Bab 11. Nikah Siri

1367 Words
"Sayang, bangun, yuk! Sudah siang, kita turun makan," ucap Bayu sembari menggoyang tubuh Sandra yang masih tertidur pulas. Perlahan kedua mata wanita itu terbuka dan langsung melirik ke arah jarum jam yang ada di dinding kamar hotel itu. "Sudah siang ya, Mas? Aku pulas sekali tidurnya," ucap Sandra sembari duduk. "Nggak papa, Sayang. Kamu mandi terus kita turun makan." "Aku malas keluar, Mas. Bisa nggak kita delivery makanan saja?" "Kamu sakit?" tanya Bayu cemas. "Nggak, sih. Cuma lagi males keluar. Kayaknya di luar cuacanya panas. Nanti malam saja kita makan malam di restonya." "Ya sudah, kalau begitu kamu mandi dulu terus tunggu di kamar biar aku beli makanan di luar." "Iya, Mas. Makasih, ya." Sandra beranjak dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Bayu bergegas keluar kamar untuk mencari makanan. Namun, baru beberapa menit keluar dari kamar, ponselnya berbunyi. Lagi-lagi dari nomor asing yang tidak lain adalah Fira. "Untung sudah keluar kamar dan Sandra tidak ikut," batinnya saat menatap layar ponsel. Lelaki itu kemudian menghela napas panjang, lalu menggeser tombol hijau di layar ponselnya. "Halo, Mas Bayu. Aku sudah sampai di Lombok. Kamu ada di hotel mana? Kita harus ketemu," ucap Fira dari seberang telepon begitu panggilan tersambung. "Fir, tolong jangan kacaukan acara honeymoonku dengan Sandra. Please, pulanglah! Kita bicara nanti kalau aku sudah di Surabaya. Aku janji!" "Nggak, Mas. Aku sudah sampai di Lombok. Masa iya mau langsung pulang? Kalau kamu tidak mau memberitahuku hotel di mana kamu menginap, maka aku akan mencarinya sendiri. Aku pastikan saat aku menemukannya, maka aku tak segan datang ke kamarmu dan menemui istrimu itu." "Fira--" "Aku tidak main-main, Mas. Ini bukan hanya ancaman belaka. Kamu paham betul bagaimana aku, bukan?" "Baiklah, aku akan share lokasi hotelnya. Temui aku sekarang juga. Mumpung aku lagi tidak sama Sandra." "Oke, Mas." Bayu menyudahi panggilan, lalu mengirimkan lokasi Hotel tempatnya menginap kepada Fira. "Sebaiknya aku segera menyelesaikan masalahku dengan Fira sebelum Sandra tahu semuanya. Aku tahu dia hanya butuh uang dan aku akan memberikannya." Bayu bergegas menuju restoran yang ada di hotel tersebut, lalu memesan makanan dan meminta petugas restoran untuk mengantarkan makanan tersebut ke kamarnya. Sementara dirinya menunggu kedatangan Fira di restoran untuk menyelesaikan hubungan mereka. *** "Apa kita akan langsung ke kamar, Pak?" tanya John saat keduanya turun dari taksi. Lelaki itu kemudian membantu sopir taksi menurunkan dua koper dari bagasi. Siang itu, Rangga yang ditemani asistennya--John, sampai di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Majid di jam datu siang. Keduanya langsung naik taksi menuju hotel berbintang yang telah dibooking sebelumnya. "Aku mau langsung ke Resto untuk makan siang. Perutku sudah lapar," kekeh Rangga. Tadi sebelum terbang ke Lombok lelaki itu belum sempat makan. "Kamu langsung ke kamar dan taruh barang-barang kita, lalu susulin aku ke Resto," lanjut Rangga. John pun mengangguk, lalu membawa dua koper itu menuju kamar hotel yang telah dibooking. Sementara Rangga berjalan menuju Resto hotel dan langsung memesan makanan. Beberapa mata tampak memandang ke arah lelaki tampan itu, terutama para wanita. Selain memiliki wajah tampan,Rangga juga memiliki tubuh yang atletis. Selain itu penampilannya pun menarik karena baju, sepatu, maupun jam tangan yang ia pakai pun terlihat mahal dan memang berasal dari brand ternama. Darah blasteran Jawa dan bule yang mengalir di tubuhnya membuat lelaki itu memiliki daya pikat tersendiri. Maka tak heran jika beberapa mata wanita memandang takjub terhadap lelaki itu. Apalagi Rangga terlihat datang ke Resto sendirian alias tidak membawa pasangan. Namun, Rangga berusaha mengabaikan mereka. Lelaki itu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru Resto yang mulai dipadati oleh pengunjung karena memang waktunya makan siang. Kedua mata Rangga membulat sempurna saat melihat seorang lelaki dan seorang wanita yang duduk di sudut Resto sedang berpelukan. "Astaga, itu bukannya suaminya Sandra, ya? Apa mereka honeymoon di sini?" batinnya sembari menajamkan pandangan. "Tapi wanita itu sepertinya bukan Sandra. Jangan-jangan suami Sandra berselingkuh." Rangga memasang masker berikut kacamata hitamnya agar tidak dikenali siapapun termasuk oleh lelaki yang diduga sebagai Bayu--suami Sandra. Rangga kemudian mencari meja di dekat Bayu, lalu duduk membelakangi lelaki itu dengan hanya berjarak satu meja. Sementara itu, lelaki yang tidak lain adalah Bayu segera melepaskan pelukan Fira karena khawatir ada yang melihat. "Fir, please. Jangan seperti ini!" ucap Bayu setelah melepas pelukan wanita itu. Setelah mendapatkan share lokasi tempat Bayu menginap, Fira yang baru saja tiba di bandara dalam penerbangan yang sama dengan Rangga segera menuju ke Resto hotel untuk menemui Bayu. "Kamu kenapa sih, Mas? Aku kan kangen sama kamu," balas Fira manja. Rangga yang duduk membelakangi keduanya hanya membuang napas kasar mendengar obrolan keduanya. Lelaki itu pun segera mengaktifkan perekam suara di ponselnya. "Aku sudah bilang padamu kalau kita harus mengakhiri semua ini. Hubungan kita hanyalah sebuah kekhilafan. Aku nggak mau kehilangan Sandra." "Tapi, Mas--" "Aku akan kasih apa yang kamu mau. Kamu mau apa? Apartemen, mobil atau uang? Aku akan berikan, asalkan kamu tidak lagi menemuiku." "Nggak, aku nggak mau Aku maunya kamu, Mas," tolak Fira membuat Bayu sedikit kesal. "Fir, dari awal kita sudah sepakat, bukan? Aku tidak serius dengan hubungan kita dan kamu pun tidak akan menuntut lebih karena aku memilih tetap bersama Sandra. Sekarang aku sedang berjuang mendapatkan maafnya. Tolong jangan kacaukan semuanya." "Lalu bagaimana denganku, Mas? Kamu akan meninggalkanku begitu saja? Kamu anggap aku apa? Setelah aku memberikan semua termasuk kegadisanku, sekarang dengan seenaknya saja kamu membuangku dan ingin kembali kepada istrim. Aku nggak terima." "Sebutkan saja berapa yang kamu minta. Aku akan transfer sekarang juga, atau kamu tidak akan mendapatkan apa-apa." "Tapi masalahnya aku--" "Kenapa lagi?" "Aku hamil, Mas. Anak kamu. "Apa? Kamu jangan bercanda. Kita selalu memakai pengaman. Mana mungkin kamu bisa hamil?" "Kamu lupa, Mas? Waktu kita meeting di Malang, kita menginap di villa dan kamu tidak bawa pengaman. Kita melakukannya dan kamu menikmati." Mendengar ucapan Fira, Bayu mengusap wajahnya dengan kasar. "Gugurkan saja bayi itu. Aku akan kasih uang dua kali lipat," ucapnya membuat Fira terkejut. "Apa, Mas. Kamu ingin aku membunuh bayi kita? Aku tidak mau. Aku mau tanggung jawabmu." "Apa yang kamu inginkan?" "Aku ingin kamu menikahiku, Mas." "Kamu sudah gila? Itu tidak mungkin. Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan Sandra." "Aku tahu itu, Mas. Aku sadar posisiku, tapi kamu bisa menikahiku tanpa menceraikan Sandra. Aku hanya ingin bayi ini punya ayah. Aku janji tidak akan mengganggu kalian. Aku hanya ingin tetap bersamamu dan mempertahankan bayi ini." "Apa? Ini lebih gila lagi. Sandra tidak mungkin mau dimadu." "Sandra tidak perlu tahu. Kita menikah diam-diam, nikah siri dan kamu bisa datang padaku kapanpun kamu sempat. Aku tidak menuntut banyak waktu darimu. Aku hanya ingin tanggung jawabmu pada anak kita." Bayu terdiam sejenak. Tigatahun menikah dengan Sandra memang belum ada tanda-tanda kalau istrinya itu hamil. Padahal berbagai cara dan pengobatan sudah mereka lakukan. Apakah mungkin Tuhan mengirimkan keturunannya lewat rahim Fira? "Aku akan pikirkan lagi. Kita bicara nanti saat di Surabaya. Tapi aku mohon, jangan ganggu acara honeymoon kami." "Baiklah, Mas. Pikirkan baik-baik. Anak ini adalah anakmu dan kamu belum tentu mendapatkannya dari Sandra. Kalau kamu membunuh anak ini, kamu akan menyesal." "Oke, sekarang kamu pulang atau setidaknya jangan muncul di hadapanku maupun Sandra. Kita bicarakan nanti kalau aku sudah kembali ke Surabaya." "Iya, Mas. Aku akan sabar menunggumu. Aku harap kamu menepati janji karena kalau kamu ingkar, aku tidak akan segan menemui istrimu dan mengatakan kalau aku hamil anakmu." Setelah berkata demikian, Fira beranjak dari duduknya dan meninggalkan Bayu. Namun, wanita itu menghentikan langkah dan membalikkan badan menatap ke arah Bayu. "Ingat, Mas. Jangan blokir nomorku lagi. Aku ingin kita tetap berkomunikasi." "Iya, iya. Sudah pergi ke sana," balas Bayu kesal. Fira pun tersenyum penuh kemenangan lalu meninggalkan lelaki itu. Tak berapa lama sepeninggal Fira, ponsel Bayu berdering. Panggilan dari Sandra. "Mas, kamu di mana? Ini makanannya sudah sampai," ucap Sandra dari seberang telepon. "Iya, Sayang. Maaf ini tadi aku ketemu sama teman kuliahku. Jadi, kami ngobrol sebentar," bohong Bayu. "Oh begitu. Apa kamu masih lama?" "Oh, nggak kok, Sayang. Ini juga aku mau balik ke kamar." "Ya sudah kalau begitu. Aku nungguin kamu saja. Kita makan bersama," balas Sandra. "Iya, Sayang. Aku segera kembali." Bayu menyudahi panggilan kemudian masukkan ponselnya ke saku celana dan bergegas meninggalkan Resto. Sementara itu Rangga mematikan perekam suara, lalu menghela napas panjang. "Dasar lelaki buaya! Nggak akan aku biarkan kamu menyakiti Sandra. Lihat saja nanti," batinnya sembari menggenggam ponsel dengan kuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD