“Hai, Cleo air gallon!”
“Namaku bukan Cleo, tapi Leo, Ash!”
“Ya sudah, kuganti dengan yang lebih bagus, Leo kripik kentang asli.”
“Suka-sukamu lah, Ash!”
“Memang, kan akau yang ngomong. Juga ingat peraturan dasar yang harus diketahui oleh semua laki-laki, bahwa perempuan selalu benar!”
“Iya, pusing aku. Yang waras ngalah.”
“Maksudmu aku gak waras gitu?”
“Bukan aku yang ngomong loh!”
“Ish … nyebelin! Dasar Leo kripik kentang!” ujar Ashley sambil memukuli Leo.
“Leo! Ashley!”
“Mampus deh, kok kita apes ya selalu berurusan sama kakak sepupu tergalak gue?”
“Diemlah, Leo kripik kentang!”
“Kalian berdua masih bisa-bisanya berdiskusi. Kalau memang sudah gak butuh materi kelas saya, saya tidak melarang kalian untuk keluar atau kalau perlu gak usah masuk kelas saya sekalian. Langsung ketemu saja di ujian, tapi kalau sampai kalian gak dapet A, silahkan masuk lagi di kelas saya tahun depan!”
“Maaf, Pak. Kami masih butuh materi kelas Bapak,” ujar Ashley.
“Hmm …, silahkan nanti setelah kelas kamu ke ruangan saya!” ujar Arsen lalu mulai mengabsen.
“Memang cabe-cabean suka cari perhatian ya kayak gitu!” ujar Steffin.
“Ada masalah, Saudari Steffin?” tanya Arsen.
“Tidak ada kok, Pak,” jawab Steffin.
***
Tok … tok …
“Silahkan masuk!”
“Ada apa, Bapak memanggil saya?” tanya Ashley.
“Saya mau menagih jawaban kamu. Tapi jangan di sini, saya takutnya tembok kampus ini punya telinga, jadi tunggu saya sebentar. Saya akan ringkes barang-barang saya dan kita bicarakan masalah ini di luar saja.”
“Oke, tapi saya naik mobil saya sendiri aja, Pak. Saya takutnya nanti ada yang lihat.”
“Baiklah, nanti kamu ikuti mobil saya saja.”
***
“Selamat sore, Pak Arsen!” sapa seseorang, “Ruangan yang Bapak pesan sudah siapkan, kata Pak Ryan Bapak bisa pakai ruangan VIP 3.”
“Baik, terima kasih. Makannya kamu atur aja, seperti biasa.”
“Baik, Pak.”
“Kayaknya Pak Arsen terkenal banget ya, sampai pegawai restoran aja tau nama Bapak,” ujar Ashley.
“Ini restoran sahabat saya, jadi saya sering ke sini. Itu sebabnya beberapa pegawai kenal saya.”
“O, kukirain.”
“Kirain apa?”
“Gak papa.”
“Gini ya, perempuan itu memang rumit. Ngomong setengah-setengah, lalu nanti bilang laki-lakinya yang gak ngertiin atau gak pekalah.”
“Kan Bapak bukan laki-laki saya, kenapa harus repot?”
“Soon!”
“Percaya diri Bapak ternyata cukup tinggi ya?”
“Haruslah!” ujar Arsen, “Kamu masuk duluan aja, Ash. Saya ke toilet dulu.”
Setelah Arsen pergi, Ashley langsung masuk ke ruangan VIP 3 tersebut. Dan duduk di salah satu kursi yang disediakan, selagi menunggu Arsen ia mengedarkan pandangannya untuk melihat sekeliling ruangan yang menurutnya cukup mewah itu. Saat pandangan Ashley mencapai diujung kanan ruangan, ia tanpa sengaja melihat tulisan toilet.
“Itu ada toilet, kenapa harus ke toilet di luar ruangan? Masa Pak Arsen gak tau kalau ada toilet di dalam ruangan?” batin Ashley.
“Kemana juga Pak Arsen ini, katanya ke toilet tapi lama banget.”
Sekitar 15 menit Ashley menunggu di dalam ruangan, makanan yang di pesan oleh Arsen datang. Dan diikuti oleh Arsen yang masuk setelah pelayan yang menyajikkan makanan keluar.
“Maaf, kamu nunggu saya lama sampai makanannya sudah datang.”
“Iya, sampai saya lumutan menunggu Bapak. Oh ya, Pak-“
“Kita makan dulu aja, nanti setelah makan baru kamu beri jawaban kamu.”
“Oke.”
“Gimana rasa makanan di sini?”
“Not bad!”
“Gimana kuliah kamu?”
“Baik.”
Setelah Ashley menjawab pertanyaan Arsen yang terakhir keheningan terjadi di antara mereka. Ashley sibuk menundukkan kepalanya dan berfokus menghabiskan makanannya, sementara Arsen sibuk makan sambil mencuri pandang ke Ashley.
“Bagaimana jawaban kamu?” tanya Arsen saat melihat Ashley sudah selesai makanan.
“Sebetulnya saya masih ragu sih, Pak.”
“Apa yang buat kamu ragu?”
“Saya masih kuliah, Pak.”
“Lalu masalahnya dimana?”
“Dan saya masih ingin kuliah.”
“Saya gak larang kamu kuliah, bahkan kamu masih bisa melanjutkan kuliah kamu sampai selesai. Bahkan kalau kamu mau ambil S2 saya gak akan larang kamu, saya malah akan dukung kamu. Tapi kalau kamu gak mau saya gak ada masalah.”
“Saya masih ingin kuliah dengan tenang maksud saya.”
“Memangnya kalau kamu nikah sama saya, kamu gak bisa kuliah dengan tenang?”
“Bukan gitu maksud saya, tapi kalau anak-anak di kampus pada tau saya istri Bapak, saya pasti gak akan kuliah dengan tenang.”
“Hubungannya apa coba?”
“Saya bisa dibully sama geng cabe-cabean, Pak.”
“Kalau mau kamu gimana?”
“Saya mau, kalau memang saya jadi menikah dengan Bapak, jangan sampai ada mahasiswi dikampus yang tau.”
“Tentu saja, lagian ngapain mahasiswi saya harus tau kehidupan pribadi saya.”
“Ehm … soal yang S2 itu yakin Bapak akan dukung saya seandainya saya mau ambil S2?”
“Tentu saja, kenapa tidak?”
“Banyak yang bilang, Pak, kalau perempuan itu gak perlu sekolah tinggi-tinggi.”
“Bagi saya perempuan mempunyai hak untuk sekolah tinggi, malah mungkin harus. Kenapa? Karena sebagai Ibu, para perempuan perlu mengajari anak-anak mereka. Masa depan bangsa akan berada di tangan generasi muda, generasi yang baik akan menghasilkan bangsa yang baik.”
“Hmm … baguslah kalau pemikiran Bapak seperti itu. Saya sudah memutuskan, bahwa saya setuju, Pak.”
“Setuju apa, Ash? Setuju dengan pemikiran saya atau menikah dengan saya.”
“Iya, saya setuju menikah dengan Bapak.”
“Terima kasih sudah setuju untuk menikah dengan saya.”
“Saya juga berterima kasih dengan Bapak.”
“Kalau gitu mulai sekarang kamu adalah pacar saya. Dan saya mau langsung kenalin kamu ke orangtua saya, jadi kamu ikut mobil saya aja.”
"Mobil saya bagaimana, Pak?"
"Mobil kamu gak akan hilang di sini.”
"Tapi, Pak. Besok gimana saya berangkat kuliahnya?"
"Kunci mobilmu," ujar Arsen sambil menyedorkan tangannya.
“Tapi, Pak saya belum siap ketemu orangtua Bapak.”
“Kenapa?”
“Ya, pokoknya saya belum siap, Pak.”
“Mommy saya baik kok, gak akan makankamu.”
“Bukan begitu maksud aku, ish … Bapak ini!”
“Terus gimana dong maksud kamu?”
“Pokoknya gitu deh, Pak.”
“Gitu itu gimana?”
“Duh … pusing ngomong sama Bapak, ya sudah deh, kita ke rumah orangtua Bapak aja.”
Setelah mengatakan hal tersebut Ashley langsung melangkahkan kakinya menuju mobil Arsen tanpa menunggu Arsen.
“Yakin gak mau menjelaskan ke saya? Nanti menyesal loh!” tanya Arsen setelah mereka masuk ke dalam mobil.
“Yakin, sudah jalan aja, Pak. Lagian nyesal kenapa juga, orang gak peka ya sudah!” ujar Ashley, kemudian Arsen langsung menjalankan mobilnya.
"Ini, Pak," ujar Ashley sambil menyerahkan kunci mobilnya ke Arsen.
"Pak Rendy, saya titip kunci mobil ini. Nanti Evan akan mengambilnya," ucap Arsen ke satpam penjaga restoran yang sudah mengenal Arsen.
"Baik, Pak Arsen."
“Jangan panggil saya, Pak dong. Nanti Mommy saya pasti bingung, kok calon menantunya panggil anak laki-lakinya pak,” ujar Arsen tiba-tiba yang memecahkan keheningan di dalam mobil.
“Terus saya harus panggil apa? Om?”
“Emangnya saya setua itu? Saya ini hanya lebih tua 8 tahun dari kamu.”
“Ya udah deh, kita ambil jalan tengahnya, saya panggil Pak Arsen, kakek.”
“Sembarangan ya kamu ini, saya aja masih lebih mudah dari papa kamu! Panggil saya Kakak aja.”
“Kan Bapak bukan kakak saya!”
“Kamu mau panggil saya sayang juga gak masalah kok.”
“No way, mending aku panggil Kakak aja.”
***