"Nyonya Lasima baru saja menghubungi. Bertanya kapan gaun pesanannya selesai dan siap diambil."
Alicia mendesah. Mengalungkan meteran di lehernya dengan gelengan. "Perempuan satu itu memang tidak sabaran. Aku pernah membuatkan dua gaun untuk putrinya dan ibunya selalu mendesakku lebih cepat."
"Apa dia akan menjadi Cinderella?"
Alicia tersenyum. "Jauh dari kata itu. Nyonya Lasima hanya istri kedua. Dia harus tampil sempurna agar pesona istri pertama tergeser. Ini gaun miliknya, kan? Ukuran pinggangnya sudah kau perkecil?"
"Sudah, Nona Alicia. Ini sudah selesai. Kalau Nyonya Lasima ingin mengambilnya sekarang, dia hanya perlu membayar."
"Aku bisa menaikkan harga," kata Alicia bercanda. Kembali duduk untuk memeriksa gaun rancangannya. "Kita akan menunda pagelaran fashion week minggu ini. Aku ingin dijadikan perbulan saja. Mencari model yang sepadan sangat sulit. Kau sudah menghubungi pihak agensi?"
"Tidak ada yang cocok."
"Nah, itu menjadi masalah."
Atensi Alicia berpindah saat melihat seseorang baru saja turun dari sebuah Bentley mahal. Tiga orang perempuan dengan gaya berkelas yang cukup anggun. Alicia tidak bisa melihatnya jelas sampai sosok Hana terlihat di pintu masuk.
"Selamat siang!"
Suara ceria remaja itu membuat semua orang menoleh. Alicia turun dari kursi, memberi senyum untuk mempersilakan keluarga itu masuk.
"Selamat siang. Kau pengunjung kesekian yang mampir. Aku kecewa padamu."
"Oh, sulit sekali untuk datang tanpa pengawalan." Hana menggerutu dan Alicia tertawa. "Ini ibu dan bibiku."
"Selamat datang."
"Halo." Ibu Hana mengulurkan tangan, menjabat tangan Alicia. "Aku mencari gaun yang cocok untuk usiaku. Ini seperti datang ke tempat terbaik."
Mata Alicia bersirobok dengan mata kelam Darius. Seketika perasaan asing itu muncul. Nyonya Evelyn terlihat seperti duplikat Darius yang sebenarnya. Perawakan lembut itu yang membedakan dengan putra bungsunya.
"Halo."
Mereka saling berjabat tangan. Sementara Alicia memamerkan beberapa gaun baru yang rilis minggu ini.
"Aku ingin gaun seksi."
"Seksi tidak cocok untukmu," ujar Alicia ringan. "Kau butuh gaun yang bersinar sesuai kepribadianmu."
"Ya Tuhan, gadis ini benar-benar tidak bisa dikontrol." Evelyn bersuara parau, dan Hana terkekeh geli.
"Aku punya beberapa rancangan dan baru saja masuk pabrik. Kalau Anda berminat, silakan untuk melihat. Jika punya permintaan lain, aku bisa menggambar sketsa itu."
"Kau cukup berbakat," puji ibu Darius ramah.
"Aku mengambil tambahan ilmu untuk memperdalam bisnisku. Ini tentang bakat terpendam." Alicia tersenyum. "Ini contoh katalognya. Yang kuberi bintang menjadi rekomendasi dari beberapa pembeli."
"Bisa aku melihatnya?"
"Tentu."
Hana memandang Alicia dengan sorot memuja. "Kau panutanku. Luar biasa. Aku ingin menjadi dokter yang fashionable sepertimu."
"Belanjakan uangmu kemari. Kau tidak akan menyesal," kata Alicia jenaka, memberi kedipan mata dan Hana tertawa geli.
"Pantas saja sepupuku tergila-gila padamu."
Suara Hana cukup lantang. Yang membuat kepala Evelyn berpaling. Memandang Alicia yang diam. Tidak menunjukkan ekspresi berarti selain raut datar yang terkesan tidak berminat.
"Sepupu yang mana?"
Hana mendesah. "Ibunya di sini."
Alicia melipat sisa kain di atas meja. "Kami hanya teman," ujarnya singkat. Membuang sisa kain ke dalam wadah khusus. "Tanyakan saja pada sepupumu kalau kau tidak percaya."
Evelyn kembali menunduk dan berpura-pura tidak mendengar apa pun.
***
"Mengapa kau membawaku kemari?"
"Untuk bicara," kata Dannes serius. "Kau serius tertarik pada perempuan itu? Darius, kau tidak gila?"
Alis adiknya terangkat. "Kita bicara tentang siapa?"
"Alicia."
"Aku tertarik saat melihatnya pertama kali di pesta." Darius mengambil napas, membuangnya perlahan. "Aku mengaku padamu."
"Oke, tapi kau yakin? Ini Alicia. Alicia dari keluarga super kaya Grice. Kita sempat terlibat secara tidak langsung dengannya." Dannes mendesah, memberi kutipan dengan kedua tangannya. "Sebagai lawan, sebagai musuh. Alby tidak akan menganggap enteng dirimu."
"Aku tidak terlibat apa pun," ujar Darius dingin. "Itu bukan masalahku, bukan masalahmu."
"Tapi keluarga. Kita perlu menekan kata itu secara benar. Keluarga." Dannes mengangkat bahu. "Seleramu sangat bagus."
Itu sarkasme pahit yang sang kakak luncurkan. Darius tidak akan mengelak bahwa tertarik atau menyukai Alicia sama saja bermain dengan api.
"Aku bahkan tidak mau berurusan lagi dengannya."
"Kau mundur dari kasCecil itu?"
"Untuk selamanya," timpal Dannes. "Aku berpikir untuk mengelola uangku ke bisnis yang lain."
"Bisnis gelap yang membuatmu tertarik?"
Sudut bibir Dannes tertarik muram. "Keuntungan yang lebih cepat membuatku sangat tertantang. Tentu saja dengan risiko, bukan?"
"Jangan libatkan keluarga."
"Tidak akan pernah."
Darius mendesah. "Kapan terakhir kali kau berkencan?"
"Aku lupa." Kening sang kakak berkerut. "Apa ini penting?"
"Kau hanya beruntung. Ibu dan ayah tidak pernah memaksamu sebagai si sulung untuk memberi garis keturunan secepatnya. Keluarga lain sudah menggariskan perjodohan dengan sesama keluarga kaya demi memperkuat bisnis."
"Kau juga." Dannes meneleng pahit. "Kalau aku jatuh cinta pada gadis biasa, apa mereka akan menentangku?"
"Kau mengalaminya?"
"Kalau, seandainya," sahut Dannes. "Aku sedang berandai."
"Itu bagus. Selama perempuan itu bukan penjilat dan punya kemampuan yang sepadan. Kau mencari tipikal yang seperti itu, bukan?"
Dannes tergelak karena tawa. "Kau lucu. Tapi itu benar. Rekan dokter kita kebanyakan berasal dari keluarga berada. Tetapi mereka tidak sesuai seleraku."
"Sebagian besar dari mereka pernah menjadi teman tidurmu. Tidak ada satupun dari mereka memaksamu untuk menikah?"
"Mereka tahu risikonya," ucap Dannes ringan. "Aku tidak akan melakukannya tanpa kesepakatan. Pekerjaan kami butuh pemikiran berlebih. Seks menjadi pelepasan terbaik."
Darius hanya mengendik. Tidak lagi bersuara meski ingin mengucapkan sesuatu. Satu-satunya pelampiasan yang bisa ia lakukan saat sedang tertekan hanya berbaring, tidur, atau membersihkan rumah. Kehidupan monoton yang membuat Hana terus-terusan mengejeknya.
"Kau tahu soal Alby," kata Dannes serak. "Pria bengis itu tidak tertandingi. Selain Alicia yang bisa membuatnya mundur karena mereka sepadan. Masalahnya adalah Alicia sama misteriusnya dengan Alby."
Darius diam.
Sorot Dannes terlihat bersemangat. "Aku tidak bisa membayangkan pertikaian antara dua sepupu berkekuatan besar. Alby bertindak hati-hati. Sama halnya dengan Alicia. Mereka kubu oposisi yang sama berkuasanya."
"Aku tidak tahu," aku Darius muram. "Aku tidak tahu apa pun tentang Alicia selain dari mulut kalian semua yang gemar bergosip."
"Kau terkesan menyalahkanku."
Darius mengambil napas berat. "Tidak. Hanya saja kadang asumsi merusak segalanya. Dugaan. Gosip. Semua kabar burung yang membuat reputasi seseorang jatuh ke dasar tanah dan tidak bisa tertolong lagi."
Sindiran itu benar adanya. Darius berbicara jujur. Barangkali Dannes hanya diam, tidak memilih untuk membuka mulutnya.
***
"Aku sibuk."
Kalimat itu seharusnya bisa mengembalikan suasana hatinya yang kacau. Alicia mengembuskan napas. Melirik masam pada ponsel barunya. Ia tidak peduli dengan ponsel lama yang hancur.
Apartemennya luas. Besarnya sesuai harga dan fasilitas. Alicia cenderung mencintai tempat ini daripada rumahnya. Pemandangan Tokyo dari lantai tiga puluh terlihat lebih jelas. Harga yang pantas ia bayar mahal untuk sebuah tempat tinggal.
Bel pintunya berbunyi. Cukup nyaring sampai membuatnya terbangun dari ranjang. Kedua matanya memicing. Pukul delapan pagi dan seseorang sudah bertamu? Cecil, kah?
Dengan gontai berjalan menuju pintu. Ia tidak perlu menyingkirkan anak rambutnya yang berantakan karena kembali berbaring setelah menyikat gigi dan minum kopi.
"Hm?"
Sosok yang berdiri di ambang pintunya jelas bukan si pirang, melainkan dokter tampan yang sedang memegang sesuatu di tangan. "Selamat pagi."
"Pagi." Alicia hanya tidak mencerna dengan baik. "Aku memberitahumu apartemenku, tapi tidak dengan nomor kamar?"
"Aku tetanggamu."
"Sebentar," kata Alicia bingung. Menoleh ke kanan tempat satu-satunya lift berada. "Kau tetangga kamar?"
"Aku baru saja pindah."
"Ini tidak berlebihan, kan?"
"Kau berpikir aku pindah karenamu?"
Alicia meneleng. "Kalau ya, ada masalah?"
"Aku baru saja membeli properti. Ini sama saja dengan investasi," sahut Darius santai. "Aku punya sesuatu. Kata ibuku sesuai adat jika baru saja pindah ke tempat baru."
"Ini bukan peledak?"
Darius tertawa pahit. "Bukan."
Alicia menerimanya dengan pandangan penuh tanya. Sementara Darius hanya tidak bisa mengalihkan matanya dari paras memesona gadis itu. Sebutan bidadari dari Hana untuknya memang bukan kebohongan. Darius pernah melihat perempuan cantik berkeliaran di sekitarnya. Baik di pesta, maupun rumah sakit. Tapi Alicia benar-benar dalam kelas yang berbeda. Bahkan dengan piyama bergambar kelinci dan sandal rumah berbentuk wajah sapi, dia masih terlihat cantik.
"Ini cantik. Apa ini kotak musik?"
"Ya. Semacam itu." Darius mengernyit. "Saat aku pindah ke rumah lamaku, aku juga memberikan bingkisan berupa piringan hitam pada tetanggaku. Itu untuk perkenalan."
"Oh, kita sudah saling mengenal."
"Memang."
"Kau ingin mampir?" Alicia membuka pintu lebih lebar. "Segelas Americano tidak akan membuat perutmu sakit. Ayo."
Darius masuk dengan langkah antisipasi. Matanya mengelilingi setiap ruangan yang besar. Sama seperti satu unit apartemen miliknya sekarang.
"Akan ada petugas bersih-bersih yang datang pukul sembilan. Satu jam lagi. Aku terbiasa membuatnya berantakan."
"Ini tidak berantakan sama sekali."
Alicia meringis. "Kamar."
"Oh."
Darius memilih untuk duduk di mini bar. Menikmati kegiatan gadis itu meracik kopi pada alat pembuat kopi mahal. "Kau sudah sarapan?"
"Roti panggang dan selai kacang. Kehidupan di luar negeri yang membuatku terbiasa." Alicia menuangkan air putih untuk dirinya sendiri. "Kau ingin makan sesuatu?"
"Tidak, terima kasih."
"Kopimu belum jadi, jangan berterima kasih."
Darius menatap dapur dengan kagum.
"Aku berpikir kau memelihara sesuatu di rumah."
"Aku sempat punya anjing. Seseorang meracunnya karena dia terlalu lucu."
"Itu kejahatan."
"Benar."
"Dan kau diam saja?"
Alis Alicia terangkat. "Aku membalasnya."
"Dengan?" Darius mulai penasaran.
"Meracuninya kembali," kata Alicia ringan. Mendorong cangkir kopi itu pada Darius. "Dia punya dua kucing yang manis. Aku pecinta binatang dan bukan manusia. Aku meracuninya."
Darius hanya tidak bisa bersuara.
"Kau terkejut?" Gadis itu bergabung dengan senyum ironi. "Tidak apa. Aku berpikir untuk membalas sesuatu dengan lebih keji."
"Dia baik-baik saja?"
"Kritis dan akhirnya tertolong." Alicia mendesah. "Dia meminta maaf. Aku memaafkannya. Permintaan maaf itu tidak akan membuat anjingku kembali. Anjing disabilitas yang kurawat sejak bayi. Sejak dirinya dibuang di tempat sampah."
"Kau tidak punya fotonya?"
"Ada." Alicia bangun untuk memperlihatkan kenangan manisnya bersama anjing lucu kesayangan. "Hanya ini satu-satunya yang kupunya."
Darius bisa melihat anjing mungil itu tersenyum dalam dekapan Alicia. Sebelah kakinya bengkok dan buntutnya pendek, seperti bekas terpotong.
"Kau memberinya nama?"
"Angel. Dia betina."
"Anjingmu manis."
"Kau akan menyukainya jika dia masih di sini."
Darius memilih untuk diam. Menyeruput kopinya dan tidak lagi bersuara. Sebelum akhirnya melirik, melihat Alicia memandang pigura kenangan lamanya. Dan menatap bagaimana cara gadis itu mengenang masa lalunya.
Alicia terlihat benar-benar seperti perempuan biasa. Bukan yang orang-orang katakan.