SEVEN

489 Words
Merindukan adalah awal dari perasaan cinta dan Mulai merasakan takut kehilangan adalah tanda cinta yang sebenarnya .. *** Semuanya terasa mustahil bagi Andrea. Dulu dia hanya bisa bermimpi tentang Axel yang akan memeluknya di atas ranjang mereka, tentang di mana Axel akan memperlakukannya sebagai wanita bukan sebagai anak dari mantan kekasihnya, tapi sekarang hal yang mustahil itu kini menjadi kenyataan. Ya. Axel suaminya ada di sini. Di sisinya untuk memeluk tubuhnya di atas kasur mereka. Perlahan senyum terukir menghiasi kedua sudut bibir Andrea. Ia begitu mengagumi wajah tampan pria tua yang telah menjadi suaminya. Pria tua yang mampu membuatnya menangis kejang-kejang, pria yang mampu membuatnya merasakan arti menunggu dan berharap, pria yang beberapa waktu lalu masih menolaknya kini telah memeluknya erat.  Dia sadar, usahanya belum berhenti sampai di sini. Dia masih harus terus berusaha untuk membuat Axel mencintainya dengan tulus, setulus cinta pria itu kepada Mommy nya, Bianca. Soal Yodi, dia mungkin akan mengakhiri keisengannya. Pria itu tidak pantas menjadi pelariannya, karena Yodi sangat tidak pantas untuk disia-siakan. Pria itu pantas mendapatkan gadis yang lebih baik darinya.  Dan Wilona? Andrea telah mempercayakan itu kepada Axel. Dia percaya kalau Axel tidak akan mengkhianati kepercayaannya. Dan bahkan kini Andrea telah mengembalikan dirinya hanya untuk jadi milik Axel, suami tuanya. "Kenapa belum tidur, heum?" tanya Axel. Dia semakin menarik kepala Andrea ke dalam pelukannya. "Apa kau risi tidur berdua denganku?" Andrea menggeleng cepat, bagaimana bisa dia risi tidur berdua dengan pria yang dia cintai. Dia hanya terlalu senang mengetahui kenyataan kalau Axel nyata, pria itu nyata memeluknya. Dan dia hanya tidak mau membuang kesempatan untuk menikmati hangatnya pelukan yang diberikan Axel kepadanya. "Lalu?" "Aku hanya masih belum percaya, kalau kau mau memulainya denganku." Jawab Andrea jujur. Axel mencium pucuk kepala Andrea berkali-kali. Gadisnya.  Rasanya begitu membanggakan ketika ia menyebutkan Andrea adalah gadisnya. Andrea istrinya, Andrea calon ibu dari anak-anaknya. Mengingat anak, membuat Axel kembali teringat kejadian 17 tahun lalu, kejadian di mana ketika ia mendampingi Bianca untuk melahirkan. Lebih tepatnya melahirkan calon istrinya. Bianca yang dia harapkan calon ibu untuk anaknya kelak kini jadi mertuanya. Dan sementara Andrea yang dari baby sudah dia anggap sebagai anaknya kini malah menjelma menjadi istrinya, calon ibu bagi anak-anaknya kelak. Rencana Tuhan untuk jalan hidupnya benar-benar tidak pernah terpikirkan oleh akalnya. "Aku juga. Aku masih belum percaya kalau bayi yang dulu aku saksikan lahir ke dunia kini menjadi istriku," ucap Axel. Pipi Andrea bersemu merah ketika mendengar Axel untuk pertama kali menyebut dirinya istriku. "Bisakah..?" tanya Axel, seraya menatap tepat di manik mata Andrea. "Ha...?" "Aku mengambil hak-ku..?" "Hak mu?" "Ya hak-ku sebagai suamimu dan kewajibanmu sebagai seorang istri.." Pipi Andrea merona mendengar ucapan frontal Axel. Dia mengerti, bahkan sangat mengerti apa yang dimaksud Axel. "Kau merona.." lirih Axel memutar balik tubuhnya. Kini posisi Axel telah di atas Andrea. Ia bahkan dapat merasakan detak jantung Andrea yang berdetak kencang sama sepertinya. Nafas mereka memburu saling bersahutan. "Bolehkah?" tanya Axel sekali lagi. Ia menatap Andrea dengan penuh harap.  Dan see, senyuman dan anggukan pelan Andrea, membuat senyum Axel mengembang sempurna. "Aku akan menjadi milikmu seutuhnya dan begitu pun kau akan menjadi milikku..” #TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD