Malam Panas

956 Words
Valeria menghapus air matanya yang menggenang lalu mengangkat panggilan itu. "Hallo Bu?" "Sayang, sudah dua hari ini kamu tidak menjenguk Ibu? Kamu baik-baik saja kan?" "Maaf Bu, Valeria banyak kerjaan beberapa hari ini. Kondisi Ibu baik-baik saja kan?" kilahnya dengan cepat enggan menjelaskan situasinya yang sedang tidak baik. "Kondisi Ibu baik-baik saja, Ibu hanya rindu dengan kamu dan Andrew, kira-kira kapan kalian akan kemari lagi?" Valeria menelan ludahnya saat mendengar nama Andrew, "Nanti Valeria tanyakan jadwal Andrew ya Bu, kami usahakan datang bersama." "Bilang kepada Andrew, jangan terlalu lelah bekerja sebentar lagi kalian akan menikah." Tenggorokan Valeria terasa tercekat mendengarnya, bagaimana ia bisa menjelaskan kepada ibunya bahwa pernikahan mereka akan batal? "Ya Bu, nanti akan Valeria sampaikan. Kalau begitu sudah dulu ya Bu, Valeria ada pekerjaan lain." "Oh iya Nak, hati-hati Sayang, jaga kesehatan." Klik. Valeria segera mematikan panggilan mereka. Padahal ia ingin berbicara banyak pada ibunya, tapi ia takut jika ibunya akan menanyakan Andrew lebih banyak lagi. Apa yang harus ia lakukan? **** Esoknya ternyata sang manager mengadakan pesta pengangkatan dirinya sebagai kepala divisi baru. Sebenarnya Valeria sudah menolak, tapi Robert Green, sang manager malah memaksanya. Semua orang terlihat sangat senang, berbeda dengan suasana hatinya yang begitu buruk menjalani pesta ini. Valeria segera menyingkir dari keramaian. Ia menghela nafasnya panjang, kenapa para rekan kerjanya malah memilih lokasi bar untuk pesta mereka? Ia sama sekali tidak nyaman berada di tempat yang penuh hingar bingar musik di sini. Ia tidak menyukai tempat ramai dengan berbagai macam alkohol. "Sudah ku duga kamu di sini, kamu memang tidak suka keramaian." Valeria tersentak saat mendengar suara dari arah sampingnya, "Andrew?" teriaknya tidak percaya. Andrew mengulas senyumnya, "Ku rasa kita harus bicara. Maafkan aku karena kemarin aku hanya terbawa emosi. Aku dan Lucia, aku tidur dengannya hanya karena kesal. Kamu tidak marah, bukan?" Meski hatinya masih merasa sakit dengan perbuatan Andrew, namun Valeria mencoba melupakannya. Kesehatan ibunya lebih penting daripada perasaannya. Andrew menarik tangan Valeria lalu menggenggamnya dengan erat, "Kau mau memaafkan aku, bukan?" Meski berat Valeria mengangguk, "Jadi pernikahan kita tidak batal?" "Tidak Sayang," "Kalau begitu, tidak apa-apa. Hubungan kita akan baik-baik saja dan aku memaafkanmu," ujar Valeria dengan senyuman tipis. Valeria hanya bisa menelan seluruh kekecewaannya. Anggap saja perselingkuhan yang dilakukan Andrew tidak pernah terjadi. Kesehatan ibunya harus menjadi prioritas, itu yang terpenting. "Ah, aku bawakan minuman untukmu." "Tapi Andrew, kau tahu jika aku tidak kuat minum." tolaknya dengan halus saat melihat Andrew menyodorkan segelas alkohol kepadanya. "Ayolah, ini adalah pesta untukmu, kita juga harus merayakan kembalinya hubungan kita." "Tapi–" "Kumohon Valeria," Valeria akhirnya mengambil gelas yang diulurkan oleh Andrew lalu menenggaknya dengan perlahan. Rasa pahit segera menjalar memenuhi tenggorokannya. "Lagi Val, kenapa kau minum sedikit sekali?" "Nanti aku tidak bisa pulang ke rumah, Andrew." "Aku yang akan mengantarmu pulang, tenang saja. Ayo minum lagi, minum yang banyak. Karena terus dipaksa oleh Andrew, Valeria terus menenggak seluruh minuman di gelas itu. Kepala Valeria mulai terasa berputar dan anehnya tubuhnya terasa panas. Apa efek alkohol selalu terasa sekeras ini? "Andrew, kenapa aku merasa panas sekali?" Andrew tersenyum dengan lebar di hadapannya, "Tentu saja Sayang, itu karena aku memasukkan obat perangsang juga." "Obat perangsang?" Kepala Valeria yang terasa berdenyut sama sekali tidak bisa berpikir saat ini. Ia hanya bisa mengikuti langkah Andrew yang membawanya. "Kau harus tidur dengan sembarang pria agar posisi itu bisa kembali padaku. Ah sial, kenapa malah aku merasa ingin buang air kecil saat ini? Kau tunggu di sini!" Suara Andrew di hadapannya sama sekali tidak terdengar jelas di telinga. Saat ini ia merasa gelisah, tubuhnya terasa sangat terbakar. Ia butuh sesuatu, tapi entah apa yang ia inginkan! Valeria berjalan dengan langkah sempoyongan hingga memasuki area bar. Langkah Valeria seketika terhenti saat ia menabrak seorang pria di hadapannya. "Arghhh panas sekali!" "Hei, kau baik-baik saja?" Tanpa sadar Valeria membuka bagian atas bajunya menampakkan belahan dadanya yang terekspos dengan jelas. "Aku merasa panas sekali!" "Astaga, apa ini gaya baru wanita penghibur di sini untuk memikat pelanggan?" "Panas... Tolong aku arghh!" Valeria seperti cacing kepanasan, ia menarik pria tersebut lalu melumat bibirnya dengan cepat. Mata pria itu melebar mendapat ciuman yang begitu panas dari Valeria. "Wah ternyata kau sudah tidak sabaran. Baiklah, aku akan mengikuti cara bermainmu." Pria itu membawa Valeria menuju suatu ruangan privat bar di sana. Valeria bertindak begitu liar karena obat perangsang yang diberikan oleh Andrew membuat sekujur tubuhnya memerlukan sentuhan lagi dan lagi. "Tunggu... Jangan..." Valeria mencoba menahan gerakan pria itu dengan sekuat tenaga, namun tubuhnya yang merasakan sensasi aneh membuat ia tidak bisa berbuat banyak saat pria itu melumat bibirnya, memberikan sentuhan ke tiap-tiap titik sensitif di tubuhnya masing-masing. "Rupanya pelayananmu luar biasa, Nona." Pria itu menggeram perlahan, padahal mereka belum sampai di kamar, tapi Valeria sudah bertindak seagresif ini. Saat kamar terbuka, dengan terburu pria itu melepas seluruh baju yang melekat di tubuh Valeria lalu membaringkan tubuh mungilnya ke atas ranjang. Dengan perlahan, ia menyatukan milik keduanya. "Aw! Sakit, Andrew!" Dahi pria itu mengernyit dalam saat mendengar rintihan Valeria, sejenak pria itu berhenti merasa heran karena seorang wanita penghibur seperti ini masih menjaga kesuciannya. Dan lagi siapa itu Andrew? "Kau masih perawan?" Tidak ada jawaban, wanita yang berada di bawahnya hanya mengalungkan tangannya ke arah leher. Gairahnya sudah meletup-letup karena aksi liar yang diberikan oleh Valeria, bagaimana mungkin ia berhenti? Pria itu segera menggeleng, menyingkirkan segala keanehan itu. Ia terus memajukan tubuhnya meski Valeria meringis kesakitan, sesekali ia menghujani wajah Valeria dengan kecupan-kecupan agar perih yang ia rasakan berkurang. Ringisan Valeria segera berubah menjadi desahan-desahan yang saling bersahutan di kamar itu. Sayangnya, mereka tidak sadar jika seluruh aktivitas itu telah direkam oleh Andrew yang mengikuti dari belakang. Meski pria yang menjadi partner bermain Valeria bukanlah tujuannya, tapi Andrew merasa puas. Dengan bukti ini ia bisa menghancurkan reputasi Valeria di kantor esok hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD