"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Bayu saat Sandra memasuki rumah. Lelaki itu mendekat pada sang istri dan melirik jarum jam yang menunjukkan pukul 09.00 malam.
Bayu tidak tahu kalau sang istri baru saja mendatangi pesta penyambutan pimpinan baru di kantornya karena Sandra memang tidak memberitahukan lelaki itu. Bayu juga tidak berniat mempertanyakan siapa lelaki yang baru saja mengantar Sandra pulang.
Lelaki itu tidak ingin bertengkar dengan Sandra karena dia sedang berusaha untuk mendapatkan maaf dari sang istri. Bayu harus mengesampingkan rasa cemburunya demi mendapatkan Maaf Sandra.
"Iya, Mas. Aku capek mau istirahat di kamar," ucap Sandra sembari melangkahkan kaki meninggalkan sang suami. Namun, Bayu yang belum menyerah mengekor di belakang wanita itu.
"Sayang, makan malam dulu, ya. Aku sudah siapkan," ajak Bayu membuat Sandra menghentikan langkah. Wanita itu menoleh ke ruang makan dan melihat beberapa makanan telah tersaji di atas meja. Hati Sandra menghangat melihat perubahan Bayu yang tidak menyerah untuk mendapatkan maaf darinya.
Perut Sandra tiba-tiba lapar karena memang tadi di pesta wanita itu belum sempat menikmati hidangan yang disediakan. Sebenarnya kepalanya masih terasa pusing. Namun, melihat Bayu telah bersusah payah mempersiapkan makan malam untuknya, Sandra pun tidak tega untuk menolak.
"Kamu masak sendiri, Mas?" tanya Sandra yang dijawab anggukan kepala oleh Bayu. Ada nasi goreng, ayam goreng dan juga potongan buah tersedia di atas meja.
"Kamu duduk dulu, ya! Biar aku bikinkan teh hangat," ucap Bayu sembari memundurkan kursi dan mempersilahkan sang istri duduk. Sandra pun duduk dan biarkan sang suami membuatkan teh hangat untuknya.
"Diminum, Sayang." Bayu mengulurkan segelas teh hangat dan meletakkannya di depan Sandra.
"Terima kasih, Mas," balas Sandra yang mulai luluh hatinya, kemudian meminum teh hangat buatan sang suami. Keduanya pun menikmati makan malam bersama tanpa banyak mengobrol.
"Kenapa kamu melakukan ini, Mas?" tanya Sandra telah menghabiskan makannya.
"Aku ingin menebus kesalahanku, Sandra. Aku ingin maaf darimu. Aku janji, aku akan berubah. Aku tidak akan berhubungan lagi dengan Fira. Tolong kasih aku kesempatan."
"Sebenarnya aku belum yakin kalau kamu akan benar-benar berubah, Mas. Tapi, Mbak Ira memintaku untuk memaafkanmu."
"Lalu, apa keputusanmu?"
"Aku akan berikan kamu kesempatan. Satu bulan saja. Tunjukkan kalau kamu sudah berubah. Tunjukkan kalau kamu layak dimaafkan. Setelah satu bulan, aku akan berikan keputusan. Aku harap kamu mau menerima apapun keputusanku."
"Baiklah aku akan memenuhi permintaanmu. Tidak hanya satu bulan, aku akan berubah selamanya. Aku janji. Tapi, izinkan aku tidur di kamar kita."
"Apa?"
"Please, Sandra. Aku janji nggak akan ngapa-ngapain. Aku hanya ingin dekat denganmu. Aku hanya ingin buktikan kalau aku sudah berubah."
"Ya sudah terserah kamu."
"Terima kasih, Sayang." Bayu meraih pergelangan tangan Sandra, lalu menciumnya. Ada rasa bahagia karena saya istri mau memberikan kesempatan untuknya.
***
"Sayang, sarapan dulu, yuk," ajak Bayu saat Sandra berjalan menuruni anak tangga. Wanita itu menoleh ke arah meja makan yang sudah tersedia nasi goreng beserta ayam goreng dan juga s**u.
"Maaf aku hanya bisa masak nasi goreng," ucap Bayu sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berharap Sandra mau memakan masakannya.
"Kamu masak buat sarapan kita, Mas?" tanya Sandra sembari melangkahkan kaki mendekat ke arah meja makan.
"Iya, semoga kamu suka. Kita makan dulu, yuk! Kamu tidak terburu-buru, kan?" tanya Bayumembuat Sandra tidak tega menolak. Wanita itu menggelengkan kepala, lalu duduk.
"Apa kamu melakukan semua ini untuk mendapatkan simpatiku, Mas?" tanya Sandra membuat Bayu tersenyum.
"Kalau kamu mau, aku akan membuatkan sarapanmu setiap pagi. Aku tidak akan menuntutmu macam-macam lagi. Kamu boleh terus berkarir sampai kapanpun."
"Kamu yakin, Mas?"
"Iya, Sayang. Sekarang aku paham kalau mengajar karir adalah cita-citamu dari dulu. Aku minta maaf karena sempat khilaf dan mendua di belakangmu. Asalkan kamu memaafkanku, aku pastikan itu tidak akan terjadi lagi."
"Buktikan semuanya, Mas. Jangan hanya janji."
"Aku akan buktikan. Waktu satu bulan yang kamu berikan akan aku manfaatkan sebaik mungkin."
"Ya, sudah kita makan dulu," ajak Bayu sembari menyendokkan nasi ke piring Sandra. Keduanya pun sarapan tanpa banyak mengobrol.
Setelah menyelesaikan sarapanm Sandra berpamitan untuk berangkat ke kantor. Bayu mengulurkan tangan, berharap sang istri mau menjabat dan mencium punggung tangannya. Sandra terdiam sebentar, lalu meraih tangan lelaki itu dan mencium punggung tangan Bayu.
"Aku berangkat dulu ya, Mas." Bayu mengangguk, kemudian memandang sang istri yang melangkah keluar. Lelaki itu pun bergegas mengikuti keluar karena harus ke kantor juga. Namun, Bayu heran karena melihat Sandra masih ada di garasi mobil.
"Kamu belum berangkat, Sayang?" tanya Bayu sembari mendekat ke arah sang istri yang sibuk dengan ponselnya.
"Ban mobil aku kempes, Mas. Padahal tadi malam gak apa-apa," balas Sandra yang mengalihkan fokusnya pada ponsel dengan menatap sang suami.
"Mau aku gantikan bannya dulu?" tawar Bayu.
"Nggak usah, Mas. Aku sudah telat. Aku naik taksi aja," tolak Sandra sembari melirik ke arah benda bulat di pergelangan tangan kirinya.
"Eh, jangan! Aku antar saja," cegah Bayu membuat Sandra melebarkan kedua matanya.
"Tapi, Mas. Kantor kita kan nggak searah. Nanti kamu telat."
"Nggak papa. Pagi ini aku nggak ada janjian dengan klien, kok. Aku bisa ke kantor setelah mengantar kamu."
"Tapi--"
"Jangan tolak! Nanti kamu terlambat, loh." Bayu melangkah menuju mobilnya. Sementara Sandra pun akhirnya pasrah mengikutinya dari belakang. Terpaksa wanita itu menerima tawaran sang suami karena memang sudah hampir terlambat.
Lagipula jika naik taksi online akan memakan waktu karena selain Sandra belum mengorder, juga saat itu adalah jam-jam sibuk. Seperti pagi itu, Jalanan sudah mulai macet. Belum tentu jugs Sandra segera mendapatkan taksi. Pasangan suami istri itu akhirnya berangkat ke PT Adinata Jaya Perkasa menggunakan mobil Bayu.
"Makasih ya, Mas," ucap Sandra saat mobil suaminya berhenti di area parkir kantornya.
"Sama-sama, Sayang." Bayu pun turun dari mobil, lalu berjalan memutar dan membukakan pintu untuk sang istri. Namun, saat Sandra keluar dari mobil, seorang lelaki tiba-tiba menyapanya.
"Sandra? kamu sudah sehat?" tanya seorang laki-laki yang tidak lain adalah Rangga sembari melirik ke arah Bayu.
"Pak Rangga? Alhamdulillah saya sudah sehat, kok."
"Kalau kamu belum sehat betul, pulang saja dan istirahat," lanjut Rangga membuat Sandra dan Bayu saling memandang.
"Oh, tidak perlu, Pak. Saya baik-baik saja. Tadi malam hanya sedikit pusing."
"Oh, begitu. Ya sudah, jangan terlalu dipaksakan. Kalau emang kamu sakit, kamu izin pulang saja,"
"Iya, Pak. Terima kasih."
"Oh, ya. Lelaki ini siapa?" tanya Rangga sembari menoleh ke arah Bayu.
"Ini Mas Bayu, suami saya, Mas. Mas, kenalin ini Pak Rangga, bos baru di kantorku," ucap Sandra memperkenalkan keduanya. Bayu dan Rangga pun saling berjabat tangan.
"Oh, jadi Anda sudah pulang dari luar kota?" tanya Rangga membuat Bayu bingung dan menoleh ke arah sang istri.
"Eh iya, Pak. Mas Bayu baru pulang dari luar kota tadi malam," bohong Sandra. Sementara Bayu hanya terdiam.
"Oh, begitu. Baiklah kalau begitu saya permisi dulu," pamit Rangga.
"Silakan, Pak," bales Sandra. Rangga mengangguk dan tersenyum ke arah Bayu, kemudian melangkahkan kaki meninggalkan keduanya.
"Jadi, dia Bos baru pengganti Pak Anwar?" tanya Bayu setelah Rangga pergi. Sandra hanya menjawab dengan anggukan kepala. Entah kenapa saat tahu bos baru Sandra masih muda dan tampan, lelaki itu merasa khawatir. Namun, Bayu tidak ingin menunjukkan rasa cemburunya. Lelaki itu akan tetap fokus pada tujuan utamanya, yaitu mendapatkan maaf dari sang istri.
Sore harinya, Bayu kembali menjemput sang istri. Saat pulang kerja, keduanya tidak langsung pulang ke rumah. Sandra baru saja mendapatkan telepon dari kakaknya bahwa Fitri meminta keduanya untuk mampir ke rumah Ira. Rupanya Fitri sudah menunggu kedatangan keduanya wanita baru kaya itu meminta menantu dan Putri fungsinya untuk masuk
"Apa ini, Bu?" tanya Sandra saat Fitri menyerahkan amplop putih panjang kepadanya.
"Buka saja, Sayang," balas Fitri sembari tersenyum, membuat Sandra penasaran.
Wanita itu pun segera membuka amplop pemberian sang Ibu dan mengeluarkan isinya. Sementara Bayu hanya diam menyimak.
"Ini paket honeymoon? Buat siapa, Bu?" tanya Sandra bingung.
"Ya buat kamu dan Bayu, dong. Memangnya siapa lagi? Kalian kan baru saja merayakan anniversary ke-3 tahun. Anggap saja Itu hadiah dari ibu buat kalian. Ibu ingin kalian bulan madu lagi. Semoga setelah pulang dari bulan madu, kalian membawa kabar baik."
"Kabar baik? Maksud ibu?"
"Ya tentu saja cucu. Memang apalagi? Ibu sudah sangat menantikan cucu dari kalian, loh," ucap Fitri tanpa rasa bersalah membuat Bayu dan Sandra saling memandang.