9

1292 Words
Bahtiar Gema bukan ingin bersikap kepo. Tahu batasannya dan sadar ada sekat yang selalu Alara Senja ciptakan. Entah apa itu, tapi menemukan sebuah buku catatan yang tersembunyi, jiwa Gema menggelora. Meronta ingin tahu dan tangannya bergerak cepat membolak-balikkan halaman per halaman. Di awali dengan: ‘Sejak kamu pergi, aku hampir lupa caranya untuk membuka hati kembali. Tanpamu, aku merasa sepi. Mungkin ini terlihat kekanak-kanakan. Tapi begitulah adanya. Kamu yang dulunya menjadi tujuanku untuk menggapai sesuatu. Sekarang, kamu sudah tak ada lagi. Sekarang, aku hanya berkawan dengan luka-luka dan kesunyian.’ Baik. Gema menghela napas perlahan. Tahu bahwa isi dalam coretan tangan itu banyak dirinya temukan berlalu lalang di dunia maya. Tapi seakan-akan memang sangat pas di kehidupan yang saat ini Alara jalani. Sebenarnya, tujuan macam apa yang sedang diraihnya sehingga kehilangan mampu membuatnya terpuruk? Pergi yang dimaksud juga ke manakah itu? Kenapa hal sesederhana ini tidak bisa Gema pecahkan? Oke, lanjutkan. Jari-jari Gema bergerak lincah. Bola matanya menyisir tiap bait kata-kata yang tersusun rapi. Tidak diragukan, sebagai asisten, tulisan dan jadwal yang Alara buatkan selalu bernilai di mata Gema. Kali ini milik Alara. Rangkaian kalimatnya lebih mendalam dan ada dalam diary Alara Senja. ‘Terima kasih telah mencintaiku di hari-hari terburukku. Di hari-hari ketika aku tidak mencintai diriku sendiri. Di hari yang bahkan tidak ada yang peduli dengan kesalahan yang kuperbuat dan kekuranganku. Di hari di mana aku berhenti percaya pada hidup, pada cinta, pada masa depan, bahkan diriku sendiri. Kau memberikan hatiku rumah untuk tinggal. Kau memberiku ruang. Kau membuat aku percaya pada hidup meskipun rasa percayaku tidak cukup. Kau selalu bisa meyakinkanku bahwa aku layak dan bisa. Kau selalu bisa meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja, seolah itu sudah terjadi padamu, seperti aku tak akan sendiri melalui itu. Ini adalah suatu kebanggaan dan suka cita untuk bisa berjalan di sampingmu, untuk telah mengenalmu, untuk melihatmu setiap saat begitu murah hati dan baik, yang penuh belas kasih sayang mengangkat segalanya tentangku.’ Daebak! Tulisan penyemangat pagi ini tak bisa diragukan lagi kedalamannya. Dan meski ini hanya kata-kata yang Alara tuliskan guna menggambarkan seperti apa suasana hatinya. Harus Gema acungi jempol bahwa apa yang di ungkapkan seperti sedang dialaminya. Dan masih ada lanjutannya. ‘Terima kasih telah mengajariku bagaimana mencintai seseorang tetapi sebelum itu bagaimana mencintai diriku terlebih dahulu. Terima kasih sudah merubah rasa sakitku menjadi kebahagiaan yang luar biasa. Aku mencintaimu. Kamu adalah alasanku untuk melanjutkan. Tetaplah bersamaku, berjalan di sampingku ‘menjadi sahabat’ di depanku ‘menjadi panuntun dan penjaga’ di belakangku ‘menjadi penguat dan pengingat’. Sedalam itu, Hyung! Sampai Gema speechless tidak bisa berkata-kata. Kenapa seolah-olah ada sayatan luka di dalam kalimatnya da itu benar-benar nyata terjadi. Kenapa, ya? “Abang ngapain?” Gagap, tidak bisa Gema sembunyikan. Alara sudah melihatnya. Dan perempuan itu malah berkacak pinggang santai. “Kalau Abang lagi ngorek masa lalu aku, kenapa nggak langsung tanya saja. Suka banget kayaknya nebak-nebak.” Eh? Alara benar sekali. Mestinya Gema ajukan tanya tanpa perlu bertingkah seperti maling. “Kamu misterius, sih.” “Ejekan atau pujian?” “Nggak keduanya.” Gema mendengus. Dan kembali membuka buku diary yang sempat di tutupnya. Matanya menari-nari di halaman selanjutnya. Kali ini lebih deeply. ‘Jika seseorang ingin tinggal, dia akan melakukannya. Jika seseorang mencintaimu, dia akan melakukannya. Jika seseorang ingin berada di dekatmu, dia akan melakukannya. Tidak peduli seberapa kacau kamu, rusak kamu, jika seseorang ingin bersamamu, dia akan selalu memegang tanganmu, menempuhmu walau melalui gelap sekali pun hanya untuk melihatmu. Dia akan tetap mencintaimu bahkan ketika kamu bertingkah menyebalkan, aneh atau membuat dia kesal.’ “Aku nggak mau bilang ini.” Alara memulai dan sudah duduk dengan baju tidurnya. Di samping Gema, nampak sekali wajahnya pias dengan tatapan yang kosong. “Aku punya kisah kelam yang nggak semua orang tahu bahkan keluargaku sendiri.” Vokalnya bergetar. “Benci saja, sih, kalau harus cerita ke orang.” “Saya asing di mata kamu?” Mode Gema serius. Artinya tidak mau di bantah. Dan Alara mengangguk membenarkan. “Bahkan surat perjanjian hitam di atas putih bermaterai juga tidak berlaku?” “Ada persentasinya. Hitungannya sangat akurat. Abang peduli atau sekadar ingin tahu.” Sedalam itu, ya, rasa sakit? Sampai menjumlahkan persentasinya untuk untung ruginya. “Kalau saya peduli?” “Seperti takdir yang tertulis; Abang akan tinggal terlepas seburuk apa masa laluku.” “Dan kalau sekadar ingin tahu?” Kekehan Alara terdengar mengerikan. Bulu kuduk Gema berdiri—merinding—melihat Alara yang demikian. “Siap-siap saja abang buat tahu rasanya sakit hati.’ Nah, kan, sesuai dengan dugaan Gema. Ini nggak bagus karena Alara memukul rata semua orang dengan nilai yang sama. Yang semisal memang betulan ingin peduli karena di beri penilaian demikian jadi mundur alon-alon. Nggak bisa begitu. Konsepnya nggak kayak gitu. “Pantas kalau kamu sakit hati terus.” “Bobok ah bobok,” jawaban Alara cukup membuat Gema kesal. Di saat jiwa keponya menggelora dan Alara dengan teganya meninggalkan dirinya yang sedang kepo-keponya. “Sudah malam bang. Bobok, besok kerja.” “Aku bosnya kok.” “Ya, ngambek. Ingat umurlah, Bang.” “Anak buah kok kurang ajar sekali.” “Punya bos kok bocah sekali.” Astagfirullah Ukhti. Gema bersabar diri menahan kekesalan. Dengan enggan membuka kembali buku Alara dan melanjutkan bacaannya. Mendebat Alara takkan ada habisnya. ‘Orang-orang ini pasti akan datang, orang-orang ini akan selalu mencintaimu bahkan ketika semua orang berpaling darimu. Kamu akan menemukan orang-orang ini dan ketika dia melakukannya, biarkan dia masuk. Biarkan dia melihat apa yang telah kamu sembunyikan selama ini, biarkan dia mengetahui apa yang telah kamu lalui selama ini. Kamu tak perlu takut, berbagilah dengannya, dia tidak akan meninggalkanmu. Ketika kamu menemukan seseorang yang bisa menenangkan badai di dalam dirimu, pegang tangannya, jangan kehilangannya.’ “Lara …” Panggil Gema. Sedikit mengguncang bahu Alara yang diyakininya belum pulas benar. “Kamu baca tulisan ini pernah di resapi nggak?” Hanya gumaman yang terdengar. Kelopak mata Alara memberat meski pikirannya masih berjalan-jalan. “Kamu kalau baca cuma baca doang, percuma. Seenggaknya pahami deh kalimat-kalimat ini. Cukup banget buat bikin perasaan kamu lega dan legowo buat maafin masa lalu seburuk apa pun kondisinya. Trauma kamu jangan sampai di bawa ke hari ini. Hidup cuma sekali. Jangan sampai kehilangan kesempatan buat mengejar apa yang jadi mimpi kamu.” “Abang mimpi-mimpi aku.” Sadar tidaknya tetap membuat Gema terdiam. “Sejauh ini aku nekat ngejar Abang karena aku mau sama abang.” Berdegup jantung Gema. Damagenya nggak kaleng-kaleng. Lama nggak rasain falling in love. Sekalinya jatuh, Gema tidak tahu caranya berdiri. *** Jadi, sejak satu jam yang lalu, setelah Lara ungkapkan perasaannya terhadap Gema. Mata Gema yang awalnya tinggal lima watt, mendadak terang benderang. Yeah, you know what I mean. Gema persis si pejuang cinta zaman-zaman anak SMP gitu. Baru di kasih kata-kata yang yahud—sebenarnya biasa—tapi karena Gema sudah lama nggak jatuh cinta ya jadinya lebay maksimal. Berhubung Lara sudah bocan alias bobok cantik, Gema nggak mau dong kehilangan kesempatan dalam mengeponi sang pemilik rasa, cieee. ‘Jika ada orang lain entah perempuan mau pun lelaki yang mencuri kekasihmu, maka sedekahkan saja. Tidak ada yang lebih baik selain melepaskan orang-orang palsu dan balas dendam daripada terus memohon mereka untuk tetap bersama. Karena cinta sejati sesungguhnya tidak akan bisa dicuri mau sehebat apa orang yang mengundangnya.’ Tunggu! Bahasanya wajib banget di sedekahkan, ya? Membaca tulisan itu seketika membuat raut wajah Gema memucat namun juga gemas. Ekor matanya pun bergerak melirik-lirik Lara yang terpejam dengan wajah damai dan tersenyum di akhir. Ada rasa bangga kala Lara menyatakan perasaannya tadi. Gema merasa di hargai dan dianggap ada walau Lara belum lama dirinya kenal. Tapi tahu bahwa perempuan itu tulus adanya bersama dirinya. Gema bisa merasakannya dengan kuat. Lubuk hatinya bergetar dan jantungnya … jangan di tanya bagaimana kabarnya. Ambyar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD