“Anak ngak tahu diri, dimana kamu bersembunyi! Pulang sekarang!”
Dengusan Eloise membuat Noah yang sedang makan malam bersamanya sampai mengangkat kepala dan memperhatikan raut sedih di matanya.
“Ada apa? Pesan dari siapa?” Tanya Noah menebak wajah sendu yang tercipta itu pasti karena pesan yang masuk barusan.
“Dari mama aku.” Jawab El tanpa bermaksud menyembunyikannya dari Noah.
Tinggal beberapa hari di apartemen milik Noah membuat El merasa nyaman dan mulai mempercayakan pria yang usianya terpaut jauh darinya. Begitu juga dengan Noah, hari-harinya kini lebih berarti sejak kehadiran dosen di dalam apartemennya, seperti memiliki tujuan setiap kali sudah menyelesaikan semua aktivitasnya di kampus maupun kantor. Apalagi setiap pulang ke apartemen, El sudah menyiapkan beberapa menu masakan yang cocok dilidahnya.
“Sudah, biarkan saja. Toh kamu bertekad kabur dari rumah supaya ngak dijodohin sama kakek tua kan.”
“Hem.”
“Trus kenapa mukanya ditekuk gitu?”
Memang tidak mudah bagi El menghadapi sikap pemuda yang usianya jauh lebih muda, jalan pikiran mereka pasti berbeda meskipun Noah terlihat lebih dewasa dari usianya. Wanita itu hanya mendelik memperlihatkan rasa tidak Sukanya.
“Ck, coba saja kamu jadi aku.”
Belum selesai Eloise mengajukan protesnya suara ponselnya kembali terdengar dan ia pun membaca pesan baru yang masuk. Baru saja suasana hatinya dibuat kacau dengan perkataan sang mama, sekarang ditambah lagi pesan dari mantan kekasihnya.
“El, kamu dimana? Ayo bertemu, kita harus bicara supaya kamu ngak salah paham dengan yang kamu lihat waktu itu. Aku dijebak sama Fina, El. Percaya sama aku, Sayang.”
Noah sampai menghentikan kunyahannya melihat dengusan kasar El, ia pun mengulurkan tangannya meminta ponsel Eloise.
“Mau ngapain.”
“Sini HP nya.”
Tanpa perlawanan Eloise memberikan ponsel miliknya pada Noah, pemuda itu membaca pesan yang masuk. Yang tidak Eloise duga adalah ternyata Noah mengetik sesuatu diponsel miliknya.
“Hei, kamu ngapain, Noh.”
“Ngasih pelajaran.” Ucapnya singkat namun membuat El penasaran.
Setelah itu barulah dia meletakkan ponsel El di sampingnya bukan mengembalikan pada si empunya. Beberapa detik saja ponsel El berdering dan Noah langsung mengambil cepat sebelum Eloise merebutnya. Senyum licik timbul di bibir Noah. Tanpa meminta ijin dia pun menggeser tombol menjawab juga mengaktifkan speaker sembari memberi tanda diam pada Eloise untuk tidak bersuara.
“El kamu dimana sekarang!” Suara Reza terdengar marah karena pesan balasan Noah barusan membuat El melotot mengernyit kemudian menatap layer ponselnya mencari tahu apa yang diketik oleh Noah.
“El tidak butuh barang bekas teman seperti loe. Dia punya pacar yang jauh lebih tampan, kaya dan hebat dari loe.”
Eloise menghela panjang nafasnya dengan wajah meringis kesal ingin sekali memukul Noah dengan apa saja. Pantas Reza sampai menelpon balik dengan emosi.
“El, secepat itu kamu lupain aku. Kenapa ngak jawab! Karena kamu juga sama kan sudah selingkuh dibelakangku!”
Senyum tipis muncul di bibir Noah membalas pelototan Eloise yang tengah menatapnya sengit namun wanita itu tetap memilih diam mengikuti perintah Noah.
“Maling teriak maling.” Ucap Noah membalas ucapan Reza.
“Siapa loe! Kenapa HP El ada sama loe!”
“Bukan urusan loe juga. Dan gua harap jangan sampai berurusan sama gua. Mulai sekarang jauhi El. Urus cewek yang udah rela jadi kudanya loe di ranjang. Jadi cowok kok hobi nanem benih.”
“Jangan sembarangan loe! Siapa loe! Dimana loe sembunyiin El. Gua bakal lapor polisi atas penculikan!”
Lihat saja tingkah Reza sampai membuat Eloise mendesah kesal. Ditambah lagi kelakuan konyol Noah yang membuat keadaan bertambah kacau.
“Silahkan kalau loe punya bukti gua nyulik El.”
Ucapan Noah berikutnya membuat bola mata Eloise semakin melebar hampir saja keluar.
“Sayang, tuh mantan kamu nyariin. Nuduh aku nyulik kamu lagi.”
Dengan tangannya Noah menyuruh Eloise untuk menimpali ucapannya barusan membuat wanita itu gelagapan sejenak bingung dengan adegan dadakan tanpa direncanakan karena ulah Noah.
“Matiin aja. Aku ngak butuh dia lagi!”
“El..”
Eloise menekan tombol merah dengan cepat mengakhiri pembicaraan mereka kemudian memukuli lengan Noah berkali-kali meluapkan kekesalannya. Tapi Noah justru tertawa geli melihat sikap kesal El.
“Gila kamu, apa-apaan sih, Noh. Malah bikin drama baru. Nyebelin banget sih kamu ih!”
