"Itu paket bulan madu ke pulau Lombok. Di sana pemandangannya sangat indah. Ibu yakin kalian akan suka," ucap Fitri yang berharap anak dan menantunya senang terhadap hadiah darinya.
"Tapi, Bu. Saya nggak bisa. Saya kan harus kerja," ucap Sandra sembari menoleh ke arah sang suami yang hanya terdiam sambil mengulum senyum.
"Kamu kan bisa ajukan cuti, Sandra. Jangan kerja terus. Sekali-kali nikmatilah hidup. Kalau kamu gila kerja, kapan kamu bisa fokus sama keluarga dan punya anak," balas sang Ibu membuat hati Sandra tercubit. Fitri seolah membuatnya tersadar kalau berselingkuhan Bayu disebabkan karena dirinya terlalu sibuk bekerja dan mengabaikan sang suami.
"Bu, kalau memang Sandra tidak bisa cuti tidak apa-apa. Honeymoon tidak harus keluar kota atau keluar pulau. Bagi kami setiap hari di rumah pun sudah seperti honeymoon," ucap Bayu membela. Lelaki itu mencoba mendapatkan simpati dari sang istri.
"Ya beda, dong, Bayu. Kalau di rumah, kalian pasti sama-sama capek, habis kerja. Tapi kalau kalian Healing melupakan sejenak tentang pekerjaan, pikiran kalian akan fresh lagi. Jadi, Ibu harap kalian cuti selama tiga hari."
"Tapi, Bu--"
"Sandra, bantu Mbak mempersiapkan makan malam," ucap Ira yang tiba-tiba muncul dari ruang tengah membuat obrolan mereka terputus.
"Bu, saya ke dapur sebentar bantu Mbak Ira," pamit Sandra yang merasa terselamatkan oleh kakaknya. Fitri hanya menghela napas panjang, lalu ngobrol dengan Bayu.
"Sandra, kamu niat nggak sih memperbaiki hubungan dengan Bayu?" tanya Ira setelah keduanya sampai di dapur.
"Entahlah, Mbak. Aku--"
"Kamu harus coba. Kalau kamu menolak paket bulan madu dari ibu, justru itu akan membuat Ibu curiga. Seorang ibu itu punya ikatan batin yang kuat dengan anaknya. Saat ini Ibu pasti merasa kalau kamu dan Bayu sedang tidak baik-baik saja," Ira memotong ucapan Sandra.
"Itulah sebabnya Ibu memberikan hadiah paket honeymoon itu untuk kalian," lanjutnya sembari sibuk mempersiapkan hidangan makan malam.
"Mbak Ira nggak cerita sama ibu, kan*" tanya Sandra sembari membantu sang kakak.
"Tentu saja tidak, Sandra. Kalau ibu tahu, beliau pasti sudah drop. Mbak nggak mau terjadi apa-apa sama ibu."
"Baiklah, Mbak. Aku akan coba ajukan cuti."
"Nah, begitu dong. Terkadang kita wanita harus mengalah, Sandra. Demi keutuhan sebuah keluarga. Asalkan Bayu mau berubah, maafkan dia."
"Bagaimana kalau Mas Bayu masih mengulanginya lagi, Mbak?"
"Mbak harap sih tidak. Tapi, kalau memang dia masih tetap berselingkuh dari kamu, maka dia memang layak ditinggalkan. Mbak akan bantu kamu beritahu ibu tanpa membuat beliau drop."
"Baiklah, Mbak. Aku akan berusaha menuruti nasehat Mbak Ira."
Setelah mendengar jawaban Sandra, Ira merasa lega. Kedua bersaudara itu pun memanggil anggota keluarga yang lain untuk makan malam bersama. Tidak lupa Ira meminta pengasuh Kenzie dan Kenzo untuk membawa si kembar ke ruang makan. Setelah makan malam bersama Sandra dan Bayu berpamitan pulang.
"Sayang, kalau kamu keberatan pergi honeymoon sama aku, ya tidak apa-apa. Aku tahu kamu masih belum bisa menerima aku sepenuhnya. Nanti biar aku yang ngomong sama ibu," ucap Bayu saat perjalanan pulang sembari fokus menyetir.
"Nggak, Mas. Jangan! Besok, aku akan ajukan cuti."
"Jadi, kamu setuju kita honeymoon ke Lombok?"
"Iya, Mas. Aku nggak mau Ibu curiga. Aku berharap setelah ini hubungan kita akan kembali seperti dulu."
"Alhamdulillah. Terima kasih, Sayang. Aku janji, aku akan mengembalikan kepercayaanmu."
"Tapi, jangan berekspektasi terlalu tinggi untuk honeymoon ini, Mas. Jujur aku masih belum bisa melayani kamu setelah apa yang kamu lakukan."
"Iya, Sayang. Aku tahu. Aku tidak akan memaksamu. Kalau memang kamu belum bisa, aku akan menunggumu sampai benar-benar ikhlas memaafkanku."
"Terima kasih ya, Mas."
"Nggak, jangan terima kasih. Aku yang salah di sini. Jadi, aku akan terima apapun resikonya, asalkan kamu masih mempertahankan rumah tangga kita." Bayu menggenggam tangan Sandra.
***
"Ada apa, Sandra? Tumben kamu ke sini tanpa aku panggil?" tanya Rangga saat Sandra memasuki ruangannya setelah sebelumnya mengetuk pintu.
"Maaf kalau saya mengganggu, Pak Rangga. Saya hanya mau mengajukan cuti."
"Cuti?" Untuk berapa hari?"
"Nggak lama, cuma tiga hari saja."
"Oke, keperluan!"
"Saya mau liburan dengan suami, Pak."
"Kenapa tidak liburan nanti di akhir tahun saja? Bukankah sebentar lagi sudah akhir tahun?" tanya Rangga sembari menyibukkan diri membaca file tanpa menoleh ke arah Sandra.
"Saya mau merayakan anniversary yang ketiga," balas Sandra sontak membuat Rangga menatap ke arahnya. Entah kenapa seperti ada tangan tak kasat mata meremas hatinya hingga perih.
"Oh, iya. Baiklah. Kamu buat suratnya permohonan cutinya nanti biar aku tandaangani," ucap lelaki itu akhirnya. Sandra mengangguk lalu memohon diri untuk keluar ruangan. Sementara Rangga menyandarkan punggungnya di kursi sembari menyunggar rambutnya dengan kasar.
"Sadar, Rangga! Sandra itu istri orang. Nggak ada salahnya kan dia liburan sama suaminya? Astaga kenapa hatiku rasanya sakit sekali. Sepertinya aku memang butuh Healing. Aku harus melupakan Sandra dan mencoba membuka hati untuk wanita lain. Tapi siapa? Memang banyak yang mencoba dekat denganku. Namun, tak satupun dari mereka yang sanggup membuat hatiku berdebar seperti saat aku bersama Sandra," batin Rangga sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Lelaki itu lalu mengambil ponsel dan menghubungi asistennya.
"Selamat pagi, Pak Rangga. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang laki-laki yang tidak lain adalah John, asisten pribadi Rangga.
"Tolong pesankan tiket pesawat ke pulau Lombok weekend nanti."
"Untuk berapa orang, Pak?" tanya John dari seberang telepon.
"Untuk dua orang. Aku dan kamu saja."
"Siap, Pak. Kalau boleh tahu apakah ini untuk urusan bisnis?"
"Nggak, bukan. Aku hanya ingin liburan dan sorry kalau aku terpaksa harus mengajakmu. Biar ada yang aku ajak ngobrol," balas Rangga membuat John terkekeh.
"Siap, Pak. Justru saya senang karena bisa liburan gratis dan dibayar pula," balasnya membuat Rangga tersenyum.
***
"Kamu sudah siap, Sayang? Tidak ada yang ketinggalan, kan?" tanya Bayu saat melihat Sandra keluar dari kamar. Lelaki itu membantu sang istri membawa kopernya menuruni anak tangga.
"Sepertinya nggak ada, Mas."
"Ya sudah, kita berangkat sekarang." Bayu membawa kopernya dan juga koper Sandra keluar rumah, lalu masukkannya ke bagasi mobil. Lelaki itu kemudian membukakan pintu mobil untuk sang istri.
Tanpa banyak berkata, Sandra pun masuk dan duduk di samping kemudi. Begitu pula Bayu yang sudah bersiap di balik kemudi mobil. Keduanya akan menuju bandara Juanda untuk penerbangan pagi itu ke pulau Lombok. Namun, saat lelaki itu hendak menjalankan mobil, ponselnya berdering. Bayu pun mengambil benda pipih itu dari saku celananya.
"Telepon dari siapa, Mas?" tanya Sandra.
"Nggak tahu, nih. Nomor asing," balas Bayu sembari hendak memasukkan kembali ponselnya ke saku celana.
"Terima aja, Mas. Siapa tahu penting," usul Sandra. Bayu pun mengangguk, lalu menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo, Mas Bayu. Ini aku Fira. Kenapa kamu memblokir nomorku?" ucap seorang wanita dari seberang telepon saat panggilan tersambung membuat Bayu sontak menoleh ke arah Sandra.