Awalnya Noah sempat terbangun ketika sadar sudah ketiduran. Baru saja ia melepaskan pelukan tangannya di pinggang El, wanita itu malah berbalik kemudian memeluk Noah dan kakinya naik menjepit tubuh Noah seperti sedang memeluk bantal guling saja.
Noah justru kelabakan ketika merasakan dua benda kembar kenyal milik El menekan hingga ia bisa merasakan dosennya itu tidur tanpa memakai dalaman.
“El..”
“Diam ih. Jadi bantal nurut saja jangan protes.” Gerutu El dengan suara teredam bersandar manja menikmati kulit pipinya terkena bantal empuk nan nyaman dalam alam bawah sadarnya itu.
Noah sampai memundurkan wajahnya mencoba untuk melihat wajah Eloise. Nyatanya mata gadis itu terpejam dan mengigau sedang memarahi bantal guling hidupnya. Noah benar-benar terikat dalam belitan tangan dan kaki El, lalu bagaimana ia bisa keluar dari kamar ini. Meronta melepaskan diri pasti membangunkan tidur El, sedangkan matanya sudah mengantuk sekali ingin balik ke kamarnya tapi tidak bisa. Lucunya Noah justru terkekeh merasakan pengalaman menatap wajah perempuan sedekat ini.
“Cantik..”
Yah sudahlah, akhirnya Noah pasrah dan membiarkan El berbuat semaunya lalu ia pun memejamkan mata meneruskan tidurnya kembali.
Kelopak mata Eloise membuka menatap jam kotak di hadapannya sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia pun memutuskan untuk bangun sambal memikirkan menu sarapan pagi ini untuk dirinya dan Noah.
Namun tubuhnya terasa berat membuat El mengernyit tegang merasakan sesuatu tengah membelit di pinggang. Punggungnya terasa hangat menekan sesuatu. Perlahan menundukkan kepalanya untuk melihat arah pinggangnya, Eloise hampir saja memekik setelah melihat tangan kokoh melingkar di pinggangnya. Jantungnya mulai berdebar tak karuan memikirkan apakah semalam ia lupa mengunci pintu sebelum tidur atau tidak.
“Hem..” Suara igauan tersebut membuat El tahu siapa pria yang sedang memeluknya.
Perlahan Eloise memindahkan tangan Noah yang masih tertidur lalu beranjak ke arah lemari mengambil pakaian rumah dan masuk ke dalam kamar mandi.
“Bego, bego, bego. Sampai lupa kunci pintu gimana sih. Haish, benar-benar bego..” Rutuk El meskipun dengan suara pelan, El tidak sadar kalau Noah sudah bangun sedari tadi dan berpura-pura tidur agar keduanya tidak merasa canggung.
Senyuman Noah tertarik bersamaan ketika membuka matanya. Nanti saja ia akan jelaskan ketika mereka sarapan nanti piker Noah yang juga bangun dan pindah untuk bersiap ke kampus pagi ini.
Benar saja, ketika Noah keluar dari kamar dan tatapannya bertabrakan dengan El, wanita itu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Sedang Noah duduk di kitchen stool tanpa terlihat canggung lebih tepatnya seperti tidak terjadi apapun semalam.
“Semalam kamu mimpi buruk lagi.” Ucap Noah memulai percakapan dan berhasil membuat El mendongak menatapnya.
“Maaf, aku terpaksa masuk dengan kunci cadangan setelah dengar kamu berteriak. Aku berusaha bangunin kamu tapi kamunya makin histeris. Bingung mesti bagaimana akhirnya aku terpaksa peluk kamu dan ternyata berhasil. Kamu semakin tenang sampai tidur pulas.”
Rasanya lega mendengar penuturan Noah menjelaskan kenapa bisa dia sampai masuk ke dalam kamar. Artinya semalam dia sudah mengunci pintu, tapi tunggu dulu. Noah tidak menjelaskan soal pelukan sampai pagi.
“Lalu kenapa kamu ngak balik ke kamar kamu lagi setelah aku tenang.” El memberanikan diri bertanya, pikirnya kalau sampai Noah salah menjawab dia akan menghukumnya karena sudah mencuri kesempatan.
Sebelum menjawab Noah memperlihatkan seringai meledeknya membuat El mulai kesal berpikir kalau Noah sama saja dengan pria berengsek lainnya.
“Mestinya aku rekam kejadian kamu semalam. Aku sudah khawatir pas lihat kamu mimpi buruk, pas kamu sudah tenang aku memang niatnya keluar tapi belum sempat malah dijepit sama kamu. Udah diperingatin eh malah kamu ngomel gini, ‘jadi bantal nurut saja jangan protes’. Gimana mau lepasnya coba.”
Sontak wajah Eloise memerah merutuki bagaimana dirinya bisa bersikap begitu semalam. Mau balik marah sepertinya tidak etis karena Noah sudah berbaik hati menenangkan dirinya.
Memang benar, semalam El merasa memimpikan hal yang sama lagi tapi ia pun merasakan pelukan hangat yang membuatnya nyaman. Saat tidak sadar El pikir ia sedang bermimpi dipeluk oleh perempuan yang dipanggilnya mami. Ternyata, dia memang benar-benar dipeluk Noah.
Sambil mendengus, El pun memasang wajah datarnya.
“Terima kasih. Lain kali bangunkan saja aku. Habiskan sarapannya, aku harus berangkat sebentar lagi.”
“Sama Jane. Aku yang bersihkan saja, sana pergi.” Jawab Noah kemudian mengambil piring bekas makan El lalu membawanya ke baki cucian.
“Terima kasih.”
“Dua hari ini aku akan pulang ke rumah. Jadi jangan membukakan pintu apartemen apalagi membawa cowok masuk kemari.”
Tidak suka dengan ucapan Noah barusan, Eloise berbalik sebelum masuk ke dalam kamar mengambil tas kerja miliknya dan menghampiri Noah.
“Aku cukup tahu diri kalau disini hanya menumpang. Kalau kamu tidak nyaman, sekarang juga aku angkat kaki dari sini.” Kemudian berbalik dengan wajah marahnya.
Sedangkan Noah terkejut tidak menduga dengan reaksi El. Padahal niatnya tadi bercanda saja, hanya yang Noah tidak sadari adalah wajah datarnya itu ketika berucap yang membuat Eloise salah paham. Cepat-cepat ia membersihkan tangannya yang masih penuh dengan busa lalu menghampiri wanita itu dengan menarik lengannya.
“Kamu lagi datang bulan! Adikku seperti ini kalau lagi mens, sensitifnya tingkat dewa.”
“Kalau iya kenapa.” Ketus El menatap sengit.
“Maaf, aku bercanda tadi. Maksudnya aku khawatir takut kamu diikuti sampai sini sama mantan atau mama kamu itu loh. Dua hari ini ada undangan perusahaan papa, jadi aku terpaksa menginap di rumah. Aku akan memeriksa keadaan kamu sewaktu-waktu jadi selalu balas chat yah.”
Meskipun masih kesal namun El seperti tidak punya stok sahutan ketus lagi saat Noah mulai menjelaskan alasan yang membuatnya salah paham barusan. Terlebih lagi tatapan mata Noah dan suara lembutnya barusan membuat jantungnya berdebar tidak normal lagi.
Sadar melihat tidak nyaman Eloise, Noah pun melepaskan tangannya dari lengan El.
“Maaf.”
“Aku akan balas semua chat kamu. Ingat di kampus tetap bersikap seperti muridku.”
Bibir Noah malah menyeringai mendengar peringatan Eloise.
“Memangnya kalau di luar kampus sikap aku kayak gimana?”
“Hais..” Tanpa membalas, El memilih pergi secepatnya dari Noah sebelum pompa jantungnya meledak karena kelakuan manis sekaligus konyol Noah kepadanya. Untung saja setelah itu Jane sudah tiba dan mengawalnya pergi ke kampus.
Sepanjang perjalanan, senyum di wajah Eloise seperti enggan turun hanya karena membayangkan kejadian sejak bangun tidur sampai berangkat. Sesekali kepalanya menggeleng tidak habis pikir dengan mode ngambeknya.
Kenal dengan Noah baru seminggu tapi entah mengapa El merasa begitu nyaman bahkan untuk sekedar marah karena Noah sampai tidur seranjang dengannya saja rasanya enggan.
‘Apa mungkin aku jatuh cinta sama anak itu?’ Kemudian El menggeleng kepalanya lagi. ‘Hais, kebanyakan berkhayal. Mana mungkin juga tuh anak naksir cewek yang umurnya jauh lebih tua. Ngaco kamu, El. Jangan ngelunjak kali, Noah cuma bersikap baik karena kasihan sama aku, itu saja. Di luar sana dia pasti punya pacar atau mungkin dijodohin sama keluarga kaya nya itu.’
“Kak, kita sudah sampai.” Ucap Jane membuyarkan lamunan El.
“Eh iyah.” El baru sadar Jane memarkirkan mobil mereka di basement gedung kampus.
“Tumben parkir di sini, Jane?”
“Orang suruhan aku bilang kalau di lobi kampus ada cowok yang nyari Kak El. Mungkin dia mantan pacar Kakak.”
“Reza? Kok kamu tahu?” Tanya El penasaran karena ia belum bercerita soal Reza padanya.
“Semalam Noah sudah info untuk berjaga-jaga sama mantan Kak El karena semalam dia meneror Kakak kan.” Tutur Jane menjelaskan.
Bahu El sampai turun setelah dengusan kasarnya. Dalam hatinya merutuk mau apa lagi pria ini mengganggunya setelah ketahuan selingkuh.
“Tapi harus dihadapi juga sih, Jane. Percuma main kucing-kucingan begini, mengingat sifat Reza juga keras kepala kalau keinginannya belum terpenuhi.”
Jane menoleh ke samping menatap titipan bosnya itu.
“Betul, tapi ngak sekarang. Biarkan saja dia kelabakan nyariin Kak El dulu sambil lihat situasi lainnya. Noah juga info bukan hanya si mantan yang neror tapi maaf, mamanya Kak El juga kan. Makanya harus waspada dulu, jangan bertindak gegabah. Kalau Kak El menurut itu memudahkan aku dan Noah untuk melindungi Kakak. Menghadapi mereka sendirian pasti berat tapi sekarang ada kami yang akan selalu mendukung Kak El.”
Eloise pun mengangguk meskipun ia merasa seperti sedang jadi tawanan setelah terlepas dari mama dan mantan pacarnya, namun ucapan Jane ada benarnya. Ia tidak mungkin bisa menghadapi sikap keras kepala Reza juga tidak mampu menentang mama nya yang selalu menyakiti dan memanfaatkan dirinya demi keputusan egois sang mama.
“Jane.”
“Iyah.”
“Noah itu orangnya seperti apa?” Mencoba mencari tahu seperti apa sosok Noah dari Jane.
Sayangnya bukan jawaban yang didapati langsung melainkan seringai meledek Jane yang dilihatnya.
“Kenapa? Mulai naksir yah sama si kulkas?”
“Hais, ngaco kamu.”
“Ngaco juga ngakpapa kok, Kak. Masih available dia. Mau aku jodohin ngak.”
Eh eh malahan jadi mak comblang si Jane.