punya waktu sebentar sebelum terlambat. Dirinya sudah sejauh ini, tidak punya alasan untuk mundur atau kembali. Tidak sama sekali. "Oh, aku beruntung kau di sini." Hana mengintip dari pintu dengan cengiran. "Dokter tampan, aku butuh bantuan." "Kau punya masalah?" "Aku sedang kabur. Aku akan menetap di sini. Kau tenang saja, aku berhasil menghindari CCTV sialan itu. Atau ayah akan menangkapku seperti pencuri ikan di pasar." "Paman Hanan ada di ruangannya." Hana memutar mata malas. "Aku tahu." Kemudian berbinar karena melihat sesuatu di atas meja. Mendapati Darius sedikit salah tingkah. *** "Kau tidak berniat pergi lagi, kan?" "Tidak." Cecil mengambil napas panjang. "Syukurlah. Aku lebih senang kau ada di sini. Apa artinya? Aku tidak sendirian dan punya teman mengobrol." "Karena aku satu-satunya temanmu," ujar Alicia kritis dan Cecil tersenyum masam. "Kita rasanya memang tidak cocok berbaur dengan manusia lain." Cecil mengaduk jus alpukat di atas meja. Iris birunya memandang datar pada pemandangan senggang di luar jendela. "Menurutmu, bagaimana tentang pernikahan?" Alicia memang dasarnya tidak pernah memandang sinis pada pernikahan. Karena ia tahu, pernikahan yang terjadi di antara orangtua maupun mendiang kakek dan neneknya berujung sama. Ia hanya ingin mencoba memandang pernikahan dengan cara yang lain. "Kenapa kau bertanya?" Sudut bibir Cecil tertarik turun. "Aku berpikir semalaman. Tidak, tidak hanya semalaman. Bermalam-malam memikirkan hal yang sama." "Aku ingin pergi." Alis Alicia terangkat naik. "Kupikir aku tidak bisa menanggung semua beban ini sendirian. Kau tahu, hanya tidak bisa berjalan maju. Aku harus melepaskan beban yang lain." Alicia menarik napas. Memindahkan tatapannya dari sang sahabat pada objek lain. "Kau tidak punya pilihan." Cecil bungkam seribu bahasa. Memainkan ujung tisu di atas meja dengan kepala tertunduk. "Aku memang tidak pernah punya pilihan." "Pernikahan atau mati?" Mata biru itu berpendar pedih. Ketika Cecil menghela napas, menggeser tatapannya dari gelas jus pada Alicia. "Aku tidak mau mati muda." "Kau benar." Alicia tersenyum miris. "Kita punya banyak hal yang belum terselesaikan. Begitu pula aku. Lupakan saja mimpi itu, kita punya masalah lain. Masalah yang timbul dan menghilang." "Aku berutang banyak padamu." "Aku tidak akan menagih apa pun padamu," kata Alicia ringan. Melihat sepasang bahu sahabatnya merosot turun. "Tidak sama sekali. Kau tidak perlu memikirkan itu." "Ini mungkin terdengar klise, tapi Alicia aku ingin kau bahagia." Alicia mendengus dengan senyum. "Setelah semua ini? Kekacauan yang terjadi di duniaku?" "Kau tetap dirimu sendiri mau bagaimana pun kerasnya keluargamu atau kehidupanmu," tukas Cecil. "Kau mencoba memilih jalan hidupmu sendiri, bukan? Orang-orang tidak akan pernah tahu seberapa kuat kau mencoba berjalan di atas bara api sesakit apa pun itu." "Aku tidak punya trauma atas apa pun." "Kau bergurau." Cecil menambahkan dengan pahit. "Kau bukan dirimu sendiri saat melihat ibumu depresi dan bergantung pada obat-obatan terlarang." "Aku butuh rokok sekarang," sahut Alicia serak. Menyadari lamunannya mengarah ke sesuatu yang buruk. "Aku tidak mau ingat hal itu lagi." "Kau dan Darius cocok." "Berhenti bercanda." Kepala pirang itu menggeleng. "Aku serius." Alicia memandangnya datar. Membiarkan bola mata biru itu menelisik ekspresi wajahnya yang terlampau datar. "Apa aku terlihat seperti tertarik padanya?" "Ya. Kau tertarik. Tapi kau diam saja." "Kenapa aku harus tertarik?" "Pangeran itu," dengus Cecil masam. "Dia satu-satunya yang melihatmu tanpa menghakimi. Benar, kan? Satu-satunya pria yang memandangmu dari sisi berlainan. Bukan sisi Alicia yang hidup dalam tembok asumsi." "Aku tidak ingin membahasnya." Cecil meringis kecil. Memberi sahabatnya senyum dan sikutan kecil di tangan. Sebelum mereka membahas masa lalu yang lebih baik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD