Kalau ada kontes penyandang status wanita tersial abad ini, mungkin Eloise akan mendaftarkan dirinya ke dalam kontes itu. Tumbuh besar dengan siksaan dari ibu dan adik juga rasa takut yang diciptakan karena sikap berlebihan sang kakak juga sikap papa nya yang tidak pernah menaruh iba sedikitpun kepadanya. Itu pun masih belum cukup. Virna sang mama malah semakin menjadi dengan menjodohkannya dengan pria yang tidak jelas seperti apa perangainya, asalkan kaya dan mau menopang hidup keluarga El maka pria itu akan masuk dalam kandidat calon suami Eloise.
Reza yang El harapkan bisa setia menunggunya dikala dirinya sedang mencoba untuk memupuk rasa cintanya pada Reza nyatanya berselingkuh dengan teman baiknya sendiri di belakangnya entah sudah berapa lama. Mana ada perempuan yang hidupnya bisa lebih sial dari dirinya sekarang. Bahkan untuk sekedar mengakhiri hidupnya, ada saja yang menghalangi.
Dan sekarang, dia harus hidup seatap dengan pria tampan dan kaya raya yang sudah menolongnya itu dan ternyata adalah mahasiswanya sendiri. Pria arogan yang kini membuat dirinya merasa terkekang dengan segala peraturan yang harus ia turuti.
Untuk mengatur dirinya saja Eloise merasa tidak punya hak lagi, kurang sial apa lagi kan. Tapi setidaknya hidup dalam kekangan peraturan Noah jauh lebih baik daripada hidup ditengah-tengah keluarga yang tidak menyayanginya. El menyadari sikap tegas Noah padanya saat ini adalah bentuk kepedulian pemuda itu padanya. Kalau tidak, mana mungkin dia memaksakan menepi mobilnya malam itu hanya untuk menolongnya. Belum lagi karena salah paham sampai diseret ke kantor polisi.
Dan sekarang El tinggal seatap dengan Noah bahkan semalam mereka tidur seranjang meskipun tidak sengaja. Semua karena mimpi buruk yang selalu hadir menemani tidurnya membuat Noah terpaksa menenangkan dirinya dan berakhir tidur seranjang sampai pagi.
Andai saja Noah pria yang usianya lebih matang dari El, dia pasti akan merasa senang dan bahagia ketika debaran jantungnya berdegup tadi pagi karena kelakuan konyol Noah yang menggodanya. Gejolak perasaan itu membuat Eloise mulai tidak waras sampai tersenyum sendiri hanya karena memikirkan usilnya Noah. Baru kali ini ia merasakannya.
Lima tahun menjalin hubungan dengan Reza dengan sikap manis dan perhatiannya saja tidak sekalipun berhasil membuat Eloise merasakan desiran hangat dalam hatinya.
“Woi! Bengong aja.” Seru Marini membuat bahu Eloise terjengkit.
“Ngagetin sih, Mar. Kenapa?”
“Mikirin apa sampai dipanggil berkali-kali ngak dengar. Pasti cowok ganteng gebetan loe yah, beberapa hari ini dia datang terus tuh nyariin loe.”
Hebat juga informasi Jane. Ternyata Reza sudah beberapa kali datang ke kampus ini. Untung saja jadwal mengajarnya semester ini berubah lebih siang. Biasanya dia selalu mengambil kelas paling pertama untuk jadwalnya supaya dia bisa pulang cepat mempersiapkan makan malam di rumahnya.
“Trus?”
“Yah gua samperin, habis kasihan juga lihat dia nyariin loe setiap hari. Loe berdua lagi berantem apa gimana? Kalau loe dah bosen gua yang ambil aja deh.”
Candaan Marini tidak membuat El terganggu. Masalahnya dengan sifat mulut ember Marini dan jiwa keponya bisa jadi bencana buat Eloise.
“Loe ngobrol sama dia, Mar?” Pertanyaan El membuat Marini mendelik tidak suka.
“Ngak usah cemburuan gitu juga kali, El.”
“Bukan gitu, gua cuma nanya loe ada ngobrol sama dia soal gua?”
“Lah iya. Kalau ngobrolin hubungan gua sama dia masa juga gua laporan ke loe, kan ceritanya gua nikung trus ngaku. Mana seru ah.”
Bicara dengan Marini memang memerlukan kesabaran tingkat dewa. Boleh dikatakan kesialan Eloise satu lagi adalah memiliki teman sesama dosen yang otaknya kurang se-ons seperti Marini.
“Trus loe bilang apa ke orang itu?” El masih berusaha sabar mengorek informasi dari Marini mengenai kedatangan Reza.
“Gua pura-pura nanya dia nyari siapa, trus pas dia jawab nyari loe yah gua bilang jadwal ngajar loe sekarang lebih siang soalnya loe cuma ngambil kelas skripsi saja semester ini. Jadi gua kasih tahu deh jadwal loe seminggu ini. Lagian kenapa juga sama pacar ngak update-an jadwal. Kasihan lah dia nungguin loe, mana ganteng lagi. Sayang banget ngak dimanfaatin makanya gua ajak ngobrol.”
Merasa panjang lebar bercerita, Marini tersadar kalau dia sedang membahas pria yang berstatus pacar Eloise. Wajahnya meringis merasa tidak enak hati.
“Loe, ngak cemburu kan sama gua, El?”
Sebenarnya Eloise terkejut karena Marini telah lancang memberikan jadwalnya di kampus pada Reza. Tapi nasi sudah jadi bubur dan waktu tidak bisa diubah kan. El hanya bisa menghela nafas panjang saja.
“Yah kalau dia pacar gua, Mar. Kalau ternyata dia cowok psikopat, apa loe ngak ngebahayain gua?”
“Hah! Cowok itu psikopat. Waduh, gimana dong. Gua ngasih nomor wa lagi ke dia.” Ujar Marini dengan wajah paniknya.
Benar kan teman El otaknya kurang penuh. Padahal hanya perumpamaan untuk menegur Marini supaya jangan sembarangan memberikan informasi pada orang asing tapi dia malah menanggapinya lain tanpa memikirkan perasaan Eloise. Makanya dia memilih tidak meributkan masalah ini dengan Marini lagi.
“Yah sudah ngakpapa. Makasih yah loe udah ngasih tahu gua, Mar.”
“Sama-sama, El.” Wajahnya masih terlihat pias memikirkan perkataan El tadi.
“Eh, El kalau loe ketemu cowok ganteng itu tolong bilangin hapus nomor gua aja, loe kasih tahu aja gua udah punya suami gitu. Takut dia ngejar-ngejar gua lagi nanti, hih.. Ngeri ah..”
Eloise sampai memutar jengah matanya melihat sikap Marini. Mau tertawa tapi kasihan, mau marah tapi kok lucu.
“Iyah nanti gua bilangin. Lain kali jangan sembarangan ngasih nomor apalagi nyamperin cowok yang loe belum kenal. Jaman sekarang muka boleh ganteng, badan boleh kekar tapi bisa melenceng. Loe sering dengar kan berita kayak gitu.” Ujar El semakin mengerjai Marini.
“Hooh, loe benar banget.” Bahunya bergidik ngeri sendiri. “Kapok ah gua.” Kemudian meninggalkan ruangan Eloise tanpa pamit seperti kebiasaannya.
Eloise menimbang-nimbang perlukah memberitahu hal ini pada Jane, tapi dasarnya sifat El yang tidak suka merepotkan orang lain membuatnya urung untuk melaporkan soal kedatangan Reza. Toh tanpa diberitahu saja, Jane sudah memberitahukan dirinya tadi pagi.
Noah sendiri sudah berangkat ke kantor setelah kelas bubar tanpa bertatap muka langsung membahas bab dua yang sudah selesai dibuatnya karena El sendiri yang mengatakan di depan kelas kalau ia hanya menerima mahasiswa yang datang untuk membahas bab dua. Di luar itu tidak diterima.
Karena sudah tidak ada lagi murid yang mendatanginya, El memutuskan untuk pulang lebih cepat hari ini. Ia pun mengambil tas kerjanya kemudian keluar dari ruang dosen menuju halaman parkiran tidak sesuai dengan perintah Jane tadi pagi yang memintanya memberitahukan jika sudah selesai dan Jane akan datang menjemputnya di depan kelas ataupun kantor.
“Heh, anak ngak tahu diri!”
Bola mata Eloise membelalak melihat mama nya mendatangi kampus dengan wajah sangar setiap kali sedang marah. Jantungnya melompat tak karuan memikirkan bagaimana nasibnya kalau sang mama sampai memukulinya di hadapan para mahasiswa. Bisa hilang muka dan harga diri bahkan semua orang di kampus akan mengetahui sisi kelamnya.
Meskipun panggilan kasar Virna kepada putrinya tidak kencang, tetap saja aura murkanya sangat menakutkan. Untung saja di depan kantornya sedang sepi karena sedang dalam masa pembelajaran.
“Ma, Mama..”
Virna menarik tangan El bermaksud menyeretnya pulang ke rumah.
“Ayo pulang. Sudah nakal kamu yah jadi pembangkang!”
“Tapi, Mah.”
“Mau aku berteriak disini dan mempermalukan kamu hah!” Wanita itu berbalik dan mengucap penuh penekanan.
Sekarang menyesalpun sudah terlambat bagi El. Harusnya sejak tadi dia memberitahu Jane dirinya sudah selesai dan membiarkan Jane datang seperti biasa menjemputnya di depan ruang.
“Iyah, Mah.” Kaki El terpaksa melangkah mengikuti Virna yang menarik paksa tangannya.
Otaknya masih mencerna bagaimana caranya melarikan diri dari cengkeraman sang mama. Kalau sampai dirinya balik ke rumah itu sudah pasti nasibnya akan berakhir dinikahi dengan pria tua pilihan mama nya.
“El! Tante!”
Astaga! Belum juga lepas dari sang mama, sekarang datang lagi Reza menghalangi di depan.
“Minggir kamu!”
“Tapi, Tan. Saya perlu bicara sama El.”
“Mulai sekarang jangan pernah mendekati putriku, Eloise sudah jadi tunangan pria lain!”
Wajah Reza pias seperti tersambar petir mendengar penuturan mama El itu.
“Ngak, Tan. Saya dan El sudah pacaran lima tahun, saya ngak akan melepaskan Eloise begitu saja.”
“Lancang kamu!” Teriak Virna membuat orang-orang di sekitar halaman kampus menoleh.
Sedangkan air mata Eloise sudah menggunung merasa ketakutan, bagaimana ia harus melepaskan diri dari dua orang jahat dalam hidupnya. Sedangkan dia lupa memberitahu Jane sudah selesai mengajar. Bagaimana kalau Jane tidak sadar dirinya sudah dijemput paksa oleh mama nya bahkan sekarang sedang jadi tontonan memalukan di halaman kampus.