“Biarin, dia pasti blingsatan kayak cacing panas digaremin. Aku lagi ngajarin kamu cara membalas yang benar loh, Ibu Eloise.” Ujar Noah tanpa merasa bersalah sedikitpun malahan tawanya nyaring ketika El sengaja memutar demi bisa memukul dirinya. Kalau sudah begini El benar-benar tidak terlihat seperti wanita yang berusia di atas tiga puluh tahun.
Ponsel Eloise berdering kembali namun Noah sengaja mengambil dan menaikkan tangannya ke atas membuat El melompat kecil berusaha merebutnya kembali dari tangan Noah sambil mengomel. Sampai deringan itu berhenti barulah Noah mengalah dan memberikan ponsel itu kepemiliknya kembali. Lengannya mendapatkan pukulan entah yang keberapa kali dari Eloise.
“Cuci piring! Itu hukuman buat kamu!” Seru El sambil berlalu masuk ke dalam kamarnya sambal menghentakkan kaki.
Sedangkan Noah masih terus tertawa sambil membereskan piring kotor bekas makan malam mereka barusan. Rasanya menyenangkan tertawa lepas seperti ini, biasanya Noah hanya bisa tertawa lepas bersama keluarga dan teman dekatnya saja. Tidak menyangka ia pun bisa melakukannya dengan dosen pembimbing cantiknya itu.
Cantik? Bagi Noah, Eloise tidak terlihat seperti dosen melainkan seperti teman sepantaran yang menyenangkan untuk diajak bercanda apalagi dibuat kesal seperti tadi.
Di dalam kamar El masih terus menatap layer ponselnya yang terus dikirimi berbagai pesan ancaman dari mama dan mantan pacarnya itu. Ia pun mendesah, suasana hatinya jadi tak karuan setiap kali membaca pesan demi pesan yang membuat hatinya berdenyut sakit.
Kalau ada pepatah yang mengatakan surga berada di telapak kaki ibu, Eloise adalah orang pertama yang akan membantahnya. Buktinya sedari kecil sampai sekarang tidak sekalipun El merasakan kasih sayang seorang ibu. yang ada dirinya terus menerus disakiti.
Di kamar yang berbeda, Noah masih terus membaca pesan yang masuk pada ponsel milik El yang sudah berhasil di kloningnya. Semua pesan dibacanya satu per satu bahkan pesan dari Tristan kakak El juga sudah dibacanya.
Membaca semua pesan Tristan pada El menambah kecurigaan Noah bahwa keluarga yang pernah tinggal bersama perempuan itu bukanlah keluarga kandung Eloise yang sebenarnya. Mana ada seorang abang menyatakan perasaan cintanya pada sang adik. Pantas saja kejiwaan El sampai terguncang dan putus asa karena memiliki orang tua kejam juga abang yang jatuh cinta kepadanya ditambah lagi pacar dan teman yang mengkhianatinya begitu dalam.
Noah sampai menggeleng kepala tidak habis pikir namun kakek dan papanya selalu mengatakan bahwa rupa-rupa manusia itu sangat sulit diterka. Yang terlihat baik dan sopan di awal belum tentu seperti itu seterusnya. Akan ada banyak manusia jahat bertopeng kebaikan yang akan ditemuinya dalam dunia bisnis dan Noah sudah melihatnya sendiri sejak memegang klub Melati dan bisnis milik papa nya.
“Mami! Mami!”
Noah yang baru saja memejamkan mata setelah menyelesaikan tugas skripsinya bangun mendengar suara teriakan Eloise.
‘Dia pasti mimpi buruk lagi.’ Ucap Noah dalam hati sambil keluar dari kamarnya menuju kamar Eloise.
Sialnya pintu terkunci dari dalam namun suara teriakan Eloise semakin menjadi dan membuat Noah berlari mencari kunci cadangan kamar di dalam laci kamarnya dan membuka pintu itu kemudian mendekati Eloise seraya mengusap pipinya yang sudah mandi keringat dan air mata.
“Jangan, jangan tinggalin aku Mam! Mami!!”
“Hei,shh, El kamu mimpi lagi. Sh…”
Mata Eloise masih terpejam, pelipisnya basah oleh keringat bahkan air matanya mengalir seraya mulutnya terus memanggil seseorang.
Tidak berhasil membangunkan El dari mimpi buruknya, Noah memutuskan berbaring miring memeluk El dari belakang dan mengusap lengannya perlahan sambil berbisik lembut mencoba menenangkan wanita itu.
“Ada aku disini. Semua akan baik-baik saja. Ada aku disini, El. Sh…” Tanpa sadar Noah mengecup kening Eloise berusaha memberikan rasa nyaman dalam alam bawah sadar El sampai wanita itu akhirnya tenang dan tertidur kembali.
‘Apa yang ada dalam mimpi kamu sampai terjadi berulang? Sebenarnya seperti apa kisah hidup kamu, El?’
Dengan telaten, Noah mengusap lembut menyingkirkan peluh di kening Eloise. Sesekali wanita itu meringis dalam tidur masih terlihat tidak tenang membuat Noah terus memeluknya demi menenangkan El. Niatnya Noah akan beranjak dari kamar El setelah gadis itu tertidur pulas supaya besok pagi sang dosen tidak menyadari sudah bermimpi buruk. Noah hanya tidak ingin membuat El malu karena sudah dua kali memergokinya apalagi Eloise tahunya pintu kamar sudah terkunci. Hal ini juga bisa menyebabkan Eloise salah paham jadi biar aman lebih baik Noah menyingkir.
Sayangnya rencana Noah tinggal rencana karena dia juga kelelahan dan merasa nyaman tidur sambil memeluk dan menghirup aroma harum rambut Eloise. Sampai tidur pulasnya terganggu kembali setelah mendengar pekikan suara kencang Eloise.