Bab 7. Jodoh Cerminan Diri

1365 Words
"Sandra, kamu sendirian?" tanya Rangga saat melihat wanita itu datang tanpa membawa pasangan. Padahal semua karyawan PT Adinata Jaya Perkasa datang bersama pasangan masing-masing, kecuali yang masih jomblo. "Maaf, Pak Rangga. Suami saya sedang di luar kota. Jadi, tidak bisa datang," balas Sandra berbohong. Sesungguhnya wanita itu malas mengajak Bayu ke pesta perusahaannya. Apalagi harus memperkenalkannya di depan Rangga. Meskipun Bayu sudah berulang kali minta maaf dan mohon kepada Sandra untuk memperbaiki hubungan, tetapi wanita itu masih belum sanggup menerima pesan suami kembali. Apalagi jika teringat kejadian malam di mana dirinya melihat sang suami memadu kasih bersama wanita lain di dalam kamarnya. "Oh, sayang sekali. Padahal aku ingin berkenalan dengan suamimu," ucap Rangga kecewa. "Maaf, Pak. Acaranya terlalu mendadak. Jadi, suami saya tidak bisa meng-cancel jadwalnya. Mohon dimaklumi," balas Sandra membuat Rangga mengangguk. "Oke, silakan menikmati pestanya," ucap Rangga. Sandra pun mengangguk lalu bergabung dengan teman-temannya yang lain. Beberapa saat kemudian, pemilik PT Adinata Jaya Perkasa yakni Arya Adinata yang tidak lain adalah papanya Rangga memanggil Rangga untuk naik ke atas panggung dan diperkenalkan kepada seluruh karyawan sebagai pimpinan baru. Rangga menggantikan kepemimpinan Anwar yang sekarang dimutasi ke IKN. Semua karyawan sangat antusias menyambut pemimpin baru perusahaan. Mereka merasa senang mendapatkan pimpinan baru seperti Rangga. Apalagi para jomblowati bertambah semangat bekerja karena pimpinan baru mereka adalah seorang lelaki yang muda dan tampan, juga masih jomblo. Mereka berlomba-lomba menarik simpati dan perhatian Rangga barangkali bisa mengambil hati Ceo Tampan itu. Setelah diperkenalkan kepada seluruh karyawan, Rangga turun panggung dan berbincang beberapa manajer yang memimpin departemen di perusahaannya sekalian berkenalan dengan pasangan masing-masing. Namun, Rangga tidak menemukan Sandra di antara mereka. Padahal harusnya wanita itu masuk dalam deretan para manajer perusahaan karena Sandra saat ini menjabat sebagai manajer keuangan perusahaan. "Di mana Sandra?" batin Rangga sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Lelaki itu melihat para karyawan sedang menikmati hidangan pesta. Namun, tidak ada Sandra di sana. Sementara itu, Sandra ternyata ada di Rooftop, tempat favoritnya untuk menyendiri saat di kantor. Melihat yang lain datang bersama pasangan membuat Sandra berulang kali ditanya teman-temannya, mengapa sang suami tidak hadir. Padahal biasanya Bayu tidak pernah absen menghadiri acara-acara di kantor Sandra. Keduanya juga selalu menunjukkan sikap romantis yang sering membuat iri pasangan lainnya. "Ibu baik-baik saja?" tanya Indi membuat Sandra yang sedang melamun di pinggir balkon terkejut dan segera menghapus air matanya. Sekretaris itu mencari atasannya karena sempat ditanya oleh Rangga tentang keberadaan Sandra. "Aku baik-baik saja, Indi," balas Sandra sembari mengukir senyum. "Bukannya saya mau ikut campur dengan urusan ibu, tapi tidak biasanya Pak Bayu absen dari acara kantor," ucap Indi membuat Sandra menghela napas panjang. "Mas Bayu kebetulan lagi di luar kota," bohong Sandra sembari membuang pandangan dari sang sekretaris. "Oh saya kira Ibu sedang ada masalah dengan Pak Bayu. Soalnya tidak biasanya Pak Bayu absen. Ibu dan Pak Bayu adalah inspirasi kami, terutama saya. Saya pengen banget nanti kalau dapat suami yang seperti Pak Bayu. Sudah tampan, baik, romantis lagi. Ibu sangat beruntung ya bisa mendapatkan suami seperti Pak Bayu," ucap Indi tanpa rasa berdosa membuat Sandra tersenyum kecut. Hatinya tercubit mendengar pujian sang sekretaris terhadap suaminya. Orang memang selalu memandang dari penampilan luar saja. Namun, terkadang mereka tidak tahu bagaimana kenyataan di dalamnya, bahkan Sandra sendiri pun sempat tertipu oleh penampilan luar Bayu. Memang di kalangan teman-teman kerjanya, Bayu terkenal sebagai lelaki yang baik, sopan dan mudah bergaul, serta selalu menunjukkan keromantisan setiap kali ada acara kantor. Bahkan Sampai saat ini pun Sandra masih tidak menyangka kalau sang suami tega mengkhianatinya dan membuat mahligai pernikahan mereka hancur. "Kalau kamu kepengen dapat jodoh yang baik, maka perbaikilah diri kamu terlebih dahulu. Karena jodoh itu cerminan diri. Bukan berarti di sini aku mengatakan kalau aku itu sudah baik. Aku merasa aku juga belum terlalu baik, begitu juga Mas Bayu." "Begitu ya, Bu? Kalau Pak Rangga bagaimana, Bu?" Pertanyaan Indi membuat Sandra melebarkan kedua matanya dan menoleh ke arah sekretarisnya itu. "Maksud kamu?" "Pak Rangga itu orangnya baik, tampan, kaya dan masih jomblo. Kira-kira kalau saya kejar dia, pantas nggak sih, Bu?" tanya Indi sembari terkekeh, membuat Sandra terdiam. Entah kenapa, jauh di dalam lubuk hatinya ada rasa tidak rela ada wanita lain yang mengagumi Rangga. Padahal Sandra sudah lama sekali melupakan perasaannya kepada sang mantan kekasih itu. "Bercanda, Bu. Lagian mana mungkin orang seperti Pak Rangga naksir sama saya. Kalau memang iya sih, syukur alhamdulillah. Tapi saya nggak mau berkhayal terlalu tinggi karena kalau jatuh bakalan sakit," ucap Indi sembari tertawa membuat Sandra pun tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Ucapan dan tingkah polah sekretarisnya itu memang terkadang absurd. Namun, cukup menghiburnya. Indi memang gadis polos dan apa adanya. Selalu ceplos-ceplos jika berucap. Hal tersebut yang membuat Sandra betah mempekerjakan gadis itu sebagai sekretarisnya. Suara dering telepon menjeda obrolan keduanya. "Pasti dari Pak Bayu. Maaf, saya mengganggu. Kalau begitu saya permisi dulu mau gabung sama yang lain," pamit Indi yang hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Sandra. Wanita itu meraih ponsel di dalam tasnya setelah kepergian Indi. Nama Mbak Ira terpampang di layar benda pipih itu. "Halo, Mbak," sapa Sandra setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya. "Halo, Sandra. Bagaimana, kamu sudah pikirkan apa yang Mbak katakan kemarin?" tanya Ira dari seberang telepon. "Yang mana ya, Mbak?" "Itu loh soal memaafkan Bayu. Kamu sudah mencoba beri dia kesempatan?" Mendengar ucapan kajaknya, Sandra terdiam. "Mbak tahu ini berat, tapi kamu harus mencobanya. Mbak yakin kamu masih cinta sama Bayu. Cobalah menurunkan sedikit ego kamu." "Aku tidak yakin Mas Bayu benar-benar berubah, Mbak." "Setidaknya beri kesempatan padanya. Kalau Bayu mengulangi kesalahannya, maka Mbak tidak akan ikut campur lagi." "Baiklah, Mbak. Terima kasih sarannya." "Kamu harus kuat, Sandra. Setiap orang pernah melakukan kesalahan, terapi sebaik-baiknya orang yang berbuat salah adalah orang yang mau bertobat." Sandra dimasukkan kembali ponsel ke dalam tas setelah panggilan terputus. Wanita itu memijat kepalanya yang terasa pusing, lalu mulai beranjak dari tempat itu dan turun ke lantai dasar. Sandra bermaksud minta izin pulang lebih awal karena memang wanita itu sudah tidak bisa menikmati pestanya. Saat lift terbuka, Sandra terkejut karena Rangga sudah ada di depan pintu lift. "Sandra, kamu ke mana saja? Aku mencarimu," tanya Rangga yang tampak cemas. "Dari ruangan saya, Pak. Ada sesuatu yang tertinggal," bohong Sandra. wanita itu menggunakan bahasa resmi untuk berkomunikasi dengan Rangga karena masih di lingkungan kantor. "Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Rangga karena melihat wajah Sandra sedikit pucat. "Saya sedikit pusing. Boleh saya izin pulang?" tanya Sandra. "Tentu saja boleh. Tapi apa kamu yakin bisa pulang sendiri? Mau aku antar?" tawar Rangga. "Tidak perlu, Pak Rangga. Saya masih bisa pulang sendiri, kok. Lagipula ini pesta Anda. Kalau Anda tiba-tiba menghilang, Pak Arya bisa mencari Anda," tolak Sandra. Wanita itu pun melangkahkan kaki keluar gedung. Namun, Rangga yang khawatir mengikuti Sandra dari belakang. Saat di dekat mobilnya, tubuh Sandra hampir ambruk. Wanita itu merasa pandangannya berputar. Sandra pun menyandarkan tubuh di mobil Honda Jazz merah miliknya. Tanpa berpikir panjang, Rangga yang melihatnya pun mendekat. "Aku antar pulang," ucapnya sembari memegang pergelangan tangan Sandra. "Tapi--" "Jangan menolak. Biar aku yang nyetir," potong Rangga sembari meraih kunci mobil dari tangan Sandra. Wanita itu pun pasrah dan akhirnya masuk mobil. "Perumahan Cempaka Putih Garden," ucap Sandra sebelum Rangga menanyakan alamat rumahnya. Lelaki itu pun mengangguk, lalu mulai menjalankan mobil. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit membelah kemacetan jalanan Kota Surabaya, akhirnya mobil Honda Jazz merah yang dikendarai Rangga memasuki kawasan Perumahan Cempaka Putih Garden. "Rumahmu yang sebelah mana?" tanya lelaki itu sembari menoleh ke arah Sandra yang menyandarkan punggungnya di jok mobil. "Blok B5 nomor 26," balasnya tanpa menoleh ke arah Rangga. Lelaki itu pun mengangguk lalu mengarahkan mobil ke alamat yang disebutkan Sandra. "Ini rumahmu?" tanya Rangga saat mobil Honda Jazz merah yang dikendarainya berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar warna putih. "Iya, benar. Terima kasih, Pak Rangga. Maaf saya tidak bisa mempersilahkan Anda untuk mampir, karena--" "Iya, aku paham. Aku akan pulang naik taksi," balas Rangga sembari keluar dari mobil. Wanita itu pun kemudian bergeser di balik kemudi, lalu menjalankan mobilnya memasuki halaman rumah. Sementara Rangga memesan taksi online untuk kembali ke kantornya. Tanpa mereka sadari, dari balkon kamar lanrai dua, Bayu melihat Sandra pulang diantar seorang lelaki. "Siapa lelaki itu? Apa jangan-jangan Sandra juga selingkuh?" batinnya sembari bergegas turun menyambut sang istri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD