Gema pelajari materi yang di kirimkan Alara lewat emailnya. Sesekali kedua matanya melirik ke arah sudut ruangan di mana eksistensi Alara sangat fokus membolak-balikkan kertas berkas yang bertumpuk. Segaris senyum Gema tunjukkan—samar. Belum pernah Gema rasakan bahagia sedamai hatinya saat ini. Jika harus meraba, ada titik perbedaan antara jatuh cintanya yang dulu atau yang sekarang dengan banyak wanita di luaran sana.
Keluarganya begitu gigih mengharapkan Gema menikah lagi. Dengan alasan untuk jangan sendirian karena itu menyakitkan. Tapi sekeras kepala itu Gema menolak berdalih trauma yang terus mengitari. Hingga Gema manfaatkan banyak waktu untuk bersenang-senang sebagai alasan.
Siapa yang ingin menyangka jika kehadiran Alara cukup menyita waktunya?
Bahkan hatinya sudah tidak bisa Gema tanyakan kabarnya. Semuanya terasa benar dan memang ini yang harus Gema lalui. Tapi melihat Alara yang begitu gigih dengan perjanjian yang diajukan, Gema penasaran. Ada kisah apa di balik mata cantiknya yang kala tersenyum berbinar indah?
Apakah luka masa lalu yang mendalam hingga sulit dilupakan?
Apakah hanya meraih kesenangan semata seperti yang biasa Gema lakukan?
Mengingat track Gema yang terkenal di kalangan wanita—baik kelab malam mau pun yang ada di gedung perkantoran ini. Semuanya—73% sudah pernah menghangatkan ranjang Gema.
Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan. Perceraian merupakan terputusnya hubungan antara suami istri, disebabkan oleh kegagalan suami atau istri dalam menjalankan obligasi peran masing-masing. Perceraian dipahami sebagai akhir dari ketidakstabilan perkawinan antara suami istri yang kemudian hidup terpisah dan diakui secara sah berdasarkan hukum yang berlaku.
Helaan napas Gema gusar. Panas di dadanya yang membakar ingatan tentang masa-masa perkawinannya kembali terkenang. Dulu, yang dirinya pikir sebagai orang terbaik bisa memahami siapa Bahtiar Gema dan bagaimana keluarganya, nyatanya tidak. Yang sedekat urat nadi ternyata dialah yang paling menyakiti kita.
Doa-doa Gema sederhana saja. Tidak banyak yang Gema panjatkan. Tidak perlu seseorang yang mengagumkan dalam banyak hal. Cukup beri Gema satu perempuan yang pandai bersetia, tahu caranya menghargai keberadaan dirinya sebagai pasangan serta memperlakukan sebaik Gema menjaga ibunya. Bukan malah menyakiti ibunya. Dan Alara datang ke hadapannya. Apakah itu tanda doanya di kabulkan?
Pasti tidak semudah itu. Semua hari mempunyai waktu dan porsi masing-masing untuk Tuhan mendengarkan apa yang kita keluhkan. Dan Gema tidak pernah ingin menyerah sesering apa Alara menolaknya. Tidak mengapa jika ini dianggap terlalu cepat. Kesempatan takkan datang dua kali.
“Ngebagi gono gini gimana, sih, Bang?”
Tiba-tiba Alara sudah ada di samping kanan tubuhnya. Menunduk tanpa melihat kekagetan di wajah Gema.
“Anak hukum nggak tahu?” Pertanyaan Gema mengandung sindiran. Yang sebenarnya mati-matian dirinya tahan embusan napasnya. Berdekatan dengan Alara membuat jantungnya terpompa ngegas.
Alara cemberut. “Aku kan nggak sepintar abang.”
“Cie yang sudah mulai mengakui.” Gema ge-er dadakan disebut begitu oleh Alara. “Oke, Abang kasih tahu, ya. Kamu bisa baca sendiri di buku catatan kamu. Ini yang sering terjadi di persidangan. Menurut Pasal 53 UU Perkawinan membagi harta dalam perkawinan menjadi tiga macam, yaitu: ada harta bawaan, dan harta bersama atau Gono-gini.
Penjelasan Gema terhenti. Entah bisa masuk atau tidak ke kepala Alara karena perempuan itu justru anteng duduk di atas pangkuannya yang entah sejak kapan. Dan hidung Gema harus mati-matian aroma dari tubuh Alara yang khas.
“Harta gono-gini adalah harta benda yang dihasilkan oleh suami istri selama masa perkawinan mereka yang sah dan ada Undang-undang yang menuliskan tentang gono-gini ini. Nggak asal, Ra. Yaitu Undang-undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Jadi jelas, perkawinan kontrak nggak masuk ke ranah gono-gini ya, Ra.”
“Tapi punya klien kita yang sekarang, istri minta sepenuhnya gono-gini jatuh ke dia loh Bang. Bisa?”
Apa Gema bilang. Alara tidak sepenuhnya memahami penjelasannya meski sudah sangat simpel Gema tuturkan.
“Nggak bisa dong. Karena yang namanya harta gono-gini ini menjadi milik suami istri meskipun yang kerja cuma si suami doang atau istri saja. Kalau dia nuntut terlalu banyak untuk jatuh semuanya ke dia dengan dalih ‘aku yang bekerja dan menghidupi keluarga ini’ nggak bakal kelar urusannya. Terus, sejak kapan terbentuknya harta gono-gini ini? Penentuannya lewat rasa keadilan. Jadi pure perasaan yang bermain. Karena yang namanya pernikahan, bahtera rumah tangga yang mengarungi adalah dua orang, nggak bisa satu doang. Misal cuma istri doang. Coba kamu bayangin kalau nahkoda kapal nggak punya asisten? Siapa yang mau ngatur dan ngelihat kondisi laut. Dan secara umum, mengenai terbentuknya harta gono-gini ini secara umum ditentukan menurut kewajaran bukan waktu. Paham?”
“Ribet, ya? Nggak mau nikah aku.”
Gema tercenung. Secepatnya harus dirinya selidiki mengenai latar belakang Alara. Karena jika sudah sampai begitu, artinya ada luka mendalam yang Alara tutupi. Entah apa pun itu, Gema harus mengoreknya sampai dalam.
“Kamu nggak bisa sendirian. Mana enak sakit nggak ada yang ngerawat. Makan nggak ada yang ngambilin—”
“Alah manja banget kayak abang. Tahu nggak suka sendirian tapi jadi duda.”
ETA MULUT!
Benar sekali. Perkataan Alara tidak ada unsur menyindir. Gema juga berpikir demikian. Kenapa dirinya sendirian padahal itu tidak enak. Kenapa Gema menikah hanya untuk bercerai padahal hidup bersama orang terkasihnya adalah harapannya sejak dulu.
“Sudah paham belum soal gono-gini ini.”
“Nggak mau tahu. Pusing.”
Kepala Gema menggeleng. Terkikik dan melingkarkan tangan kekarnya di perut ramping Alara. Membuat si perempuan menegang.
“Abang pikir kamu sedewasa aslinya. Ternyata manja banget.”
“Salah?”
Dan ceplas-ceplos Alara dengan gaya bicaranya yang jujur sangat membuat Gema betah berlama-lama debat dengan—apa sebutannya untuk hubungan keduanya? Pasangan? Kekasih? Pacaran? Atau otw halal?
“Nikah yuk, Ra?”
Kambuh lagi. Alara mendengus dan membalikkan tubuhnya. Mengusapi rahang Gema yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Duh, kok yahud. Damage duda dan berumur 30 tahun ke atas memang nggak kaleng-kaleng. Pantas Alara suka banget sama ini cowok satu.
“Kayak; beli permen yuk, Ra. Mulut abang memang akhlakless. Dasar!”
“Kamu kadang pengen Abang kandangin saja, Ra. Kekepin di sana seharian.”
“Meninggal aku Bang yang ada.”
“Abang hidupin lagi.”
“Macam Nabi saja loh abang ini. Nggak jadi heran aku.”
Tawa Gema meledak. Alara dan humornya sungguh perpaduan yang sangat manis untuk Gema nikmati.
***
Beberapa orang hidup dalam mimpi buruk. Tetapi mereka sering menemukan cara untuk mengatasi mimpi buruk itu sendiri. Tapi saat kau akan bermimpi indah setelah bisa mengatasi mimpi burukmu … mimp6u buruk lainnya menemukanmu dan bahkan sedang menunggumu.
Ajakan menikah yang Gema katakan kepada Alara Senja bukan sekadar ajakan. Namun juga keseriusan mengingat bagaimana Lara menyentuh hatinya. Bukan artinya Gema ingin terbawa suasana yang tercipta. Namun jika demikian adanya, takkan Gema sanggahkan.
Toh dirinya sudah terlalu lama menyendiri sejak hari di mana kehadirannya tidak di hargai. Dan relung hatinya belum mau tersentuh oleh pesona mana pun kecuali milik Alara yang unik.
Unik. Benar. Lara sangat berperan penting mengingat mama dan keluarganya juga memberinya desakan.
“Kamu kenapa?” tanya Gema melihat raut kesal Lara.
“Klien Abang yang minta cerai itu, nyebelin banget. Nggak tahu lagi aku mesti jelasin yang gimana. Susah. Sulit Bang sulit.”
Nah masalahnya, yang datang ke kantor Gema memang orang-orang yang hendak bercerai. Lantas yang mana satu yang di maksud Lara ini?
“Coba jelasin pelan-pelan.” Pinta Gema.
“Aku lapar.”
“Belum makan?”
“Boro-boro bang! Boro-boro. Aku bisa minum air mineral juga sudah yang hamdalah banget.”
Oke, baik. Gema biarkan Lara dengan kekesalannya. Hitung-hitung ini cara Gema mengenali Lara sebelum nanti mengarungi bahtera rumah tangga.
“Dia itu Bang …” Jedanya namun penuh menggebu-gebu. “Datanya minta masuk ke Pengadilan secepat kilat. Tapi pas aku minta secara rinci persyaratan yang harus di serahkan ke kita sebagai awalan, nggak mau. Katanya mau transfer uang ke rekening abang dan abang sudah paham cara kerjanya.”
“Ibu Naina.” Tebak Gema. Pasalnya hanya klien wanita itu saja yang riwehnya ampun-ampunan.
“Abang tahu?” Gema mengangguk. Lara mendekat. “Aku nggak suka orang model gini.”
“Nanti biar abang yang nindak lanjuti. Sekarang makan, gih. Abang pesenin pecel madiun kesukaan kamu.”
Entah sadar atau tidak, kedekatan Alara yang berada persis di samping tubuh Gema menguarkan aroma khas di tubuhnya.
“Makasih bang.” Di kecupnya pipi Gema kilat.
Kaget woi! Syok!