empatbelas

3107 Words
"Kulihat kau bersenang-senang." Alicia mengangkat sebelah alis. Tidak mengucapkan sepatah katapun selain diam. Spagetti dengan irisan daging serta saus sama sekali tidak menarik minatnya. "Aku memang bersenang-senang." "Kau tidak melihat sosok mantanmu pada diri dokter muda itu, kan?" "Apa pedulimu?" Alby menurunkan garpunya dengan sinis. "Aku peduli. Selalu peduli padamu." "Sepupu posesif sepertimu hanya membuatku ingin menjauh," tukas Alicia datar. Memeluk lengannya sendiri yang terbuka. Setelah insiden pemaksaan makan siang bersama, Alicia terperangkap bersama pria ini di sebuah restoran kelas atas. "Masa lalu hanya masa lalu." "Kau membayangkan Darius sebagai masa depan?" "Tidak ada masa depan." "Bagus." Alby meneruskan makannya. "Dan jangan sentuh dia." Pria itu berhenti mengunyah. "Tidak hanya kau, aku juga memperingati Mama. Jangan sentuh dia." Alicia mengembuskan napas panjang. Alby sepertinya tidak akan paham bahasa manusia seperti dirinya. "Kau tidak dalam kapasitas bisa membuat hidupnya hancur." "Itu semua tergantung," sahut Alby santai. Memberi gadis itu senyum. "Tergantung bagaimana dia bisa menahan diri terhadapmu." "Aku muak padamu." Mata Alicia memicing. "Sama-sama. Itu pujian." "Aku berkencan atau tidak, itu sama sekali bukan urusanmu." "Aku tidak mengerti jalan pikiranmu," sela Alby tidak ramah. "Ayahmu seorang berandal. b******n tidak tahu diri yang meraup keuntungan besar dari keluarga kita. Biasanya, ayah menentukan alur hidup putrinya. Dan lihat kau sekarang. Aku condong memandangmu seperti Bibi Emily di masa lalu." "Kau tahu apa tentang ibuku?" "Ibuku bersuara banyak tentang kehidupan mereka di masa muda. Hobi yang sama-sama menghabiskan uang membuat mereka dekat. Apa lagi?" "Tidak ada pria yang benar di keluarga ini," sungut Alicia jengkel. Mendapati dirinya bosan kendati membicarakan kehidupan mereka yang berantakan. "Kau juga termasuk ambil bagian." "Aku merasa berguna." Alby menyahut santai. "Banyak pekerjaan yang kau telantarkan untuk kuawasi. Kau seharusnya berterima kasih. Sepupumu mengambil tugas itu darimu." Alby melirik dingin Alicia yang diam. "Berulang kali kau melakukan kesalahan, membangkang, tidak mematuhi ucapan mendiang kakek, dia masih menyayangimu. Si anak emas yang selalu dimuliakan." Alicia bisa saja menyembur minumannya ke wajah pria itu sekarang. "Berhentilah bicara omong kosong. Kau sama sekali tidak seru." "Aku akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Mana tahu kakek menyesal di surga sana?" "Kau yakin dia menetap di surga?" Sudut bibir Alby tertarik turun. "Yah, tidak sama sekali. Surga terdengar bagus sebagai khayalan karena dia terbakar di neraka sekarang." "Dannes mundur dari keanggotaan kasino milikmu," ucap Alicia. "Itu berefek pada beberapa orang. Kau tidak akan kehilangan pemasukan, bukan?" "Aku bisa merekrut lebih banyak." Alby meneleng dengan seringai. "Dannes bukan perkara sulit. Kau bisa bertaruh kalau dia akan kembali dalam waktu dekat. Hobinya menghabiskan uang untuk bertaruh." Sepasang mata Alby menyipit manakala melihat seseorang memasuki restoran dengan langkah anggun. Menghampiri meja mereka dengan senyum cemas. "Alicia." "Oh, kau datang." Alicia bangun untuk memberi sahabatnya tempat duduk. "Sini, duduk. Kau belum makan siang pastinya. Pekerjaan berat itu menyita banyak waktumu." Iris hijaunya menyapu lengan Cecil yang memar. Seketika ia terdiam. Tidak bersuara selama beberapa saat dan melirik Alby yang ikut menatap memar yang sama. "Kau baik-baik saja, bukan?" "Ya." "Memar itu mencolok," sela Alby. "Kau tidak bisa berpakaian yang lebih baik?" Cecil menatapnya datar. Dan Alby sama sekali tidak terlihat memasang ekspresi apa pun terhadap wanita itu. "Mereka terbiasa melihatku memar." Alicia menghela napas panjang. *** "Alicia memang selalu membuat gaun sesuai ekspetasiku." Suara Nyonya Lasima menggema di sepanjang ruangan. Alicia memindahkan tatapannya dari sketsa pada perempuan setengah abad itu. "Terima kasih untuk pujiannya. Prinsipku adalah menyenangkan para pembeli." "Oh, kau membuatnya juga? Ini gaun untuk siapa?" Salah seorang pegawai menjawab dengan antusias. "Keluarga Foster. Mereka memesan gaun setengah jadi. Ini belum sempurna." "Foster?" Mata cokelat Lasima melirik Alicia yang kembali sibuk. "Keluarga kedokteran itu?" "Ya, Nyonya." "Putriku bilang kau berhasil menarik perhatian si pangeran. Ini yang sulung atau bungsu?" Jelas pertanyaan itu menimbulkan tanda tanya bagi beberapa orang. Alicia menghela napas, menumpuk seluruh kertas dan merapikannya. "Tidak ada perbedaan di antara keduanya. Kenapa Anda penasaran sekali?" Alicia balas bertanya dengan senyum mencibir. "Nyonya Lasima, aku mementingkan privasi. Terima kasih sebelumnya. Putri Anda menyukai salah satunya?" Lasima menghela napas panjang. "Aku sempat mencoba menarik si bungsu untuk dikenalkan pada putriku. Dia berprestasi dan sama sekali tidak memalukan. Tapi kurasa memang sulit mendekati pria macam itu." "Atau mungkin dia tidak tertarik pada perempuan?" Alicia maju untuk memerhatikan gaun rancangannya. "Who knows? Kabar yang sempat beredar seperti itu. Aku tidak terlalu mengenal baik mereka karena terhitung baru menginjak kota ini." Manik cokelat gelap Lasima memandangnya datar. "Tapi tetap saja para pria dari keluarga kaya harus berhati-hati seandainya mau mendekatimu. Iya, kan? Risiko yang mereka tempuh terlampau sulit." Alicia mendesah. Tidak lagi bersuara ketika perempuan itu pergi menuju kasir. Memeriksa barang sekali lagi sebelum mereka membungkusnya. "Putriku iri padamu," kata Nyonya Lasima dingin. "Tapi aku memintanya untuk tidak perlu. Keluarga kami juga punya uang meski tidak sebanyak keluargamu. Kami terpandang dan bisa mengangkat dagu di setiap pesta kenamaan. Karena reputasimu juga tidak terlalu bagus di mata orang lain. Jauh lebih baik putriku sendiri." Nyonya Lasima pergi setelahnya. Menenteng gaun pesanannya dan pergi ke Mercedes bersama supir pribadi. Sementara Alicia menatap dalam diam. Bersama mata yang ikut mengawasi. "Ucapan perempuan sombong itu belum juga berubah." Salah satunya berujar pahit. "Aku sempat bekerja di butik mahal. Dan sama saja sifatnya, gemar merendahkan orang lain. Tipikal perempuan yang perlu dihindari dimanapun." Alicia hanya diam. "Benar-benar tidak berperasaan. Dia saja tidak mengucapkan terima kasih. Apa susahnya?" Para pegawai masih saling melempar kekesalan satu sama lain. Memandang kepergian Lasima dengan gerutuan. Sedangkan Alicia beralih untuk duduk, memeriksa katalog dan melamun. Ia tiba-tiba teringat ibunya. "Biarkan saja." Alicia menyahut ringan, tanpa menoleh ke arah para pekerjanya. "Dia memang seperti itu. Wajar sekali para pria yang ingin meminang putrinya berpikir seribu kali. Tidak ada yang mau punya menantu berisik seperti dia." Semua pekerjanya terlihat menahan tawa. Barangkali itu lelucon di siang hari yang terlontar dari bibirnya. Alicia menatap mereka, menepuk meja dengan jenaka. "Ayo, kembali bekerja." "Siap!" Seorang petugas pengantar makanan muncul di depan pintu. Alicia lekas bangun, membuka pintu kaca kantornya dengan kerutan. "Dengan Nona Alicia?" "Ya?" "Pesanan untuk Anda." "Dari?" "Di sini hanya tertulis dari Tuan Alby beserta alamatnya," ucap pria itu dengan bingung. "Ini untuk makan siang." Alicia tidak punya pilihan selain menerimanya. "Terima kasih." *** "Dokter?" "Hm?" "Kau punya waktu sebentar?" Darius mengernyit. "Putra Anda dalam masalah?" "Tidak, kondisinya membaik. Aku sangat berterima kasih selain dari pembebasan administrasi." Si ayah tampak pucat. "Aku hanya ingin bicara sebentar." "Tentu. Mari, kita bisa bicara di ruanganku." Si ayah mengekori tanpa suara. Darius memastikan pintu tertutup rapat ketika meminta pria itu untuk duduk di sofa, menuangkannya segelas air putih dan ikut duduk. "Apa yang terjadi?" "Aku ingin menitipkan putraku untuk sementara waktu," ujar pria itu serak. "Karena aku harus pergi dan kurasa cukup lama." Alis Darius saling bertaut. "Pergi?" "Untuk yang pasti, aku tidak tahu apa pun. Ini masih bersifat rahasia dan aku dipastikan pergi. Aku ada di dalam daftar urutan." Darius menghela napas berat. "Lantas?" "Aku ingin menitipkan putraku sampai kondisinya membaik. Jika sudah, aku akan meminta tolong seseorang membawanya ke yayasan sosial di pinggir kota. Agar dia tetap aman." "Apa kepastian itu telah Anda pikirkan matang-matang?" Bola matanya terlihat gusar. "Aku tidak punya pilihan. Seandainya aku tidak kembali, anakku baik-baik saja dan berada di tempat yang aman. Dia akan punya teman baru, kehidupan yang baru. Dia akan menjadi pribadi yang baru. Masa depannya akan cerah." "Ini terdengar seperti mimpi buruk," ucap Darius muram. "Siapa yang meminta Anda?" "Fabian Grice." "Ayah Alicia?" "Ya. Dia yang memintaku pergi. Aku rasa dia juga sama terdesaknya dengan kami semua." "Terdesak?" "Para pria di keluarga besar itu bermasalah. Kecuali Alby karena dia berada di garis penerus. Fabian mengalami krisis kehidupan selama puluhan tahun di keluarganya sendiri." Darius meneleng dengan kernyitan. "Aku mencoba meresapi semuanya. Hubungan mereka tidak baik?" "Tidak terlalu. Tetapi Fabian tidak bersuara banyak. Dia bilang, dia sama menderitanya seperti kami semua." Si pria menghela napas. "Kami juga tidak tahu apa maksud kalimat tersebut. Karena yang bisa kami pikirkan saat ini hanya diri kami sendiri. Keluarga. Tidak ada yang lain." Darius diam. Bibirnya terkatup erat. "Aku melakukan ini demi diriku sendiri. Untuk masa depan putraku yang belum tercoreng, aku berharap yang terbaik. Sebagai seorang ayah, sebagai kepala keluarga, sebagai teman satu-satunya. Aku hanya ingin putraku hidup nyaman." "Tidak ada pilihan lain?" Kepala rapuh itu menggeleng lemah. "Tidak ada, dokter. Tidak ada." "Kau memastikan dirimu kembali?" "Aku tidak ingin memberi harapan pada anakku. Jika aku kembali, aku akan menyusulnya di yayasan. Seandainya tidak, aku akan memantaunya dari alam lain. Mengawasi putraku hidup dalam damai. Dunia ini kejam, bukan begitu?" Pria itu menunduk dalam. Menjalin kedua tangannya dengan pikiran berkecamuk. Kedua kakinya bergetar hebat. Merasakan penderitaannya hanya membuat Darius semakin dilanda perasaan asing. "Aku yang akan membawanya pergi." Kedua mata itu melebar bingung. "Dokter?" "Aku punya beberapa kenalan yayasan yang menjadi prioritas yayasan amal keluargaku. Aku bisa membawanya ke sana. Dia akan bersekolah dengan layak, mendapat kehidupan yang semestinya sebagai seorang anak. Kuharap putramu bisa berbaur dengan baik. Itu akan memudahkannya dalam menjalani hidup." Si ayah berkaca-kaca saat memandangnya. "Terima kasih banyak, dokter. Terima kasih banyak." "Sama-sama." Darius lagi-lagi tidak akan menemukan petunjuk apa pun tentang kehidupan Alicia yang sangat tertutup. *** "Terlalu sibuk hanya membuat perawatan kulit mahalmu sia-sia." Ibunya mendongak dengan senyum. Saat sang anak menghampiri dengan bungkusan makanan dan kopi dari Starbucks. "Makanan cepat saji juga tidak membuatku sehat selamanya." "Sesekali bukan masalah," kata Alicia dengan senyum. Berjalan menuju balkon dan membongkar isi makan malamnya. "Aku sengaja datang dari kantor kemari." "Kau akan menginap?" "Tidak, aku akan pulang." "Oke." "Mama kesepian?" "Apa itu kesepian?" Ibunya dengan senyum bercanda. "Aku sudah terbiasa. Sekarang yang membedakan aku bisa melihatmu, dulu tidak." "Aku di sini sekarang." Sang ibu memandangnya cukup lama. "Kau pulang untuk Mama, kan?" Alicia hanya diam. Sementara ibunya tersenyum kecut. Menatap makanan bungkusan dengan sumpit dan minuman. "Ini kopi favoritmu. Aku pergi untuk membeli dua." "Seberapa dekat kau dengan si bungsu dari Foster?" "Kita akan membahas ini?" Ibunya mendesah. "Aku perlu tahu." "Kami berteman," jawab Alicia pelan. "Darius tidak punya banyak teman. Sama sepertiku. Dia anti sosial, dan aku tidak. Aku hanya menghindari para kerumunan semut." "Alby tahu?" "Apa yang tidak dia ketahui?" tanya Alicia muram. "Dia tahu segalanya." Ibunya hanya diam. Barangkali Alicia mencoba berpikir jalan solusi sang ibu yang terkadang di luar nalar. Sembari memainkan sumpitnya, ia memisahkan bihun dengan bumbu daging. "Lebih baik hidup tanpa mencintai daripada mencintai. Mama ingin bicara tentang itu, bukan?" "Kau akan menyesali segalanya," sahut ibunya pelan. "Sama sepertiku. Aku hanya tidak mau memandangmu dengan kacamata yang sama selayaknya aku dulu." "Tidak ada yang lebih baik." Alicia mengangguk muram. "Mencintai atau dicintai, terdengar sama-sama menguntungkan." "Apa ini alasan kau mencampakkan semua mantanmu?" "Mereka tidak lagi berguna. Para pengganggu itu membuatku terusik setiap saat," keluh Alicia sinis. "Kepalaku sakit. Dasar benalu." Ibunya menghela napas. Memindahkan tatapannya dari sang anak pada makan malamnya sendiri. "Semoga kesialan tidak menimpa putriku. Cukup berhenti pada diriku." "Kesialan yang mana?" "Mengabaikan seseorang yang mencintaimu," pungkas ibunya cepat. "Karma berkata sebaliknya. Kau akan mendapat balasan setimpal karena mengacuhkan seseorang yang tulus." Alicia hanya mencoba meresapi kebodohan yang sempat sang ibu lakukan di masa depan. Emily terlalu berhati-hati sejak muda. Cenderung berbeda dengan Lena yang ceroboh dan terbuka. Ibunya sempat membuka celah? "Jika aku jatuh cinta pada Darius, apa yang akan Mama pikirkan?" Sorot ibunya melunak. "Perasaan itu akan memudar seiring waktu." "Mama yakin?" "Ya." Ibunya mengangguk tanpa berpaling. "Aku rasa tidak," ungkap Alicia pelan. Menaruh sumpitnya dengan pandangan datar. "Mama sebenarnya terluka. Aku bisa melihat cinta itu masih ada untuk suamimu." "Aku tidak—," suara ibunya tertelan kebohongannya sendiri ketika menatap mata putrinya. "—ini salah paham." "Mama mengenalku sebaik itu, begitu pula diriku. Kita satu sama." Alicia tersenyum. "Mama tidak perlu berbohong. Tidak ada salahnya mencintai. Pernikahan didasari rasa cinta itu hal yang lumrah." "Terdengar aneh untuk keluarga kita." "Keluarga ini memang tidak beres sejak awal." Alicia menyahut dengan mengunyah irisan daging sapi. "Mendiang kakek dan nenek yang membuktikan pernikahan bisnis bisa bertahan sampai mereka berdua mati. Lagi-lagi soal materi. Mungkin pemuda dan pemudi di luar sana akan tertawa karena pemikiran kita." Sang ibu hanya diam. Sama halnya dengan Alicia yang acuh, memilih untuk sibuk menyantap makan malamnya dalam bungkam. *** "Dasar bodoh! Kau tidak perlu terus-menerus menangisinya!" Jeritan Cecil teredam rasa sakitnya sendiri karena tamparan itu terlalu keras. Sampai membuat ruangan yang senyap berdenging selama beberapa detik mencekam, lalu memudar. "Bangunlah, anak manja! Kau punya masa depan!" Air matanya tidak mau berhenti mengalir. Sesaat ruangan membeku, berhenti selama beberapa menit setelah pintu terdorong masuk. Alicia muncul di sana, memandang datar pertikaian di depannya. "Oh, Alicia." Wanita itu memberi senyum manis. "Selamat datang. Maafkan kekacauan ini." "Bukan masalah." Sorot hijaunya menyapu datar pada Cecil yang mencoba bangun dengan berpegangan pada punggung sofa. "Aku datang untuk Cecil." "Ah, ya. Cecil. Tentu saja. Tapi selarut ini?" "Ya." Perempuan itu memilih untuk mengalah. Setelah mengambil napas panjang, melirik sang anak sinis lalu berjalan pergi. Membiarkan mereka berdua di dalam ruangan. Hanya ditemani suara alat rekam jantung yang bergerak konstan. "Berapa persen kemungkinan hidupnya?" "Empat puluh. Aku masih mencoba optimis." Alicia menarik napas, mencari sesuatu dari saku mantelnya. Menarik tangan Cecil, memberikannya sesuatu. "Salep untukmu. Obati saja memar-memar itu sekarang. Aku tidak ingin melihatnya berubah hitam." "Terima kasih." Cecil menerimanya dengan tangan gemetar. Sesaat Alicia termenung, mengamati paras letih wanita itu dalam diam. "Dunia itu kejam, bukan?" tanya Alicia serak. "Kau tidak mungkin selamanya di atas walau kau mau. Hidup itu seperti roda. Kau akan punya kesempatan untuk mencium tanah dengan keras." "Aku mengalaminya," kata Cecil parau. Memeluk lengannya sendiri yang pucat. "Sangat menyakitkan sampai rasanya kau tidak sanggup bernapas." "Masih ada kemungkinan di masa depan kau bisa menghantam tanah dengan lebih keras," ujar Alicia. "Atau terhempas ke atas dengan sangat cepat. Takdir senang memainkan kehidupan kita." Bibir sahabatnya terkatup. "Aku perlu berterima kasih padamu." Alicia berkata pelan, melemah seiring tatapannya pada sosok yang terbaring melunak. "Harapanku masih ada untukmu. Untuk kehidupanmu, untuk kebahagiaanmu di masa depan. Walau aku mungkin tidak bisa berbuat banyak untuk menarikmu keluar dari neraka." Cecil mendengus kecil. "Alicia, selama kau baik-baik saja, aku akan menerimanya. Kita sudah pernah membahasnya, dan aku tidak mau mendengarnya lagi." "Apa itu sepadan dengan segalanya?" Alicia berbalik, memandang Cecil getir. "Kau dengan lukamu. Aku dengan kehidupanku. Seakan awan gelap ini sengaja menetap dan tidak mau pergi." "Kita terperangkap karena dunia luar tidak bisa memberikan solusi. Rumah terasa seperti pilihan terbaik walau menyakitkan." Alicia bisa melihatnya dengan baik. Saat air mata sahabatnya kembali mengalir. Cecil berpaling, memandangnya dengan senyum getir ketika menyeka air mata yang terlanjur turun. "Kau hanya perlu bertahan sebentar lagi." "Jangan bertingkah konyol, Alicia. Kau tidak perlu melakukan apa pun sekarang. Semua akan berlalu, ingat?" Alicia kehilangan suaranya selama beberapa saat yang menegangkan. "Kau tidak akan bisa bertahan." "Kau tidak perlu memedulikan aku. Ini risikonya. Aku menerimanya. Aku sudah berpasrah diri. Tidak ada gunanya mundur dan menyesali masa lalu. Aku hanya tidak bisa kembali selain terus melangkah maju." Iris hijaunya bisa menangkap memar yang timbul dari ujung mantel Cecil yang tersingkap. Wanita itu mencoba menariknya turun, dan mendengar bunyi ponsel yang nyaring menembus ruangan. Alicia hanya perlu berbalik, tidak lagi mau mendengar. *** "Selamat datang!" Alicia baru saja kembali dari dapur dan melihat siapa pengunjung mereka di sore hari. Kehadiran ibu Darius membawa suasana baru. Perempuan itu cukup ramah. Menegur beberapa pegawai saat melihat gaun yang mereka pesan hampir mendekati sempurna. "Selamat siang," sapa Alicia lembut. Menyadari sorot mata itu serupa dengan Darius dengan arti lain. "Gaun pesanan Anda hampir siap. Lusa, mungkin?" "Aku bisa melihatnya dari sini." Ibu Darius dengan ramah membalas. "Gaun milik Hana sangat bagus. Gadis itu benar-benar akan mencintai gaun ini." "Terima kasih. Aku hanya menyesuaikan dengan konsep anak muda sekarang." Alicia meminta agar perempuan itu duduk alih-alih berdiri. "Seseorang akan membawakan Anda minum. Santailah dulu sebentar." "Aku datang bersama supir." Alicia berpaling hanya untuk melihat mobil mewah itu terparkir bersama seseorang berpakaian formal berjaga. "Aku melihatnya. Anda berbeda dengan ibuku yang gemar pergi dengan membawa mobilnya sendiri." "Aku punya trauma," ujar Evelyn hangat. "Cukup lama. Sudah belasan tahun berlalu dan belum mau lepas. Kecelakaan. Aku hampir meninggal dan membiarkan kedua putraku tumbuh tanpa ibu." "Belasan tahun berlalu?" "Lima belas tahun lalu, mungkin?" Suara Evelyn memelan. "Aku tidak terlalu ingat. Hanya saja, setiap waktunya berkesan untukku. Aku belum lupa. Ini alasanku terlalu cemas saat melihat putraku membawa mobil dan pergi." Alicia tiba-tiba terdiam. Suaranya memudar seiring kalimat Evelyn yang mengalun. Bukan menceritakan tentang kecelakaan tersebut, melainkan tentang pesta dan bagaimana dia menginginkan gaun baru yang terhitung jarang dikenakan kembali. "Aku banyak mendengarmu dari Hana," timpal ibu Darius ramah. "Hana memujamu. Dia memjadikanmu panutan. Aku tidak mempersalahkannya karena kau sangat keren." Sudut bibir Alicia tertarik naik. "Terima kasih banyak. Gadis itu berlebihan." Kepala Evelyn menggeleng. "Tidak sama sekali. Hana sangat jujur dalam membicarakan perasaannya. Dia dan Darius sering bertengkar. Dia juga tidak segan mengajak Dannes beradu mulut. Hana memang tak gentar." "Apa yang terjadi selama kecelakaan itu?" Alis tebal Evelyn tertaut. "Aku kritis. Suamiku bilang, aku tertidur selama dua tahun penuh sebelum akhirnya sadar dan mengingat keluargaku." "Apa kau pernah mengalami kejadian buruk yang sama?" tanya Evelyn pelan. "Kalau iya, kuharap semua akan membaik. Rasanya sama sekali tidak menyenangkan." Alicia menarik napas berat. "Tidak, aku tidak pernah mengalaminya. Nyaris, belum terjadi." "Oh, Tuhan. Semoga kau tetap berhati-hati." Selama obrolan mereka, Alicia sama sekali tidak bisa fokus pada satu titik. Selagi mulutnya bersuara, ia memikirkan banyak hal. Kepalanya terasa bercabang. Bisa membentuk satu pohon mungil dengan daun yang berfotosintesis cepat. Sementara Evelyn terlihat terkesan, tampak seperti pendengar yang baik. Wanita itu sangat ramah. Berkelas sesuai gelar dan kepribadiannya. Ibu Darius terlihat tenang dan berwibawa. "Terima kasih telah berkunjung." "Sama-sama. Aku senang mengobrol denganmu." Evelyn memegang tangannya lembut. Sebelum berpamitan dan pergi menuju mobil yang telah menunggu. Kemudian Alicia kembali. Menuju tempat duduknya sendiri. Membiarkan goresan sketsa yang masih separuh jadi begitu saja. Pikirannya melalang-buana, pergi mengembara ke tempat lain. Kecelakaan belasan tahun lalu? Ibu Darius menjadi satu-satunya korban yang selamat. Hanya memikirkannya saja sanggup membuat kepalanya sakit. Alicia bersandar di kursi, meraih gelas minumnya agak kasar, menegaknya kuat. Darius hampir kehilangan ibunya malam itu. Bocah malang itu akan menjadi piatu bukan karena kesalahannya, melainkan kesalahan orang lain. Alicia kembali diam. Menunduk dalam dengan tarikan napas panjang. Rasa sakit di kepalanya tiba-tiba bercokol dalam. Ada lima korban, dan salah satu dari mereka adalah ibu Darius. Perempuan baik hati yang mendengarkannya dengan baik. Menatap Alicia tanpa menghakimi. Tidak ada kalimat apa pun yang menjurus pada perundungan atau menyudutkan hanya karena Alicia hidup berdampingan dengan reputasi buruk di mata orang lain. Darius serupa dengan ibunya. Pikiran naif itu membuat Alicia mencibir. Mencemooh dirinya sendiri dengan dengusan keras. Sebelum meraih pensil, memberi sentuhan baru pada sketsa gambarnya yang belum sempurna. Teruslah bekerja sampai kau mati, pikirnya pahit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD